HaiBunda

KEHAMILAN

Adakah Batasan Berat Badan Bayi untuk Lahir secara Pervaginam?

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 30 Apr 2026 11:25 WIB
Adakah Batasan Berat Badan Bayi untuk Lahir secara Pervaginam?/Foto: Getty Images/FatCamera
Jakarta -

Berat badan dan tinggi badan saat bayi lahir bisa jadi menurun dari timbangan terakhir jelang akhir kehamilan. Lantas, sebenarnya berapa batas berat badan bayi untuk lahir secara pervaginam?

Bayi yang lahir normal memiliki berat badan yang juga normal ya, Bunda. Biasanya, bayi baru lahir normal mempunyai ciri-ciri berat badan lahir 2.500-4.000 gram dengan umur kehamilan 37-40 minggu. 

Selain itu, bayi yang lahir normal biasanya segera menangis ketika keluar dari perut ibunya, bergerak aktif, mengisap ASI dengan baik, dan tidak ada cacat bawaan seperti dikutip dari laman Kemenkes.


Berapa batas berat badan bayi untuk lahir secara pervaginam?

Memperkirakan berat badan lahir bayi memang terkadang sulit untuk memprediksinya secara akurat sebelum lahir. Apalagi, ada juga bumil yang justru merasa kesulitan menaikkan berat badan anaknya di minggu-minggu terakhir kehamilan.

Sehingga, memperkirakan berapa sebenarnya berat lahir tentunya sangat sulit dilakukan meskipun ada metode untuk menghitungnya. Dalam sebuah studi terbaru, sepertiga perempuan melaporkan bahwa provider kesehatan mereka memberitahukan bahwa bayi mereka mungkin akan menjadi cukup besar menjelang akhir kehamilan. 

Namun pada akhirnya, hanya satu dari lima perempuan tersebut yang memiliki bayi dengan berat lebih dari 13 ons, atau 4.000 gram, ambang batas umum untuk menyebut bayi besar.

Memang, sebenarnya akan lebih baik ketika mengetahui berat lahir bayi secara pasti sebelum mereka lahir. Sebab, hal ini akan memudahkan prediksi beberapa komplikasi langka namun serius seperti trauma persalinan. Namun, hal tersebut tidak mungkin dilakukan. 

Sementara di satu sisi, perkiraan ukuran bayi berpotensi menyebabkan stres yang tidak diperlukan pada ibu dan membuat dokter melakukan intervensi padahal sebenarnya tidak perlu seperti dikutip dari laman Utswmed.

Lantas, berapa sebenarnya batas berat bayi yang dianggap besar?

Biasanya, banyak orang menganggap perkiraan berat bayi yang lebih dari 4.500 gram sebagai bayi lebih besar dari normal. Mengutip dari Kemenkes, seorang ibu hamil perlu berjuang keras menjaga asupan nutrisinya agar pembentukan, pertumbuhan dan perkembangan janinnya optimal. I

Idealnya, berat badan bayi saat dilahirkan adalah tidak kurang dari 2500 gram, dan panjang badan bayi tidak kurang dari 2.500 gram, dan panjang badan bayi tidak kurang dari 48 cm. 

Inilah alasan mengapa setiap bayi yang baru saja lahir akan diukur berat dan panjang tubuhnya, dan dipantau terus menerus terutama di periode emas pertumbuhannya, yaitu 0 sampai 2 tahun.

Teori Thrifty Phenotype (Barker dan Hales) menyatakan bahwa, bayi yang mengalami kekurangan gizi di dalam kandungan dan telah melakukan adaptasi metabolik dan endokrin secara permanen, akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi pada lingkungan 'kaya gizi' pasca lahir, sehingga menyebabkan obesitas dan mengalami gangguan toleransi terhadap glukosa. Sebaliknya, risiko obesitas lebih kecil apabila pasca lahir bayi tetap mengkonsumsi makanan dalam jumlah yang tidak berlebihan.

Mengenal kondisi bayi besar atau makrosomia

Dalam istilah medis, bayi besar disebut dengan makrosomia, yang secara harfiah artinya tubuh besar. Beberapa peneliti menganggap bayi besar jika beratnya 4.000 gram atau lebih saat lahir, dan yang lain mengatakan bayi besar jika beratnya 4.500 gram atau lebih. Dan, bayi disebut "sangat besar" jika lahir dengan berat lebih dari 5.000 gram

Selain itu, bayi juga disebut 'besar untuk usia kehamilan' jika beratnya lebih besar dari persentil ke-90 saat lahir atau dengan kata lain, jika lebih besar dari 90 persen bayi lain yang lahir pada usia kehamilan yang sama

Bayi besar cenderung lahir dalam keluarga (yang dipengaruhi genetika) dan lebih umum memiliki bayi besar jika jenis kelamin bayi adalah laki-laki. Selain itu, faktor diabetes sebelum atau selama kehamilan memiliki tingkat bayi besar yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak menderita diabetes.

Faktor lain yang dikaitkan dengan bayi besar meliputi BMI yang lebih tinggi sebelum kehamilan, peningkatan berat badan yang lebih tinggi selama kehamilan, usia yang lebih tua, kehamilan lewat waktu, dan riwayat melahirkan bayi besar seperti dikutip dari laman Evidencebasedbirth.

Para peneliti menemukan di antara penderita diabetes bahwa kadar gula darah yang lebih tinggi pada diagnosis awal meningkatkan kemungkinan melahirkan bayi yang besar untuk usia kehamilan. Namun, Namun, ibu hamil yang mengelola diabetes gestasional mereka melalui diet, olahraga, atau pengobatan dapat menurunkan kemungkinan melahirkan bayi besar hingga tingkat normal (atau sekitar 7 persen).

Selain itu, terdapat bukti berkualitas tinggi dari 15 uji coba acak yang menunjukkan bahwa ibu hamil yang berolahraga (baik yang menderita diabetes maupun tidak) memiliki penurunan signifikan dalam kemungkinan memiliki bayi besar dibandingkan dengan mereka yang tidak berolahraga selama kehamilan.

Siapa saja yang berisiko melahirkan bayi besar?

Faktor kesehatan dan riwayat tertentu dapat meningkatkan risiko ibu melahirkan bayi besar. Berikut ini beberapa faktor risikonya ya, Bunda:

1. Diabetes

Mereka yang memiliki riwayat diabetes gestasional, terutama jika kadar gula ibu tidak terkontrol dengan baik selama kehamilan harus lebih berhati-hati ya, Bunda. Sebab, kadar glukosa tinggi pada ibu dapat melewati plasenta dan menyebabkan kadar tinggi pada janin. Sebagai respons terhadap kadar gula tinggi ini, janin memproduksi insulin, yang merangsang pertumbuhannya sendiri.

2. Obesitas

Seiring meningkatnya faktor obesitas di masyarakat, maka realitas melahirkan bayi makrosomia di masa mendatang semakin besar. Trennya ialah bayi berikutnya akan menjadi lebih besar, bukan lebih kecil.

Bagi Bunda yang berisiko melahirkan bayi besar atau makrosomia memang sangat perlu membuat rencana yang sesuai dengan kebutuhan. Termasuk apakah memungkinkan melewati persalinan normal atau perlu menempuh jalan persalinan lainnya.

Nah, jika Bunda memang memiliki risiko tersebut, ada baiknya secara rutin memeriksakan diri ke dokter ya, Bunda. Selain menjaga keamanan pada calon bayi juga tentunya memprioritaskan kesehatan Bunda selama kehamilan hingga persalinan.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Jumlah Dokter Kandungan Laki-Laki Semakin Sedikit, Apa Penyebabnya?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Terbaru Audy Item Pasca Sukses Diet, Makin Menawan saat Rayakan Ultah Ke-43

Mom's Life Annisa Karnesyia

Bukan Cuma Kebetulan, Ini Ciri Kepribadian Orang Berdasarkan Bulan Lahir

Mom's Life Nadhifa Fitrina

7 Tanda Orang Kesepian Meski Sudah Menikah dan Tips Menghadapinya

Mom's Life Arina Yulistara

Resep Ayam Lada Hitam Simple, Gurih Pedas dan Hemat Gas

Mom's Life Angella Delvie & Muhammad Prima Fadhillah

Psikolog Minta Orang Tua Hindari 7 Kalimat Ini saat Anak Susah Diatur

Parenting Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Alasan Gerbong Khusus Wanita Berada di Ujung Rangkaian KRL

Bukan Cuma Kebetulan, Ini Ciri Kepribadian Orang Berdasarkan Bulan Lahir

Adakah Batasan Berat Badan Bayi untuk Lahir secara Pervaginam?

7 Tanda Orang Kesepian Meski Sudah Menikah dan Tips Menghadapinya

Tren Belanja Premium Makin Meningkat, Ini Alasan Konsumen Beralih ke Produk Berkualitas

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK