kehamilan

Ibu Hamil Menangis, Bayi di Kandungan Juga Akan Menangis?

Radian Nyi Sukmasari 21 Mei 2018
Ibu Hamil Menangis, Bayi di Kandungan Juga Akan Menangis? (Foto: Ari Saputra/detikcom) Ibu Hamil Menangis, Bayi di Kandungan Juga Akan Menangis? (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Saat hamil, penting banget buat ibu menjaga kondisi psikisnya. Nah, kalau ibu sedih atau menangis, salah satu hal yang sering disampaikan adalah nanti kalau bundanya menangis si kecil di kandungan juga ikut nangis. Hmm, benar nggak ya?

Saat ibu sedih bahkan sampai menangis, bayi di kandungan nggak akan menangis, Bun. Hal ini berlaku juga ketika ibu senang, bayi di perut nggak akan ikut tersenyum kok. Tapi, kalau ibu udah merasa tertekan dan depresi bayi akan jadi sangat aktif dan sulit ditenangkan, demikian diskutip dari buku 'Anti Panik Menjalani Kehamilan' yang disusun tim Tiga Generasi.

"Perhatian bayi mudah teralih saat usia delapan bulan dan dia memiliki emosi negatif serta masalah perilaku pada masa usia dini. Oleh sebab itu, ibu perlu tenang dan bahagia selama kehamilan," kata tim penulis.

Seperti kita tahu ya, Bun, stres dan depresi juga bisa memengaruhi perkembangan otak bayi di kandungan yang berdampak pada perkembangan yang kurang optimal pada bayi. Makanya, Bun, buat ibu hamil disarankan banget untuk mengelola stres. Dampak stres saat hamil sendiri nggak main-main lho.



Psikolog di University of Zurich, Jerman menemukan saat ibu hamil stres tubuh akan melepaskan hormon Corticotropin-releasing hormone (CRH) yang bisa memicu peningkatan hormon kortisol yang masuk melalui plasenta. Kalau ibu hamil stres berkepanjangan, kadar hormon CRH ini akan bertambah di cairan ketuban. Jika kadarnya tinggi akan mempercepat pertumbuhan organ janin

"Organ-organ bayi yang tumbuh dengan cepat belum tentu terbentuk sempurna. Kondisi inilah yang berisiko bikin bayi lahir prematur," kata salah satu peneliti, Pearl La Marca-Ghaemmaghami, psikolog dari University of Zurich, dikutip dari Science Daily.

Sementara itu, peneliti di University of California, San Francisco mengamati 151 bunda dan bayinya di mana si berpenghasilan menengah ke bawah dengan usia kehamilannya antara 12 hingga 24 minggu. Peneliti memantau setiap ibu hamil sejak trimester pertama, kedua, dan ketiga. Setelah ibu tersebut melahirkan, bayinya juga dipantau selama enam bulan. Saat itu, jantung bayi dicek untuk mengukur reaksi stres.

Hasilnya, 22 ibu yang paling stres di dalam hidupnya memiliki anak yang jauh lebih reaktif. Berbeda dengan bayi dari 22 ibu yang memiliki tingkat stres rendah. Nggak cuma itu, si bayi juga berisiko depresi serta mengalami masalah perilaku yang lebih tinggi di kemudian hari daripada teman sebayanya. Apalagi jika anak berada di lingkungan keluarga dan sekolah yang buruk, demikian disampaikan salah satu peneliti Dr Nicole Bush.



(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi