kehamilan

Saat Ibu Hamil Nggak Sreg dengan Nasihat yang Diberi Orang Tua

Radian Nyi Sukmasari 11 Jun 2018
ilustrasi ibu hamil/ Foto: thinkstock ilustrasi ibu hamil/ Foto: thinkstock
Jakarta - Saat hamil, keluarga termasuk orang tua dan mertua bisa jadi lebih perhatian sama kita. Ya nggak, Bun? Berbagai nasihat pun disampaikan dengan maksud nggak ingin terjadi apa-apa dengan diri ini dan calon bayi. Tapi, kalau nasihat yang diberi bikin kita nggak sreg, gimana mengatasinya ya?

Kegalauan karena nggak sreg dengan nasihat yang diberi orang tua pernah dialami salah satunya oleh sahabat HaiBunda bernama Sheila. Dia bercerita saat hamil banyak banget nasihat yang disampaikan oleh ibu, ibu mertua, bahkan neneknya. Misalnya, Sheila nggak boleh konsumsi makanan tertentu padahal setelah dia mengkroscek ke dokter, dokter kandungan Sheila membolehkan dia makan makanan itu asal jumlahnya nggak berlebihan.

"Kebetulan aku dan suami lebih yakin dengan sesuatu yang ada evidence based-nya gitu. Nah, kalau kata keluarga nggak boleh ini itu tapi aku tanya ke dokter nggak seperti itu ya aku ikutin kata dokter. Kadang situasi kayak gini yang bikin aku dan keluarga ribut," tutur Sheila.

Hmm, bingung juga ya, Bun. Kita paham maksud orang tua baik. Tapi gimana kalau memang nasihat yang disampaikan nggak pas di hati dan pikiran kita? Dikutip dari buku 'Anti Panik Menjalani Kehamilan' yang disusun tim Tiga Generasi, untuk mendiskusukan dan menjelaskan kepercayaan orang tua dan fakta yang ada pertama jangan lupa ucapkan terima kasih lebih dulu setelah orang tua mengemukakan pendapatnya.



Orang tua tentu punya lebih banyak pengalaman dari kita. Pasti ada juga kebanggaan dengan ilmu yang udah dimiliki. Nah, kalau kita langsung menyanggah besar kemungkinan orang tua atau mertua merasa tersinggung. Jadi, walaupun kita tahu hal eputar ibu hamil yang disampaikan adalah mitos jangan lupa ucapkan terima kasih atas perhatian yang sudah diberikan ya, Bun.

"Sampaikan juga fakta dengan dat apendukung. Jangan ragu informasikan data yang udah kita miliki. Tekankan kita mencari data pendukung bukan karenga nggak percaya pada orang tua atau mertua tapi karena ilmu kesehatan berkembang terus sehingga kita merasa perlu memperbarui pengetahuan yang dimiliki," tutur tim penulis.

Lalu, diskusikan juga ilmu terkait ibu hamil yang kita punya dengan suami sehingga kita bisa ambil sikap yang sejalan. Ya, meski mungkin bertentangan dengan kepercayaan orang tua dan mertua. Terus, gimana kalau orang tua atau mertua kelihatan masih sulit menerima?

"Tetap fokus pada kesehatan diri dan janin. Memang nggak semua bisa menerima informasi dengan mudah terlebih kalau orang tua punya prinsip yang tua yang paling benar. Ingat aja tugas ibu hamil adalah menjaga kesehatan ibu dan janin, bukan memenangkan kepercayaan orang tua atau mertua," kata tim penulis.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi