MOM'S LIFE
Ketahui Dampak Badai Matahari di Indonesia, Hindari Kabar Hoax ya Bun
Tim HaiBunda | HaiBunda
Minggu, 14 Aug 2022 18:25 WIBBunda, sebenarnya aktivitas matahari sudah sering terjadi di masa lalu dan masih berlangsung hingga hari ini. Oleh karena itu, kita perlu memahami proses dan dampak berbagai aktivitas matahari tersebut dan mengantisipasi dampak negatifnya semampu kita.
"Cuaca antariksa merupakan keadaan di lingkungan antariksa, khususnya antara matahari dan bumi, yang meliputi kondisi matahari, medium antarplanet, atmosfer atas bumi (ionosfer), dan selubung magnet bumi (magnetosfer).
Seperti halnya cuaca di bumi, cuaca antariksa bersifat dinamis dan sangat bergantung pada aktivitas matahari," kata Peneliti Pusat Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Johan Muhammad, dikutip dari situs BRIN, Jumat (12/8/2022).
Johan menjelaskan bahwa matahari sebagai sumber energi utama di tata surya, memiliki pengaruh terhadap cuaca antariksa. Matahari secara rutin melepaskan energi dalam bentuk radiasi.
Beberapa aktivitas matahari yang berpengaruh besar terhadap kondisi cuaca antariksa di antaranya adalah flare, lontaran massa korona, dan angin surya.
"Aktivitas matahari secara langsung mengubah kerapatan dan tekanan plasma di medium antarplanet dan ionosfer, serta meningkatkan tekanan magnetik pada magnetosfer Bumi. Akibatnya, berbagai sinyal gelombang elektromagnetik yang biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk keperluan komunikasi dan navigasi dapat terganggu saat terjadi aktivitas matahari yang ekstrem," papar Johan.
Kiamat badai matahari terjadi di Indonesia?
Johan menuturkan bahwa di Indonesia sendiri, dampak yang didapat tidak sebesar daerah yang berada di lintang tinggi seperti di sekitar kutub Bumi. Hal ini karena letak Indonesia yang berada di khatulistiwa.
Meski demikian, tidak berarti Indonesia bebas dari dampak badai matahari. Cuaca antariksa akan banyak berdampak pada gangguan sinyal radio frekuensi tinggi (HF) dan navigasi berbasis satelit.
"Di Indonesia, cuaca antariksa akibat aktivitas matahari dapat mengganggu komunikasi antarpengguna radio HF dan mengurangi akurasi penentuan posisi navigasi berbasis satelit, seperti GPS," ujarnya.
Selain itu, tambah Johan, karena semakin tingginya ketergantungan masyarakat di Indonesia terhadap teknologi satelit dan jaringan ekonomi global, gangguan pada satelit dan jaringan kelistrikan di wilayah lintang tinggi seperti kutub akibat cuaca antariksa tentunya juga dapat berpengaruh terhadap kehidupan manusia di Indonesia secara tidak langsung.
Saat terjadi badai matahari, kita kerap merasa khawatir berlebihan dan hoax yang bertebaran kerap mengaitkan ini dengan kiamat. Menanggapi istilah kiamat badai matahari, Johan menyebutnya sebagai istilah yang keliru dan perlu diluruskan.
"Tidak ada istilah seperti itu di kalangan masyarakat ilmiah. Kita telah hidup lama berdampingan dengan cuaca antariksa. Aktivitas matahari rutin terjadi. Yang perlu kita pahami adalah bagaimana prosesnya dan memitigasi dampak negatifnya semampu kita," ujarnya.
Johan melanjutkan bahwa BRIN juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak panik dan tidak mudah termakan hoax yang beredar berkaitan dengan badai matahari.
"Matahari memiliki siklus sekitar 11 tahun sekali. Siklus ini sifatnya tidak selalu sama di setiap saat. Terkadang, Matahari sangat aktif melepaskan energi eksplosif, sementara di periode lainnya matahari bersikap sangat tenang," urai Johan.
Siklus 11 tahunan ini telah dikenal lama oleh manusia. Setidaknya, keberadaan siklus matahari telah terdokumentasikan dengan baik sejak abad 18. Saat ini, kita sedang berada di awal siklus ke-25 yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2024-2025.
BACA ARTIKEL LENGKAPNYA DI SINI.
Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
3 Penyebab Kulit Kusam, Bukan Karena Matahari Kok!
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
TERPOPULER
Thailand Gratiskan 200 Ribu Tiket Pesawat bagi Turis, Catat Syaratnya!
Momen Nola B3 Kembali Bertemu Lusy Rahmawaty di Australia, Ungkap Sang Sahabat Betah Tanpa Medsos
Selamat! Kimmy Jayanti Melahirkan Anak Ketiga Berjenis Kelamin Laki-laki
5 Potret Athar Putra Citra Kirana Rayakan Ultah ke-5, Konsepnya Curi Perhatian
Viral TikTok: Bayi Bisa Jalan dengan Trik Jeruk Nipis, Apa Itu?
REKOMENDASI PRODUK
11 Rekomendasi Loose Powder untuk Kulit Kering hingga Berminyak
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Obat Anak untuk Mengatasi Susah Buang Air Besar
Asri EdiyatiREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Skincare Anak 8 Tahun yang Aman dan Cara Memilihnya yang Tepat
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Calming Rub Cream untuk Bantu Redakan Batuk Pilek hingga Kembung
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
Ngopi Santai ala Bunda Kekinian? Coba 5 Rekomendasi Kopi Susu Ini
PritadanesTERBARU DARI HAIBUNDA
Diet ala Artis Korea Jihyo TWICE, Sukses Turun Berat Badan 10 Kg
Ikut Tren TikTok untuk Picu Kontraksi, Ibu Hamil Ini Jadi Sorotan Netizen
5 Potret Athar Putra Citra Kirana Rayakan Ultah ke-5, Konsepnya Curi Perhatian
Thailand Gratiskan 200 Ribu Tiket Pesawat bagi Turis, Catat Syaratnya!
Viral TikTok: Bayi Bisa Jalan dengan Trik Jeruk Nipis, Apa Itu?
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Demo di Kwitang Rusuh, Komandan Brimob Buka Suara
-
Beautynesia
4 Karakter Menarik di Drama Korea Aema dan Perannya dalam Cerita
-
Female Daily
Diduga Ada Easter Egg, Ini Detail Tersembunyi di Lamaran Taylor Swift dan Travis Kelce!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Sinopsis Dragged Across Concrete, Fillm Vince Vaughn di Bioskop Trans TV
-
Mommies Daily
Campak di Sumenep Meningkat, 20 Anak Meninggal!