HaiBunda

MOM'S LIFE

7 Cara Meluluhkan Hati Suami yang Keras dan Egois

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Minggu, 25 Jan 2026 17:00 WIB
Ilustrasi cara meluluhkan hati suami yang keras dan egois / Foto: Getty Images/Kiwis

Bunda punya suami yang keras dan egois? Begini cara meluluhkan suami yang keras dan egois. 

Sikap keras dan egois dalam rumah tangga sering menjadi sumber konflik yang tak berkesudahan. Ketika salah satu pihak, dalam hal ini suami, lebih mementingkan diri sendiri, kurang empati, dan enggan berbagi tanggung jawab, hubungan bisa terasa berat dan melelahkan bagi pasangan.

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi keharmonisan, tapi juga kesehatan emosional istri dan keluarga secara keseluruhan. Hubungan yang sehat sejatinya dibangun oleh dua orang yang melangkah seiring.


Ketika hanya satu pihak yang terus berusaha memahami, berkorban, dan menyesuaikan diri, rasa lelah, kesepian, hingga tidak dihargai dapat muncul. Oleh karena itu, penting bagi istri untuk memahami tanda-tanda suami yang keras dan egois sekaligus mengetahui cara tepat untuk meluluhkan hatinya tanpa harus kehilangan jati diri.

Menghadapi suami yang keras dan egois bukan perkara mudah, namun tidak berarti mustahil. Dengan pendekatan yang tepat, komunikasi sehat, serta batasan jelas, perubahan tetap bisa diupayakan.

Mengutip Mom Junction, mari bahas mengenai alasan suami egois hingga cara yang dapat dilakukan untuk meluluhkan hati suami agar hubungan kembali seimbang dan penuh pengertian.

Ciri-ciri suami yang egois dan keras

Tidak semua suami yang terlihat santai atau cuek bisa langsung disebut egois. Namun jika perilaku berikut terjadi berulang dan membentuk pola, besar kemungkinan sikap egois sudah mengakar dalam hubungan. Berikut ciri-ciri suami egois yang perlu dikenali sejak dini.

1. Menganggap istri wajib mengurus segalanya

Suami egois cenderung menganggap pekerjaan rumah, pengasuhan anak, hingga urusan kecil sehari-hari adalah tanggung jawab istri sepenuhnya. Ia merasa berhak beristirahat, sementara istri harus tetap bekerja di rumah tanpa henti.

2. Sering menggurui dan membalikkan kesalahan

Dibanding mendengarkan keluhan, suami egois justru kerap menggurui dan menyalahkan istri. Ketika ditegur, ia bisa melakukan gaslighting sehingga membuat istri merasa bersalah, berlebihan, atau tidak tahu berterima kasih.

3. Selalu mengutamakan diri sendiri

Segala keputusan diambil berdasarkan kenyamanan dan kepentingannya sendiri. Mulai dari urusan liburan, waktu berkumpul dengan keluarga, hingga aktivitas harian, semuanya harus sesuai dengan keinginannya, tanpa mempertimbangkan perasaan istri.

4. Ingin selalu menjadi prioritas

Suami egois menuntut perhatian penuh dari istri. Apa pun kesibukan atau kondisi istri, ia merasa harus selalu diutamakan. Bahkan dalam situasi mendesak, kebutuhan istri sering kali dianggap nomor sekian.

5. Mengendalikan istri

Suami egois selalu mengendalikan istrinya, mulai dari mengambil keputusan kecil hingga besar, seperti pilihan karier, keuangan, atau relasi sosial, sering kali ditentukan sepihak oleh suami. Istri hanya diberi sedikit ruang untuk berpendapat, bahkan tidak sama sekali.

6. Liburan hanya demi kebahagiaan suami

Mestinya liburan menjadi waktu untuk beristirahat bersama. Namun liburan justru berubah menjadi momen di mana istri tetap bekerja mengurus anak, sementara suami menikmati waktu sendiri atau bersama teman-temannya.

7. Menuntut istri hemat tapi suami tetap boros

Suami egois kerap menuntut istri hidup hemat dan menahan keinginan pribadi. Namun tidak menerapkan hal yang sama pada dirinya. Pengeluaran untuk kesenangan pribadinya dianggap wajar, sementara kebutuhan istri dinilai berlebihan.

8. Menuntut keintiman tanpa mempertimbangkan pasangan

Keintiman seharusnya dilakukan atas dasar kenyamanan dan persetujuan bersama. Namun suami egois cenderung menuntut tanpa mempertimbangkan kondisi fisik maupun emosional istri.

9. Minim apresiasi dan dukungan

Apa pun yang dilakukan istri dianggap sebagai kewajiban semata. Ia jarang memberi pujian, dukungan, atau penghargaan, bahkan lebih sering mengkritik daripada mengapresiasi.

10. Kurang empati pada istri

Salah satu ciri paling kuat suami egois, yakni kurangnya empati. Suami egois sulit memahami perasaan istri, sering mengambil keputusan penting tanpa berdiskusi. Bahkan ia tidak peka terhadap luka emosional yang ditimbulkan dari sikapnya.

Alasan suami bersikap egois

Perlu dipahami bahwa sikap egois tidak selalu muncul begitu saja. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sifat mementingkan diri sendiri dalam kadar tertentu.

Ketika sudah menikah, sikap saling mendukung dan berbagi peran seharusnya menjadi pondasi utama. Jika hal tersebut tidak terlihat pada diri suami, ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebabnya.

1. Pengalaman masa kecil

Pengalaman masa kecil memegang peranan besar dalam membentuk karakter seseorang hingga dewasa. Suami yang tumbuh sebagai anak tunggal misalnya, mungkin tidak terbiasa berbagi dan memperhatikan kebutuhan orang lain.

Sebaliknya, mereka yang tumbuh dengan banyak saudara mungkin terbiasa bersaing untuk mendapatkan perhatian sehingga terbawa hingga dewasa. Selain itu, pola asuh orang tua juga sangat berpengaruh.

Jika suami dibesarkan oleh orang tua yang egois atau otoriter, besar kemungkinan ia meniru perilaku tersebut tanpa menyadari dampaknya dalam pernikahan.

2. Pengaruh budaya dan lingkungan

Dalam beberapa budaya, laki-laki masih diposisikan lebih tinggi daripada perempuan. Pola pikir ini membuat sebagian suami merasa wajar menyerahkan seluruh beban rumah tangga kepada istri atau membatasi ruang gerak dan karier pasangan.

Ironisnya, sikap tersebut kerap tidak dianggap sebagai bentuk keegoisan, tapi sesuatu yang normal menurut standar lingkungan. Jadi, suami tidak menyadari bahwa perilakunya melukai dan membebani pasangan.

3. Trauma hubungan masa lalu

Pengalaman hubungan yang gagal juga bisa membentuk sikap egois. Jika sebelumnya suami pernah berada dalam hubungan di mana kebaikannya dimanfaatkan, ia mungkin membangun 'benteng' untuk melindungi diri.

Sayangnya, mekanisme pertahanan ini bisa berubah menjadi sikap mementingkan diri sendiri, enggan berkorban, dan terlalu fokus pada kebutuhan pribadi demi menghindari luka yang sama terulang kembali.

4. Sifat mendominasi

Sebagian orang memiliki kecenderungan ingin mengendalikan segala hal. Mereka merasa nyaman ketika semua berjalan sesuai kehendaknya dan sulit berkompromi dengan pasangan.

Sifat dominan dan controlling ini kerap berujung pada sikap egois karena keinginan serta pendapat pasangan dianggap tidak sepenting diri sendiri. Dalam jangka panjang, pola ini dapat menciptakan hubungan yang timpang dan tidak sehat.

Cara meluluhkan hati suami yang keras dan egois

Berikut cara meluluhkan hati suami yang keras dan egois yang bisa Bunda lakukan.

1. Diskusikan dengan tenang

Langkah pertama yang penting membedakan antara berdiskusi dan mengeluh. Menyebut suami egois atau tidak peduli justru akan membuatnya defensif dan menutup diri.

Sebaliknya, sampaikan perasaan dan harapan dengan bahasa yang tenang dan jelas. Sebagai contoh, ketika suami menghindari tanggung jawab, jelaskan dampaknya terhadap Bunda tanpa menyudutkan.

Pendekatan yang lembut namun tegas jauh lebih efektif untuk membuka ruang dialog dibandingkan keluhan berulang.

2. Fokus pada sisi positif suami

Tidak ada manusia yang sepenuhnya buruk. Di balik sikap keras dan egois, biasanya tetap ada momen di mana suami pernah bersikap peduli atau mengutamakan keluarga.

Momen-momen kecil ini penting untuk diingat dan diapresiasi. Beri penghargaan atas perilaku positif, sekecil apa pun, dapat menjadi penguat agar ia mengulang sikap tersebut. Apresiasi yang tulus sering kali lebih ampuh daripada kritik tajam.

3. Beri kesempatan bertanggung jawab

Tanpa disadari, istri kerap mengambil alih semua peran demi menghindari konflik atau demi kelancaran rumah tangga. Hal ini justru bisa membuat suami semakin pasif dan tidak terbiasa bertanggung jawab.

Mulai membagi peran secara jelas dan biarkan suami menjalankan tanggung jawabnya. Keterlibatan aktif menjadi langkah awal untuk menumbuhkan rasa empati dan kepedulian.

4. Hargai diri sendiri dan kebutuhan pribadi

Meluluhkan hati suami tidak berarti mengorbankan diri sendiri. Dengan mengabaikan kebutuhan, impian, dan kebahagiaan pribadi justru dapat memperkuat sikap egois pasangan.

Tetap jalani hobi, jaga relasi sosial, dan kejar aspirasi pribadi. Ketika istri menghargai dirinya sendiri, suami pun akan belajar bahwa pasangan bukan sekadar pelengkap, melainkan seseorang yang layak dihormati.

5. Berani bicara dan menetapkan batasan

Diam dan berharap perubahan datang dengan sendirinya sering kali berujung pada kekecewaan. Jika sikap suami sudah melukai secara emosional, sampaikan dengan tegas namun tetap sopan.

Tetapkan batasan yang sehat, apa yang bisa diterima dan tidak. Komunikasi yang jujur, disampaikan tanpa amarah, bantu suami memahami konsekuensi dari sikapnya.

6. Pahami akar masalah

Sikap keras dan egois tidak selalu muncul tanpa sebab. Bisa jadi pola asuh masa kecil, pengalaman masa lalu, atau tekanan tertentu membentuk perilaku tersebut. Dengan memahami akar masalahnya, istri dapat memilih pendekatan yang lebih tepat.

Refleksi diri juga penting dilakukan karena terkadang dinamika hubungan dipengaruhi oleh respon kedua belah pihak. Dengan memahami akar masalah bukan berarti membenarkan, melainkan membantu mencari solusi yang lebih efektif.

7. Ambil keputusan dengan bijak

Kesabaran memiliki batas. Jika berbagai upaya telah dilakukan namun suami tetap menolak berubah, bahkan menunjukkan perilaku manipulatif atau abusif, maka istri perlu mempertimbangkan langkah selanjutnya demi kesehatan mental dan keselamatan diri.

Pilihan untuk bertahan atau melangkah pergi harus didasarkan pada pertimbangan matang dan kepentingan jangka panjang. Dalam situasi tertentu, bantuan profesional seperti konseling pernikahan dapat menjadi jalan tengah sebelum mengambil keputusan besar.

Dalam menghadapi suami yang keras dan egois memang menuntut kesabaran ekstra, keberanian, dan kebijaksanaan. Jadi, mengenai tanda-tandanya sejak dini serta menerapkan cara meluluhkannya dengan tepat dapat membuka peluang perubahan ke arah yang lebih sehat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Tanda Pasangan Berbohong, Salah Satunya Perubahan Perilaku

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

7 Ciri-ciri Ovulasi Tinggi dan Sedang dalam Masa Subur pada Perempuan

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Jihan Fahira dan Primus Yustisio Lama Tak Tersorot, Intip Potretnya Bun

Mom's Life Annisa Karnesyia

3 Resep Telur Dadar Padang yang Tebal dan Mengembang, Ini Cara Mudah Membuatnya

Mom's Life Amira Salsabila

Potret Maudy Koesnadi Nikmati Musim Salju di Belanda Bareng Suami dan Anak

Mom's Life Annisa Karnesyia

Waspada! Terlihat Aman, 5 Benda di Rumah yang Sering Jadi Penyebab Bayi Terluka

Parenting Indah Ramadhani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Ciri-ciri Ovulasi Tinggi dan Sedang dalam Masa Subur pada Perempuan

Jihan Fahira dan Primus Yustisio Lama Tak Tersorot, Intip Potretnya Bun

Waspada! Terlihat Aman, 5 Benda di Rumah yang Sering Jadi Penyebab Bayi Terluka

3 Resep Telur Dadar Padang yang Tebal dan Mengembang, Ini Cara Mudah Membuatnya

Potret Maudy Koesnadi Nikmati Musim Salju di Belanda Bareng Suami dan Anak

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK