MOM'S LIFE
7 Perusahaan yang Bersiap Menggantikan Karyawan dengan AI
Arina Yulistara | HaiBunda
Jumat, 06 Mar 2026 15:35 WIBWaspada posisi Bunda tergeser dengan AI? Ini dia deretan perusahaan dunia yang sudah bersiap menggantikan karyawannya dengan AI.
Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) akan menggantikan peran manusia di dunia kerja kini bukan lagi sekadar prediksi masa depan. Sejumlah perusahaan global mulai terang-terangan mengakui bahwa adopsi AI berdampak langsung pada perampingan tenaga kerja mereka.
Mengutip Business Insider, sebuah studi yang dirilis oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT) tahun lalu menemukan bahwa AI sudah mampu menggantikan sekitar 11,7 persen pasar tenaga kerja di Amerika Serikat. Riset tersebut menggunakan simulasi pasar kerja bernama Iceberg Index yang memodelkan 151 juta pekerja dan mengukur sejauh mana keterampilan mereka tumpang tindih dengan kemampuan AI.
Di sisi lain, survei World Economic Forum memperkirakan 41 persen perusahaan global akan mengurangi jumlah karyawan dalam lima tahun ke depan karena AI, meski pekerjaan di bidang big data, fintech, dan AI diprediksi meningkat dua kali lipat pada 2030.
Perusahaan yang bersiap menggantikan karyawan dengan AI
Berikut deretan perusahaan global yang telah mengganti atau memberi sinyal akan mengganti sebagian tenaga kerjanya dengan AI.
1. HP
HP mengumumkan rencana pengurangan 4 ribu hingga 6 ribu posisi hingga akhir 2028. Dalam laporan keuangan yang dirilis November lalu, perusahaan memperkirakan langkah tersebut dapat menghemat sekitar US$1 miliar atau Rp16,8 triliun.
Manajemen menyebut strategi efisiensi dilakukan melalui pengurangan tenaga kerja, penyederhanaan platform, konsolidasi program, serta peningkatan produktivitas berbasis adopsi AI. Perusahaan menilai pemanfaatan AI dapat mendorong inovasi sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan.
2. IBM
CEO IBM, Arvind Krishna, mengungkapkan bahwa perusahaan telah menggantikan ratusan karyawan di divisi sumber daya manusia dengan sistem AI. IBM juga mengumumkan pemangkasan ribuan pekerja pada kuartal keempat 2025 yang memengaruhi sebagian kecil tenaga kerja globalnya.
Krishna menegaskan bahwa IBM tengah mengalihkan fokus untuk merekrut lebih banyak talenta di bidang AI dan komputasi kuantum. Bahkan ia menyebut adopsi AI justru mendorong peningkatan perekrutan di bidang pemrograman dan penjualan. Untuk posisi back-office seperti HR, IBM memperkirakan hingga 30 persen dapat tergantikan oleh AI dalam lima tahun.
3. Amazon
Sementara CEO Amazon, Andy Jassy, menyatakan bahwa efisiensi berbasis AI berpotensi menyusutkan jumlah karyawan dalam beberapa tahun mendatang. Meski demikian, dalam dua gelombang PHK besar terakhir, perusahaan mengatakan bahwa keputusan tersebut lebih berkaitan dengan budaya perusahaan daripada AI secara langsung.
Eksekutif Amazon menegaskan ambisi untuk menjadikan perusahaan startup terbesar di dunia yang menuntut struktur lebih ramping dan adaptif di era AI. Manajemen juga menilai generasi AI saat ini sebagai teknologi paling transformatif sejak internet.
4. Salesforce
CEO Salesforce, Marc Benioff, mengungkapkan bahwa perusahaan memanfaatkan agen AI di divisi layanan pelanggan. Langkah ini membuat jumlah staf dukungan berkurang dari sekitar 9 ribu menjadi 5 ribu orang.
Setelah menerapkan teknologi Agentforce, perusahaan tidak lagi secara aktif menggantikan posisi insinyur dukungan yang kosong. Namun ratusan karyawan dialihkan ke bidang lain seperti layanan profesional, penjualan, dan customer success.
5. Klarna
Ada pun CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, yang menyebut jumlah karyawan perusahaan telah menyusut setengahnya dalam empat tahun terakhir. Dari sekitar 7 ribu karyawan pada 2022, kini tersisa sekitar 3 ribu orang, bahkan diperkirakan turun di bawah 2 ribu pada 2030.
Pengurangan dilakukan melalui PHK dan attrition alami, yakni tidak mengganti karyawan yang keluar. Klarna mengklaim asisten AI mereka mampu menangani beban kerja setara 853 agen penuh waktu dan menghemat sekitar US$58 juta atau Rp979 miliar per tahun.
6. Fiverr
CEO sekaligus pendiri Fiverr, Micha Kaufman, memangkas sekitar 30 persen tenaga kerja atau sekitar 250 karyawan. Langkah ini diambil untuk menjadikan Fiverr sebagai perusahaan yang berorientasi 'AI-first'.
Kaufman bahkan secara terbuka mengingatkan karyawannya bahwa AI akan datang menggantikan pekerjaan yang tidak beradaptasi. Ia menegaskan perusahaan hanya akan merekrut seseorang yang memiliki kemampuan memanfaatkan AI.
7. WiseTech Global
CEO WiseTech, Zubin Appoo, mengumumkan pemangkasan sekitar 2 ribu karyawan atau 30 persen dari total staf. Perusahaan perangkat lunak logistik berbasis di Sydney itu menyatakan efisiensi berbasis AI memungkinkan produktivitas lebih tinggi dengan jumlah pegawai lebih sedikit.
Appoo bahkan menegaskan era penulisan kode secara manual sebagai inti rekayasa perangkat lunak telah berakhir. Di beberapa divisi seperti layanan pelanggan, ia memperkirakan satu dari dua posisi akan hilang akibat otomatisasi berbasis AI.
Meski sejumlah perusahaan memangkas tenaga kerja, tren ini tidak sepenuhnya berarti berkurangnya lapangan kerja secara total. Banyak perusahaan mengalihkan fokus perekrutan ke bidang AI, data, dan teknologi mutakhir lainnya.
Gelombang transformasi tersebut menjadi peringatan keras bagi pekerja di berbagai sektor untuk meningkatkan keterampilan digital dan kemampuan adaptasi. Di era ketika teknologi kecerdasan buatan semakin canggih, kompetensi manusia yang tidak tergantikan, seperti kreativitas, empati, dan kepemimpinan, masih menjadi nilai tambah yang penting.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)