MOM'S LIFE
Ciri Kepribadian Orang yang Punya Kebiasaan Menggigit Kuku Menurut Psikologi
Melly Febrida | HaiBunda
Jumat, 31 Jul 2026 19:35 WIBMenggigit kuku sering dianggap sebagai kebiasaan sepele yang dilakukan orang saat sedang melamun atau gugup. Namun, menurut psikologi, kebiasaan menggigit kuku ini dapat berkaitan dengan karakter hingga kondisi emosional seseorang.
Melansir News-medical, kebiasaan menggigit kuku dalam dunia medis dikenal dengan istilah onychophagia. Kondisi ini memang belum menjadi diagnosis tersendiri.
Perilaku ini dapat melibatkan menggigit atau mengunyah kuku, termasuk kuku kaki. Jika dilakukan berulang, terutama sebagai respons terhadap stres atau tekanan emosional, kebiasaan ini dapat merusak kuku dan meningkatkan risiko infeksi.
Pada sebagian orang, kebiasaan menggigit kuku juga dapat berkaitan dengan kondisi kesehatan mental tertentu. Karena itu, kebiasaan ini sebaiknya tidak dianggap sepele.
Ciri kepribadian yang dikaitkan dengan kebiasaan menggigit kuku
Menurut psikologi, hingga saat ini belum ada tipe kepribadian tertentu yang dimiliki semua orang dengan kebiasaan menggigit kuku. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan ini paling konsisten dikaitkan dengan kecenderungan perfeksionis.
Orang dengan sifat perfeksionis umumnya memiliki standar yang tinggi terhadap diri sendiri. Mereka juga cenderung memiliki toleransi yang lebih rendah terhadap rasa bosan dan frustrasi sehingga dapat mencari cara untuk meredakan ketegangan, salah satunya melalui kebiasaan menggigit kuku.
Sementara itu, faktor lain seperti stres, kecemasan, kebosanan, dan tekanan emosional lebih berperan sebagai pemicu munculnya kebiasaan menggigit kuku daripada sebagai ciri kepribadian.
Faktor yang dapat memicu kebiasaan menggigit kuku
Selain faktor kepribadian, kebiasaan menggigit kuku juga dapat dipicu oleh berbagai kondisi emosional maupun lingkungan. Menurut tinjauan yang dipublikasikan dalam Indian Journal of Mental Health, beberapa faktor yang diduga berperan meliputi:
1. Stres dan kecemasan
Menggigit kuku dapat menjadi cara untuk meredakan ketegangan sementara. Pada sebagian orang, kebiasaan ini dapat memberikan efek menenangkan sementara sehingga sebagian orang melakukannya secara otomatis ketika menghadapi tekanan, baik saat belajar, bekerja, maupun berada dalam situasi yang menegangkan.
2. Tekanan emosional
Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan menggigit kuku dapat dipengaruhi oleh berbagai emosi. Rasa malu, rendah diri, sedih, hingga tekanan akibat pengalaman hidup yang berat, seperti kehilangan orang terdekat atau perceraian dalam keluarga.
3. Kebosanan
Sebagian orang menggigit kuku saat tidak memiliki aktivitas atau stimulasi yang cukup. Hal ini diduga terjadi karena mereka memiliki toleransi yang rendah terhadap rasa bosan.
Menggigit kuku kemudian menjadi aktivitas otomatis untuk mengisi waktu atau mengalihkan perhatian.
4. Meniru kebiasaan orang di sekitar
Faktor ini terutama ditemukan pada anak-anak yang mencontoh perilaku orang dewasa.
5. Faktor psikososial dalam keluarga
Beberapa penelitian menyebut lingkungan keluarga juga dapat berperan dalam munculnya kebiasaan ini.
Apakah menggigit kuku berkaitan dengan gangguan mental?
Jawabannya tidak selalu. Sesekali menggigit kuku itu merupakan kebiasaan yang cukup umum. Namun, batas antara kebiasaan yang masih tergolong normal dan yang sudah menjadi gangguan tidak selalu mudah dikenali.
Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5), kebiasaan menggigit kuku dapat termasuk dalam kelompok body-focused repetitive behavior disorder (BFRB) apabila menimbulkan tekanan psikologis yang bermakna, mengganggu fungsi atau aktivitas sehari-hari, serta seseorang berulang kali berusaha menghentikan kebiasaan tersebut tetapi tidak berhasil.
Selain itu, melansir Psychology Today, kebiasaan menggigit kuku yang berlangsung terus-menerus juga dapat menyebabkan kerusakan pada kuku dan kulit di sekitarnya, meningkatkan risiko infeksi, hingga menimbulkan masalah pada mulut atau gigi.
Pada anak-anak, kebiasaan menggigit kuku juga dilaporkan dapat muncul bersamaan dengan beberapa kondisi lain, seperti gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD), gangguan kecemasan perpisahan, gangguan perilaku menentang (oppositional defiant disorder), gangguan tic, hingga gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Namun, hubungan tersebut tidak berarti semua anak yang menggigit kuku pasti mengalami kondisi tersebut.
Bagaimana cara mengurangi kebiasaan menggigit kuku?
Mengurangi kebiasaan menggigit kuku umumnya membutuhkan waktu. Menurut para ahli, memarahi atau menegur seseorang karena kebiasaan ini justru bukan cara yang efektif, terutama pada anak.
Sebaliknya, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi kebiasaan menggigit kuku:
- Kenali pemicunya. Perhatikan apakah kebiasaan ini muncul saat stres, cemas, bosan, atau sedang berkonsentrasi.
- Alihkan kebiasaan. Saat muncul keinginan menggigit kuku, cobalah menggantinya dengan aktivitas lain, seperti meremas bola antistres atau mengepalkan tangan selama beberapa saat.
- Kurangi akses ke kuku. Sebagian orang terbantu dengan menjaga kuku tetap pendek, menggunakan cat kuku berasa pahit, atau memakai penghalang seperti plester atau sarung tangan dalam situasi tertentu.
- Kelola stres. Teknik relaksasi, olahraga, atau aktivitas yang membantu menenangkan pikiran dapat mengurangi dorongan untuk menggigit kuku.
- Berikan penguatan positif. Pada anak, memberikan apresiasi ketika berhasil mengurangi kebiasaan menggigit kuku dinilai lebih efektif dibandingkan memarahi atau menghukumnya.
Apabila kebiasaan menggigit kuku sudah menyebabkan luka, infeksi, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau terasa sangat sulit dihentikan meski sudah berulang kali mencoba, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau profesional kesehatan mental.
Dalam beberapa kasus, terapi seperti cognitive behavioral therapy (CBT) atau habit reversal training (HRT) dapat membantu mengidentifikasi pemicu sekaligus melatih kebiasaan pengganti yang lebih sehat.
Sementara itu, penggunaan obat umumnya bukan pilihan utama untuk mengatasi kebiasaan menggigit kuku.
Beberapa penelitian memang mengevaluasi obat maupun suplemen tertentu, tetapi bukti manfaatnya masih terbatas sehingga penggunaannya perlu berdasarkan anjuran dokter.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Ciri Kebiasaan Orang Cerdas yang Sering Tak Disadari
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
4 Ciri Kepribadian Orang yang Lahir di Bulan April, Suka Ketenangan tapi Penuh Ide
Alasan Mengapa Orang dengan Golongan Darah O Jadi yang Terfavorit di Korea
10 Ciri Perempuan Tangguh Bisa Lepas dari Masalah, Bisa Mencintai Diri Sendiri
9 Ciri Kepribadian Dilihat dari Buah Favorit, Bunda Suka yang Mana?
TERPOPULER
Momen Manis Erin saat Kunjungi Sang Putra yang Kini Kuliah di Inggris, Kulineran Bareng
Potret Gemas Baby Kaia, Anak Steffi Zamora & Nino Fernandez yang Sudah Aktif Berceloteh
Vagina Gatal setelah Berhubungan, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
5 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Disiplin dan Sopan tanpa Hukuman
11 Ciri Orang Tua Baik yang Berhasil Mendidik Anak Menurut Ilmu Psikologi
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Electric Grill untuk BBQ Rumahan, Panggang Jadi Lebih Praktis
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Slow Juicer Tanpa Ampas, Cocok untuk Pencinta Jus Segar
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Anak Sering Sakit? Ini 5 Vitamin untuk Bantu Jaga Daya Tahan Tubuh
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
Jangan Dibunuh, Ini 5 Obat Penghilang Semut yang Diklaim Ampuh sampai Tuntas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Food Processor Terbaik & Kelebihannya Dibanding Blender
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
11 Kalimat Khas Si Playing Victim, Kenali Sebelum Terkena Manipulasi
5 Cara Orang Tua Jepang Mendidik Anak agar Disiplin dan Sopan tanpa Hukuman
Potret Gemas Baby Kaia, Anak Steffi Zamora & Nino Fernandez yang Sudah Aktif Berceloteh
Vagina Gatal setelah Berhubungan, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
Momen Manis Erin saat Kunjungi Sang Putra yang Kini Kuliah di Inggris, Kulineran Bareng
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Mau Upgrade dari Sepeda Hybrid ke Gravel Touring? Kenalan Dulu Sama Sepeda Ini
-
Beautynesia
6 Ciri Kepribadian Orang yang Mendadak Produktif di Jam Malam
-
Female Daily
no na Rilis Album Pertamanya “island girl”, Intip Fakta Menariknya!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Tren Skin Booster Glass Skin, Benarkah Bikin Kulit Glowing? Ini Kata Dokter!
-
Mommies Daily
10 Rekomendasi Produk Rambut Curly: Shampoo, Conditioner hingga Curl Cream