MOM'S LIFE
7 Ciri Karakteristik Orang yang Menolak Pakai AI dan ChatGPT, Bukan karena Gaptek
Melly Febrida | HaiBunda
Rabu, 23 Sep 2026 22:00 WIBZaman kini setiap orang dipermudah memakai kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, masih ada orang yang memilih tidak menggunakan ChatGPT dan berbagai AI lainnya. Alasannya bukan karena nggak melek teknologi, justru sebagian besar memahami cara kerja dan manfaat AI.
Orang-orang yang menolak memakai AI dan ChatGPT baik untuk pekerjaan, belajar, atau kehidupan sehari-hari mempunyai alasan yang beragam. Ada yang merasa lebih nyaman mengerjakan sesuatu dengan kemampuan sendiri, ingin mempertahankan sentuhan manusia, khawatir dengan akurasi AI, atau punya pertimbangan etis dan lingkungan.
Hal ini sejalan dengan penelitian mengenai penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah studi yang menganalisis hingga 90 hari riwayat penelusuran web menemukan bahwa penggunaan situs AI rata-rata hanya sekitar satu persen dari aktivitas web mahasiswa, dan 0,44 persen pada masyarakat umum.
Melansir YourTango, ada sejumlah karakteristik yang sering dikaitkan dengan orang yang memilih menjauhi ChatGPT dan berbagai AI lainnya. Namun, daftar ini bukan berarti semua orang yang menolak AI memiliki kepribadian yang sama. Setiap orang bisa punya alasan berbeda, mulai dari soal prinsip, kenyamanan, sampai kekhawatiran terhadap dampaknya.
Karakteristik orang yang menolak pakai AI dan ChatGPT
tidak semua orang yang paham teknologi merasa perlu memakai AI dalam setiap urusan. Ada yang tetap nyaman berpikir sendiri, ada yang lebih percaya pada sentuhan manusia, dan ada pula yang merasa belum yakin dengan dampak penggunaan AI.
Berikut beberapa karakteristik yang sering dikaitkan dengan orang yang memilih tidak menggunakan ChatGPT dan AI lainnya.
1. Mereka menghargai sentuhan manusia dan pemikiran sendiri
Sebagian orang merasa bahwa proses mengerjakan sesuatu sama pentingnya dengan hasil akhirnya. Mereka ingin menulis dengan kata-kata sendiri, mencari informasi sendiri, menyusun ide sendiri, atau memecahkan masalah tanpa menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
Misalnya, seseorang mungkin lebih memilih menulis email sendiri karena merasa ada emosi tertentu yang ingin disampaikan. Begitu juga ketika membuat tulisan, kartu ucapan, atau karya kreatif. Menurut mereka, ada sesuatu yang hilang ketika seluruh proses tersebut dibuat AI.
Sikap seperti ini tidak otomatis berarti mereka anti-teknologi. Mereka bisa saja hanya memiliki batas tertentu tentang bagian pekerjaan yang ingin tetap dilakukan manusia.
Penelitian mengenai kreativitas manusia dan AI juga menunjukkan bahwa AI nggak selalu membuat proses kreatif jadi lebih baik. Studi yang menganalisis lebih dari 4 juta karya seni dari lebih dari 50 ribu pengguna menemukan bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas kreatif. Namun, rata-rata keunikan visual dan konten karya justru menurun dalam beberapa aspek.
Temuan tersebut mengindikasikan adanya ruang ide yang meluas, tetapi tidak selalu diikuti proses yang efisien. Peneliti menekankan pentingnya kemampuan manusia dalam menghasilkan ide dan menyaring hasil AI.
Dari penjelasan di atas, orang yang memilih tidak memakai AI bisa saja sedang mempertahankan bagian dari proses kreatif yang menurut mereka penting.
2. Mereka tidak mudah percaya begitu saja pada teknologi
Orang yang menolak menggunakan ChatGPT mungkin bukan karena menganggap AI selalu buruk. Mereka hanya tidak ingin menerima begitu saja setiap jawaban dari teknologi tanpa memeriksanya terlebih dahulu.
Ini cukup masuk akal karena AI memang bisa menghasilkan jawaban yang terdengar meyakinkan, meskipun belum tentu benar. Sebuah studi dari Washington State University juga menemukan bahwa ChatGPT belum selalu konsisten memberikan jawaban.
Peneliti menguji 719 hipotesis dari penelitian ilmiah dan memberikan pertanyaan yang sama sebanyak 10 kali. Hasilnya, ChatGPT memberikan jawaban yang konsisten sekitar 73 persen dari pengujian.
Temuan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap akurasi dan konsistensi AI bukan tanpa alasan. ChatGPT memang bisa membantu mencari dan mengolah informasi, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa, terutama untuk hal-hal yang membutuhkan ketepatan.
Studi lain tentang AI aversion menemukan bahwa sebagian orang memang menunjukkan respons emosional yang lebih negatif terhadap AI dibandingkan teknologi atau algoritma secara umum.
Kalau Bunda memilih untuk berkata, “Aku cek sendiri dulu,” itu bukan selalu tanda gaptek. Bisa saja, Bunda memang tipe orang yang lebih nyaman memastikan sesuatu sebelum mempercayainya.
3. Mereka bangga dengan proses dan usaha sendiri
Ada orang yang merasa puas ketika berhasil menyelesaikan sesuatu setelah melewati proses yang tidak mudah. Mereka menikmati proses mencari jawaban, membuat kesalahan, mencoba lagi, kemudian akhirnya menemukan solusi. Karena itu, menggunakan AI untuk mengambil alih bagian tersebut justru bisa mengurangi kepuasan yang mereka rasakan.
Untuk mereka, pertanyaannya bukan cuma, “Bisa selesai cepat atau nggak?” Ada juga pertanyaan lain, “Aku belajar apa dari proses ini?”
Penelitian terbaru mengenai cognitive offloading dan AI pada orang dewasa muda menunjukkan bahwa penggunaan AI memang dapat mengurangi beban mental dan meningkatkan akurasi dalam tugas tertentu. Namun, peneliti juga menemukan bahwa cara seseorang menggunakan AI sangat menentukan.
Penggunaan AI yang mendelegasikan seluruh proses berpikir berbeda dengan penggunaan AI sebagai alat bantu sambil tetap melakukan verifikasi dan penalaran sendiri.
Karena itu, orang yang memilih mengerjakan sesuatu sendiri bisa saja memang lebih menghargai proses belajar dan usaha yang mereka keluarkan, bukan sekadar mengejar hasil akhir.
4. Mereka punya nilai pribadi yang kuat
Ada orang yang menggunakan AI setelah mempertimbangkan satu pertanyaan sederhana, "Apakah ini sesuai dengan nilai yang aku pegang?"
Misalnya, mereka tidak nyaman menggunakan AI untuk menulis tugas yang seharusnya dikerjakan sendiri. Ada juga yang merasa kurang nyaman jika menggunakan AI untuk menulis pesan yang sangat personal, membuat karya atas nama sendiri, atau mengambil alih pekerjaan yang menurut mereka seharusnya membutuhkan kontribusi manusia.
Pertimbangan seperti ini masuk ke wilayah etika dan nilai pribadi. Fokus mereka bukan hanya pada hasil akhir. Mereka juga menghargai proses belajar, berkembang, dan meraih pencapaian dari usaha sendiri.
Penelitian mengenai penggunaan AI dalam pembuatan konten menunjukkan bahwa penerimaan terhadap AI tidak hanya bergantung pada kualitas hasilnya.
Persepsi terhadap moralitas penggunaan AI dan seberapa besar manusia masih memegang kendali juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang menerima hasil yang dibuat dengan bantuan AI.
Seseorang bisa saja tahu bahwa AI dapat membuat pekerjaan lebih cepat, tetapi tetap memilih tidak menggunakannya karena merasa ada batas yang tidak ingin dilewati.
5. Mereka peduli dengan dampak AI terhadap lingkungan
Sebagian orang menolak AI bukan karena nggak mampu menggunakannya, melainkan karena memikirkan dampaknya terhadap lingkungan.
Menurut Massachusetts Institute of Technology (MIT), perkembangan AI generatif membawa konsekuensi lingkungan karena teknologi ini membutuhkan pusat data dengan kebutuhan listrik dan air yang besar. Listrik digunakan untuk menjalankan dan memproses model AI, sementara air dapat digunakan dalam sistem pendinginan perangkat keras.
Penelitian yang diterbitkan di Nature Sustainability juga memperkirakan bahwa perluasan pusat data untuk AI di Amerika Serikat dapat menghasilkan jejak penggunaan air dan emisi karbon yang cukup besar pada 2024–2030.
Namun, peneliti menekankan adanya ketidakpastian karena dampaknya bergantung pada berbagai faktor, seperti lokasi pusat data, sumber energi, efisiensi teknologi, dan sistem pendingin yang digunakan.
Bunda mungkin juga pernah mendengar perbandingan penggunaan air dalam percakapan dengan AI. Namun, angka kebutuhan air AI yang beredar bisa berbeda-beda karena dipengaruhi oleh jenis model, lokasi pusat data, sistem pendinginan, hingga sumber energinya.
Karena mengetahui adanya dampak tersebut, seseorang bisa saja memilih mengurangi penggunaan AI untuk hal-hal yang sebenarnya masih bisa dikerjakan sendiri.
Bukan berarti setiap orang yang tidak menggunakan ChatGPT pasti aktivis lingkungan. Namun, kepedulian terhadap penggunaan energi, air, dan jejak karbon AI memang bisa menjadi salah satu alasan seseorang membatasi penggunaannya.
6. Mereka lebih suka belajar dengan cara mereka sendiri
Sebagian orang merasa mencari jawaban sendiri adalah bagian dari belajar. Mereka ingin membaca artikel, membuka buku, membandingkan beberapa sumber, mencoba mengerjakan soal, atau mencari tahu kenapa sebuah jawaban bisa benar.
ChatGPT memang bisa membantu menjelaskan sesuatu dengan cepat. Namun, jika seluruh proses mencari, mengolah, dan menyimpulkan informasi langsung diserahkan kepada AI, seseorang bisa kehilangan kesempatan untuk berlatih melakukan proses tersebut.
Studi 2026 mengenai cognitive offloading menemukan bahwa AI dapat membantu meningkatkan akurasi dan menurunkan beban mental dalam tugas tertentu, tetapi penggunaan AI tidak otomatis membuat kemampuan berpikir kritis menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Cara AI digunakan, apakah sebagai pengganti berpikir atau sebagai alat bantu, menjadi faktor penting Karena itu, orang yang memilih tidak menggunakan AI bisa saja bukan menolak teknologi, tetapi sedang menjaga proses belajarnya sendiri.
7. Mereka memikirkan dampak jangka panjang
Orang yang menolak menggunakan AI mungkin tidak hanya melihat apa yang bisa dilakukan teknologi tersebut hari ini. Mereka juga mempertanyakan apa yang terjadi jika semakin banyak pekerjaan, tulisan, keputusan, bahkan interaksi manusia diserahkan kepada AI.
Pertanyaan seperti ini nggak selalu punya jawaban singkat.
Penelitian mengenai penggunaan AI dan kemampuan berpikir juga mulai menunjukkan bahwa cara seseorang menggunakan AI perlu diperhatikan. Ketika AI terlalu banyak mengambil alih proses berpikir, seseorang bisa saja menjadi lebih sedikit terlibat dalam proses mencari, menilai, dan mengolah informasi sendiri.
Namun, penelitian yang ada belum cukup untuk menyimpulkan bahwa penggunaan AI dalam jangka panjang pasti menyebabkan penurunan kemampuan kognitif. Dampaknya juga sangat mungkin bergantung pada bagaimana dan untuk apa teknologi tersebut digunakan.
Karena itu, orang yang memilih membatasi penggunaan AI bisa saja sedang mempertimbangkan konsekuensi yang lebih jauh. Mereka mungkin bertanya, “Kalau semua dibuat lebih mudah oleh AI, apa yang terjadi dengan kemampuan yang selama ini kita latih sendiri?”
Ini bukan berarti orang yang menolak AI pasti lebih cerdas, lebih bermoral, atau lebih mampu berpikir kritis. Mereka mungkin hanya memiliki pertimbangan yang berbeda tentang seberapa besar peran yang ingin diberikan kepada teknologi dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.
Orang yang menolak AI bukan berarti lebih pintar atau lebih baik
Menolak menggunakan AI dan ChatGPT tidak otomatis membuat seseorang lebih pintar, lebih kreatif, lebih bermoral, atau lebih baik daripada orang yang menggunakannya. Begitu juga sebaliknya. Menggunakan AI tidak otomatis berarti seseorang malas, tidak kreatif, atau tidak mampu berpikir sendiri.
Yang membedakan bisa jadi adalah cara seseorang memandang teknologi dan batas penggunaannya.
Ada yang memakai AI untuk mencari ide, tetapi tetap menulis sendiri. Ada yang menggunakannya untuk merangkum informasi lalu mengecek sumber aslinya. Ada pula yang memilih tidak menggunakannya sama sekali karena merasa lebih nyaman mengandalkan kemampuan sendiri.
Pada akhirnya, mungkin bukan soal siapa yang paling anti atau paling pro-AI. Yang lebih penting adalah apakah kita masih tahu kapan teknologi membantu kita dan kapan justru mengambil alih sesuatu yang sebenarnya ingin kita lakukan sendiri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)Simak video di bawah ini, Bun:
7 Ciri Kebiasaan Orang Cerdas yang Sering Tak Disadari
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
5 Hal yang Tidak Boleh Dibagikan ke ChatGPT saat Bekerja
4 Cara Menggunakan ChatGPT untuk Mendapatkan Pekerjaan
Cerita Dosen Setop Mengajar karena ChatGPT, Ungkap Sederet Alasan
Cara Mudah Manfaatkan ChatGPT agar Cepat Diterima Kerja, Catat Bun!
TERPOPULER
7 Ciri Karakteristik Orang yang Menolak Pakai AI dan ChatGPT, Bukan karena Gaptek
Momen Manis Perayaan Ulang Tahun Khai Anak Gigi Hadid & Zayn Malik yang Serba Colorful
Momen Langka, Intip Potret Tsania Marwa Bersama Sang Putri yang Sudah Besar
6 Ciri Anak yang Tumbuh di Keluarga Bahagia Menurut Psikolog
Resep Piscok Kulit Lumpia Renyah dan Lumer, Cocok untuk Camilan
REKOMENDASI PRODUK
5 Alat Tes Kolesterol, Gula Darah & Asam Urat yang Bagus & Mudah Digunakan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
10 Kado untuk Ibu Hamil yang Ulang Tahun, Lengkap dari Mewah-Pasti Berguna
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Lip Liner Terbaik, Rahasia Bibir Tampak Lebih Penuh dan Makin Cantik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Electric Grill untuk BBQ Rumahan, Panggang Jadi Lebih Praktis
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Slow Juicer Tanpa Ampas, Cocok untuk Pencinta Jus Segar
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
7 Ciri Karakteristik Orang yang Menolak Pakai AI dan ChatGPT, Bukan karena Gaptek
Momen Manis Perayaan Ulang Tahun Khai Anak Gigi Hadid & Zayn Malik yang Serba Colorful
5 Alat Tes Kolesterol, Gula Darah & Asam Urat yang Bagus & Mudah Digunakan
Momen Langka, Intip Potret Tsania Marwa Bersama Sang Putri yang Sudah Besar
Resep Piscok Kulit Lumpia Renyah dan Lumer, Cocok untuk Camilan
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Obi Belt Batik Ini Bikin Outfit Kondangan sampai Harian Makin Terlihat Fashionable
-
Beautynesia
4 Ciri Kepribadian Anak yang Tumbuh Besar dengan Penuh Kritik Orang Tua Menurut Psikolog
-
Female Daily
Penasaran Makeup Kylie Jenner? Intip Beauty Routine-nya yang Tembus Rp10 Juta!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
7 Potret Romantis Marion Jola Dilamar Kekasih, Mesra di Depan Candi Prambanan
-
Mommies Daily
Catat! Ini 7 Parfum Lokal dengan Aroma Green Tea yang Fresh dan Nggak Enek