PARENTING
Refleks Moro pada Bayi: Kenali Penyebab, Tanda & Cara Mengatasinya
Asri Ediyati | HaiBunda
Minggu, 30 Aug 2026 18:10 WIBPernahkah Bunda melihat bayi tiba-tiba merentangkan lengannya, membuka telapak tangannya, menengadahkan kepala ke belakang, lalu menarik kembali semuanya sembari menangis? Gerakan cepat ini disebut refleks moro atau dikenal juga sebagai refleks kejut (startle reflex).
Refleks moro adalah salah satu refleks pertama yang ditunjukkan bayi setelah lahir dan biasanya akan menghilang saat bayi berusia empat hingga enam bulan.
Dilansir dari Cleveland Clinic, refleks moro merupakan reaksi bertahan hidup yang bermula sejak di dalam kandungan, terkadang bahkan sejak usia kehamilan 28 minggu. Refleks ini membantu bayi mengambil napas pertamanya, bereaksi terhadap bahaya, dan menjalin ikatan dengan ibundanya atau pengasuhnya.
Refleks ini akan aktif ketika bayi mendengar suara keras, melihat cahaya terang, atau merasa seolah-olah sedang jatuh. Hal ini memicu tubuh untuk masuk ke dalam mode "lawan atau lari" (fight or flight), layaknya sistem alarm pribadi, Bunda.
Lalu kondisi apa saja yang dapat memengaruhi refleks ini? Selain itu, Bunda juga perlu mengetahui tanda-tanda bahwa refleks moro pada bayi itu tidak normal.
Mengenal apa itu refleks moro pada bayi
Refleks Moro adalah refleks bawaan yang dimiliki bayi saat baru lahir. Nama reflek moro ini diambil dari seorang dokter anak asal Jerman, Ernst Moro, yang pertama kali mendeskripsikan refleks ini pada tahun 1918. Bunda mungkin dapat mengamati sendiri refleks Moro ini, terutama saat membaringkan bayi dalam posisi telentang.
Reflek moro merupakan respons otomatis yang muncul ketika bayi merasa seolah-olah sedang jatuh atau saat mereka terkejut oleh sesuatu. Refleks ini juga memicu bayi untuk menarik napas pertamanya.
Tenaga medis memeriksa keberadaan refleks Moro sebagai bagian dari prosedur standar pemeriksaan bayi baru lahir. Hal ini dilakukan karena refleks tersebut merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk menilai seberapa baik fungsi sistem saraf bayi baru lahir.
Pemeriksaan ini juga dilakukan saat mengevaluasi sistem saraf bayi atau untuk mendeteksi kondisi medis tertentu.
Penyebab refleks moro pada bayi
Refleks Moro berfungsi sebagai mekanisme perlindungan. Bayi tidak bisa secara sadar meminta bantuan atau berteriak jika merasa akan jatuh. Oleh karena itulah refleks ini bekerja secara otomatis.
Refleks Moro muncul ketika sistem vestibular bayi mendeteksi sensasi jatuh. Hal ini memicu pengiriman sinyal darurat ke batang otak bayi, yang kemudian mengaktifkan refleks tersebut.
Janin dapat menunjukkan refleks Moro sejak trimester kedua, namun biasanya refleks ini baru muncul pada trimester ketiga. Umumnya, bayi tidak lagi memiliki refleks ini setelah berusia 6 bulan.
Biasanya, refleks Moro perlahan-lahan beralih menjadi refleks kejut lainnya, yaitu refleks strauss yang menetap seumur hidup. Refleks strauss membuat seseorang tersentak atau bereaksi spontan saat terkejut, lalu menilai apakah ada bahaya yang mengancam.
Tanda refleks moro pada anak
Bunda mungkin sendiri memperhatikan refleks Moro, terutama saat membaringkan bayi telentang (seperti saat tidur). Refleks ini membuat bayi melakukan hal-hal berikut:
- Merentangkan dan meluruskan lengan
- Mengembangkan jari dan ibu jari
- Menengadahkan kepala
- Menangis
Tahapan refleks moro pada bayi
Ada dua fase refleks moro pada bayi, bagian pertama adalah fase ekstensi dan bagian kedua adalah adduksi. Apa yang membedakan? Berikut penjelasannya:
Fase pertama (ekstensi)
Fase ekstensi merupakan bagian pertama dari refleks Moro. Saat bayi merasakan sensasi jatuh secara tiba-tiba atau mendengar suara keras, mereka akan merentangkan kedua lengannya ke samping.
Telapak tangan mereka terbuka lebar dan jari-jarinya meregang. Mereka juga mungkin meluruskan kaki, sedikit melengkungkan punggung, serta tersentak atau menangis.
Fase kedua (adduksi)
Fase adduksi merupakan bagian kedua dari refleks moro. Setelah reaksi terkejut awal dan gerakan merentangkan lengan, bayi menarik kembali lengannya ke arah dalam dengan gerakan seperti memeluk, yang biasanya disertai dengan tangisan.
Kondisi yang memengaruhi refleks moro pada bayi
Ada beberapa kondisi yang bisa memengaruhi refleks moro pada bayi. Kondisi tersebut menyebabkan gerakan refleks moro tidak terjadi dengan normal. Ada yang membuat reflek tersebut terlihat asimetri dan ada yang membuatnya terus-menerus ada walaupun seharusnya sudah tidak terjadi ketika bayi sudah besar.
Lebih jelasnya, berikut kondisi-kondisi yang dapat memengerahui refleks moro pada bayi.
1. Kelahiran prematur
Kelahiran prematur bisa membuat bayi lahir dengan berat yang sangat rendah. Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan yang jelas antara refleks primitif seperti refleks moro yang menetap dengan keterlambatan perkembangan motorik pada bayi.
2. Cedera
Cefera lahir, asfiksia berat selama proses persalinan, pendarahan intrakranial, infeksi membuat tidak adanya refleks moro. Kondisi ini juga menyebabkan hilangnya refleks moro pada bayi secara prematur. Cedera lokal juga dapat membuat refleks moro asimetris dan menghambat refleks tersebut pada sisi yang terdampak.
3. Hiperekpleksia
Hiperekpleksia adalah kondisi genetik langka yang menyebabkan bayi mengalami kekakuan otot dan respons terkejut yang berlebihan terhadap rangsangan mendadak dan tak terduga, seperti suara, gerakan, atau sentuhan. Gejala kondisi ini biasanya menghilang saat anak berusia satu tahun. Refleks moro yang berlebihan dapat dikaitkan dengan kondisi neurologis seperti ini.
4. Cerebral palsy spastik
Pada cerebral palsy tipe spastik, kerusakan otak menyebabkan refleks ini tidak menghilang. Jika refleks Moro tetap ada setelah usia enam bulan, hal tersebut merupakan tanda peringatan utama adanya keterlambatan perkembangan dan masalah motorik tipe spastik.
Cara mengatasi refleks moro pada bayi
Refleks moro terjadi secara alami, untuk mengatasinya kita bisa melakukan:
1. Membedong
Membedong dapat membantu membatasi gerakan lengan secara tiba-tiba yang memicu refleks moro. Tips membedong yang aman:
- Gunakan selimut dengan bahan yang memiliki sirkulasi udara baik atau kantong tidur (sleep sack)
- Pastikan area pinggul tetap longgar (untuk mencegah masalah pada pinggul)
Selalu posisikan bayi telentang saat tidur - Hentikan kebiasaan membedong begitu bayi menunjukkan tanda-tanda mulai bisa berguling
- Membedong efektif karena memberikan rasa aman dan dekapan lembut yang menyerupai suasana di dalam rahim.
2. Gerakan perlahan dan lembut
Saat membaringkan bayi:
- Dekatkan tubuh bayi ke tubuh
- Turunkan tubuh bayi secara perlahan
- Letakkan tangan Anda di dada bayi selama beberapa detik sebelum melepaskannya
- Cara ini mengurangi sensasi seperti jatuh.
3. White noise
Suara latar yang konstan dapat:
- Menyamarkan suara-suara mendadak
- Mencegah respons terkejut
- Meningkatkan kesinambungan tidur secara keseluruhan
- Pastikan volume suara berada pada tingkat yang aman dan tidak terlalu keras.
4. Lakukan tummy time di siang hari
Tummy time memperkuat otot dan membantu pematangan sistem saraf. Seiring dengan meningkatnya kemampuan kontrol motorik, refleks moro akan menghilang secara bertahap dengan lebih lancar.
Tanda refleks moro pada bayi yang tidak normal
Tenaga medis, seperti dokter spesialis anak, memeriksa refleks Moro untuk memastikan sistem saraf bayi berfungsi dengan baik. Mereka juga dapat menggunakan pemeriksaan ini untuk mendiagnosis atau menyingkirkan kemungkinan adanya masalah seperti cedera saat lahir, miopati kongenital, dan spasme infantil.
Tenaga medis akan memperhatikan beberapa faktor utama saat memeriksa refleks ini:
- Refleks yang lebih lemah bisa terjadi secara normal, misalnya pada bayi yang lahir prematur. Namun, hal ini juga bisa menandakan adanya gangguan pada sistem saraf pusat bayi.
- Refleks moro seharusnya bersifat simetris, artinya refleks ini terjadi secara seimbang pada kedua sisi (kiri dan kanan). Jika tidak simetris, hal ini bisa mengindikasikan adanya cedera atau gangguan saraf.
- Refleks ini biasanya lebih lemah pada bayi prematur namun akan menguat seiring waktu. Namun, saat bayi mencapai usia 6 bulan, refleks ini seharusnya sepenuhnya beralih menjadi refleks strauss. Jika peralihan ini tidak terjadi, hal tersebut bisa menjadi tanda adanya keterlambatan perkembangan atau masalah lainnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Bayi Langsung Jalan Tanpa Merangkak, Normalkah?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Bayi Mengepal Tangan Sampai Usia Berapa? Ketahui Perkembangannya
7 Doa agar Bayi Tidak Kagetan dan Bisa Nyenyak saat Tidur
4 Refleks Bayi Baru Lahir yang Perlu Diketahui Orang Tua
Penyebab Bayi Baru Lahir Suka Kagetan Seperti Kejang
TERPOPULER
Ya Hayyu Ya Qayyum: Arti, Keutamaan & Waktu Membacanya saat Dilanda Masalah dan Kesedihan
Seberapa Aware Sih Orang-Orang Sama Kanker Payudara?
150 Nama Bayi Bermakna Mandiri untuk Anak Perempuan & Laki-Laki Beserta Artinya
Surah Maryam Ayat 30-35: Mukjizat Nabi Isa AS yang Lahir dari Siti Maryam & Cara Mengamalkannya
Terdampak Asap Karhutla, Balita 18 Bulan di Balikpapan Kena Pneumonia
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Stick Foundation Terbaik untuk Makeup Flawless dan Tahan Lama
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Wadah Beras Terbaik, Kedap Udara dan Anti Beras Apek
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Kebiasaan Sederhana Orang Tua Ini Ternyata Bisa Bikin Nilai Sekolah Anak Lebih Tinggi
Ya Hayyu Ya Qayyum: Arti, Keutamaan & Waktu Membacanya saat Dilanda Masalah dan Kesedihan
Seberapa Aware Sih Orang-Orang Sama Kanker Payudara?
Bintang Spider-Man Tobey Maguire Hadiri Pernikahan Mantan Istri usai Beberapa Minggu Cerai, Malah Jadi Sosok Penting di Acara
Terdampak Asap Karhutla, Balita 18 Bulan di Balikpapan Kena Pneumonia
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Perawatan Asma di Rumah dengan Nebulizer, Apa yang Perlu Disiapkan Sesuai Anjuran Dokter?
-
Beautynesia
Mengenal Sejarah Tabi Socks, Kaus Kaki Unik Tradisional Jepang Kini Jadi Fashion Modern
-
Female Daily
H-1 Fan Meeting Gong Yoo di Jakarta, Ini Jadwal dan Aturan yang Perlu Kamu Tahu
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Potret Ultah Kenzo Bertema Pokemon, Baim Wong & Paula Verhoeven Tampil Kompak
-
Mommies Daily
Keselamatan Anak di Hotel: 7 Hal yang Perlu Dicek Sebelum Menginap Bareng Si Kecil