psikologi

Belajar Pantang Menyerah dari Atlet Tunagrahita Syuci Indriani

Amelia Sewaka Kamis, 11 Okt 2018 - 20.35 WIB
Belajar Pantang Menyerah dari Atlet Tunagrahita Syuci Indriani/Foto: Mercy Raya Belajar Pantang Menyerah dari Atlet Tunagrahita Syuci Indriani/Foto: Mercy Raya
Jakarta - Memiliki kekurangan bukan berarti membatasi seseorang dalam berprestasi. Pesta olahraga Asian Para Games 2018 jadi saksinya, banyak atlet dengan segala kekurangannya namun mampu berprestasi dan semangatnya pun tak kalah dari orang biasa. Salah satunya atlet renang Indonesia, Syuci Indriani.

Syuci Indriani kembali menambah medali perak untuk Indonesia di Asian Para Games 2018. Dia meraihnya dari nomor 100 meter gaya kupu-kupu S14 (tunagrahita) putri. Ini merupakan medali ketiga bagi Syuci. Sebelumnya, Syuci berhasil merebut medali perunggu di nomor gaya bebas 200 meter putri dan medali emas selanjutnya berhasil diraih Syuci di nomor gaya dada 100 meter putri klasifikasi SB 14.

"Alhamdulillah saya sangat senang, bersyukur sekali saya bisa meraih medali perak dan ini best time saya. Alhamdulillah bersyukur banget, ini medali ketiga saya," ujar Syuci seperti dilansir detikcom.


Luar biasa bukan prestasi yang ditorehkan Syuci. Bunda perlu tahu, tunagrahita adalah anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, mengalami hambatan tingkah laku, penyesuaian yang terjadi pada masa perkembangannya. Walau dengan IQ (Intelligence Quotient) yang terklasifikasi di bawah rata-rata, Syuci masih bisa menorehkan prestasi di kancah dunia. Kehebatan Syuci sendiri diakui oleh pelatihnya, Bhima Kaustar, pelatih yang begitu sabar memoles talenta atletnya.

"Kalau menurut fisik Syuci itu sempurna. Tapi kalau untuk intelektualnya, IQ-nya di bawah rata-rata. Dia itu IQ nya di bawah 75. Susahnya ngelatih tuna grahita seperti itu, sering lupa. Syuci cenderung pelupa, daya ingatnya kurang. Jadi dapat instruksi apa, renang seperti apa kadang salah," kata Bhima seperti dikutip dari CNN.

Walau begitu, Syuci Indriani tak pantang menyerah dan hasilnya bisa kita lihat bersama kan, Bun. Apa yang didapat Syuci merupakan buah dari kerja keras dan pantang menyerah, apapun kendalanya. Hal seperti ini patut banget dipelajari anak yaitu berusah pantang menyerah apapun keadaannya.

Belajar Pantang Menyerah dari Atlet Tunagrahita Syuci IndrianiFoto: Istock
Ya, sebagai orang tua kita berharap dapat melindungi anak-anak dari setiap kekecewaan, kekalahan, atau tantangan yang menakutkan. Tapi, hal seperti ini nggak mungkin dong terus-terusan dilakukan. Kalau begitu terus kapan anak tangguhnya?

Perlu kok sesekali anak menghadapi masalah yang sulit dan coba selesaikan sendiri. Jadi ketika menghadapi hal buruk, mereka bisa dengan cepat bangkit kembali. Ketika anak melakukan kesalahan, mereka tumbuh dan belajar. Nah, anak-anak yang 'tahan banting' seperti ini memiliki harapan dan optimis yang kuat.

Nah, Bunda berikut 5 cara membesarkan anak yang 'tahan banting' dan tak pernah menyerah seperti dilansir Big Life Journal.

1. Orang tua jadi role model yang supportif. Tenang dan konsisten, akui kesalahan jika salah dan bicarakan. Ini akan lebih baik bagi masa depan anak.

2. Biarkan anak berbuat salah. Biarkan mereka merasakan konsekuensi dari setiap perbuatannya. Dari sini anak akan belajar bagaimana bangkit dari kesalahan mereka dan melakukan yang terbaik setelahnya.

3. Puji anak dengan benar. Berikan pujian pada strategi, progres atau usaha yang anak lakukan. Misalnya 'Kamu keren deh, Nak, usaha yang kamu lakukan tak sia-sia' atau 'Lain kali bisa kita coba lagi dengan cara lain ya'.

4. Ajarkan anak kelola emosi. Katakan pada anak bahwa semua emosi itu baik. Hadapi perilaku buruk dan tetapkan batasannya. Coba ngobrol dengan anak bagaimana pemecahan atau solusi dari pelampiasan emosi yang baik.

5. Ajari anak memecahkan masalah. Tapi jangan memburu-buru anak memecahkan masalah atau minta mereka secepatnya mencari solusi. Pikirkan bersama solusi untuk menghadapi tantangan dan diskusikan konsekuensi potensial dari tiap solusi. (aml/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi