psikologi

Merasa Bosan Bisa Dorong Anak Lebih Kreatif

Melly Febrida Jumat, 12 Okt 2018 - 16.37 WIB
Ilustrasi anak bosan/ Foto: Istock Ilustrasi anak bosan/ Foto: Istock
Jakarta - Saat nggak ada kegiatan di rumah apalagi ditetapkan aturan no gadget, bukan nggak mungkin anak merasa bosan kan, Bun. Eits, tapi Bunda tahu nggak, perasaan bosan pada anak-anak bisa mendorong kreativitas mereka lho.

Selain itu, dari bosan yang dirasa anak bisa belajar memecahkan masalah serta membantu mereka merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Kata kepala Raising Children Network dan Parenting Research Center, Prof Julie Green, rasa bosan mengajarkan anak-anak untuk mendorong diri mereka sendiri, meningkatkan ketahanan dan membantu berkontribusi untuk harga diri yang positif.

Kata Profesor Julie, seringnya orang tua merasa harus menghibur anak-anaknya sepanjang waktu, tapi nyatanya mereka tak bisa melakukannya. Nah, karena orang tua tak bisa melakukannya setiap saat, anak-anak akhirnya belajar mengerjakan sendiri apa yang ingin dilakukannya.



"Mereka dapat mengeksplorasi ide dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan suasana hatinya. Ini adalah dorongan yang kuat bagi anak memakai imajinasinya dan menciptakan skenario bermain yang berbeda," kata Prof Julie kepada Herald Sun.

Seorang ayah bernama Pablo menceritakan ketika nggak melakukan apa-apa, ketiga anaknya yakni Luis (12), Charlie (10), dan Felix Bettinsoli (7) melakukan segala sesuatu. Bahkan saat mereka bosan, kakak dan adik ini hanya menarik-narik garis untuk mengusir kebosanannya.

"Dengan mengisi kebosanannya anak-anak belajar tangguh untuk melewati sesuatu yang sedikit menegangkan dan sedikit sulit," ujar Pablo.

Ilustrasi anak bosanIlustrasi anak bosan/ Foto: thinkstock
Tapi, Bun, nggak semua penelitian yang menyebutkan kebosanan baik untuk anak-anak. Ada penelitian lainnya yang menemukan perasaan bosan membatasi kemampuan anak untuk belajar di sekolah.

David Putwain dari Liverpool John Moores University, menemukan kebosanan yang didefinisikan sebagai emosi yang mendeaktivasi perasaan tidak menyenangkan. Kemudian, kebosanan disebut bisa menyebabkan nilai matematika yang lebih rendah pada anak-anak kelas 5 dan 6 SD di Inggris. Dalam jurnal Learning and Instruction, David mengatakan anak yang lebih happy dan nggak bosan punya prestasi yang lebih bagus.

Sebenarnya, anak merasa bosan itu lumrah sekali Bun. Menurut psikolog anak dari Tiga Generasi, Anastasia Satriyo, semua anak memang gampang bosan apalagi kalau kemampuan intelektualnya baik. Kata wanita yang akrab disapa Anas ini, pola anak-anak bisa terlihat ketika dia memainkan sesuatu beberapa kali, lalu bosan.

Atau, saat sudah bereksplorasi, dia hendak mencari permainan baru. Tapi ingat, menurut Anas walau anak pembosan, dia bisa begitu kreatif menciptakan mainan. Untuk itu, ketika mengajak anak pergi ke suatu tempat misalnya saat orang tua mengajak anak ke acara reuni, penting untuk memperhatikan kebutuhan mereka. Dengan kata lain, bukan memaksa anak untuk anteng mengikuti acara reuni tersebut.

"Memang kita bisa budayakan bersosilisasi, tapi ingat bahwa anak kita belum dalam tahap itu. Harusnya anak yang kita tanya dia butuhnya apa supaya nggak bosan, kita yang akomodir. Sehingga, kita bisa ciptakan child friendly environment," tambah Anas kepada detikcom. (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi