psikologi

Anak Kecanduan Video Game Salah Orang Tua?

Melly Febrida Jumat, 09 Nov 2018 - 20.36 WIB
Anak Kecanduan Video Game Salah Orang Tua? (Foto: iStock) Anak Kecanduan Video Game Salah Orang Tua? (Foto: iStock)
Jakarta - Anak-anak sekarang masih kecil saja sudah banyak yang kenal video game. Namun hati-hati kalau anak susah lepas alias kecanduan dari video game. Karena kecanduan game termasuk sebagai gangguan mental. Hal ini disebut karena andil orang tua. Apakah benar?

Ini nyata dan serius lho, Bun dan termasuk kondisi kesehatan mental terbaru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saja merevisi klasifikasi penyakitnya dengan menetapkan video game yang kompulsif merupakan kondisi psikologis yang disebut gaming disorder. Faktanya Bun, orang tualah yang mengaktifkan sindrom tersebut kepada anak-anaknya.

"Kami menemukan orang tua yang putus asa, bukan hanya karena mereka melihat anak mereka putus sekolah, tetapi karena mereka melihat seluruh struktur keluarga berantakan," kata Dr. Henrietta Bowden-Jones, juru bicara untuk Royal College of Inggris Psikiater, seperti dilansir Washington Post.



Artinya Bun, lanjut Henrietta, orang tua yang membiarkan anak-anak mereka bermain video game sepanjang hari ketimbang meminta anak-anak pergi ke sekolah, bekerja, dan kebiasaan itu bisa memengaruhi kehidupan mereka nantinya. Kesulitan itu secara alami mengarahkan munculnya keputusan WHO bahwa video game adalah kondisi kesehatan mental. Secara logika, langkah selanjutnya adalah mencari obatnya.

Shekhar Saxena, Direktur Departemen WHO untuk Kesehatan Mental dan Penyalahgunaan Zat, mengatakan, gaming disorder akan membuka pintu untuk pemenuhan kebutuhan dan permintaan pengobatan di dunia. The American Psychiatric Association, menyebutkan belum mengakui gaming disorder sebagai masalah kesehatan mental, tapi pada tahun 2013 mengatakan, studi menunjukkan ketika orang-orang ini asyik bermain internet, jalur tertentu di otak mereka dipicu secara langsung dan cara yang sama ketika otak seorang pecandu narkoba dipengaruhi oleh zat tertentu.

Studi itu juga menunjukkan game ini mendorong respons neurologis yang memengaruhi perasaan senang dan menghargai, dan hasilnya, secara ekstrem, dimanifestasikan sebagai perilaku adiktif. Nah, sebelum menemukan obatnya dalam bentuk resep, ada cara yang jauh lebih mudah menangani gaming disorder. Apakah itu? Cabut kabelnya, tekan tombol matikan, dan simpan game di lemari, Bun.



Video game ini permainan yang bisa dimainkan orang dewasa juga, nggak hanya anak-anak. Namun, efeknya bisa memengaruhi otak.

Dikutip dari Science Daily, sebuah penelitian menunjukkan bermain video game dapat mengubah cara kerja otak, bahkan strukturnya. Bermain video game memengaruhi perhatian dan beberapa penelitian mengemukakan bahwa perhatian para gamer jadi meningkat serta lebih selektif.

Memang, ada sisi positif dan negatifnya. Negatifnya, video game juga bisa membuat orang menjadi adiktif atau kerap disebut kecanduan. Peneliti telah menemukan perubahan fungsional dan struktural sistem saraf pada pecandu game yang pada dasarnya sama dengan yang terlihat pada gangguan adiktif lainnya.

"Kemungkinan video game memiliki pengaruh positif (perhatian, visual dan keterampilan motorik) dan negatif (risiko kecanduan)," kata peneliti Marc Palaus. (nwy/nwy)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi