psikologi

Tekad Ifan 'Seventeen' Atasi Trauma Tsunami dan Kehilangan Istri

Muhayati Faridatun Minggu, 13 Jan 2019 - 11.15 WIB
Ifan Seventeen dan Dylan Sahara, semasa hidup/ Foto: Instagram Ifan 'Seventeen' dan Dylan Sahara, semasa hidup/ Foto: Instagram
Jakarta - Rasa trauma masih menyelimuti Ifan 'Seventeen' setelah menjadi korban tsunami, yang menerjang pesisir pantai di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Wajar ya Bun, karena vokalis bernama lengkap Riefian Fajarsyah ini harus kehilangan sang istri tercinta, Dylan Sahara, untuk selamanya.

Belum genap satu bulan duka itu menghampiri, Ifan pun mengakui kalau trauma akibat bencana tersebut masih dirasakannya. Namun, saudara kembar Riedhan Fajarsyah ini meyakini bahwa pertolongan Tuhan akan membantunya memulihkan keadaan.

"Untuk menghilangkan trauma yang kuhadapi, ya dengan mendekatkan diri kepada Allah," ujar Ifan saat ditemui di Komplek DPR RI, Jakarta, Jumat (11/1/2019), dikutip dari Insertlive.


Bunda pasti memahami ya, duka yang dialami Ifan begitu berat. Pria kelahiran Yogyakarta, 35 tahun silam, ini pun berusaha keras mengusir derita dalam dirinya. Kini, dia lebih fokus menjalankan ibadah.

"Aku ada posisi di mana menurutku tidak ada manusia yang bisa menolong selain Allah. Sekarang ini, aku menghindari keramaian, lebih ke beribadah, banyak-banyak zikir, banyak-banyak ngaji," ungkap ayah satu anak ini.

Ifan kehilangan sang istri, yang pada malam kejadian ikut bersamanya dalam acara gathering karyawan PLN di Tanjung Lesung, Anyer, Banten. Saat gelombang tsunami menerjang, Ifan sedang tampil di atas panggung bersama band Seventeen.

Dylan Sahara, yang saat itu berada di belakang panggung, ditemukan tewas setelah beberapa hari proses pencarian. Ifan juga kehilangan ketiga rekannya, yang tak lain personel Seventeen, yakni Bani (bassist), Herman (gitaris) dan Andi (drummer). Tak heran kalau Ifan masih mengalami trauma akibat tragedi tersebut.

Ifan 'Seventeen' dan Dylan Sahara, semasa hidup/ Ifan 'Seventeen' dan Dylan Sahara, semasa hidup/ Foto: Instagram
"Kematian dianggap traumatis jika terjadi tanpa peringatan, atau belum waktunya, melibatkan kekerasan, ada kerusakan pada tubuh orang yang dicintai, atau disebabkan oleh pelaku dengan maksud untuk melukai. Bisa juga karena korban menganggap kematian itu dapat dicegah, jika yang selamat percaya bahwa yang dicintai menderita, atau jika yang selamat menganggap kematian, atau cara kematian, sebagai ketidakadilan," ungkap CB Wortman dan JA Latack lewat risetnya pada 2015 lalu.

Masih dikutip dari Whats Your Grief, setelah trauma akibat kehilangan, penting untuk menemukan cara bagaimana memproses dan mengatasi emosi serta reaksi yang rumit terkait kematian. Jika berencana menggunakan jasa terapis, perlu diketahui bahwa tidak semua terapis memiliki pemahaman tentang trauma.

Bunda atau Ayah disarankan untuk lebih selektif dalam memilih terapis, pastikan yang berlisensi dan mencari tahu pengalaman mereka sepanjang menangani kasus terkait trauma dan kesedihan. Kita juga harus yakin ya, Bun, bahwa berserah diri kepada Tuhan, setelah semua usaha yang kita lakukan, adalah cara terbaik mengatasi trauma.

(muf/muf)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi