psikologi

Pesan Berharga Mendiang Eka Tjipta untuk Anak-anak & Keluarga

Muhayati Faridatun Minggu, 03 Feb 2019 - 14.04 WIB
Prosesi pemakaman Eka Tjipta Widjaja/ Foto: Luthfiana Awaludin Prosesi pemakaman Eka Tjipta Widjaja/ Foto: Luthfiana Awaludin
Jakarta - Pemakaman jenazah Eka Tjipta Widjaja berlangsung khidmat di pemakaman keluarga Widjaja di Desa Marga Mulya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Sabtu (2/2/2019). Prosesi tersebut dipimpin pendeta Johari Yohanis dari GKY Mangga Besar.

Ratusan pelayat menghadiri pemakaman pengusaha pendiri Sinarmas, yang meninggal dunia pada 26 Januari lalu, di usia hampir 90 tahun. Momen yang terasa mengharukan ketika putra sulung Eka Tjipta, Teguh Widjaja, mengingat lagi pesan sang ayah semasa hidupnya.

"Ajaran papa harus betul-betul kita ikuti. Nasihat Papa kepada kita adalah hiduplah dengan hemat dan beramal yang besar," kata Teguh, dikutip dari detikcom.


Teguh menambahkan, sang ayah juga berpesan agar anak cucunya tidak hidup foya-foya dan menghamburkan uang, serta ingin keluarganya selalu harmonis demi kesuksesan usaha yang telah dirintisnya.

"Kita harus berjanji supaya antar saudara harus semakin rukun, saling cinta dan bahu-membahu melanjutkan cita-cita dan nilai yang papa ajarkan. Karena bisnis keluarga sering hancur akibat cek-cok antar saudara," tuturnya.

Lewat apa yang disampaikan saat prosesi pemakaman, Teguh mengenang kembali sederet nasihat sang ayah. Tak hanya kekayaan melimpah, pesan Eka Tjipta semasa hidupnya juga merupakan warisan yang sangat berharga.

Prosesi pemakaman Eka Tjipta Widjaja/ Prosesi pemakaman Eka Tjipta Widjaja/ Foto: Luthfiana Awaludin
Kesedihan mendalam tentu dirasakan anak cucu selepas kepergian Eka Tjipta. Seperti dilansir Web MD, kehilangan seorang ayah akan meninggalkan kesedihan yang rumit bagi anak-anak, terutama anak laki-laki.

Kekosongan yang ditimbulkan setelah kematian sang ayah akan dipenuhi emosi yang mudah berubah, kesedihan bercampur rasa lega, kasih sayang bercampur dengan kebencian, serta penghargaan bercampur kritik tajam.

Itulah sebabnya kesedihan anak laki-laki atas kematian ayahnya seringkali terselubung. Dalam buku FatherLoss, Neil Chethik menuliskan berbagai reaksi anak laki-laki setelah kepergian sang ayah untuk selamanya.


1. Mereka yang bisa melewati duka dan kembali melanjutkan hidup, seringkali tanpa menangis. Sebaliknya, mereka mengambil pendekatan rasional terhadap kematian sang ayah. Mereka beralasan, ayah sudah tua.

"Mereka memikirkan jalan hidup lewat kesedihan," kata Chethik.

2. Ada yang menunjukkan sedikit emosi saat kepergian sang ayah. Tapi, mereka justru lebih kuat di bulan-bulan atau tahun-tahun berikutnya, kemungkinan setelah membangun dukungan atau memahami perasaannya dengan lebih baik.

3. Saat sang ayah meninggal dunia, ada yang mengungkapkan reaksi emosional yang kuat dan akut. "Mereka cenderung mengalami kesedihan karena itu terjadi pada mereka, kemudian tidak bisa mengendalikannya," ujar Chethik.

4. Sekira 40 persen laki-laki sangat tersentuh saat kepergian sang ayah tercinta. Tapi, mereka tidak menunjukkan lewat tindakan. "Paling sering, tindakan yang secara sadar menghubungkan dirinya dengan ingatan sang ayah," tegas spesialis penulis psikologi lak-laki.

(muf/muf)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi