KEHAMILAN
Mengenal Serotinus, Kondisi Kehamilan Lebih dari 42 Minggu
Melly Febrida | HaiBunda
Senin, 25 Aug 2025 23:10 WIBIbu hamil biasanya akan menjalani proses persalinan di usia kehamilan 38-40 minggu baik secara pervaginam maupun caesar. Namun, bagaimana bila usia kehamilan melewati 42 minggu? Ini dinamakan kehamilan serotinus. Berbahayakah? Simak penjelasannya yuk Bunda.
Kehamilan serotinus terjadi ketika perempuan hamil lewat waktunya. Pada kondisi ini, kehamilan berlangsung lebih dari 42 minggu. Padahal, risiko kehamilan yang lewat waktu itu meningkat.
Melansir BirthInjuryGuide, kebanyakan perempuan melahirkan bayinya antara minggu ke-37 hingga ke-40, ini dianggap aman dan normal. Kehamilan lewat bulan atau post-term pregnancy berkaitan dengan komplikasi kesehatan janin dan ibunya.
Apa itu kehamilan serotinus?
Kehamilan serotinus adalah kehamilan yang berjalan selama lebih dari 42 minggu (294 hari) sejak hari pertama haid terakhir (HPHT), tetapi bayi belum juga lahir. Kehamilan ini sering juga disebut sebagai kehamilan terlambat, atau post-term pregnancy.
Bunda yang mengalami kehamilan serotinus dapat merasa kelelahan dan mulai dilanda cemas. Ketika hari perkiraan lahir sudah datang namun berlalu begitu saja. Bunda masih saja hamil.
Apa penyebab kehamilan serotinus?
Para ahli kesehatan tidak sepenuhnya memahami penyebab kehamilan serotinus. Kimberly Langdon M.D., seorang dokter spesialis kandungan dan ginekologi yang sudah pensiun dan bersertifikat menjelaskan bahwa selain kesalahan perhitungan tanggal, para ahli percaya ada beberapa faktor risiko yang dapat berkontribusi terhadap kehamilan lewat waktu, antara lain:
- Kehamilan lewat waktu sebelumnya
- Ibu obesitas
- Defisiensi sulfatase pada plasenta
- Kelainan sistem saraf pusat
- Anensefali
Risiko kehamilan serotinus
Kehamilan serotinus atau kehamilan lewat waktu dikaitkan dengan komplikasi janin, neonatus, dan ibu. Risiko meningkat setelah kehamilan lewat waktu dan secara signifikan meningkat setelah 41 minggu kehamilan.
Kehamilan lewat waktu dikaitkan dengan peningkatan risiko lahir mati dan kematian neonatus, serta peningkatan risiko kematian pada tahun pertama kehidupan. Peningkatan mortalitas ini diduga disebabkan faktor-faktor seperti insufisiensi utero-plasenta, aspirasi mekonium, dan infeksi intrauterin.
Menurut American Academy of Family Physicians (AAFP), terdapat berbagai risiko kesehatan berbahaya yang terkait dengan kehamilan yang berkepanjangan, termasuk:
1. Makrosomia janin
Makrosomia janin mengacu pada bayi yang beratnya lebih dari 8 pon 13 ons saat lahir. Ini berarti bayi tersebut berukuran luar biasa besar untuk usia kehamilannya. Bayi yang berukuran luar biasa besar dapat menyebabkan masalah selama persalinan. Hal ini juga dapat menyebabkan diabetes, obesitas, dan sindrom metabolik pada anak.
Ibu juga berisiko saat melahirkan bayi besar, seperti mengalami ruptur uteri, laserasi genital, dan perdarahan berlebihan setelah melahirkan.
2. Insufisiensi plasenta
Insufisiensi plasenta, juga dikenal sebagai insufisiensi vaskular uteroplasenta, terjadi ketika plasenta gagal memberikan oksigen dan nutrisi yang cukup kepada bayi. Hal ini dapat terjadi karena plasenta yang kecil, atau karena plasenta tidak berfungsi dengan baik.
Plasenta menyediakan darah, oksigen, dan nutrisi kepada bayi melalui tali pusat. Setelah 37 minggu kehamilan, plasenta mencapai ukuran maksimalnya dan fungsinya mulai berkurang. Pada 41 minggu, fungsinya sangat berkurang. Semakin lama bayi tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen yang memadai, semakin besar risiko mengalami berbagai masalah kesehatan.
3. Risiko pada ibu
Ibu juga berisiko mengalami masalah medis berbahaya jika kehamilan mereka berlanjut melewati 40 minggu. Ibu berisiko mengalami komplikasi selama persalinan dan melahirkan, serta komplikasi yang dapat memengaruhi kesehatan setelah melahirkan.
Risiko yang paling umum meliputi perdarahan pascapersalinan, infeksi bakteri, dan infeksi perineum, dan kemungkinan memerlukan operasi caesar.
Pada kehamilan lewat bulan, risiko komplikasinya juga lebih tinggi. Perempuan yang hamil serotinus berisiko lebih tinggi mengalami:
- Persalinan yang lebih lama
- Robeknya vagina
- Forsep atau ekstraksi vakum saat persalinan
- Persalinan caesar
- Infeksi
- Komplikasi luka
- Masalah plasenta
- Kadar cairan ketuban rendah
Terdapat juga risiko pada bayi yang belum lahir dan bayi baru lahir, seperti:
- Sindrom aspirasi mekonium (menghirup cairan ketuban dan mekonium)
- Berat badan lahir rendah untuk usia kehamilan
- Gula darah rendah (hipoglikemia)
- Kelahiran mati
5 Cara mencegah kehamilan serotinus
Tidak semua kehamilan serotinus dapat dicegah. Tapi Bunda dapat melakukan beberapa cara untuk menurunkan risikonya, seperti:
- Rutin kontrol kehamilan untuk memantau kondisi janin dan plasenta.
- Melakukan USG pada trimester awal agar usia kehamilan lebih akurat dihitung sejak awal.
- Mencatat siklus menstruasi dengan baik untuk mengurangi risiko salah perhitungan HPHT.
- Menjaga berat badan ideal sebelum dan selama kehamilan.
- Berdiskusi dengan dokter jika Bunda memiliki riwayat kehamilan serotinus sebelumnya. Tujuannya agar mendapat pemantauan ekstra.
5 Cara mengatasi kehamilan serotinus
Doktrer biasanya melakukan beberapa cara mengatasi kehamilan yang sudah memasuki usia kehamilan 42 minggu.
- Monitoring ketat janin melalui USG, NST (non-stress test), atau CTG (cardiotocography).
- Melakukan induksi persalinan dengan obat atau prosedur tertentu untuk merangsang kontraksi.
- Amniotomi (pecah ketuban buatan) untuk mempercepat persalinan.
- Operasi caesar jika bayi terlalu besar atau kondisi janin/ibu tidak memungkinkan persalinan normal.
- Perawatan pasca lahir intensif, terutama jika bayi mengalami masalah pernapasan atau lahir dengan berat badan besar.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Tanpa Disadari, 6 Kebiasaan Ini Bisa Bikin Persalinan Terasa Lebih Sakit
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Ingin Mulai Program Hamil setelah Operasi Transplantasi Ginjal? Waspadai Risiko Ini!
Menguak Hubungan antara Kehamilan dan Alzheimer, Benarkah Pengaruhi Kesehatan Otak?
Bila Bumil Terjatuh, Apa yang Perlu Segera Dilakukan untuk Pastikan Kondisi Janin?
Plus Minus Hamil di Usia 20, 30, dan 40-an
TERPOPULER
Alice Norin Temukan Chat Ayah asal Norwegia untuk Erling Haaland yang Curi Perhatian di Piala Dunia
Kang Mina Ungkap Cara Turun 10 Kg Tanpa Olahraga, Begini Pola Makannya
Diare yang Tidak Diobati Selama Hamil Bisa Memicu Keguguran, Ini Kata Pakar
Saat Si Buah Hati Mulai Berkata "Aku Bisa Sendiri", Begini Cara Dukung Kemandiriannya
5 Kebiasaan Orang dengan IQ Tinggi, Terkadang Sering Dipandang Aneh
REKOMENDASI PRODUK
5 Panci Dandang Ukuran Besar Stainless Steel yang Berkualitas
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Curling Iron Terbaik, Cocok untuk Styling Rambut Sehari-hari
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Kukus Dandang Bakso yang Bagus
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Botol Minum Tali Panjang untuk Anak TK, Awet & Mudah Dibersihkan
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sendok Panci dan Centong Stainless Steel yang Bagus
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
5 Panci Dandang Ukuran Besar Stainless Steel yang Berkualitas
Diare yang Tidak Diobati Selama Hamil Bisa Memicu Keguguran, Ini Kata Pakar
Kang Mina Ungkap Cara Turun 10 Kg Tanpa Olahraga, Begini Pola Makannya
Alice Norin Temukan Chat Ayah asal Norwegia untuk Erling Haaland yang Curi Perhatian di Piala Dunia
Saat Si Buah Hati Mulai Berkata "Aku Bisa Sendiri", Begini Cara Dukung Kemandiriannya
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Aamir Khan Menikah Ketiga Kali di Usia 61 Tahun, Akad Sederhana Pakai Kaus Putih Disorot
-
Beautynesia
Get The Look: Tampil Chic dengan Polkadot Dress ala Jessica Mila
-
Female Daily
Collagen Multi Balm Stick Viral! Benarkah Bisa Bikin Kulit Glowing dan Awet Muda?
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Gaya Elegan Han So Hee Jadi Princess Dior, Bergaun Pink Pastel di Paris
-
Mommies Daily
Kenapa Banyak Orang Tua Memilih Sekolah Katolik untuk Anak Mereka?