HaiBunda

KEHAMILAN

Ayah dan Bunda Tak Sepakat soal Punya Anak? Ini Solusi yang Bisa Dicoba

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Kamis, 15 Jan 2026 16:30 WIB
Ayah dan Bunda Tak Sepakat soal Punya Anak? Ini Solusi yang Bisa Dicoba/Foto: Getty Images/charnsitr
Jakarta -

Keinginan memiliki anak sering dianggap sebagai tujuan bersama setelah menikah. Namun pada praktiknya, tidak semua pasangan berada di titik kesiapan yang sama. Ada Bunda yang sudah ingin segera memulai program hamil (promil), sementara Ayah masih ragu. Atau sebaliknya, Ayah siap, tapi Bunda belum merasa mantap secara fisik maupun mental.

Jika kondisi ini terjadi, wajar bila muncul perasaan sedih, bingung, bahkan konflik. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan?

Ketidaksepakatan soal memiliki anak itu hal wajar

Keinginan memiliki anak tidak selalu datang pada waktu yang sama bagi setiap pasangan. Meski Ayah dan Bunda sama-sama mencintai satu sama lain, kesiapan untuk menjalani program hamil (promil) bisa berbeda. Perbedaan ini dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi fisik, kesehatan mental, kesiapan finansial, hingga pengalaman masa lalu.


Sebagian pasangan masih membawa trauma keguguran, persalinan sulit, atau promil yang belum berhasil. Ada pula yang merasa tertekan oleh tuntutan lingkungan atau usia, sementara di dalam dirinya sendiri belum siap sepenuhnya. Semua perasaan tersebut valid dan perlu dipahami bersama.

Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan pandangan dalam pasangan terkait keputusan reproduksi adalah hal yang umum dan tidak serta-merta mencerminkan kualitas hubungan. Justru, konflik sering muncul ketika perbedaan ini tidak dikomunikasikan secara terbuka dan aman.

Yang perlu diingat, ketidaksepakatan bukan berarti penolakan terhadap pasangan, melainkan sinyal bahwa masing-masing sedang berada di fase kesiapan yang berbeda. Dengan komunikasi yang jujur dan empatik, perbedaan ini bisa menjadi pintu masuk untuk saling memahami lebih dalam, bukan sumber pertengkaran.

Ketidaksepakatan ini bukan tanda hubungan bermasalah, melainkan sinyal bahwa pasangan perlu duduk bersama dan membicarakan hal penting secara lebih dalam.

Stres dan konflik Bisa memengaruhi keputusan punya anak

Sejumlah studi menunjukkan bahwa stres berperan besar dalam niat seseorang untuk memiliki anak. Penelitian yang dipublikasikan di Reproductive Health Journal menemukan bahwa tingkat stres yang tinggi dapat menurunkan keinginan untuk hamil, terutama ketika komunikasi dalam keluarga tidak berjalan dengan baik.

Studi tersebut menegaskan bahwa stres tidak hanya berdampak secara emosional, tetapi juga memengaruhi pengambilan keputusan reproduksi melalui meningkatnya kecemasan dan terganggunya hubungan pasangan.

Tingkat stres yang dirasakan individu terbukti berkaitan dengan menurunnya niat untuk memiliki anak, terutama ketika dukungan dan komunikasi dalam keluarga tidak optimal.

Ketidaksepakatan pasangan berpengaruh pada keputusan reproduksi

Keputusan untuk memiliki anak bukanlah keputusan individu, melainkan keputusan bersama dalam sebuah hubungan. Karena itu, ketika Ayah dan Bunda tidak sepakat soal promil, dampaknya bisa nyata terhadap keputusan reproduksi yang diambil mulai dari menunda kehamilan hingga menjalani promil dengan tekanan emosional.

Sebuah studi yang dipublikasikan di PubMed menunjukkan bahwa ketidaksepakatan antara pasangan mengenai keinginan memiliki anak berpengaruh langsung pada perilaku reproduksi, termasuk keputusan untuk menunda kehamilan atau tidak melanjutkan upaya promil. Pasangan yang tidak berada pada frekuensi kesiapan yang sama cenderung mengalami kebimbangan, konflik, dan ketidakstabilan dalam pengambilan keputusan.

Penelitian lain juga menegaskan bahwa keputusan reproduksi yang diambil tanpa kesepakatan berisiko menimbulkan tekanan emosional jangka panjang, terutama bagi pasangan yang merasa kebutuhannya tidak didengar. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hubungan dan kesiapan psikologis dalam menjalani peran sebagai orang tua.

Karena itu, menyamakan persepsi dan membangun keputusan bersama menjadi langkah penting sebelum memulai promil, bukan hanya demi keberhasilan kehamilan, tetapi juga demi kesehatan mental dan keharmonisan keluarga. Ketika satu pihak belum siap, keputusan promil bisa tertunda atau dijalani dengan tekanan emosional. Artinya, memaksakan promil tanpa kesepakatan berisiko menimbulkan konflik berkepanjangan dalam rumah tangga.

Kesehatan mental pasangan juga berpengaruh pada kesuburan

Tak banyak yang disadari bahwa kesuburan bukan hanya soal kondisi fisik, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kesehatan mental Ayah dan Bunda. Stres berkepanjangan, kecemasan, hingga tekanan emosional akibat konflik dalam hubungan dapat berdampak langsung pada peluang kehamilan.

Sebuah studi kohort yang dipublikasikan di Human Reproduction Open dalam Oxford Academic menemukan bahwa tingkat stres dan gangguan kesehatan mental pada salah satu atau kedua pasangan berkaitan dengan menurunnya peluang kehamilan per siklus menstruasi (fecundability). Artinya, pasangan dengan tekanan mental tinggi membutuhkan waktu lebih lama untuk berhasil hamil dibanding pasangan dengan kondisi emosional yang lebih stabil.

Secara biologis, stres kronis dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi. Pada perempuan, stres dapat memengaruhi ovulasi dan siklus menstruasi. Sementara pada laki-laki, stres terbukti berkaitan dengan penurunan kualitas dan jumlah sperma. Kondisi ini membuat proses promil menjadi lebih menantang, meski secara medis tidak ditemukan masalah fisik yang serius.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa hubungan pasangan yang penuh tekanan emosional dapat memperburuk pengalaman promil, bahkan meningkatkan risiko menghentikan program kehamilan di tengah jalan. Karena itu, menjaga kesehatan mental dan kualitas hubungan menjadi bagian penting dari persiapan memiliki anak.

Bagi Ayah dan Bunda, ini menjadi pengingat bahwa kesiapan mental sama pentingnya dengan kesiapan fisik. Promil yang dijalani dengan rasa aman, dukungan emosional, dan kesepakatan bersama akan memberi peluang yang lebih baik, bukan hanya untuk hamil, tetapi juga untuk membangun keluarga yang sehat.

Foto: Getty Images/cofotoisme


Langkah bijak bila Ayah & Bunda tak sepakat soal miliki anak

Perbedaan pandangan soal promil bukan berarti hubungan berada di ujung tanduk. Justru, cara Ayah dan Bunda menyikapinya akan sangat menentukan apakah perbedaan ini menjadi sumber konflik atau pintu menuju saling memahami. Berikut beberapa langkah bijak yang bisa dilakukan bersama.

1. Pilih waktu bicara yang tenang

Hindari membahas promil saat salah satu sedang lelah, stres, atau emosi. Diskusi yang dilakukan dalam kondisi tenang membantu pasangan lebih terbuka dan tidak defensif.

2. Dengarkan alasan pasangan dengan empati

Alih-alih langsung menyanggah, cobalah benar-benar mendengarkan: Apa yang membuat pasangan belum siap? Apakah ada ketakutan atau pengalaman masa lalu yang belum selesai? Menghargai perasaan pasangan bukan berarti mengalah, melainkan menunjukkan kepedulian.

3. Gunakan kata 'aku', bukan 'kamu'

Contoh:

  • Salah: “Kamu nggak peka dengan perasaanku.”
  • Benar: “Aku merasa sedih karena sangat berharap kita bisa punya anak, tapi aku juga ingin kita sama-sama siap.”

Cara ini membantu diskusi tetap sehat tanpa menyalahkan.

4. Fokus pada tujuan bersama

Ingat kembali bahwa tujuan Ayah dan Bunda sama: membangun keluarga yang sehat dan bahagia. Dengan fokus ini, diskusi promil tidak lagi soal siapa yang menang, melainkan apa yang terbaik untuk bersama.

5. Cari titik tengah yang disepakati

Beberapa kompromi yang bisa dipertimbangkan:

  • Menunda promil sambil melakukan cek kesehatan.
  • Menentukan waktu evaluasi ulang bersama.
  • Konsultasi ke dokter kandungan atau psikolog tanpa tekanan harus langsung promil.

Langkah kecil yang disepakati bersama seringkali lebih menenangkan.

6. Jaga kesehatan mental bersama

Tekanan berlebihan justru bisa menjauhkan pasangan. Jika perbedaan pendapat mulai memicu stres berkepanjangan, jangan ragu mencari bantuan profesional. Kesehatan mental adalah bagian penting dari kesiapan menjadi orang tua.

Intinya, kesepakatan tidak selalu datang seketika. Namun dengan komunikasi yang jujur, empati, dan saling menghormati, Ayah dan Bunda bisa menemukan jalan terbaik tanpa saling melukai.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Cerita Anggun C. Sasmi Alami Keguguran Berulang dan Tekanan Jadi Perempuan

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Unik! 5 Nama Artis Indonesia Ini Ternyata Ada di KBBI

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Deretan Putri Kerajaan yang Kelak Naik Takhta sebagai Ratu

Mom's Life Mutiara Putri

Kisah Bunda Alami Depresi Postpartum setelah Melewati Kehamilan yang Sulit dan Menyakitkan

Kehamilan Annisa Karnesyia

Viral! Tamu Resepsi Ceritakan Pengalaman Makan Paling Ngenes di Pernikahan, Ternyata...

Mom's Life Natasha Ardiah

Anak Susah Diatur? Begini 6 Cara Mendisiplinkannya dengan Tenang

Parenting Annisya Asri Diarta

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

6 Kebiasaan Orang Tua yang Tak Disadari Bisa Merugikan Anak di Masa Depan Menurut Pakar

Unik! 5 Nama Artis Indonesia Ini Ternyata Ada di KBBI

Kisah Bunda Alami Depresi Postpartum setelah Melewati Kehamilan yang Sulit dan Menyakitkan

Anak Susah Diatur? Begini 6 Cara Mendisiplinkannya dengan Tenang

Deretan Putri Kerajaan yang Kelak Naik Takhta sebagai Ratu

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK