KEHAMILAN
Dokter Bilang Janin Sudah Tak Bernyawa, Bunda Ini Bersikeras Masih Ada dan Berujung Keajaiban
Amrikh Palupi | HaiBunda
Kamis, 09 Apr 2026 18:50 WIBKisah menyentuh datang dari seorang Bunda bernama Ria Tapodoc West, yang membuktikan bahwa keyakinan dan naluri seorang ibu bisa menjadi kekuatan luar biasa. Meski sempat divonis kehilangan janin, ia memilih untuk tidak menyerah dan keputusan itu berujung pada sebuah keajaiban yang mengubah hidupnya. Simak yuk Bunda kisahnya.
Ria Tapodoc, seorang perempuan berusia 44 tahun yang tinggal di Dubai, mengalami momen yang sangat mengguncang saat dokter menyatakan bahwa detak jantung bayinya tidak dapat ditemukan.
Berdasarkan perhitungan medis dari siklus menstruasi terakhirnya, usia kehamilan diperkirakan sudah mencapai enam hingga delapan minggu yang berarti detak jantung seharusnya sudah bisa terdeteksi.
Kabar tersebut membuatnya panik, sedih, dan hancur. Ia segera menghubungi sang suami, Ian West, untuk datang ke klinik. Didampingi keluarga, Ria mencoba memahami penjelasan dokter sambil menahan tangis.
"Saya merasa panik, sedih, hancur, dan saya langsung menelepon suami saya untuk segera datang ke klinik. Ketika suami saya datang, kami kembali masuk ke ruang dokter kandungan, dan dokter menjelaskan beberapa hal kepada kami," ujar Ria Tapodoc dikutip dari laman People.
Dokter kemudian menyarankan pemeriksaan lanjutan berupa tes darah untuk memantau kadar hormon hCG. Tes dilakukan dua kali dalam rentang waktu satu minggu untuk melihat apakah terjadi peningkatan yang menandakan kehamilan berkembang normal.
"Kami memutuskan untuk melakukan tes darah pada hari yang sama guna memeriksa kadar hCG saya saat itu juga, lalu melakukan tes lagi seminggu kemudian untuk melihat apakah kadarnya meningkat dua kali lipat sesuai anjuran dokter," katanya.
Pilihan sulit: Menunggu atau mengakhiri
Lantaran tidak adanya detak jantung yang terdeteksi, Ria Tapodoc dihadapkan pada dua pilihan berat, menunggu keguguran alami atau menjalani prosedur dilatasi dan kuretase (D&C). Namun, Ria Tapodoc dan suaminya memilih untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan besar dan tetap melanjutkan rencana awal mereka untuk menikah di Seychelles.
Saat tiba di Seychelles, mereka memutuskan untuk mencari pendapat kedua dan menjalani tes darah. Tiga jam kemudian, mereka menerima hasilnya dengan perawat memberi tahu bahwa kadar hCG-nya tidak meningkat dan kehamilannya tidak dapat dipertahankan.
"Saya mulai menangis. Suami saya sangat sedih. Bisa dibilang hari pernikahan kami adalah hari terburuk!," kata Ria Tapodoc.
Meski hasil medis menunjukkan sebaliknya, Ria Tapodoc tetap percaya bahwa bayinya masih ada. Keyakinan itu semakin kuat ketika ia kembali ke Dubai. Ia merasakan perubahan pada tubuhnya, termasuk mual hebat terhadap bau bahan bakar sesuatu yang tidak biasa baginya sebagai awak kabin selama 15 tahun.
"Saya hanya tahu tubuh saya sedang hamil. Bau bahan bakar yang selama bertahun-tahun sudah biasa bagi saya, untuk pertama kalinya justru membuat saya sangat pusing dan mual hingga saya muntah di kantong abu-abu," tuturnya.
Perasaan itu mendorongnya untuk melakukan tes darah ketiga. Hasilnya mengejutkan, kadar hormon hCG tidak hanya meningkat dua kali lipat, tetapi bahkan tiga kali lipat. Dari titik itulah, kehamilan Ria mulai menunjukkan perkembangan yang sehat.
"Keesokan harinya, saya melakukan tes darah ketiga dan hormon saya tidak hanya meningkat dua kali lipat. (Kadar hormon) itu bahkan meningkat tiga kali lipat," kata Ria Tapodoc.
Setelah melalui ketidakpastian, akhirnya Ria dan suaminya mendengar detak jantung sang bayi untuk pertama kalinya. Momen tersebut menjadi titik balik emosional yang tak terlupakan.
"Kali pertama kami mendengar detak jantungnya, kami berdua menangis. Rasanya luar biasa setelah beberapa kali dinyatakan tidak ada, lalu akhirnya bisa mendengar detak jantungnya untuk pertama kalinya. Itu tak terlupakan dan menjadi hari paling bahagia dalam hidup saya," ucap Ria Tapodoc.
Viral di media sosial dan pesan kehidupan
Kisah Ria Tapodoc menjadi viral setelah ia membagikannya melalui video di Instagram. Dalam video tersebut, ia menunjukkan perjalanan emosionalnya dari divonis kehilangan janin hingga akhirnya memeluk putrinya yang kini berusia 6 tahun, Harper.
"Syukurlah saya mencari pendapat kedua! Hidup saya pasti akan sangat berbeda sekarang. Pernahkah Anda diberi tahu ‘tidak’, tetapi jauh di dalam hati Anda merasa kenyataannya berbeda? Dalam kasus saya, saya sudah merasakan ikatan dengan Harper bahwa dia ada, meskipun saat itu dia masih terlalu kecil untuk bahkan bisa bergerak," tulisnya.
Enam tahun kemudian, ibu yang bangga ini mengatakan bahwa putrinya adalah gadis kecil paling mandiri yang pernah ditemui.
Ria Tapodoc mengungkapkan rasa syukurnya karena tidak mengambil keputusan secara terburu-buru. Menurutnya, jika ia langsung percaya pada hasil awal, mungkin ia tidak akan pernah memiliki putrinya hari ini.
"Saya sangat bersyukur memiliki putri saya. Saya bisa saja kehilangannya hanya dengan melihat hasil pertama dan kedua dari USG serta tes darah saya. Sekarang, saya ingin mengajarkan kepada putri saya tentang kekuatan ketahanan dan untuk tidak menyerah sampai semua kemungkinan telah dicoba," tuturnya.
“Menjadi seorang ibu mengajarkan saya bahwa hidup tidak selalu harus sempurna, dan kadang bisa menghadirkan kejutan yang tak terduga. Yang terpenting adalah kemauan untuk hidup, tekad saya untuk berjuang dan bertahan dalam mencapai tujuan saya," imbuh Ria Tapodoc.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)