Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Ketahui Fakta Menarik Kenapa Kehamilan Bayi Kembar Lebih Jarang Terjadi

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Selasa, 12 May 2026 16:30 WIB

Ilustrasi ibu hamil kembar 9
Ketahui Fakta Menarik Kenapa Kehamilan Bayi Kembar Lebih Jarang Terjadi/Foto: Getty Images/TwentySeven
Daftar Isi
Jakarta -

Pernah enggak sih, Bunda membayangkan betapa serunya punya bayi kembar? Dua bayi hadir sekaligus, wajah yang mirip, bahkan sering disebut punya 'ikatan batin' yang kuat sejak dalam kandungan. Tapi di balik keistimewaan itu, kehamilan kembar ternyata bukan hal yang umum terjadi, lho.

Banyak orang mengira kehamilan kembar bisa terjadi begitu saja. Padahal, ada proses biologis yang cukup kompleks dan peluangnya pun relatif kecil dibandingkan kehamilan tunggal. Lalu, sebenarnya apa yang membuat kehamilan bayi kembar lebih jarang terjadi?

Yuk, kita bahas Bunda!

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kenapa kehamilan kembar lebih jarang terjadi?

Secara alami, tubuh perempuan biasanya hanya melepaskan satu sel telur setiap siklus ovulasi. Proses ini dikenal sebagai ovulasi. Nah, di sinilah kuncinya: kehamilan kembar hanya bisa terjadi dalam kondisi tertentu yang tidak selalu muncul di setiap siklus.

Dua jenis kehamilan kembar

1. Kembar identik (monozigot)

Kembar identik terjadi ketika satu sel telur yang telah dibuahi membelah menjadi dua embrio, atau dikenal sebagai kembar monozigot.

Menurut studi di jurnal Fertility and Sterility, kejadian ini hanya sekitar 3–4 per 1.000 kelahiran dan cenderung stabil di seluruh dunia. Selain itu, penelitian dalam Journal of Clinical Medicine menyebutkan peluangnya hanya sekitar 0,4 persen dari seluruh kehamilan alami, serta terjadi secara acak dan belum sepenuhnya dipahami mekanismenya.

2. Kembar tidak identik (dizigot)

Kembar tidak identik terjadi saat dua sel telur dibuahi secara bersamaan, yang dikenal sebagai kembar dizigot. Jenis ini lebih sering terjadi dibanding kembar identik, namun tetap tergolong jarang karena tubuh tidak selalu melepaskan dua sel telur dalam satu siklus.

Seberapa jarang kehamilan kembar?

Penelitian dalam bidang kedokteran reproduksi menunjukkan bahwa, kehamilan kembar hanya terjadi sekitar 2–3 persen dari seluruh kelahiran (ScienceDirect/Elsevier). Studi lain di PubMed Central menyebut angka ini berkisar 2–4 persen secara global. Selain itu, data populasi dalam jurnal Nature juga menegaskan bahwa kehamilan kembar tetap menjadi minoritas dibanding kehamilan tunggal. Artinya, dari 100 kehamilan, hanya sekitar 2–4 yang merupakan kehamilan kembar.

Faktor yang bisa meningkatkan peluang

Walaupun jarang, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar:

1. Faktor genetik

Riwayat kembar dalam keluarga, terutama dari garis ibu, dapat meningkatkan peluang kembar tidak identik.

2. Usia ibu

Menurut jurnal Reproduction dari Oxford Academic, perempuan yang hamil di usia lebih matang memiliki peluang lebih besar mengalami ovulasi lebih dari satu sel telur.

3. Program kehamilan

Teknologi seperti in vitro fertilization (IVF) berkontribusi pada peningkatan angka kehamilan kembar karena memungkinkan penanaman lebih dari satu embrio.

4. Hormon

Hormon seperti follicle stimulating hormone dapat memicu pelepasan lebih dari satu sel telur dalam satu siklus.

Kenapa tetap jarang terjadi?

Meski terdengar spesial, kehamilan kembar memang tidak sering terjadi. Ada beberapa alasan ilmiah kenapa hal ini tetap tergolong jarang, Bunda:

1. Tubuh secara alami 'dirancang' untuk satu janin

Dalam satu siklus, tubuh perempuan biasanya hanya melepaskan satu sel telur melalui proses Ovulasi. Artinya, secara alami tubuh memang mempersiapkan kehamilan untuk satu bayi saja, bukan dua sekaligus.

2. Pelepasan dua sel telur tidak sering terjadi

Untuk menghasilkan kembar tidak identik, tubuh harus melepaskan dua sel telur dalam satu waktu. Ini dipengaruhi hormon seperti Follicle Stimulating Hormone, tapi kondisi ini tidak terjadi di setiap siklus. Makanya, peluang kembar jenis ini tetap terbatas.

3. Kembar identik terjadi secara acak

Pada kembar identik, satu sel telur yang sudah dibuahi akan membelah menjadi dua embrio (Kembar monozigot). Masalahnya, proses ini terjadi secara spontan, tidak bisa diprediksi dan tidak dipengaruhi genetik secara kuat. Itulah kenapa jumlahnya sangat kecil di seluruh dunia.

4. Tidak semua embrio bisa bertahan

Dalam beberapa kasus, meskipun awalnya ada dua embrio, tidak semuanya berkembang dengan baik. Kondisi seperti ini dikenal sebagai vanishing twin syndrome. Akibatnya, kehamilan tetap berlanjut sebagai kehamilan tunggal.

5. Faktor pendukung tidak selalu ada

Memang ada faktor yang bisa meningkatkan peluang kembar, seperti, usia ibu, riwayat keluarga dan program bayi tabung seperti in vitro fertilization (IVF). Namun tanpa faktor-faktor ini, peluang kehamilan kembar secara alami tetap kecil.

Risiko yang perlu diperhatikan

Kehamilan kembar memang membawa kebahagiaan ganda, tapi di sisi lain juga membutuhkan perhatian ekstra. Dibandingkan kehamilan tunggal, risiko komplikasinya cenderung lebih tinggi, sehingga Bunda perlu lebih rutin melakukan kontrol ke dokter.

Berikut beberapa risiko yang perlu diperhatikan:

1. Kelahiran prematur

Salah satu risiko paling umum adalah prematuritas. Bayi kembar sering lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu karena rahim harus menampung lebih dari satu janin. Kelahiran prematur bisa berdampak pada perkembangan organ bayi, terutama paru-paru.

2. Berat badan lahir rendah

Bayi kembar lebih berisiko mengalami berat badan lahir rendah. Hal ini terjadi karena nutrisi dari ibu harus dibagi ke dua janin, sehingga masing-masing bayi bisa memiliki berat yang lebih kecil dibanding bayi tunggal.

3. Tekanan darah tinggi saat hamil

Kehamilan kembar meningkatkan risiko preeklamsia. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi dan bisa berdampak serius jika tidak ditangani dengan baik, baik untuk ibu maupun bayi.

4. Diabetes gestasional

Bunda yang hamil kembar juga lebih berisiko mengalami Diabetes gestasional. Kondisi ini perlu dikontrol dengan pola makan dan pemantauan medis agar tidak memengaruhi kesehatan ibu dan janin.

5. Komplikasi pada plasenta

Pada beberapa kasus, kehamilan kembar, terutama kembar identik bisa mengalami masalah seperti twin-to-twin transfusion syndrome. Kondisi ini terjadi ketika satu bayi menerima lebih banyak darah dibandingkan yang lain, sehingga bisa membahayakan keduanya.

6. Persalinan dengan operasi caesar

Kehamilan kembar memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk melahirkan melalui operasi caesar, terutama jika posisi bayi tidak ideal atau terjadi komplikasi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda