HaiBunda

KEHAMILAN

Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Kamis, 01 Oct 2026 14:00 WIB
Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil/Foto: Getty Images/FatCamera
Jakarta -

Membayangkan harus menjalani kehamilan sambil melawan kanker tentu bukan hal yang mudah. Di satu sisi, seorang ibu ingin menjaga kesehatan dirinya. Di sisi lain, ada janin yang sedang tumbuh di dalam kandungan dan harus dilindungi.

Hal tersebut dialami Jya Banks, perempuan 28 tahun asal Sunshine Coast, Australia. Saat sedang mengandung anak pertamanya, Jya justru mendapatkan diagnosis kanker darah.

Jya didiagnosis mengalami Hodgkin lymphoma stadium lanjut ketika usia kehamilannya baru 14 minggu. Dokter menemukan sejumlah massa atau benjolan di tubuhnya, termasuk di leher, ketiak, dada, dan perut. Salah satu massa di bagian perut bahkan berukuran sekitar 10 sentimeter.


"Saya pikir saya akan meninggal dalam lima tahun," kata Jya, dikutip dari ABC News.

Di tengah rasa takut tersebut, Jya dan pasangannya, Betha, juga harus menghadapi pertanyaan besar: Bagaimana dengan bayi yang sedang dikandungnya?

Tetap hamil sambil melawan kanker

Setelah berdiskusi dengan tim medis, Jya memutuskan tetap melanjutkan kehamilannya sambil menjalani pengobatan kanker.

Ia mulai menjalani kemoterapi ketika usia kehamilannya memasuki sekitar 15 minggu. Penanganannya melibatkan tim medis dari berbagai bidang untuk memantau kondisi Jya sekaligus perkembangan janin.

Selama menjalani kemoterapi, Jya mengalami berbagai efek samping. Ia merasakan kelelahan, mual, anemia, kadar zat besi rendah hingga demam akibat pengobatan.

Namun, perjuangannya tidak berhenti di sana. Kehamilan Jya terus dipantau secara ketat oleh tim medis. Dokter perlu memastikan pengobatan kanker tetap dapat diberikan tanpa mengabaikan kondisi janin di dalam kandungan.

Menjalani kemoterapi saat hamil

Mungkin banyak Bunda bertanya-tanya, bukankah kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat kuat? Lantas, bagaimana bisa diberikan kepada ibu yang sedang hamil?

Jawabannya, kemoterapi pada kehamilan memang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, tetapi tidak semua jenis obat dan tidak pada semua usia kehamilan.

Waktu pemberian menjadi salah satu pertimbangan penting. Pada trimester pertama, janin sedang mengalami pembentukan organ-organ utama. Karena itu, paparan obat tertentu pada periode tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan janin.

Setelah trimester pertama, beberapa jenis kemoterapi dapat dipertimbangkan untuk kondisi kanker tertentu. Namun, keputusan tersebut harus dibuat oleh dokter berdasarkan jenis kanker, stadium penyakit, obat yang diperlukan, usia kehamilan, serta kondisi ibu dan janin. Dengan kata lain, pengobatan setiap Bunda bisa berbeda.

Setelah kemoterapi, Bunda ini melahirkan bayi sehat

Setelah melewati berbagai tantangan selama kehamilan, Jya akhirnya mendapatkan momen yang selama ini dinantikannya. Pada 20 Juli 2026, ia melahirkan putranya yang diberi nama Harvey Banks.

Harvey lahir ketika usia kehamilan mencapai 37 minggu dengan berat badan sedikit lebih dari 2 kilogram. Bayi tersebut dilaporkan dalam kondisi sehat dan hanya perlu menjalani perawatan di rumah sakit selama satu malam.

Kelahiran Harvey tentu menjadi kebahagiaan besar bagi Jya dan Betha setelah berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian. Tak berhenti sampai di situ, sekitar tiga minggu setelah melahirkan, Jya juga mendapatkan kabar baik mengenai kondisi kankernya. Penyakit tersebut dinyatakan mengalami remisi.

Kisah Jya pun menjadi perjalanan panjang dari diagnosis kanker, menjalani kemoterapi saat hamil, hingga akhirnya dapat menggendong bayi yang sehat.

Kanker saat hamil memang bisa terjadi

Kasus seperti yang dialami Jya tergolong kompleks. Kanker yang ditemukan ketika seseorang sedang hamil membutuhkan pertimbangan medis yang sangat hati-hati karena dokter harus menangani dua kondisi sekaligus, yakni kesehatan ibu dan perkembangan janin.

Jenis kanker yang dialami, stadium, usia kehamilan, serta terapi yang diperlukan akan menentukan pilihan pengobatan. Karena itu, ketika kanker ditemukan saat hamil, dokter biasanya akan melibatkan tim multidisiplin. Tim tersebut dapat terdiri dari dokter kanker, dokter kandungan, spesialis fetomaternal, neonatolog, hingga tenaga kesehatan lainnya.

Tujuannya bukan hanya mengobati kanker, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan dan perkembangan bayi.

Kemoterapi bisa memengaruhi kesuburan Bunda

Perjuangan melawan kanker juga dapat membawa tantangan lain bagi perempuan yang masih ingin memiliki anak di kemudian hari.

National Cancer Institute (NCI) menjelaskan bahwa sejumlah pengobatan kanker, termasuk kemoterapi, dapat memengaruhi kesuburan perempuan. Besarnya risiko bergantung pada beberapa faktor, seperti jenis obat, dosis, lama pengobatan, usia pasien, serta kondisi kesuburan sebelum terapi.

Beberapa obat kemoterapi dapat memengaruhi ovarium dan jumlah sel telur. Karena itu, perempuan yang baru mendapatkan diagnosis kanker dan masih memiliki rencana untuk mempunyai anak dapat mendiskusikan pilihan preservasi kesuburan dengan dokter sebelum pengobatan dimulai.

Salah satu pilihan yang mungkin tersedia adalah pembekuan sel telur atau embrio. Namun, metode yang dapat dilakukan akan bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan seberapa cepat pengobatan kanker harus dimulai.

Setiap kehamilan dan kasus kanker berbeda

Kisah Jya memang berakhir dengan kelahiran bayi yang sehat. Namun, pengalaman tersebut tidak berarti semua ibu hamil dengan kanker dapat menjalani kemoterapi dengan cara yang sama.

Pengobatan kanker selama kehamilan harus direncanakan secara individual oleh dokter. Dalam kondisi tertentu, dokter mungkin memilih memberikan terapi saat kehamilan masih berlangsung. Pada kondisi lain, pilihan pengobatan dapat berbeda.

Dengan penanganan dari tim medis yang tepat, dokter dapat membantu mempertimbangkan pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi ibu dan perkembangan bayi.

Bagi Jya, perjalanan tersebut akhirnya mempertemukannya dengan Harvey. Setelah melewati ketakutan, kemoterapi, dan kehamilan yang penuh tantangan, kini ia bisa menjalani hari-harinya sebagai seorang ibu bersama putranya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Hamil Anak Pertama, Intip Style Maternity ala Alexandra Leclerc

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Penampilan Terbaru Mytha Lestari usai Turun 9 Kg Tanpa Diet Khusus

Mom's Life Annisa Karnesyia

Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Sering Dikira Gejala Aslam, Kenali Ciri-ciri Serangan Jantung di Usia Muda

Mom's Life Tim HaiBunda

Apa Itu Bulking? Cara Menambah Massa Otot dengan Pola Makan yang Tepat

Mom's Life Arina Yulistara

13 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang yang Merasa Paling Pintar

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Pertama Kali, Balita 24 Bulan di Belanda Jalani Eutanasia akibat Penyakit Parah

Penampilan Terbaru Mytha Lestari usai Turun 9 Kg Tanpa Diet Khusus

Kisah Haru Bunda Melahirkan Bayi Sehat meski Jalani Kemoterapi saat Hamil

Apa Itu Bulking? Cara Menambah Massa Otot dengan Pola Makan yang Tepat

Sering Dikira Gejala Aslam, Kenali Ciri-ciri Serangan Jantung di Usia Muda

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK