KEHAMILAN
Mengenal Postpartum Psychosis, Gangguan Mental Serius setelah Melahirkan
Annisa Karnesyia | HaiBunda
Senin, 12 Oct 2026 14:10 WIBProses melahirkan dan menjadi seorang ibu membawa perubahan besar, baik secara fisik maupun emosional. Di balik kebahagiaan menyambut Si Kecil, sebagian ibu dapat mengalami gangguan kesehatan mental pasca persalinan yang beraneka ragam.
Nah, salah satu bentuk yang paling jarang terjadi namun sering tak disadari adalah postpartum psychosis atau psikosis pasca persalinan. Kondisi ini memerlukan perhatian medis segera agar ibu dan bayi mendapatkan penanganan yang tepat dan aman.
Apa itu postpartum psychosis?
Melansir dari laman Cleveland Clinic, postpartum psychosis adalah kondisi mental serius yang dapat menyerang perempuan segera setelah melahirkan. Menurut NHS Inggris, postpartum psychosis memengaruhi sekitar 1 dari 1.000 ibu setelah melahirkan.
Postpartum psychosis memengaruhi persepsi seseorang terhadap realitas, menyebabkan halusinasi, delusi, paranoia, atau perubahan perilaku lainnya. Dalam kasus yang parah, orang dengan kondisi ini mungkin mencoba melukai diri sendiri atau bayi yang baru lahir, Bunda.
Perlu diketahui, psikosis pasca persalinan dapat memengaruhi siapa pun yang baru saja melahirkan. Meskipun biasanya terjadi dalam beberapa hari setelah melahirkan, hal ini dapat terjadi hingga enam minggu setelahnya. Postpartum psychosis kemungkinan berisiko tinggi terjadi pada orang-orang dengan kondisi kesehatan mental tertentu.
Penyebab postpartum psychosis
Para ahli tidak mengetahui persis penyebab psikosis pasca persalinan. Namun, mereka menduga hal ini melibatkan kombinasi beberapa faktor, seperti:
1. Riwayat kondisi kesehatan mental
Sekitar sepertiga orang dengan postpartum psychosis memiliki kondisi kesehatan mental yang telah didiagnosis sebelumnya. Salah satu yang paling umum adalah gangguan bipolar (terutama gangguan bipolar I ). Kondisi kesehatan mental lain yang dapat meningkatkan risiko termasuk gangguan depresi mayor dan kondisi spektrum skizofrenia.
2. Jumlah kehamilan
Postpartum psychosis lebih umum terjadi pada orang yang baru saja melahirkan anak pertama. Namun, bagi perempuan yang memiliki riwayat kondisi ini, ada kemungkinan 30 hingga 50 persen hal itu akan terjadi lagi setelah persalinan berikutnya.
4. Riwayat keluarga dengan kondisi kesehatan mental, terutama postpartum psychosis
Orang dengan postpartum psychosis sering kali memiliki anggota keluarga dengan riwayat ini atau kondisi kesehatan mental terkait. Oleh karena itu, para peneliti menduga bahwa kondisi ini mungkin memiliki kaitan genetik.
5. Kurang tidur
Para ahli mengetahui bahwa kurang tidur dapat memicu mania pada penderita gangguan bipolar. Mereka juga menduga bahwa kurang tidur dapat menjadi salah satu penyebab seseorang mengalami postpartum psychosis.
6. Perubahan hormon
Kimia tubuh selama kehamilan mengalami perubahan besar, terutama mendekati sekitar waktu persalinan. Kadar beberapa hormon meningkat tajam, sementara yang lain menurun drastis. Para ahli menduga hormon tertentu, terutama estrogen dan prolaktin, mungkin berperan. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hal ini.
7. Kondisi medis lainnya
Postpartum psychosis juga dapat terjadi karena alasan medis, yang banyak di antaranya mungkin terjadi selama atau segera setelah melahirkan. Beberapa contohnya seperti penyakit autoimun dan inflamasi, ketidakseimbangan elektrolit, kekurangan vitamin (B1 dan B12), gangguan tiroid, stroke, dan kondisi medis lainnya. Eklamsia dan preeklamsia juga dapat menjadi kondisi yang berkontribusi.
Gejala postpartum psychosis
Gejala postpartum psychosis biasanya muncul tiba-tiba dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, sering kali dalam hitungan jam atau hari. Pada kasus yang jarang, gejala dapat berkembang beberapa minggu setelah bayi lahir.
Gejalanya dapat meliputi:
- Halusinasi, seperti mendengar, melihat, mencium, atau merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
- Delusi, seperti munculnya kecurigaan, ketakutan, pikiran, atau kepercayaan yang tidak mungkin benar.
- Mania, seperti perasaan sangat "gembira" atau terlalu aktif, misalnya, berbicara dan berpikir terlalu banyak atau terlalu cepat, gelisah, atau kehilangan kendali diri.
- Suasana hati yang buruk, yang menunjukkan tanda-tanda depresi, menarik diri atau menangis, kekurangan energi, kehilangan nafsu makan, kecemasan, gelisah, atau kesulitan tidur.
- Gejala terkadang merupakan campuran antara suasana hati manik dan suasana hati rendah, atau perubahan suasana hati yang cepat.
- Sering merasa sangat bingung
Penanganan postpartum psychosis
Psikosis pasca persalinan dapat diobati, dan beberapa pendekatan berbeda mungkin berhasil. Sayangnya, kelangkaan kondisi ini membuat pilihan pengobatannya masih terbatas.
Beberapa metode telah banyak digunakan, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan agar para ahli dapat memahami cara terbaik untuk mengobati kondisi ini. Namun, karena postpartum psychosis merupakan keadaan darurat kesehatan mental, orang yang mengidap kondisi ini membutuhkan perawatan kesehatan mental rawat inap.
Penggunaan obat-obatan hingga terapi juga mungkin diperlukan, Bunda. Pengobatan dapat diberikan untuk mengatasi gejala yang muncul.
Kapan harus ke dokter?
Postpartum psychosis adalah penyakit mental serius yang harus ditangani sebagai keadaan darurat medis. Penyakit ini dapat memburuk dengan cepat dan dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi.
Segera temui dokter umum jika Bunda atau seseorang yang dikenal mungkin mengalami gejala psikosis pasca persalinan. Perlu diingat bahwa banyak pasien dengan kondisi ini tidak menyadari dirinya sedang sakit. Orang terdekat perlu membantu dalam mengenali gejala dan mencari bantuan.
Demikian penjelasan mengenai postpartum psychosis yang terjadi usai melahirkan. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Perbedaan Baby Blues dan Postpartum Depression, Jangan Sampai Keliru Bun
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Hamil di Musim Dingin Bisa Picu Masalah Kesehatan Mental pada Bayi? Simak Faktanya
Hindari Drama, Ibu Hamil Ini Putuskan Tak Beri Tahu Sang Bunda Tanggal Persalinannya
Jangan Diabaikan, Ini Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Bunda Pasca Melahirkan
Segera Atasi Gangguan Kesehatan Mental saat Hamil agar Bunda & Bayi Tetap Sehat
TERPOPULER
Hilang 9 Hari di Tasikmalaya, Anak Perempuan Ini Ditemukan di Apartemen PIK
Dikta Akhirnya Bagikan Momen Pernikahan dengan Rachel Cia, Seru dan Berkesan
15 Contoh Soal Pembagian Porogapit dan Kunci Jawabannya
Kanker Payudara pada Perempuan Muda Meningkat, Ini yang Perlu Diwaspadai
Alergi pada Anak: Kenali Gejala dan Tanda Bahaya Anafilaksis
REKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Kipas Portable dengan Angin Kencang, Praktis Dibawa ke Mana Saja
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Eye Patch untuk Mata Lelah dan Panda, Bikin Tampilan Lebih Fresh
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Deretan Harga Kulkas Termahal dan Fitur di Baliknya
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Sofa Bayi yang Bagus & Nyaman untuk Belajar Duduk
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi Loose Powder untuk Ibu Hamil
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Sosok Mirelle Aurellia, Model Indonesia yang Debut di Fashion Show Merek Ternama Dunia
Kanker Payudara pada Perempuan Muda Meningkat, Ini yang Perlu Diwaspadai
15 Contoh Soal Pembagian Porogapit dan Kunci Jawabannya
Hilang 9 Hari di Tasikmalaya, Anak Perempuan Ini Ditemukan di Apartemen PIK
Alergi pada Anak: Kenali Gejala dan Tanda Bahaya Anafilaksis
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Ingin Jam Tangan yang Proporsional? Ini 6 Cara Memilih Ukuran yang Pasx
-
Beautynesia
4 Zodiak yang Ternyata Sudah Dekat dengan Titik Balik Hidup
-
Female Daily
Rinso x OTHMAN Kolaborasi Lewat The Stained Drop Collection, Angkat Semangat Berani Kotor
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Sinopsis Little Big Soldier di Bioskop Trans TV Hari Ini
-
Mommies Daily
Berapa Biaya Masuk SD di Bandung? Ini Kisaran Uang Pangkal dan SPP TA 2027/2028