HaiBunda

KEHAMILAN

WHO Ungkap Bahaya Tekanan Darah Tinggi saat Hamil, 42 Ribu Ibu Meninggal Tiap Tahun

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 16 Oct 2026 07:30 WIB
WHO Ungkap Bahaya Tekanan Darah Tinggi saat Hamil, 42 Ribu Ibu Meninggal Tiap Tahun/ Foto: Getty Images/iStockphoto/
Jakarta -

Tekanan darah tinggi saat hamil masih menjadi memengaruhi ribuan perempuan setiap tahunnya. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya 42 ribu ibu meninggal setiap tahun karena tekanan darah tinggi saat hamil, Bunda.

Gangguan hipertensi pada kehamilan, termasuk preeklamsia, tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian dan penyakit serius bagi ibu hamil dan bayi, dengan dampak jangka panjang yang tragis bagi keluarga. WHO mengungkap, kondisi ini bahkan memperumit sekitar 10 hingga 15 persen kehamilan di seluruh dunia.

"Gangguan ini menyumbang sekitar 16 persen kematian ibu secara global, mengakibatkan sekitar 42.000 kematian setiap tahun, serta lebih dari 500.000 bayi lahir mati (stillbirth) dan kematian bayi baru lahir," demikian kata WHO, dikutip dari laman resminya baru-baru ini.


Di banyak negara, perempuan masih kekurangan akses yang tetap terhadap pengukuran tekanan darah dasar, pengujian protein urine, dan obat-obatan penting, termasuk aspirin, obat antihipertensi, dan magnesium sulfat. Sistem rujukan yang lemah, kekurangan tenaga kesehatan terlatih, dan layanan obstetri darurat yang terbatas juga dapat menunda perawatan.

"Preeklamsia dapat berkembang pada kehamilan apa pun. Apakah kondisi ini berakibat fatal bergantung pada apakah tekanan darah diperiksa tepat waktu, dan apakah perawatan darurat berkualitas tersedia ketika kondisinya memburuk," kata Direktur Department of Sexual, Reproductive, Maternal, Child, Adolescent Health and Ageing WHO, Dr. Pascale Allotey.

Untuk membantu menurunkan angka hipertensi pada kehamilan, WHO belum lama ini meluncurkan Global Roadmap for Hypertensive Disorders of Pregnancy from 2026 to 2035 and Beyond. Roadmap ini dibuat menyoroti kesenjangan inovasi antara skala masalah dan kurangnya obat-obatan untuk pencegahan atau pengobatan preeklamsia atau eklamsia.

"Roadmap ini menyatukan penelitian, obat-obatan, panduan klinis, sistem kesehatan, dan tindakan politik sehingga peluang seorang perempuan untuk bertahan hidup selama kehamilan dan melahirkan bayi tidak bergantung pada tempat tinggalnya," ungkap Allotey.

Investasi penelitian di roadmap ini sebagian besar berfokus pada diagnostik, dengan kurangnya investasi kronis pada pilihan pencegahan dan pengobatan baru. WHO mengumpulkan lebih dari 140 mitra dalam sebuah pertemuan di Mei 2026 untuk mengidentifikasi dan menjawab 20 pertanyaan penelitian prioritas guna memandu investasi di masa depan yang akan membantu memprediksi, mendeteksi, dan mengobati gangguan hipertensi pada kehamilan.

Menurut WHO, di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kesenjangan dalam perawatan antenatal termasuk tenaga kesehatan terlatih dan layanan darurat membuat calon ibu mungkin mengalami komplikasi serius atau meninggal dunia. Perempuan yang terdampak kemiskinan, krisis kemanusiaan, isolasi geografis, dan tantangan lainnya juga menghadapi risiko yang sangat tinggi.

Bahaya tekanan darah tinggi saat hamil

Perlu diketahui, perempuan yang terkena gangguan hipertensi selama kehamilan menghadapi peningkatan risiko hipertensi kronis, penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit ginjal di kemudian hari.

Sementara itu, anak-anak yang terpapar selama kehamilan dapat menghadapi peningkatan risiko yang terkait dengan kelahiran prematur dan penyakit kardiovaskular serta metabolik jangka panjang.

Dampak hipertensi pada kehamilan juga dipaparkan dalam American Heart Association Journals tahun 2025. Menurut ulasan, hipertensi pada kehamilan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap morbiditas dan mortalitas ibu, hipertensi persisten, dan rawat inap ulang.

"Diagnosis dan pengelolaan hipertensi yang efektif selama kehamilan sangat penting untuk mengurangi risiko pada ibu, seperti cedera ginjal akut, stroke, dan gagal jantung, sambil menyeimbangkan potensi risiko janin, seperti keterlambatan pertumbuhan dan kelahiran prematur karena perubahan perfusi uteroplasenta," demikian isi ulasan di jurnal ini.

Demikian data terbaru WHO tentang kasus tekanan darah tinggi selama kehamilan yang terjadi di dunia. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Preeklamsia pada Ibu Hamil, Mulai dari Gejala hingga Faktor Risikonya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Berkat Hidung Tajam Sang Anjing, Bunda Ini Selamat dari Kanker Payudara

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Ciri Orang Cerdas Menghadapi Orang Toksik Tanpa Terjebak Drama

Mom's Life Amira Salsabila

WHO Ungkap Bahaya Tekanan Darah Tinggi saat Hamil, 42 Ribu Ibu Meninggal Tiap Tahun

Kehamilan Annisa Karnesyia

Terpopuler: Potret Luisa Adreena 'Na Willa', Nomine Perempuan Termuda FFI 2026

Mom's Life Amira Salsabila

Punya Kebiasaan Menyimpan Kartu Ulang Tahun Lama? Ternyata Ada Alasan Emosional di Baliknya

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Amaira Putri Farah Quinn Ultah ke-8, Intip Potretnya Bun!

Berkat Hidung Tajam Sang Anjing, Bunda Ini Selamat dari Kanker Payudara

4 Drama China Yan An, Terbaru Where the Mask Ends Bareng Tian Xi Wei

WHO Ungkap Bahaya Tekanan Darah Tinggi saat Hamil, 42 Ribu Ibu Meninggal Tiap Tahun

Ciri Orang Cerdas Menghadapi Orang Toksik Tanpa Terjebak Drama

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK