kehamilan

Cerita Bunda yang Melahirkan di Usia Kandungan 26 Minggu

Melly Febrida Kamis, 09 Nov 2017 - 07.04 WIB
Ilustrasi bayi lahir prematur karena ibu idap sindrom HELLP/ Foto: Thinkstock Ilustrasi bayi lahir prematur karena ibu idap sindrom HELLP/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Ini adalah kisah seorang bunda bernama Jackie Mangiolino. Dia terpaksa melahirkan anaknya saat usia kandungan baru berusia 26 minggu. Apa yang sebenarnya terjadi?

Rupanya Jackie mengalami sindrom HELLP. Padahal Jackie mengaku awalnya selama kehamilan, dirinya merasa sehat-sehat saja. Hanya saja tekanan darahnya cukup tinggi.

Jackie baru menyadari ketika badannya menjadi sangat bengkak dan bobotnya bertambah 5 kg dalam beberapa hari. Ia kemudian memeriksa tekanan darahnya dan ternyata sangat tinggi.

Jackie kemudian masuk dan keluar rumah sakit selama beberapa hari sebelum didiagnosis sindrom HELLP. Ini kelainan hati dan penggumpalan darah yang cukup langka.

"Tidak ada cara untuk menentukan bagaimana sindrom HELLP berkembang dan ini dianggap sebagai penyakit acak yang tidak dapat disembuhkan," kata Jackie seperti dilansir newidea.

"Begitu mulai berkembang, kami tahu ini akan mengancam jiwa dan kami perlu melahirkan bayi melalui c-section darurat," imbuhnya.

Jackie mulai dirawat di rumah sakit pada usia kandungan 25 minggu. Sepekan kemudian, anak laki-laki pasangan Jackie dan Mike yang diberi nama Richie ini lahir. Beratnya saat lahir sekitar 963 gram.

Sang bayi menghabiskan 99 hari pertama hidupnya di unit perawatan intensif. Jackie mengatakan keluarga mereka 'sangat beruntung' lantaran Richie tidak mengalami banyak kemunduran meski lahir prematur dan memiliki berat badan lahir yang sangat rendah.

"Dia tidak mengalami pendarahan otak, tidak ada kelainan bentuk jantung, tidak ada kerusakan penglihatan atau kerusakan pendengaran, dia sungguh menakjubkan," terang Jackie.

Namun menurut Jackie, si kecil memiliki penyakit paru-paru kronis.

Apa Itu Sindrom HELLP?

Apa sebenarnya sindrom HELLP? Menurut laman preeclampsia.org, sindrom HELLP merupakan komplikasi kehamilan yang mengancam jiwa ibu hamil. Biasanya dianggap sebagai varian preeklampsia. Kedua kondisi biasanya terjadi pada tahap akhir kehamilan atau kadang setelah melahirkan.

Menurut Maureen O'Hara Padden LCDR MC USN dari Naval Hospital, California, sindrom HELLP dinamai oleh Dr Louis Weinstein pada tahun 1982. HELLP sendiri adalah singkatan dari Hemolisis (kerusakan sel darah merah), ELevated liver enzymes (enzim hati yang naik) dan Low Platelet count (trombosit rendah).

Sindrom HELLP bisa jadi sulit untuk didiagnosis, Bun, terutama kalau mengalami tekanan darah tinggi dan tidak ada protein dalam urine. Gejalanya kadang juga keliru dengan gastritis, flu, hepatitis akut, penyakit kandung empedu, atau kondisi lainnya.

Tingkat mortalitas global sindrom HELLP menurut laporan sebesar 25 persen. Itulah alasan pentingnya ibu hamil mengetahui kondisi dan gejalanya sehingga dapat menerima diagnosis dan pengobatan dini.

Gejala fisik Sindrom HELLP pada awalnya seperti preeklampsia. Wanita hamil yang mengembangkan sindrom HELLP mengalami satu atau lebih dari gejala ini:

1. Sakit kepala
2. Mual/ muntah/ gangguan pencernaan dengan rasa sakit setelah makan
3. Abdomen atau dada melembut dan nyeri bagian atas atas kanan (dari distensi hati)
4. Nyeri pada bahu atau nyeri saat bernapas dalam
5. Pendarahan
6. Perubahan dalam penglihatan
7. Pembengkakan

Tanda yang harus dicari meliputi:

1. Tekanan darah tinggi
2. Protein dalam urine

Alasan paling umum bagi ibu menjadi sakit kritis atau kehilangan nyawa adalah pecahnya hati ataupun stroke (edema serebral atau pendarahan otak). Apabila Bunda atau seseorang yang Anda kenal memiliki gejala-gejala ini, segera hubungi petugas kesehatan ya.

Wanita dengan riwayat sindrom HELLP berisiko tinggi mengalam semua bentuk preeklampsia pada kehamilan berikutnya. Tingkat preeklampsia pada kehamilan berikutnya berkisar antara 16 sampai 52 persen, dengan tingkat yang lebih tinggi jika onset sindrom HELLP pada trimester kedua. Tingkat sindrom Help berulang berkisar antara 2 sampai 19 persen tergantung pada pasien yang diteliti.

(vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi