Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kurangnya Dukungan Pasca Melahirkan, Bunda Ini Ungkap Sisi Gelap Menyusui

Amrikh Palupi   |   HaiBunda

Jumat, 26 Jun 2026 09:10 WIB

Ilustrasi Ibu dan Bayi Sedih
Kurangnya Dukungan Pasca Melahirkan, Bunda Ini Ungkap Sisi Gelap Menyusui/Foto: Getty Images/iStockphoto/kieferpix
Daftar Isi
Jakarta -

Kisah menyusui setiap Bunda tentu berbeda-beda. Bagi sebagian ibu, menyusui menjadi momen penuh kehangatan dan kedekatan dengan Si Kecil. Namun bagi sebagian lainnya, perjalanan menyusui justru dipenuhi tantangan fisik, emosional, hingga trauma yang membekas lama setelah masa nifas berakhir.

Mengutip laman BBC, sejumlah ibu baru mengungkapkan pengalaman mereka tentang sisi gelap menyusui di masa-masa awal setelah melahirkan. Mereka menilai kurangnya dukungan pasca persalinan yang diterima masih kurang memadai sehingga membuat proses menyusui menjadi pengalaman yang sangat berat secara mental maupun fisik.

Kehilangan dukungan di hari-hari pertama jadi Bunda

Kisah menyusui pertama dari Jess Nicholson, seorang ibu asal Brighton yang melahirkan bayi kembar perempuannya melalui operasi caesar pada September 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Alih-alih menikmati momen bahagia setelah persalinan, kisah menyusui Jess justru mengalami pengalaman yang membuatnya trauma. Ia menceritakan bahwa salah satu bayinya sempat membiru dan hampir kehabisan napas saat mencoba menyusu untuk pertama kalinya.

"Saya ingat berpikir, bayi-bayi ini baru lima menit berada di dunia, dan saya sudah hampir membunuh salah satunya," kata Jess Nicholson.

Tak hanya itu, Jess juga merasa situasi semakin sulit karena bangsal tempat ia dirawat mengalami kekurangan staf. Setiap kali membutuhkan bantuan, Jess harus menunggu cukup lama setelah menekan bel panggilan. Menurutnya, Jess dan suaminya merasa harus menghadapi semuanya sendiri tanpa dukungan yang memadai. 

"Hanya ada saya, suami saya, dan kedua bayi kami yang berusaha mencari cara untuk menjaga bayi-bayi kecil ini tetap hidup tanpa dukungan apa pun," ujarnya.

Akibat pengalaman tersebut, Jess mempertimbangkan untuk tidak memiliki anak lagi. Ia tidak ingin mengalami seperti momen awal-awal menyusui. 

"Saya tahu saya tidak akan memiliki anak lagi, karena saya tidak ingin melalui masa-masa awal setelah melahirkan seperti itu lagi."

Triple feeding yang menguras fisik dan mental

Kisah menyusui lainnya datang dari Vicki Rose yang melahirkan bayinya melalui operasi caesar darurat setelah mengalami infeksi selama persalinan.

Setelah melahirkan, produksi ASI Vicki tidak langsung lancar. Ia kemudian disarankan menjalani metode triple feeding. Metode triple-feeding bertujuan meningkatkan produksi ASI dengan tiga langkah berurutan, menyusui bayi secara langsung, kemudian memberikan tambahan ASI perah atau susu formula (biasanya melalui botol), lalu memompa ASI selama 15 menit.

Akibatnya, Vicki harus mengikuti jadwal ketat untuk menyusui dan memompa ASI setiap tiga jam, termasuk sepanjang malam. Bagi Vicki, metode ini sangat melelahkan.

"Sama sekali tidak ada persiapan mengenai betapa beratnya menjalani triple-feeding. Saya bahkan hampir tidak punya waktu untuk pergi ke toilet, apalagi untuk makan. Itu benar-benar masa yang sangat berat," katanya.

Tak hanya itu, Vicki mengatakan bahwa ia merasa kehilangan momen-momen berharga pada masa awal kehidupan bayinya.

"Saya tidak bisa pergi ke mana-mana, yang kemudian semakin memengaruhi kesehatan mental saya karena saya hanya terjebak di rumah sepanjang hari sambil terus melihat jam," ujarnya.

Lebih menyakitkan lagi, ketika berat badan putrinya sulit naik. Vicki merasa seolah-olah tenaga medis menyiratkan bahwa dirinya tidak berusaha cukup keras dan membiarkan bayinya kelaparan. Menurut Vicki, tenaga kesehatan perlu mendapatkan pelatihan yang lebih baik mengenai cara berkomunikasi dengan ibu baru.

"Karena satu komentar saja benar-benar bisa membuat seseorang terpuruk," katanya.

Kisah menyusui Vicky menunjukkan bahwa selain dukungan medis, para ibu baru juga membutuhkan empati, komunikasi yang baik dan dukungan emosional selama masa menyusui dan pemulihan setelah melahirkan.

Merasa seperti mesin penghasil ASI

Kisah menyusui selanjutnya adalah dari Lucy. Dia dan suaminya sebenarnya sudah mempersiapkan diri sebelum kelahiran anak mereka. Mereka mengikuti kelas persiapan persalinan (antenatal) dan sesi virtual menyusui yang diselenggarakan oleh National Health Service.

Namun kenyataannya jauh berbeda dari teori yang dipelajari. Pada minggu-minggu pertama setelah melahirkan, Lucy mengalami rasa nyeri luar biasa setiap kali menyusui.

"Rasanya sangat sakit sampai membuat jari-jari kaki saya refleks menekuk," katanya menggambarkan nyeri yang dialami.

Seperti Vicki, Lucy juga diminta menjalani triple feeding. Rutinitas tersebut membuatnya merasa kehilangan momen berharga bersama Si Kecil. 

Setelah menyusui, ia harus segera menyerahkan bayinya kepada sang suami Sean agar dapat memompa ASI. Akibatnya, Lucy merasa tidak memiliki kesempatan menikmati momen tenang memeluk dan menenangkan bayinya setelah menyusui. Ia bahkan menyebut dirinya seperti mesin penghasil ASI.

"Yang saya lakukan hanyalah menyusuinya, lalu menyerahkannya kepada Sean agar saya bisa memompa ASI. Jadi saya tidak mendapatkan momen-momen indah setelah menyusui, seperti memeluk bayi dengan tenang dan penuh kebahagiaan. Saya seperti hanya menjadi mesin penghasil ASI, kata Lucy.

Saat mengenang kembali pengalaman tersebut, Lucy mengatakan bahwa tidak pernah ada yang menanyakan apa yang sebenarnya menjadi prioritas dan keinginannya terkait proses pemberian makan pada bayinya.

"Tidak pernah ada yang bertanya kepada kami apa prioritas kami dan apa yang sebenarnya kami inginkan dari proses menyusui ini."

Lucy mengaku masih menyimpan banyak kenangan sulit tentang masa-masa awal setelah kelahiran anaknya.

"Saya memiliki banyak kenangan yang menantang tentang periode bayi baru lahir. Saya juga menyimpan banyak kecemasan ketika mengingat masa itu," tuturnya.

Terlalu banyak orang terlibat

Kisah menyusui ketiga bunda ini merasa banyak orang yang terlibat. Mereka mengaku menerima saran yang berbeda-beda dari berbagai tenaga kesehatan. Mereka juga merasa tidak sepenuhnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait cara memberi makan bayi mereka.

Vicki mengaku merasa kembali mengalami trauma setiap kali harus menceritakan ulang perjalanan menyusuinya kepada tenaga kesehatan yang berbeda.

"Terlalu banyak orang yang terlibat, karena setiap kali bertemu orang baru, Anda harus menceritakan kembali seluruh kisah dari awal." 

Selain itu, para ibu tersebut menilai bahwa sebelum melahirkan mereka mendapatkan banyak informasi mengenai pentingnya menyusui. Namun, mereka merasa kurang mendapatkan edukasi mengenai tantangan nyata yang mungkin terjadi setelah bayi lahir.

Jess mengatakan bahwa kondisi itu membuat para ibu merasa bersalah ketika menyusui tidak berjalan sesuai harapan.

"Anda merasa seperti membuat pilihan yang salah setiap saat karena semuanya tidak berjalan mudah seperti yang selama ini diberitahukan kepada Anda," kata Jess.

Pentingnya dukungan menyusui yang holistik

Sementara itu, Carla Mastroianni, seorang Konsultan Laktasi Bersertifikat Internasional (IBCLC) yang berbasis di Brighton, mengatakan bahwa dukungan dan saran terkait pemberian makan bayi seharusnya diberikan secara lebih holistik atau menyeluruh.

Menurutnya, pendampingan tidak hanya berfokus pada keberhasilan menyusui semata, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi fisik, kesehatan mental, kebutuhan keluarga, serta pilihan yang paling realistis dan nyaman bagi ibu maupun bayi.

Menurut Carla Mastroianni, para tenaga kesehatan sering kali terlalu fokus pada rencana pemberian makan bayi tanpa benar-benar memperhatikan kondisi ibu yang menjalaninya.

"Kami melihat rencana ini, tetapi tidak ada yang melihat ibu di balik rencana tersebut. Jika kami bertanya, kami akan tahu bahwa sebenarnya ia tidak baik-baik saja, tidak mampu mengatasinya, dan sedang tenggelam dalam kesulitan," kata Mastroianni.

Selain itu, Mastroianni juga menyoroti minimnya sumber daya yang tersedia untuk mendukung ibu menyusui. Menurutnya, pelatihan terkait pemberian makan bayi bagi tenaga kesehatan bahkan hampir tidak ada sama sekali.

Menurut Mastroianni, seorang spesialis pemberian makan bayi seharusnya mengunjungi ibu baru setidaknya dua kali seminggu selama dua hingga tiga minggu pertama setelah melahirkan.

"Dalam situasi yang ideal, seorang spesialis pemberian makan bayi seharusnya mengunjungi seorang ibu dua kali seminggu selama dua hingga tiga minggu pertama," ujarnya.

Begitulah kisah menyusui para Bunda yang merasa menyusui bukan hal yang mudah. Semoga informasinya bermanfaat ya Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda