MOM'S LIFE

Meski Berat, Kurelakan Kepergian Suamiku...

Radian Nyi Sukmasari Senin, 14 Mei 2018 - 10.53 WIB
Meski Berat, Kurelakan Kepergian Suamiku.../ Foto: Thinkstock Meski Berat, Kurelakan Kepergian Suamiku.../ Foto: Thinkstock
Jakarta - Kehilangan seseorang yang dicintai seperti suami secara mendadak pasti menimbulkan luka mendalam untuk seorang istri. Apalagi suami jadi korban sebuah tragedi misalnya kecelakaan, tindak kekerasan atau ledakan bom.

Seperti istri dari korban ledakan bom di Surabaya, Aloysius Bayu Wendra Wardhana yang mengungkapkan kesedihannya. Akun Facebook Birgaldo Sinaga mengunggah foto status Facebook istri Bayu yang diketahui bernama Monic. Birgaldo menulis Monic nggak kuasa menahan tangis ketika tahu suaminya meninggal dalam peristiwa ledakan bom tersebut.

Monic menangis dalam lirih. Bibirnya bergetar. Monic nggak menyangka tugas jaga di gereja Minggu pagi itu sebagai tugas mulia terakhir kalinya buat suaminya. Ya, seperti kita tahu, Bun, Bayu menghadang pelaku peledakan bom yang hendak masuk ke gereja sampai ia mengorbankan nyawanya. Di halaman Facebook-nya, Monic menuliskan pesan untuk kedua anaknya.

"Hai Aaron dan Alyssia, suatu saat ketika kalian besar nanti dan ditanya oleh sekelilingmu, mana papamu. Kalian dengan bangga menjawab papaku di surga dengan Allah Bapa karena dia jadi martir di gereja," tulis Monic.



Ketika mengetahui suami menjadi korban jiwa dalam sebuah tragedi kayak ledakan bom di Surabaya, istri pastinya bisa shock. Kata psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tiga Generasi Samanta Ananta, shock bisa jadi reaksi pertama yang muncul ketika seseorang yang kita sayangi meninggal dunia lebih dulu. Terutama kalau peristiwanya mendadak atau nggak terprediksi sebelumnya, Bun.



Samanta menjelaskan, menurut hasil penelitian di The Journal of Gerontology: Series B, Volume 55 disebutkan seseorang yang sangat bergantung pada pasangannya yang meninggal dunia akan lebih sulit untuk melewati fase berduka dibandingkan pasangan yang lebih mandiri. Apalagi, nggak sedikit wanita yang fokus berperan jadi ibu rumah tangga setelah menikah dan mengandalkan sumber pendapatan utama dari suami.

"Namun si wanita sering kali dituntut untuk lekas pulih dari periode berdukanya agar terlihat tegar dan kuat di depan anak-anak, serta mencari sumber penghasilan baru untuk memenuhi kebutuhan hidup selanjutnya pasca suami meninggal dunia," kata Samanta waktu ngobrol dengan HaiBunda.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang istri untuk melewati periode berduka, kata Samanta nggak bisa diperkirakan, Bun. Sebab, setiap orang akan memiliki periodenya masing-masing yang berbeda. Tapi, ada nih beberapa faktor yang bisa menunjang supaya seorang istri bisa lebih cepat menerima kepergian suami.

"Yaitu dukungan emosional penuh dari keluarga dekat, kerabat, sahabat dan lingkungan sekitar rumahnya. Dukungan emosional seperti tidak membicarakan bagaimana proses meninggalnya suami, melainkan memberikan semangat agar ia bangkit dari rasa kesedihannya," tambah Samanta.

Kalau seorang istri menunjukkan emosi kesedihan atau amarah yang dirasakan akibat kehilangan suami secara mendadak, kata Samanta orang-orang terdekat bisa memberi waktu untuk si istri menenangkan diri sambil memberi perhatian penuh. Contohnya, mengunjungi si istri dan menyiapkan makan atau mengajaknya membicarakan hal-hal ringan yang bisa membuat dia terhibur.

"Lalu memastikan istri makan dengan teratur dan pastikan sirkulasi udara serta cahaya masih terjaga dengan baik di dalam rumah. Hal ini dapat meminimalkan kondisi depresi yang akan dihadapi pada tahapan berduka selanjutnya," kata Samanta yang juga praktik di Brawijaya Clinic Kemang ini.

Merelakan kepergian suami yang begitu mendadak apalagi dalam sebuah tragedi seperti ledakan bom memang bukan hal yang mudah. Namun, anak-anak bisa menjadi sumber kekuatan seorang ibu dan istri untuk bisa bangkit kembali menjalani kehidupan ini.


(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi