MOM'S LIFE

Walau Sulit, Ayah dan Bunda Harus Merelakan Kepergianmu, Nak

Radian Nyi Sukmasari 16 Mei 2018
Walau Sulit, Ayah dan Bunda Harus Merelakan Kepergianmu, Nak/ Foto: thinkstock Walau Sulit, Ayah dan Bunda Harus Merelakan Kepergianmu, Nak/ Foto: thinkstock
Jakarta - Melepas kepergian buah hati tercinta pastinya bukan perkara mudah. Terlebih kalau si kecil meninggal dalam sebuah peristiwa seperti ledakan bom di Surabaya.

Dilansir detikNews, bocah berumur 11 tahun bernama Vinsensius Evan meninggal akibat ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB) pada Minggu (13/5) lalu. Membaca berita meninggalnya bocah Evan yang diketahui baru menyelesaikan ujian nasionalnya ini bikin hati saya sedih, Bun. Hiks.

Terbayang pula di benak saya gimana hancur dan pilunya perasaan orang tua Evan ketika tahu putranya jadi korban peristiwa ledakan tersebut. Terkait ini, kondisi kehilangan anak merupakan kondisi berduka yang terdalam dan terberat yang dialami oleh orang tua, demikian disampaikan psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tiga Generasi Samanta Ananta.

Hal ini, kata Samanta akan jadi kondisi yang sangat kompleks untuk dilalui orang tua. Apalagi, seperti kita tahu anak merupakan harapan dan pemersatu orang tua ya, Bun. Ketika anak meninggal dalam kondisi yang tidak diharapkan dan terasa serba mendadak seperti peristiwa ledakan bom di Surabaya, orang tua bisa merasa sangat bersalah karena tidak dapat melindungi anaknya.



"Selain itu, orang tua juga dapat saling menyalahkan satu sama lain akibat dari amarah yang dirasakan sebagai manifestasi perasaan kegagalannya menjaga anak dengan baik," kata Samanta saat berbincang dengan HaiBunda.

Tentunya, pendampingan dan konseling dengan ahli dapat meringankan ketegangan situasi yang dialami pasca peristiwa yang terjadi. Sistem dukungan di keluarga dekat juga perlu dibangun dengan lebih hangat. Perlu juga kerabat atau teman merangkul para orang tua yang berduka ini agar perasaan kesepian dan kegagalan yang dirasa nggak bertambah. Apa yang bisa kita lakukan untuk memberi dukungan orang tua yang kehilangan sang anak dalam sebuah tragedi?

Kata Samanta, kita bisa sering menjenguk mereka, mendengarkan keluhan dengan empati dan tunjukkan afeksi dengan tulus. Kalau nggak memungkinkan mengajak orang tua yang berduka ke ahli untuk konseling, Samanta bilang keluarga dekat diharapkan dapat berperan lebih besar dengan bekerja sama dengan tenaga ahli untuk mendampingi si orang tua selama membuat sistem dukungan (support system) untuk mereka.

"Orang tua yang berduka lebih sulit dan lama untuk melalui proses dan tahapan berduka yang dirasakan. Anak merupakan doa dan harapan dari orang tua untuk kehidupan yang lebih baik, maka ketika harapan itu meninggal seolah jiwa orang tuanya pun tenggelam," tutur Samanta.

Ya, kita tahu nggak ada yang bisa menggantikan seorang anak yang udah tiada. Ini berbeda kalau seorang suami atau istri kehilangan pasangannya dalam sebuah tragedi seperti ledakan bom. Bukan nggak mungkin setelah melalui proses penerimaan atas peristiwa meninggalnya pasangan ia dapat membuka hatinya lagi pada pasangan hidup yang baru dan menciptakan kehidupan yang baru lagi.

"Yang perlu diperhatikan adalah orang tua tetap dapat menjalankan perannya bagi anak-anak yang masih hidup. Jika tidak, akan melahirkan masalah baru antara relasi orang tua dan anak yang bertahan," pungkas Samanta yang juga praktik di Brawijaya Clinic Kemang.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi