HaiBunda

MOM'S LIFE

4 Nilai dari Film 'Cek Toko Sebelah' yang Bisa Dipelajari Ortu

Amelia Sewaka   |   HaiBunda

Rabu, 24 Oct 2018 20:09 WIB
4 Nilai dari Film 'Cek Toko Sebelah' yang Bisa Dipelajari Ortu/Foto: Starvision Plus
Jakarta - Film adalah salah satu cara termudah bagi orang dewasa maupun anak-anak untuk mendapat inspirasi. Dari sebuah film sederhana kita bisa mengambil berbagai pelajaran hidup, salah satunya hubungan orang tua dan anak di film 'Cek Toko Sebelah'.

Film yang disutradarai, dimainkan dan ditulis oleh Ernest Prakasa adalah contoh sederhana dari kisah sehari-hari. Inti dari cerita ini adalah seorang ayah yang ingin kedua anaknya yaitu Yohan (Dion Wiyoko) dan Erwin (Ernest Prakasa) menjadi penerus usaha toko kelontongnya. Namun, karena si anak sulung, Yohan punya latar belakang yang bermasalah, jadilah sang ayah kehilangan kepercayaannya dan memberatkan tanggung jawab tersebut pada Erwin.

Erwin yang sudah punya rencana hidup sendiri, pusing bukan main karena harus dilibatkan dalam tanggung jawab yang tidak ia sukai. Konflik pun mulai berdatangan dan tiap peran di sini harus bisa menyelesaikan masalahnya masing-masing. Nah, berikut 4 nilai kehidupan yang bisa kita petik dari film 'Cek Toko Sebelah'.



1. Orang tua terjebak masa lalu
Foto: film Cek Toko Sebelah
Menurut psikoterapis sekaligus psikolog, Sandi Kartasasmita, adanya suatu gangguan pada manusia disebabkan manusianya yang terjebak dalam masa lalu dan tak mampu melangkah ke depan alias move on.

"Kenangan itu nggak salah, itu sah saja dan tiap orang pasti punya kenangan. Tapi kenangan itu akan jadi bahaya kalau orang tersebut nggak move on. Gangguan mental banyak terjadi karena kita terlalu lama hidup di zaman dulu," papar Sandi dalam diskusi film pada Pekan Proyeksi Jiwa (Projiwa) ke-4 di Unika Atma Jaya Semanggi, Jakarta Selatan pada Rabu (24/10/2018).

Ini pula menurut Sandi yang mengakibatkan hubungan kakak-adik, suami-istri, orang tua dengan anak, atau keluarga jadi berantakan karena masalah kenangan, dan orang tersebut tak melangkah maju ke depan. Misal, 'Dulu Papa sekolah nggak begini' atau 'Dulu Mama belajar begini, kok Kamu..." dan sebagainya. Secara tak sadar orang tua pun bisa terjebak dalam nostalgia atau kenangan ini sehingga membandingkan apa yang anaknya jalankan.

2. Harapan tinggi orang tua ke anak

Dalam film 'Cek Toko Sebelah', Erwin dipaksa secara halus untuk meneruskan toko sang ayah, sedangkan ia yang sudah mapan punya tujuan dan karir sendiri pada akhirnya dipaksa menyerah agar bisa melanjutkan usaha sang ayah. Menurut Sandi, jika orang tua berujung ingin anaknya meneruskan usahanya, lebih baik tak usah sekolahkan tinggi-tinggi dan cukup ambil sertifikasi untuk masa depan anak. Sedangkan dalam film, Erwin sudah disekolahkan tinggi hingga ke luar negeri.

"Nggak harus sertifikasi, anak mungkin bisa 'diarahkan' pendidikannya menuju apa yang kita inginkan. Misal, kalau berujung meneruskan usaha keluarga, mungkin kita kuliahkan jurusan bisnis dan semacamnya. Logikanya mudah, ibaratnya anak udah dilempar sejauh mungkin ke selatan (sekolah tinggi atau jauh) tapi akhirnya malah ditarik lagi ke utara (nerusin usaha) buat apa? Kalau anak millenials yang diginiin, udah pasti ditarik balik talinya sama si anak," ungkap Sandi.

Sandi menyarankan orang tua nggak memaksakan kehendaknya apalagi jelas-jelas nggak sesuai potensi anak.


3. Potret relasi saudara kandung
Foto: film Cek Toko Sebelah
Akhirnya masalah ini pun merusak hubungan kakak-adik. Erwin yang ketika kecil mengidolakan sang kakak, karena kakaknya bermasalah dari mulai berhenti kuliah dan memakai obat terlarang, berubahlah ia menjadi lebih baik versi dirinya sendiri. Namun, Yohan malah cemburu dengan Erwin karena ayahnya terlalu sayang dengan adiknya. Ketika sibiling rivalry antar kakak adik nggak diselesaikan segera, bukan nggak mungkin hubungan adik dan kakak selamanya tak akur.

4. Saling menghargai
Foto: film Cek Toko Sebelah
Konflik di film 'Cek Toko Sebelah' tak hanya menyangkut hubungan kakak-adik dan anak-orang tua, namun ada kasus di mana Yohan yang sudah menikah dengan wanita bernama Ayu (Adinia Wirasti) sempat ditentang pernikahannya oleh sang ayah, tapi direstui oleh sang ibu yang sudah meninggal. Kenapa sang ayah tidak setuju? Karena Ayu keturunan Jawa, dan sang ayah ingin anak-anaknya menikah dengan wanita dari etnis yang sama.

"Coba deh, kalau kalian mau rajin hitung, coba hitung keturunan atas kalian alias buyut-buyut kita. Saya pernah coba itu, dan saya nggak sepenuhnya Tionghoa, malah saya ada turunan Sunda. Intinya, stoplah sama hal kayak gitu, kita nggak pernah tahu kita dari turunan siapa dan apa dari manusia sebelum kita," imbuh Sandi.

Namun, tetap kok nilai positif dalam film ini nggak kalah kuat. Menurut Sandi, kita bisa belajar pantang menyerah dan menunjukkan nilai berwirausaha yang baik.

"Hal positif lain yang bisa kita ambil dari film 'Cek Toko Sebelah' ini pertama keragaman, kedua fighting spirit atau pantang menyerah, dan ketiga tentang indahnya kekuatan persaudaraan," tambah Sandi.
(aml/rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Tanpa Disadari, Orang yang Kesepian Sering Mengucapkan Kalimat Ini

Mom's Life Annisa Karnesyia

Terungkap Batas Usia Hidup Manusia Berdasarkan Studi Terbaru, Ternyata...

Mom's Life Amira Salsabila

Cinta Laura Lahir 17 Agustus, Intip Potretnya yang Anggun dengan Kebaya hingga Batik

Mom's Life Arina Yulistara

150 Nama Bayi Terinspirasi Safir dan Artinya untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

Nama Bayi Annisya Asri Diarta

100 Ucapan Kemerdekaan HUT RI ke-81 untuk 17 Agustus 2026 Lengkap, Singkat hingga Bahasa Inggris

Mom's Life Azhar Hanifah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Intip Suvenir untuk Tamu Upacara HUT ke-81 RI di Istana, Ada Apa Saja?

Busui Makan Pedas Bikin Bayi Diare, Mitos atau Fakta?

Tanpa Disadari, Orang yang Kesepian Sering Mengucapkan Kalimat Ini

Tips Memilih Busana agar Perut Tak Terasa Sesak di Trimester 1, Baby Bump pun Aman

Terungkap Batas Usia Hidup Manusia Berdasarkan Studi Terbaru, Ternyata...

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK