moms-life

#dearRiver Belajar Menerka Usia Alam Semesta

Fauzan Mukrim Rabu, 04 Dec 2019 13:02 WIB
#dearRiver Belajar Menerka Usia Alam Semesta Ilustrasi alam semesta/ Foto: iStock
Jakarta - #dearRiver

Anggaplah kita percaya bahwa alam semesta ini benar-benar terbentuk 13,7 miliar tahun yang lalu melalui sebuah proses yang disebut Big Bang (Ledakan Besar). Kemudian sekitar 13,6 miliar tahun lalu, partikel materi dari ledakan itu mulai bergabung menjadi gugusan awan besar.

Satu setengah miliar tahun kemudian, awan materi itu berpisah-pisah membentuk bintang dan galaksi pertama. Kita berada di Galaksi Milky Way (Kabut Susu), yang entah bagaimana prosesnya diserap dalam bahasa Indonesia menjadi Bima Sakti. Beberapa cerita bilang, dahulu kala orang-orang Jawa Kuno melihat bentangan galaksi kita ini seperti bintang-bintang yang tersebar dengan pita kabut putih.




Jika bintang-bintang itu dihubungkan dengan garis imajiner, akan terlihat seperti Bima yang dililit ular naga. Bima adalah nama tokoh pewayangan yang terkenal sakti. Maka dari itu, galaksi kita ini dijuluki sebagai Bima Sakti. Planet yang kita tempati ini relatif muda dibanding awal mula terbentuknya galaksi. Saintis sepakat bahwa Bumi yang kita kenal bentuknya seperti sekarang, baru ada sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Itu setelah sebuah 'planet' muda ditabrak oleh asteroid besar yang kemudian menghasilkan serpihan. Serpihan itulah yang jadi Bulan. Bagaimana ia bisa jadi bulat indah begitu, wallahu a'lam. Kita tidak punya banyak pengetahuan tentang itu. Yang pasti, meski cuma satu, Bulan sudah membuat kehidupan Bumi jadi lebih romantis. Betapa banyak lagu indah tercipta, atau gombalan perkekasihan yang terucap dengan melibatkan namanya.

Ilustrasi alam semestaIlustrasi alam semesta/ Foto: iStock
Coba bayangkan seandainya Bumi seperti Jupiter yang punya 67 bulan. Duhai, Kekasih, wajahmu seperti bulan. Tunggu dulu, bulan yang mana? Di sistem tata surya kita, ada Matahari sebagai pusatnya. Sebuah bola gas raksasa yang diikat oleh gravitasi. Dia pula yang terbesar. Kandungan materialnya 330 ribu kali lebih banyak daripada Bumi.

Reaksi nuklir dalam intinya menghasilkan energi yang luar biasa. Dengan jarak yang sudah ditentukan oleh Sang Kreator Agung, sinar Matahari cukup untuk menghangatkan Bumi dan planet lain di sekitarnya. Tidak terlampau panas, tidak juga terlampau dingin.

Seandainya berlebihan sedikit saja, kita pasti dengan mudah akan mati terbakar atau beku sejak kapan tahu. Namun, Matahari itu pada dasarnya adalah bintang. Bintang yang terdekat dengan Bumi. Dan seperti pada umumnya bintang, Matahari pun suatu saat akan mati. Semua bintang yang bermassa besar, bisa saja mengakhiri hidupnya dengan sebuah ledakan dahsyat yang terjadi tiba-tiba.

Kita menyebutnya Supernova. Memang butuh waktu miliaran tahun, tapi tetap saja akan mati. Kita beruntung karena Matahari saat ini masih berada dalam fase stabil kehidupannya. Masih ada kesempatan untuk ha-ha-hi-hi, bercanda, atau sekadar menulis catatan seperti ini. Lalu kalau kamu bertanya, seberapa luas ruang angkasa itu, sini saya kasih gambaran.

Ilustrasi alam semestaIlustrasi alam semesta/ Foto: NASA
Diperkirakan ada setidaknya 125 miliar galaksi di Alam Semesta ini. Posisinya tidak berhamburan tapi membentuk gugusan, dengan interval jarak yang sangat jauh. Dan semua galaksi itu, yang 125 miliar jumlahnya itu, hanya menempati dua perjuta ruang angkasa. Setidaknya begitu asumsi -dan semua angka yang disebutkan di awal itu- yang kita temukan di sebuah buku kecil tentang ruang angkasa, hadiah dari sebuah gerai makanan cepat saji karena kita membeli ayam gorengnya.

Kemarin buku kecil itu terikut denganku ke kantor. Seorang kawan yang melihat buku itu berada di atas mejaku, membuka-bukanya sekilas.

"Kalau membayangkan semesta luas begini, rasanya apa yang kita lakukan di dunia ini tidak ada yang benar-benar berarti," katanya tiba-tiba.

Saya berhenti sejenak dari kesibukan mengetik, berusaha mencerna arah pembicaraannya. Kalau yang dia maksud bahwa keberadaan kita sebagai manusia ini sangat kecil dibanding keseluruhan semesta, maka saya sepakat. Rasanya semua yang kita lakukan di atas Bumi ini memang tidak ada yang benar-benar penting.

Sekiranya kita menganggap diri kita maha penting dengan semua yang kita lakukan, cobalah pikirkan sekali lagi. Anggaplah kita bisa hidup sesuai standar hidup rata-rata manusia modern, yaitu 70 tahun, dan bandingkanlah dengan usia Alam Semesta yang 13,7 miliar tahun atau yang sedikit lebih muda -Bumi yang 4,5 miliar tahun itu.

Kane Tanaka, orang tertua di dunia, masih hidup sampai sekarang di usia 116 tahun. Sementara centenarian lain, Alelia Murphy, baru saja wafat akhir November lalu di usia 114 tahun. Kesempatan bisa mencapai usia seratus tahun tentu memantik kekaguman kita. Namun dibandingkan dengan perjalanan yang sudah dilalui oleh Alam Semesta, ukuran itu tak ubahnya debu halus di jalan lintas provinsi. Sangat renik, untuk tidak menyebutnya tidak terukur.

Ilustrasi alam semestaIlustrasi alam semesta/ Foto: NASA
Dengan begitu, pantaskah kita merasa masih cukup penting untuk berada di sini? Meributkan politik, berkumpul setiap tahun di tugu, mengupayakan kendaraan listrik, berdebat jalur sepeda, menyindir stafsus milenial, memilih ketua partai, bertengkar atas nama agama - antar agama atau bahkan di intra agama sendiri. Apa gunanya itu semua? Lalu, selain merajut atau bertengkar di medsos, apa yang bisa kita lakukan untuk sekadar mengisi persinggahan kita yang maha singkat ini? River, ketika Nenek terkena katarak beberapa bulan lalu, saya sempat melihat ia menangis.

Nenek tidak menyesali penglihatannya yang berkurang karena menurutnya itu memang sudah jalannya. Seperti mata plus yang kemungkinan besar akan menimpamu ketika memasuki 40 tahun, katarak pun adalah hal yang niscaya bagi lansia. Yang membuat Nenek sedih adalah karena ia merasa belum punya amal jariah. Jariah adalah perbuatan yang pahalanya tak putus meskipun kita sudah mati. Seperti membangun mushalla, membuat sumur, atau menjadi guru.

Seorang murid yang terus mengamalkan ilmu yang diajarkan gurunya untuk kebaikan, maka pahalanya pun akan sampai ke sang guru. Itulah jariah dan kita percaya itu. Namun di tengah kehidupan yang serba rumit dan dengan kapasitas kita yang seadanya, masih bisakah kita menjadi debu yang bermakna? Seharusnya bisa. Kita semua bisa berdampak bagi dunia kita, sekecil apa pun peran kita. Cobalah memulai dari hal sederhana.

Menanam pohon, misalnya, dan mengharapkannya suatu hari akan meneduhkan jalan seseorang. Atau menggantisendiri galon aqua yang kosong di kantormu tanpa harus menunggu OB. Berapa orang yang minum dari dispenser di hari itu, sebanyak itulah amal yang mengalir kepadamu. Begitu kata seorang guru kita yang belum terlalu tua usianya.

Fauzan Mukrim
Ayah River dan Rain. Menulis seri buku #DearRiver dan Berjalan Jauh, juga sebuah novel Mencari Tepi Langit. Jurnalis di CNN Indonesia TV, dan sedang belajar membuat kue. IG: @mukrimfauzan. Buku terbarunya, #DearRain, sudah terbit pada September 2019.

Cari lebih tahu soal ecoterapi, terapi alam untuk kesehatan anak di video ini.

[Gambas:Video Haibunda]

Cek juga cerita liburan Raffi Nagita dengan klik banner berikut.
#dearRiver Belajar Menerka Usia Alam SemestaFoto: InsertLive
(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi