Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

9 Kalimat yang Tanpa Sadar Memberi Aura Negatif Menurut Psikolog

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Senin, 02 Mar 2026 04:55 WIB

Young asian businesswoman arguing on the phone while sitting at her desk in a modern office, displaying signs of frustration and stress amid her busy workday
Ilustrasi kalimat yang tanpa sadar memberi aura negatif menurut psikolog / Foto: Getty Images/CHARTCHAI KANTHATHAN
Daftar Isi
Jakarta -

Tahukah Bunda? Ada beberapa hal umum yang sering diucapkan secara halus dapat memancarkan aura negatif atau energi yang tidak disukai lingkungan sekitar.

Kata-kata yang digunakan, bersama dengan cara bersikap, dapat menyampaikan sinyal yang kuat.

Sama seperti ada frasa yang dapat membuat Bunda mungkin tampak lebih tegas, atau cara yang elegan untuk menghentikan perilaku pasif-agresif, ada kata yang memancarkan aura negatif tanpa disadari.

Jika menggunakan kata-kata ini, terlebih lagi menggunakan bahasa tubuh yang tertutup, Bunda akan lebih sulit terhubung dengan orang lain karena mereka mungkin melihat Bunda sebagai orang yang tidak peduli.

9 Kalimat yang tanpa sadar memberi aura negatif

Dilansir dari laman Parade, memancarkan aura negatif berarti secara tidak sengaja memproyeksikan energi, melalui kata-kata, nada suara, dan bahasa tubuh, yang orang lain anggap negatif, tidak otentik, atau membuat seseorang tampak sulit didekati.

Hal itu sering memicu ketidaknyamanan dan ketidakpercayaan, bahkan ketika tidak ada niat jahat. Untuk mencegahnya, ada beberapa kalimat yang perlu Bunda perhatikan:

1. “Aku hanya jujur”

Terkadang, tanpa disadari, ungkapan ini dapat memiliki konotasi negatif. Selain itu, mengindikasikan bahwa Bunda mungkin sebenarnya tidak memiliki niat yang jujur jika merasa perlu mengatakannya terlebih dahulu.

Penting untuk mewaspadai hal ini dari orang lain. Bunda harus bisa membedakan energi antara orang yang jujur dan memiliki niat tulus dengan seseorang yang tidak.

2. “Kamu tahu apa yang kamu hadapi”

Ini hanya cara lain untuk mengatakan, “Sudah kubilang” dan itu tidak membuat Bunda terlihat sebagai seseorang yang dapat dipercaya. Agar orang merasa aman menceritakan kesulitannya, penting untuk menghindari kalimat ini.

Mengalihkan tanggung jawab adalah cara klasik untuk menghambat pertumbuhan suatu hubungan. Sering kali dilakukan karena takut melakukan introspeksi diri, taktik defensif ini menghindari tanggung jawab dan dapat dianggap sebagai tindakan pengecut, Bunda.

3. “Ini bukan masalah pribadi”

Ungkapan ini biasanya diucapkan sebagai respons terhadap seseorang yang tidak senang menerima kritik. Biasanya justru lebih menyinggung perasaan orang tersebut.

4. “Mengapa kamu peduli?”

Mengajukan pertanyaan seperti ini kepada seseorang dapat menunjukkan kurangnya rasa empati dan bahkan egois. Penting untuk tidak mempertanyakan mengapa seseorang merasa kesal tentang sesuatu jika ingin dipandang sebagai orang yang dapat dipercaya dan positif.

5. “Itu bukan masalah saya”

Hal ini juga dapat mengindikasikan kurangnya empati yang sangat besar tanpa Bunda sadari, terutama jika mengatakannya di tempat kerja kepada anggota tim lain. Hal ini tidak menumbuhkan rasa persaudaraan dan menunjukkan sifat egois.

6. “Saya tidak yakin apa yang kamu bicarakan”

Ungkapan ini tidak selalu memberikan kesan yang baik, bahkan jika benar-benar bingung dengan sesuatu.

Namun, hal itu terutama bisa terjadi jika menggunakannya dalam argumen dengan pasangan yang menyinggung perilaku Bunda baru-baru ini yang tidak mendukung hubungan sehat.

7. “Ya sudahlah”

Terkadang, jika menggunakan kalimat ini, itu dapat mengindikasikan rasa apatis secara umum dan kurangnya kehadiran emosional.

Ungkapan ini sering digunakan untuk menghindari ketidaknyamanan dan eksplorasi yang lebih dalam. Ini menghindari kompleksitas dengan menawarkan respons yang datar secara emosional.

8. “Aku tidak akan mengubah siapa diriku”

Perubahan dalam hidup adalah hal yang konstan, ada baiknya untuk terus berkembang seiring berjalannya waktu.

Mengatakan Bunda tidak akan pernah mengubah diri bukan bentuk dukungan terhadap pertumbuhan dan menunjukkan sifat yang mementingkan diri sendiri.

9. “Semuanya baik-baik saja”

Ungkapan ini tidak selalu memberikan kesan buruk, tetapi dalam situasi tertentu, bisa jadi demikian. Kalimat tersebut, bersama dengan ungkapan “Jangan khawatir”, bisa jadi membingungkan.

Jika disertai nada riang atau ramah, bahasa tubuh yang selaras, atau kebaikan hati yang tulus sebagai cara untuk meredakan situasi yang menegangkan, hal itu dapat diterima begitu saja.

Namun, jika mencoba diskusi serius dengan seseorang yang perasaannya sedang terluka, kalimat tersebut mungkin tampak acuh tak acuh dan pasif-agresif, yang mengakibatkan melemahkan hubungan.

Nah, itulah beberapa kalimat yang mungkin tanpa disadari dapat memberikan aura negatif. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda