HaiBunda

MOM'S LIFE

PHK karena AI Ramai Terjadi, tapi Ada Fakta Lain di Baliknya

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Rabu, 01 Apr 2026 20:40 WIB
Ilustrasi PHK karena AI ramai terjadi, tapi ada fakta lain di baliknya / Foto: Getty Images/nathaphat

PHK ramai terjadi, ternyata ada fakta lain di baliknya, Bunda. Berikut fakta mengenai kabar bahwa PHK karena artificial intelligence (AI).

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi global sering dikaitkan dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Sejumlah perusahaan besar berlomba mengadopsi teknologi ini dengan janji efisiensi tinggi dan masa depan kerja yang lebih ringan.

Di balik narasi tersebut, realitas yang terjadi di lapangan ternyata jauh lebih kompleks. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai raksasa teknologi memangkas ribuan karyawan.


Perusahaan seperti Meta, Oracle, Atlassian, hingga Block melakukan PHK massal dengan alasan restrukturisasi dan fokus pada pengembangan AI. Laporan dari Challenger, Gray, and Christmas mencatat sekitar 92 ribu pekerjaan di Amerika Serikat telah dipangkas sejak 2023 dengan AI sebagai salah satu alasan dan hampir dua pertiganya terjadi pada 2025.

Fakta lain di balik PHK karena AI

Meski tampak seperti 'kiamat pekerjaan' akibat AI, faktanya teknologi ini belum sepenuhnya mampu menggantikan pekerjaan manusia, khususnya di sektor perkantoran. Banyak analis menilai PHK yang terjadi lebih disebabkan oleh strategi bisnis perusahaan ketimbang kemampuan AI itu sendiri.

Menurut Kathy Ross, Direktur Analis dari Gartner, sebagian besar PHK saat ini bukan hasil langsung dari keberhasilan AI. Sebaliknya, perusahaan tengah mengalihkan anggaran besar untuk investasi teknologi tersebut dengan harapan memperoleh keuntungan ke depannya.

"Sebagian besar PHK saat ini sebenarnya tidak terjadi karena AI. Sebaliknya, pemutusan hubungan kerja tampaknya merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk menginvestasikan kembali dana dalam AI dengan harapan akan sukses d imasa mendatang," kata Ross.

Dengan kata lain, AI sering kali dijadikan alasan praktis untuk merampingkan tenaga kerja. Sementara perusahaan mengatur ulang prioritas bisnis mereka.

PHK hari ini, rekrutmen besok

Menariknya, setelah melakukan PHK, banyak perusahaan justru membuka kembali posisi yang sebelumnya dihapus. Survei dari Robert Half pada akhir 2025 menunjukkan bahwa 29 persen manajer perekrutan mengaku telah membuka kembali posisi yang sempat dihilangkan setelah implementasi AI.

Sebanyak 55 persen perekrut bahkan berencana meningkatkan pekerja kontrak dan 60 persen akan menambah karyawan tetap pada paruh pertama 2026. Prediksi serupa datang dari Gartner yang menyebut setengah perusahaan yang mengurangi staf layanan pelanggan karena AI kemungkinan akan merekrut kembali tenaga kerja untuk posisi serupa dalam waktu dekat.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa PHK bukan akhir dari kebutuhan tenaga kerja, melainkan bagian dari siklus penyesuaian.

Era pekerja kontrak kian menguat

Dibalik transformasi ini, terjadi perubahan besar dalam struktur tenaga kerja. Perusahaan kini semakin mengandalkan pekerja kontrak atau freelance dibanding karyawan tetap.

Platform seperti Upwork menemukan bahwa 77 persen pemimpin bisnis mengaku era AI meningkatkan kebutuhan akan tenaga kerja kontrak dengan keahlian khusus. Secara historis, tren ini bukan hal baru.

Perusahaan seperti Microsoft sudah menggunakan tenaga kontrak sejak 1990-an, bahkan sempat menghadapi gugatan terkait praktik 'permatemp'. Sementara itu, Google dilaporkan pernah memiliki lebih banyak pekerja kontrak dibanding karyawan tetap.

Kini model tersebut semakin meluas, terutama karena dianggap lebih efisien dan fleksibel secara biaya.

Dampak pada keamanan kerja

Pergeseran ini membawa konsekuensi serius bagi pekerja. Pekerja kontrak umumnya tidak mendapatkan fasilitas seperti asuransi kesehatan, dana pensiun, hingga perlindungan kerja yang memadai.

Selain itu, stabilitas pekerjaan juga menjadi lebih rentan. Profesor bisnis Rob Lalka menilai perubahan ini turut menggeser budaya kerja di Silicon Valley menjadi lebih kompetitif dan keras.

Senada dengan hal tersebut, David Weil menyebut tren ini sebagai upaya perusahaan untuk meminimalkan hubungan jangka panjang dengan pekerja tetap.

Salah satu contoh nyata datang dari mantan karyawan Microsoft yang kehilangan pekerjaannya di tengah dorongan perusahaan untuk fokus pada AI. Setelah diberhentikan, ia ditawari kembali bekerja di tim yang sama namun sebagai kontraktor.

Setelah setahun mencari kerja, ia akhirnya kembali diterima sebagai karyawan tetap, tapi dengan posisi lebih rendah dan gaji jauh lebih kecil. Pengalaman ini mencerminkan bagaimana PHK tidak selalu berarti hilangnya pekerjaan, tapi perubahan status dan nilai kerja.

Ketimpangan baru di era AI

Di sisi lain, investasi besar pada AI juga menciptakan ketimpangan baru. Perusahaan seperti Meta bahkan menawarkan paket gaji fantastis bagi talenta AI terbaik, mencapai ratusan juta dolar.

Hal ini memunculkan fenomena 'winner-takes-all', di mana hanya segelintir tenaga ahli yang sangat dihargai. Sementara pekerja lain menghadapi ketidakpastian.

Ironisnya, manfaat AI terhadap produktivitas belum sepenuhnya terbukti. Penelitian dari Massachusetts Institute of Technology menunjukkan bahwa 95 persen program uji coba AI belum menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan.

Studi lain dari University of California, Berkeley, bahkan menemukan bahwa AI justru meningkatkan intensitas kerja, bukan mengurangi kebutuhan tenaga manusia.

Ancaman untuk reputasi perusahaan

PHK massal yang terjadi secara cepat juga berisiko merusak reputasi perusahaan, menghilangkan pengetahuan internal, serta mengganggu produktivitas tim. Jika tren ini terus berlanjut, hubungan antara pekerja dan perusahaan dikhawatirkan semakin melemah.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Mengenal Fenomena Job-pocalypse yang Mengancam Dunia Kerja Gen Z

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Xavier Anak Rini Yulianti Berwajah Korea Seperti Sang Ayah

Parenting Nadhifa Fitrina

Kenali Parentification, Saat Anak Dipaksa Dewasa & Memikul Peran Orang Tua

Parenting Nadhifa Fitrina

Kumpulan Arti Mimpi Diri Sendiri Hamil

Kehamilan Melly Febrida

Zodiak yang Paling Ramah dan Tidak Pernah Bersikap Sombong

Mom's Life Annisa Karnesyia

Black Garlic, Si Hitam Manis Kaya Manfaat! Ini Cara Mudah Bikinnya di Rumah

Mom's Life Angella Delvie & Muhammad Prima Fadhillah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Sering Bertengkar dengan Pasangan di Mobil? Bunda dan Ayah Mungkin Miliki Perasaan Ini

5 Potret Xavier Anak Rini Yulianti Berwajah Korea Seperti Sang Ayah

Kumpulan Arti Mimpi Diri Sendiri Hamil

Kenali Parentification, Saat Anak Dipaksa Dewasa & Memikul Peran Orang Tua

Ciri-Ciri Kepribadian Orang Lebih Suka Ngemil Sepanjang Hari

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK