moms-life
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
HaiBunda
Selasa, 11 Aug 2026 20:40 WIB
Daftar Isi
Apakah bos Bunda punya EQ tinggi? Mari mengenali atasan dengan EQ tinggi di tempat kerja.
Bunda mungkin pernah merasakan perbedaan bekerja di bawah atasan yang mudah diajak berdiskusi dan tidak. Kemampuan seorang pemimpin dalam memahami perasaan, berkomunikasi, hingga menghadapi konflik ternyata dapat memengaruhi suasana kerja secara keseluruhan.
Salah satu kemampuan yang berperan penting dalam hal tersebut adalah emotional intelligence (EQ) atau kecerdasan emosional. Menurut Margaret Andrews, pakar kepemimpinan, pemimpin akademik, instruktur, sekaligus penulis Manage Yourself to Lead Others: Why Great Leadership Begins with Self-Understanding, kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor penting yang membedakan pemimpin yang disukai dan dipercaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andrews bahkan telah mengajarkan program kepemimpinan di Harvard selama bertahun-tahun. Ia menilai, kemampuan memimpin orang lain sebenarnya dimulai dari kemampuan seseorang dalam memahami dan mengelola dirinya sendiri.
Menurut Andrews, banyak orang menilai dirinya berdasarkan niat yang dimiliki. Sementara orang lain menilai berdasarkan perilaku yang terlihat. Oleh karena itu, seorang atasan mungkin merasa sudah bermaksud baik, namun cara menyampaikan pesan atau merespon karyawannya bisa saja memberikan kesan berbeda.
Seperti apa ciri atasan dengan EQ tinggi? Berikut beberapa sikap yang dapat Bunda kenali di tempat kerja.
Apa itu kecerdasan emosional?
Istilah emotional intelligence pertama kali diperkenalkan Peter Salovey dan John D. Mayer pada 1990. Andrews menjelaskan, kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi diri sendiri maupun orang lain, kemudian menggunakan pemahaman tersebut sebagai dasar dalam berpikir dan bertindak.
"Ini berarti kita menyadari ketika sedang mengalami suatu emosi dan mengetahui emosi apa yang sedang dirasakan. Kita juga dapat memahami emosi orang lain melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara mereka," ujar Andrews dilansir dari Parade.
Menurutnya, kemampuan tersebut juga mencakup pengelolaan emosi diri sehingga seseorang dapat berkomunikasi secara lebih produktif. Andrews menyukai definisi dari organisasi Six Seconds yang menyebut EQ sebagai kemampuan untuk 'cerdas dalam menghadapi perasaan'.
Dalam konteks kepemimpinan, kemampuan ini menjadi semakin penting karena seorang atasan tidak hanya berhadapan dengan target pekerjaan, tapi juga berbagai karakter, kebutuhan, dan kondisi emosional orang-orang di dalam tim.
Mengapa EQ penting bagi seorang pemimpin?
Andrews menyebut ada dua alasan utama mengapa kecerdasan emosional penting bagi pemimpin. Pertama, orang cenderung senang bekerja bersama pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional. Kedua, ketika karyawan merasa nyaman dengan pemimpinnya, mereka cenderung lebih terlibat sehingga tim dapat bekerja dengan lebih baik.
Dalam sebuah latihan yang dilakukan Andrews selama hampir dua dekade kepada ribuan orang dari berbagai industri dan organisasi, ia meminta peserta mengingat sosok atasan terbaik yang pernah mereka miliki.
"Rata-rata 85 persen alasan yang mereka berikan berkaitan dengan orang tersebut yang memiliki kecerdasan emosional," katanya.
Beberapa karakter yang paling sering disebut, antara lain atasan yang memberikan kepercayaan, mau mendengarkan, peduli terhadap karyawan sebagai individu, memberikan dukungan dan empati, mampu berkomunikasi dengan baik, memberikan tantangan yang sesuai, serta memberi ruang bagi karyawan untuk bekerja secara mandiri.
Dengan kata lain, kemampuan interpersonal dan kecerdasan emosional justru sering kali lebih membekas dibandingkan kemampuan teknis seorang atasan.
Menariknya, ketika Andrews bertanya apakah para peserta bersedia bekerja kembali dengan atasan terbaik mereka, mayoritas mengangguk. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu tanda pemimpin yang hebat.
7 Ciri atasan dengan EQ tinggi
Berikut ciri atasan dengan EQ tinggi.
1. Mampu mengenali dan menerima emosinya
Atasan dengan EQ tinggi tidak selalu terlihat tenang setiap saat. Mereka tetap bisa merasa sedih, cemas, kecewa, marah, atau iri. Bedanya, mereka tidak berusaha menyangkal emosi tersebut.
Andrews menjelaskan, seseorang mungkin tidak menyukai perasaan sedih, cemburu, atau cemas, namun tetap dapat menerima bahwa emosi tersebut sedang dirasakan.
"Ketika kita menerima emosi apa pun yang sedang kita rasakan, kita melepaskannya dan emosi tersebut dapat berlalu. Ketika kita melawannya, emosi itu justru cenderung bertahan," tuturnya.
Dalam dunia kerja, kemampuan ini membuat atasan tidak serta-merta melampiaskan perasaan kepada bawahannya. Ia dapat menyadari bahwa sedang kesal sebelum mengambil tindakan atau berbicara kepada tim.
2. Memiliki kosakata emosi yang beragam
Bunda mungkin mengira seseorang yang memiliki EQ tinggi hanya pandai mengendalikan kemarahan. Padahal kemampuan tersebut dimulai dari mengenali emosi dengan lebih spesifik.
Andrews mengatakan, orang yang memahami emosinya biasanya memiliki banyak kata untuk menggambarkan apa yang sedang dirasakan. Misalnya saja, mereka dapat membedakan antara rasa kesal atau jengkel dengan kemarahan yang sangat kuat hingga merasa geram.
Semakin mampu mengenali nuansa emosi, semakin mudah pula seseorang memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Atasan yang memiliki kemampuan ini biasanya lebih mudah menjelaskan perasaannya kepada tim tanpa menyalahkan orang lain.
Dibanding mengatakan, "Saya marah karena kalian tidak becus," ia dapat menjelaskan persoalan secara lebih terarah dan mencari jalan keluarnya bersama.
3. Tidak membiarkan emosi mengendalikan tindakan
Merasa marah bukan berarti harus langsung memarahi orang lain. Begitu pula ketika merasa takut, seseorang tidak harus langsung menghindari semua persoalan.
Andrews menjelaskan bahwa orang dengan kecerdasan emosional memahami emosi sebagai informasi. "Emosi adalah data, bukan arahan," ujarnya.
Menurut Andrews, kemarahan dapat menjadi tanda bahwa seseorang merasa tujuannya terhalang atau batasannya dilanggar. Ketakutan dapat mengingatkan seseorang terhadap bahaya.
Kesedihan membantu manusia menyadari sesuatu yang penting dan mencari dukungan, sementara kebahagiaan membuat seseorang menyadari hal-hal yang memberikan rasa nyaman dan sejahtera.
Atasan dengan EQ tinggi akan menggunakan informasi tersebut untuk menentukan respon, bukan membiarkan emosi mengambil alih. Oleh sebab itu, ketika menghadapi kesalahan karyawan, ia tidak otomatis bereaksi dengan amarah.
4. Tegas tanpa agresif
EQ tinggi bukan berarti selalu lembut, mengiyakan semua permintaan, atau menghindari konflik. Justru pemimpin dengan kecerdasan emosional mampu menyampaikan apa yang diinginkan secara jelas tanpa merendahkan orang lain.
"Mereka mengatakan apa yang dimaksud dan benar-benar menjalankan apa yang mereka katakan, serta menyadari nilai-nilai yang mereka miliki," kata Andrews.
Menurutnya, orang yang asertif tidak berada di posisi pasif maupun agresif. Mereka mampu menyampaikan kebutuhan dan pendapat sembari mempertimbangkan kebutuhan orang lain.
Di tempat kerja, sikap ini bisa terlihat ketika seorang atasan memberikan batas waktu, membahas performa karyawan, atau menolak sebuah usulan tanpa membuat lawan bicara merasa tidak dihargai.
5. Mau mendengarkan dengan baik
Atasan dengan EQ tinggi tidak merasa dirinya selalu memiliki jawaban paling benar. Mereka justru memiliki rasa ingin tahu terhadap sudut pandang orang lain.
Andrews mengatakan, pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional memahami bahwa setiap orang dapat melihat sebuah situasi dari perspektif yang berbeda. Untuk itu, mereka terbuka untuk mendengarkan pandangan tersebut.
Kebiasaan mendengarkan juga membantu atasan memahami persoalan secara lebih utuh. Karyawan pun cenderung merasa pendapatnya dihargai, bukan sekadar diminta menjalankan instruksi.
6. Punya empati tinggi
Hubungan yang baik di tempat kerja tidak hanya dibangun dengan bersikap ramah. Menurut Andrews, terdapat perbedaan antara menjadi 'baik' dalam arti menyenangkan dan seseorang yang benar-benar peduli serta membantu orang lain.
Untuk itu, atasan dengan EQ tinggi tetap dapat melakukan percakapan sulit atau memberikan kritik ketika dibutuhkan. Bedanya, ia berusaha mengelola emosinya sendiri dan menyampaikan masukan dengan cara yang dapat diterima karyawan.
Bagi karyawan, kritik dari atasan seperti ini biasanya terasa lebih konstruktif karena tujuannya bukan sekadar menyalahkan, melainkan membantu seseorang berkembang.
7. Mampu mempertahankan hubungan dengan sehat
Kecerdasan emosional juga terlihat dari kemampuan seorang pemimpin mempertahankan hubungan kerja yang sehat. Mereka dapat memahami emosinya sendiri sekaligus menangkap kondisi emosional orang lain.
Andrews menjelaskan bahwa orang dengan kecerdasan emosional mampu menggunakan informasi tersebut untuk merespon secara efektif. Kemampuan inilah yang membantu mereka menjaga hubungan dengan orang lain dalam jangka panjang.
Tak heran jika karyawan lebih mungkin bertahan dan kembali bekerja dengan pemimpin yang membuat mereka merasa dipercaya, didengarkan, serta dihargai. Sebaliknya, pemimpin yang kurang memiliki kecerdasan emosional dapat menciptakan suasana kerja dengan moral tim yang rendah.
Bisakah menjadi atasan hebat tanpa EQ tinggi?
Menurut Andrews, seseorang dengan berbagai gaya kepemimpinan tetap bisa efektif, terutama dalam jangka pendek. Namun memimpin dalam jangka panjang berarti harus berhadapan dengan manusia dan segala kompleksitasnya.
"Memimpin dalam jangka panjang berarti bekerja dengan manusia dalam segala kompleksitasnya. Mereka yang tidak memiliki kecerdasan emosional biasanya tidak terlalu baik menghadapi kompleksitas tersebut, baik kompleksitas dirinya sendiri maupun orang lain," kata Andrews.
Ia menjelaskan bahwa pemimpin dengan EQ rendah sering kali tidak menyadari bagaimana emosinya memengaruhi perilaku dan bagaimana perilaku tersebut berdampak kepada orang lain. Dampaknya pun kerap tidak positif dan dapat membuat semangat tim menurun.
Menurutnya, karyawan berbakat memiliki banyak pilihan. Mereka juga termasuk kelompok yang paling mungkin meninggalkan pemimpin yang tidak mampu memimpin dengan baik.
Salah satu indikator yang dapat diperhatikan ketika sebuah perusahaan ingin menemukan manajer yang bermasalah adalah tingkat pergantian karyawan yang tinggi dalam timnya.
Jadi, atasan dengan EQ tinggi bukan berarti seseorang yang tidak pernah marah, kecewa, atau melakukan kesalahan. Justru mereka mampu mengenali emosi tersebut, memberi jeda sebelum bertindak, mendengarkan orang lain, serta tetap tegas ketika diperlukan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
3 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan EQ Tinggi saat Kondisi Sulit
Mom's Life
3 Kalimat yang Sering Diucapkan Pegawai dengan EQ Tinggi di Tempat Kerja
Mom's Life
Psikolog Harvard Ungkap 7 Kalimat yang Sering Diucapkan Orang dengan EQ Rendah
Mom's Life
4 Ciri Seseorang Kurang Cerdas Secara Emosional, Salah Satunya Suka Menyalahkan Orang Lain
Mom's Life
Prediksi Zodiak Hari Ini, Wah Ada Tawaran Proyek Menarik Nih Buat Aries
Mom's Life
Catat Bun, Ini 5 Pertanyaan yang Bisa Diajukan ke HRD saat Wawancara Kerja
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Studi Ungkap Generasi Boomer Pilih Pensiun Dini karena Lelah Bekerja dengan Gen Z
Cara Mengenali Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI di Masa Depan, Cek Daftarnya!
10 Cara Mengetahui Karier yang Cocok Sebelum Salah Pilih Pekerjaan