HaiBunda

MOM'S LIFE

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpamitan dengan Hewan Peliharaan saat Meninggalkan Rumah

Melly Febrida   |   HaiBunda

Rabu, 21 Oct 2026 14:30 WIB
Ilustrasi ciri kepribadian orang yang suka berpamitan dengan hewan peliharaan saat meninggalkan rumah / Foto: Getty Images/Panupong Piewkleng

Bunda mungkin pernah melihat orang yang selalu berpamitan kepada hewan peliharaannya saat meninggalkan rumah. Terdengar lucu kalau diucapkan kepada kucing atau anjing di rumah. Tapi buat sebagian pemilik hewan, pamit sebelum keluar rumah justru sudah jadi kebiasaan kecil yang terasa penting. Apa ini berkaitan dengan kepribadian orang?

Kalimat, "Bye..bye...Mama pergi dulu ya. Nanti pulang", mungkin biasa bagi sebagian pemilik hewan peliharaan. Ada juga yang hanya mengelus kepala sambil bilang, "Mama pergi dulu.." Ada juga yang merasa kurang lengkap kalau keluar rumah tanpa menyapa hewan peliharaannya.

Melansir laman Parade, menurut psikolog, kebiasaan sederhana berpamitan ini bisa menjadi salah satu jendela kecil untuk melihat bagaimana seseorang membangun hubungan dengan hewan peliharaannya. Namun, satu kebiasaan tentu tidak cukup untuk menentukan kepribadian seseorang secara keseluruhan.


Menariknya, penelitian tentang hubungan manusia dan hewan memang menemukan kaitan antara kedekatan dengan hewan peliharaan, empati terhadap hewan, dan kesejahteraan. Namun, hasil penelitian tidak selalu seragam sehingga hubungan tersebut tetap perlu dilihat sesuai situasinya.

Ciri kepribadian orang yang suka berpamitan dengan hewan peliharaan

Kalau Bunda termasuk yang selalu pamit ke hewan peliharaan sebelum meninggalkan rumah, kira-kira apa yang bisa tercermin dari kebiasaan kecil ini? Berikut beberapa kemungkinan yang berkaitan dengan cara seseorang membangun hubungan dan berinteraksi dengan hewan peliharaannya.

1. Peka terhadap isyarat emosional

Orang yang terbiasa berpamitan mungkin lebih memperhatikan respons hewan peliharaannya. Misalnya, mereka tahu kucingnya biasanya duduk di dekat pintu. Mereka juga memperhatikan ketika anjing mengikuti sampai ke teras atau menatap ketika pemiliknya mulai memakai sepatu.

Psikolog Dr. Ernesto Lira de la Rosa menyebut kebiasaan berhenti sejenak untuk menyapa hewan peliharaan dapat mencerminkan perhatian terhadap momen-momen emosional kecil dalam keseharian.

"Mereka menyadari tatapan anjing mereka saat berada di depan pintu atau cara kucing mereka mengikuti hingga ke lorong rumah," ujarnya.

Jeda sejenak itu sering kali mencerminkan sosok yang memang peka terhadap momen-momen emosional dalam keseharian."

Tentu, orang yang tidak berpamitan dengan hewan peliharaannya bukan berarti tidak peka atau tidak sayang. Bagi yang terbiasa melakukannya, pamit mungkin memang cuma kebiasaan kecil. Tapi tetap saja, ada rasa kurang kalau sampai lupa melakukannya.

2. Suka melakukan ritual kecil

"Pamit dulu sama kucing."

Buat sebagian orang, kalimat ini mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas sebelum keluar rumah. Menurut Dr. Lira de la Rosa, kebiasaan berpamitan bisa menjadi ritual kecil yang membantu seseorang menandai perpindahan dari satu situasi ke situasi lain.

Dalam konteks ini, berpamitan bukan soal percaya bahwa hewan harus diberi tahu, melainkan bisa menjadi momen kecil untuk berhenti dan menyadari bahwa dirinya akan meninggalkan rumah.

Kebiasaan seperti ini juga bisa terasa menenangkan karena dilakukan berulang dan sudah menjadi bagian dari ritme harian.

Kalau sebelum berangkat kerja Bunda selalu mencari kucing dulu untuk bilang "Mama pergi", mungkin itu memang sudah menjadi ritual kecil Bunda.

3. Cenderung menghargai hubungan dan ikatan

Sejumlah pemilik menganggap hewan peliharaan bukan sekadar hewan yang tinggal serumah. Kucing atau anjing bisa menjadi bagian dari keluarga, teman di rumah, bahkan sosok yang menemani seseorang melewati hari-hari yang sepi.

Penelitian mengenai pet attachment menunjukkan bahwa hubungan emosional antara manusia dan hewan memang merupakan objek penelitian psikologi.

Sebuah studi terhadap 343 orang menemukan adanya hubungan antara keterikatan dengan hewan, empati terhadap hewan, dan sikap prososial terhadap manusia. Penelitian ini memang tidak secara khusus meneliti kebiasaan berpamitan, tetapi temuan tersebut memberi gambaran bahwa hubungan emosional dengan hewan dapat berkaitan dengan aspek empati.

Ini berarti, kebiasaan berpamitan bisa saja muncul karena seseorang memang memberikan makna pada hubungan tersebut. Bukan karena menganggap hewannya memahami semua kata-kata, tetapi karena hubungan itu sendiri terasa berarti.

4. Lebih nyaman menunjukkan kasih sayang

Ada orang yang mudah bilang, "Sayang, ya." Ada juga yang lebih nyaman menunjukkan kasih sayang lewat tindakan.

Berpamitan sebelum keluar rumah bisa menjadi salah satu bentuk kecil dari ekspresi tersebut. Mengelus kepala, mencium, memanggil nama hewan, atau mengatakan 'nanti Mama pulang' merupakan cara sederhana untuk menunjukkan kedekatan.

Dr. Lira de la Rosa menilai orang yang melakukan ritual perpisahan semacam ini bisa saja memiliki kenyamanan dalam menunjukkan perhatian dan kasih sayang kepada makhluk yang mereka anggap dekat.

Tentu saja, sekali lagi, ini bukan berarti orang yang tidak suka menunjukkan kasih sayang secara verbal berarti kurang penyayang. Cara orang menunjukkan kasih sayang memang berbeda-beda, Bunda.

5. Punya rasa empati terhadap makhluk yang bergantung padanya

Hewan peliharaan sangat bergantung kepada manusia untuk makanan, keamanan, tempat tinggal, dan perawatan. Pada sebagian pemilik, kesadaran bahwa ada makhluk lain yang bergantung kepadanya bisa membuat hubungan tersebut terasa lebih personal.

Kebiasaan berpamitan mungkin menjadi salah satu bentuk kecil perhatian kepada hewan yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Bukan berarti semua orang yang berpamitan otomatis lebih berempati, tetapi kebiasaan ini bisa saja muncul dari rasa peduli terhadap hewan yang dirawatnya.

Penelitian mengenai pet attachment juga menemukan hubungan antara keterikatan dengan hewan dan empati terhadap hewan. Dalam penelitian tersebut, empati terhadap hewan turut berkaitan dengan sikap prososial terhadap manusia.

6. Suka berhenti sejenak sebelum menjalani kesibukan

Kadang rutinitas pagi begitu cepat. Bangun, mandi, menyiapkan anak, mencari kunci, memasukkan barang ke tas, lalu buru-buru keluar.

Orang yang tetap menyempatkan diri menghampiri hewan peliharaan sebelum pergi mungkin punya kebiasaan untuk memberi ruang pada momen kecil di tengah kesibukan.

Dr. Lira de la Rosa menggambarkan kebiasaan ini sebagai bentuk intentionality, yaitu berhenti sejenak dan memberi perhatian pada sesuatu yang dianggap penting sebelum melanjutkan aktivitas.

Menariknya, penelitian terbaru mengenai interaksi manusia dengan kucing dan anjing dalam kehidupan sehari-hari juga menemukan bahwa interaksi dengan hewan peliharaan berkaitan dengan peningkatan efek positif dan penurunan efek negatif pada pemiliknya.

Jadi, mungkin saja momen singkat bersama hewan peliharaan sebelum berangkat memang terasa menyenangkan bagi pemiliknya.

7. Menganggap hewan peliharaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari

Kalau seseorang selalu berpamitan kepada kucing atau anjingnya sebelum keluar rumah, hewan tersebut mungkin memang sudah menjadi bagian dari rutinitas dan kesehariannya.

Penelitian tentang pet attachment juga menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan hewan peliharaan bukan sekadar soal memelihara dan memberi makan. Ada keterikatan emosional yang bisa terbentuk, meski bentuk dan kekuatannya berbeda pada setiap orang.

Sebuah studi besar terhadap lebih dari 2.700 pemilik hewan di Finlandia juga menemukan bahwa karakteristik pemilik dan hewan sama-sama berkaitan dengan pola keterikatan manusia-hewan. Jadi, hubungan dengan hewan peliharaan memang cukup kompleks dan tidak bisa dijelaskan hanya dari satu kebiasaan.

Tidak berpamitan bukan berarti tidak sayang

Kalau Bunda keluar rumah tanpa pernah bilang, "Dadah, Mama pergi," kepada kucing atau anjing di rumah, itu bukan berarti Bunda kurang sayang. Bisa saja memang tidak terbiasa. Bisa juga karena sedang terburu-buru. Atau mungkin Bunda merasa hewan peliharaan akan tetap tidur dan tidak perlu diberi tahu.

Dr. Lira de la Rosa sendiri menekankan bahwa satu kebiasaan tidak bisa menggambarkan keseluruhan kepribadian seseorang. Tidak berpamitan juga tidak bisa langsung diartikan sebagai kurang peduli atau kurang memiliki ikatan dengan hewan peliharaan.

“Dalam beberapa kasus, hal itu mungkin mencerminkan rutinitas yang lebih berorientasi pada tugas atau dilakukan di bawah tekanan waktu,” ungkapnya.

“Dalam kasus lain, hal itu tidak bermakna apa-apa. Tidak adanya salam perpisahan tidak boleh ditafsirkan sebagai kurangnya kepedulian atau ikatan tanpa melihat konteks yang lebih luas.”

Dengan kata lain, satu kebiasaan kecil belum cukup untuk membaca keseluruhan kepribadian seseorang. Orang yang tidak berpamitan bisa saja tetap sangat sayang dan dekat dengan hewan peliharaannya, hanya saja mereka menunjukkan kedekatan dengan cara yang berbeda.

Hal ini sejalan dengan temuan penelitian yang lebih luas tentang pet attachment. Tinjauan sistematis terhadap 116 penelitian menemukan hasil yang beragam mengenai hubungan keterikatan dengan hewan dan kesehatan mental.

Sebagian penelitian menemukan hubungan positif, sebagian negatif, dan sebagian lainnya tidak menemukan hubungan yang signifikan. Karena mayoritas penelitian bersifat cross-sectional, hubungan sebab-akibat juga belum bisa dipastikan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

3 Warna Favorit Orang dengan EQ Tinggi

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpamitan dengan Hewan Peliharaan saat Meninggalkan Rumah

Mom's Life Melly Febrida

16 Tanda Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Terlalu Kritis

Parenting Annisa Karnesyia

Mengenal Postpartum Psychosis, Hal yang Perlu Diwaspadai Setelah Melahirkan

Kehamilan Tiara Jasmine & Fauzan Julian Kurnia

Ciri Kepribadian Anak yang Sering Dimarahi Orang Tua

Parenting Tiara Jasmine & Fauzan Julian Kurnia

Bukan Cuma Baby Blues, Ini 5 Gangguan Mental Lain yang Bisa Dialami Ibu Pasca Melahirkan

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Potret Fadil Jaidi Dapat Kejutan Ultah dari Keluarga, Dihadiahi Lapangan Bun

16 Tanda Anak yang Dibesarkan oleh Orang Tua Terlalu Kritis

Definisi Korupsi di RI Mau Diubah, Kerugian Negara Tak Lagi Jadi Fokus?

Mengenal Postpartum Psychosis, Hal yang Perlu Diwaspadai Setelah Melahirkan

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Berpamitan dengan Hewan Peliharaan saat Meninggalkan Rumah

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK