sign up SIGN UP search


parenting

6 Bahasa Tubuh Balita dan Artinya

Radian Nyi Sukmasari Kamis, 10 Aug 2017 16:24 WIB
Perlu tahu nih, Bun, bahasa tubuh balita. caption
Jakarta - Seperti kita orang dewasa, kadang anak balita (di bawah usia lima tahun) berkomunikasi dengan orang di sekitarnya, termasuk orang tua pakai bahasa tubuh. Makanya Bun, jangan heran kalau balita cuma diam saja tapi seakan mau menyampaikan sesuatu.

Bunda perlu tahu, nih, ada beberapa bahasa tubuh yang bisa disampaikan balita untuk menunjukkan apa sih yang dimaui dia. Nah, dirangkum HaiBunda, berikut ini beberapa bahasa tubuh balita yang perlu kita tahu.

1. Nggak mau menatap mata kita


Asisten profesor di Center for Mind and Brain di University of California, Kristin Lagattuta, PhD, pada anak balita, bahasa tubuh berupa nggak mau menatap mata Bunda setelah dia melakukan sesuatu bisa berarti anak merasa bersalah sama apa yang baru dia lakukan. Misalnya, dia baru aja memecahkan vas bunga di ruang tamu, jangan heran kalau pas ketemu Bunda, si kecil mengalihkan pandangannya ya.

"Untuk menyikapinya, bunda bisa katakan ke anak kalau bunda sudah tahu apa yang dia lakukan. Tapi, tetap beri arahan atau pengertian ke anak soal gimana dia harusnya bersikap setelah memecahkan vas bunga. Bunda juga bisa mengajari anak untuk berani mengakui kesalahannya. Yang penting, jangan bereaksi berlebihan seperti marah-marah saat anak mengakui kesalahannya ya," tutur Kristin.

Ilustrasi bahasa tubuh anakIlustrasi bahasa tubuh anak /Foto: Ahmad Zaky


2. Ngumpet waktu lagi pup

Pernah ngelihat Bun si kecil diem aja, ngumpet, atau mojok? Hmm, biasanya bahasa tubuh ini salah satu penyebabnya karena dia lagi pup atau buang air besar di diapernya. Apa yang dilakukan anak ini berhubungan sama toilet training yang dilakukan anak. Dalam studi yang dilakukan di tahun 2004, disebutkan 74 persen anak yang susah melakukan toilet training akan bersembunyi pas pup.

Kenapa dia mesti ngumpet? Pakar bilang kalau bahasa tubuh ini berhubungan sama apa yang dirasakan anak. Ya, karena anak belum bisa melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, yaitu buang air besar di toilet, anak merasa malu dan bahkan, dia merasa takut dimarahi, Bun. Ketika anak melakukan ini, coba arahkan anak untuk ke toilet dan jangan lupa, nggak perlu kita memarahi anak ya, Bun. Jangan bosan juga untuk melatih si kecil.

3. Bawa banyak bonekanya ke kasur

Kok balita bawa boneka atau mainan favoritnya ke kasur sih? Padahal udah waktunya tidur. Tarik napas, Bun. Belum tentu itu tanda dia sengaja main di kasur yang harusnya jadi tempat istirahat. Soalnya, membawa boneka binatang atau mainan favorit anak bisa jadi cara untuk mereka merasa aman di tempat tidur. Itu artinya, anak merasa takut saat tidur.

Kata psikolog Dawn Huebner PhD, boneka binatang bisa membantu anak merasa aman saat dia tidur sendiri. Studi yang dilakukan peneliti di Tel Aviv University juga menemukan anak yang dikasih boneka saat tidur lebih jarang mengalami mimpi buruk dan mengalami gejala yang berkaitan sama stres saat tidur.

4. Melempar mainan atau barang yang dia pegang

Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani M.Psi., Psikolog bilang melempar mainan atau barang yang dia pegang bisa jadi cara anak mengekspresikan rasa marahnya. Ketika anak melakukan ini, kita bisa validasi emosi anak dengan mengatakan bahwa memang dirinya sedang marah ya.

Ilustrasi bahasa tubuh anakIlustrasi bahasa tubuh anak /Foto: Wirsad Hafiz


Habis itu, ajarkan anak untuk menyalurkan emosinya dengan cara yang lebih sehat, nggak menyakiti dirinya atau diri orang lain. Misalnya, buka kran air dan berteriak di kamar mandi atau memukul guling. Nina bilang, mengajarkan anak menyalurkan emosinya penting karena emosi memang harus diekspresikan. Kalau nggak, bisa menimbulkan gangguan di 'dalam', yaitu di fisik dan psikis anak.

5. Tutupi muka pakai kaos waktu ketemu orang baru

Suka berpikir nggak Bun kalau si kecil kok nggak sopan banget sih, ngangkat kaos sampai menutupi mukanya waktu ketemu orang baru? Jangan salah, Bun. Perilaku kayak gitu bisa dilakukan anak waktu dia cemas ketemu orang baru. Dokter spesialis tumbuh kembang anak di Valley Center for Child Development, New Jersey, Lisa Nalven, MD, bilang wajar kalau anak merasa nggak aman waktu ketemu orang baru, terlebih kalau nggak ada orang tuanya di sampingnya.

"Reaksi lain bisa saja anak mengisap jempolnya, menggigit-gigit jari, atau berpegangan erat pada bunda dan ayahnya. Yang bisa kita lakukan, dampingi anak untuk memastikan dia aman dan ajak dia untuk berkenalan dengan orang yang baru dia temui," kata Lisa.

6. Mengatakan 'Ini Bunda Aku'

Lagi menggendong bayi lain tiba-tiba anak teriak dan memegangi Bunda sambil bilang 'Ini Bunda aku'? Bahasa tubuh itu wajar kok, Bun. Apalagi untuk anak balita, mereka masih belajar berbagi dan itu nggak gampang dilakukan. Makanya, ketika Bunda menggendong anak lain, anak bisa langsung menghampiri dan memeluk seakan anak lain nggak boleh menyentuh Bunda.

Untuk menyikapi ini, kita bisa katakan ke anak kalau kita tetap mencintainya dan menyayanginya. Cuma, bunda juga boleh kok memperhatikan anak lain atau sekadar menyapanya.

Ilustrasi bahasa tubuh anakIlustrasi bahasa tubuh anak /Foto: Wirsad Hafiz
(rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi