parenting

Perlukah Orang Tua Deteksi Kanker pada Anak Sejak Dini?

Asri Ediyati Selasa, 05 Feb 2019 07:02 WIB
Perlukah Orang Tua Deteksi Kanker pada Anak Sejak Dini?
Jakarta - Bunda, belakangan ini rasanya kita semakin sering mendengar kenaikan jumlah pengidap kanker ya? Nggak dipungkiri kalau kita ikut was-was ya mendengar perjuangan public figure, artis, hingga anak-anak untuk berusaha sembuh dari penyakit mematikan itu.

Melihat kondisi itu, Union for International Cancer Control (UICC) telah mencanangkan tanggal 4 Februari tiap tahunnya sebagai Hari Kanker Sedunia. Yap, bertepatan pada hari Senin kemarin, Bun. Untuk tiga tahun ke depan 2019 - 2021 akan bertema 'I am and I will'. Hal tersebut merupakan wujud komitmen kita semua untuk mengurangi dampak kanker pada diri sendiri, atau orang yang disayangi, juga pada dunia.

Untuk itu, kita perlu menanamkan awareness itu dengan melakukan deteksi dini pada diri sendiri. Misalnya, SADARI (Periksa Payudara Sendiri), merupakan cara untuk deteksi dini kanker payudara di rumah. Nah, bagaimana dengan anak-anak? Apakah perlu ada deteksi dini?

Menyoal hal itu, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof Dr dr Aru W Sudoyo, SpPD KHOM, FINASIM, FACP, mengatakan kalau cara deteksi kanker agak sulit karena pada umumnya anak-anak itu beda.

"Kalau kita dewasa itu kanker atau tumor itu terpapar dari lingkungan, gaya hidup. Tereksposnya dari bahan-bahan jelek. Kalau anak-anak itu bukan salah mereka, biasanya bawaan dari lahir. Misal kanker pada mata karena kelainan dari DNA," kata Prof Aru saat ditemui HaiBunda di RSCM, Jakarta Pusat baru-baru ini.

Disebutkan Prof Aru, sepengetahuannya belum ada tesnya, skrining kanker anak. Tapi pemeriksaan terhadap anak, memerhatikan gejala-geja bisa dilihat. Mungkin kita 'parno' atau takut ketika anak memiliki benjolan. Akan tetapi jangan panik dulu, Bun.

Perlukah Orang Tua Deteksi Kanker pada Anak Sejak Dini?Perlukah Orang Tua Deteksi Kanker pada Anak Sejak Dini?/ Foto: iStock

Menurut dr Edi Setiawan Tehuteru, SpA(K), MHA dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, benjolan pada tubuh anak belum tentu gejala kanker. Kita perlu tahu benjolan yang nggak berbahaya dan berbahaya dari bentuk fisiknya terlebih dulu.

"Ibu-ibu harus tahu bedanya tumor jinak atau ganas alias kanker, karena tahi lalat, jerawat itu tumor tapi jinak. Kalau tumor yang ganas dan cepat tumbuh itu baru disebut kanker," kata dr Edi.

Bunda pernah dengar sebutan cystic atau kista? Kata dr Edi, cystic atau kista itu tumor yang jinak dan nggak menyebar. Posisinya ya di situ-situ saja. Cystic bisa berisi cairan atau darah.

"Jika kita meraba ada benjolan di tubuh anak dan dipencet nggak sakit, coba ditinjau lagi besoknya. Jika ukurannya membesar misalnya dari sebesar biji kacang hijau berubah sebesar biji kacang merah. Sebaiknya segera bawa ke dokter untuk konfirmasi," ujar dr Edi.

Lebih lanjut, dr Edi bilang, kalau orang tua ingin tahu apakah benjolan tersebut berbahaya, segera observasi dengan dokter. Namun, jika kondisinya mendesak karena amat khawatir, anak bisa menjalani prosedur biopsi. Setelah dilakukan biopsi, benjolan tadi akan diobservasi lebih detail di laboratorium.

Kita perlu tahu, disebutkan dr Edi, kanker pada anak dibagi menjadi dua kelompok besar yakni cair dan padat. Kelompok cair itu leukemia atau kanker darah. Kalau jenis yang padat berkaitan dengan semua organ di dalam tubuh.

"Segera konfirmasi ke dokter jika ada gejala yang tadi disebutkan. Syukur kalau itu bukan kanker, tapi bersyukur juga kalau itu kanker karena dapat ditemukan lebih awal jadi peluang untuk sembuhnya besar," ucap dr Edi.

(aci/rap)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi