parenting

Kisah Naja, Bocah Penghafal Alquran yang Mengidap Cerebral Palsy

Asri Ediyati Selasa, 14 May 2019 04:01 WIB
Kisah Naja, Bocah Penghafal Alquran yang Mengidap Cerebral Palsy
Jakarta - Hati ini begitu kagum ketika melihat bocah penghafal Alquran. Namun, seketika bercampur haru saat mendengar kisah dari Muhammad Naja Hudia Afifurrohman, bocah penghafal Alquran dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Ya, Naja dilahirkan tidak sesempurna anak lainnya secara fisik, ia mengidap cerebral palsy atau lumpuh otak.

Namun di balik kekurangannya, Naja justru bisa menghafal Alquran dari juz 1 hingga 30 di usia 9 tahun. Berkat kelebihannya menjadi penghafal Alquran, Naja ikut kompetisi Hafiz Indonesia 2019. Naja berhasil sejajar dengan teman-teman lainnya dengan fisik normal.


Di acara Hafiz Indonesia, putra dari Agusfian Hidayatullah dan Dahlia Andayani itu bercerita sedikit tentang dirinya lewat pertanyaan yang dilontarkan Irfan Hakim, sang pembawa acara. Diungkap Naja, ia belajar menghafal Alquran dari usia 3,5 tahun.


"Naja dari umur berapa belajar Alquran?" tanya Irfan Hakim.

"Dari 3,5 tahun sampai 9 tahun," ujar Naja dengan pelan.

Kemudian, sang ibu, Dahlia melanjutkan dengan cerita awal Naja memiliki cerebral palsy saat masih bayi. Diceritakan Dahlia, belum ada tanda-tanda Naja mengalami cerebral palsy saat dilahirkan.

"Jadi Naja ini celebral palsy, kalau celebral palsy itu Bahasa Indonesianya, lumpuh otak, sebagian sel otaknya itu lumpuh. Yang berhubungan dengan gerakan itu enggak bisa. Agak sulit diketahui sejak dini, biasanya bayi itu ada gerakan refleksnya, Naja itu enggak bisa," kata Dahlia.
Kisah Naja, Bocah Penghafal Alquran yang Mengidap Cerebral PalsyNaja dan ibunya/ Foto: Instagram
Naja dilahirkan prematur, hingga usia enam bulan Naja hanya bisa tidur terlentang.

"Waktu difoto, pada tanya, 'Kok fotonya sambil tiduran terus?' Kita baru sadar waktu angkat dia ke mana-mana itu selalu kita angkat lehernya. Dari situ ketahuan, jadi dia bisa angkat lehernya itu 1,5 tahun. Kemudian bisa duduk umur 2,5 tahun, bisa bangun dari tempat tidur 3,5 tahun," ujar Dahlia.

Disebut Dahlia, sakit cerebral palsy Naja masuk kategori sedang. Kaki tangannya kaku meski terlihat baik secara fisik. Naja tak bisa melakukan apapun, Bun. Bahkan, kata Dahlia, saat Naja dikasih sendok, ia tak bisa mengarahkan sendoknya ke mulut. Hiks.

"Tapi alhamdulillah, ada Alquran di memorinya," kata Irfan Hakim.

Naja kini menjadi santri di Lenterahati Islamic Boarding School. Kita doakan semoga Naja bisa terus semangat dan bisa membagikan ilmu hafalan Alquran ke orang lain ya, Bun.

Soal cerebral palsy yang dialami Naja, cerebral palsy adalah gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak, paling sering terjadi sebelum kelahiran. Itulah sebabnya mengapa anak cerebral palsy mempunyai gangguan gerakan yang terkait dengan refleks berlebihan atau kekakuan, postur tubuh yang abnormal, gerakan tak terkendali, atau beberapa kombinasi dari gangguan tersebut.

Sayangnya, anak-anak cerebral palsy di Indonesia belum sepenuhnya dihargai oleh pihak-pihak juga masyarakat luas. Hal ini diungkapkan oleh Aldi Wisra, S.Ft, seorang fisioterapis.


"Di Indonesia, anak-anak cerebral palsy itu belum sepenuhnya dihargai. Salah satu contohnya adalah belum ada banyak track untuk kursi roda di mal-mal, padahal banyak dari mereka yang harus duduk di kursi roda," ujar Aldi kepada detikcom.

Anak-anak cerebral palsy pun tidak jauh berbeda dengan anak-anak kebanyakan. Mereka bisa berkreasi, menunjukkan kreativitas, dan produktif. Aldi menyebutkan banyak dari anak-anak cerebral palsy di Indonesia yang sudah mengeluarkan kemampuan seni, seperti membuat buku puisi dan melukis. Ya, seperti Naja ini, Bun, bisa menghafal Alquran sampai 30 juz.

[Gambas:Video Haibunda]

(aci/som)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi