PARENTING
13 Cerita Pendek tentang Puasa Ramadhan yang Inspiratif dan Mengharukan
Annisya Asri Diarta | HaiBunda
Senin, 23 Feb 2026 21:25 WIBRamadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda, ya, Bunda. Di setiap sudut rumah, dari dapur tempat menyiapkan sahur hingga ruang keluarga saat menanti berbuka, terasa ada ketenangan yang perlahan menyelimuti hati.
Suasana hangat yang sering membuat momen bersama Si Kecil terasa lebih istimewa dan penuh makna. Bulan suci ini pun bukan sekadar tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah perjalanan hati yang bisa Bunda kenalkan kepada Si Kecil melalui cerita-cerita sederhana.
Dari kisah-kisah kecil yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tumbuh pelajaran berharga yang inspiratif dan mengharukan, sehingga membantu anak memahami arti kebaikan. Dalam keheningan sahur dan syahdunya waktu berbuka, ada banyak pelajaran hidup yang bisa Bunda sampaikan dengan cara yang hangat.
Ramadhan mengajarkan kesabaran saat menunggu adzan magrib, keikhlasan saat berbagi, serta empati kepada mereka yang membutuhkan. Lewat cerita, nilai-nilai ini akan lebih mudah dipahami oleh hati kecilnya.
Melalui nilai-nilai tersebut, Bunda dapat menghadirkan pengalaman sehari-hari yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kekuatan luar biasa. Cerita tentang berbagi makanan, belajar berpuasa setengah hari, atau membantu orang tua di rumah bisa menjadi jembatan untuk menanamkan karakter baik.
Dari momen-momen yang membuat hati Si Kecil belajar merasa hangat, peduli, dan penuh syukur. Lalu, kisah seperti apa yang bisa Bunda ceritakan untuk menemani Ramadhan Si Kecil tahun ini?
13 Cerita Pendek tentang Puasa Ramadhan yang Inspiratif dan Mengharukan
Dikutip dari berbagai sumber dan buku Cerita Ramadhan Nabi Muhammad dan Para Sahabat oleh Kak Adib terdapat cerita pendek tentang puasa Ramadhan yang dapat Bunda ceritakan untuk Si Kecil.
1. Selalu ceria saat puasa
"Bu, kok Ibu selalu terlihat segar saat puasa? Fifi aja sering lemas saat puasa," tanya Fifi.
"Sebenarnya Ibu juga kehausan. Capek juga. Tapi Ibu ingat cerita seorang sahabat Nabi Muhammad yang selalu segar saat puasa. Namanya Ibnu Mas'ud," jawab Ibu.
"Bagaimana ceritanya, Bu? Fifi pengin tahu!" sahut Fifi antusias.
"Begini ceritanya ...." Ibu mulai bercerita.
"Nabi Muhammad berpesan kepada Ibnu Mas'ud atau dikenal juga dengan nama Abdullah bin Mas'ud. Isi pesannya begini, "Hendaknya kamu pada waktu pagi pada hari puasamu dalam keadaan berminyak dan bersisir. Janganlah kamu pada waktu pagi pada hari puasamu dalam keadaan bermuka masam." (HR. Thabrani dan Abu Nu'aim).
Ibnu Mas'ud mematuhi perintah Nabi Muhammad. Ibnu Mas'ud selalu tampak ceria ketika puasa. Ia menampakkan wajah bahagia."
"Kok Nabi Muhammad memerintahkan Ibnu Mas'ud seperti itu, Bu?" tanya Fifi, penasaran.
"Menurut beberapa riwayat, Ibnu Mas'ud memiliki badan yang kecil dan kurus. Dia juga jarang tersenyum dan minder karena hidup miskin. Nah, Nabi Muhammad ingin Ibnu Mas'ud selalu tampak ceria. Selalu tersenyum. Makanya, Nabi Muhammad memerintahkan Ibnu Mas'ud selalu ceria saat puasa. Ini berarti juga harus selalu ceria di luar bulan puasa," jelas Ibu.
"Ibnu Mas'ud sering kecewa dan sedih. Dia sering diajak karena tubuhnya yang kurus. Nabi Muhammad pun pernah bersabda. "Apa yang kalian tertawakan? Sesungguhnya kaki Abdullah bin Mas'ud jauh lebih berat dalam timbangan hari kiamat daripada Gunung Uhud." (HR. Ahmad)," lanjut Ibu.
Fifi mengangguk paham. Dia berpikir sejenak. "Berarti, Fifi juga harus selalu ceria saat puasa ataupun tidak puasa, ya, Bu," ucapnya.
"Ya, benar sekali! Senyum itu sedekah. Selalu ceria itu juga menular ke orang di sekitar kita," sahut Ibu.
2. Dermawan saat kekurangan
"Yuk, tadarus sama Ayah," ajak Ayah.
"Hmmm, Fira lelah, Yah. Pengin menonton TV aja," sahut Fira.
"Dari kemarin, kamu belum mengaji, lho," ucap Ayah.
"Hoaaam..... Fira mengantuk, Yah," Fira masih memberikan atas agar tidak mengaji.
"Katanya mau menonton TV, kok sekarang mengantuk. Hehehe...."
Fira masih menonton televisi. Ada tayangan kartun yang disukainya.
"Ya sudah, selesaikan dulu nonton TV-nya. Habis ini mengaji, ya," ujar Ayah.
"Baik, Yah," sahut Fira.
"Fi, Nabi Muhammad mempunyai sahabat-sahabat yang saleh dan beriman, lho. Bahkan ada sahabat yang dari kecil sudah taat beribadah. Dari kecil, dia sudah hafal Al-Qur'an." cerita Ayah.
Fira mengalihkan pandangannya dari televisi. "Memang siapa, Yah?"
"Namanya Zaid bin Tsabit. Selain ahli ibadah, Zaid bin Tsabit juga sangat dermawan meski hidup serba kekurangan," lanjut Ayah.
"Hidup kekurangan kok, bisa dermawan, Yah?" Fifi bingung.
"Berbagi ke orang lain itu tidak harus kaya, dong. Kita bisa berbagi ke siapa saja meski kita miskin. Suatu hari menjelang Magrib, ada seorang tamu berkunjung ke rumah Zaid bin Tsabit. Saat itu, Zaid sedang berpuasa. Dia hanya memiliki makanan yang cukup untuk keluarganya saja. Sementara, dia juga ingin menjamu tamu itu. Zaid bin Tsabit ingat pesan Nabi Muhammad bahwa menjamu tamu itu berpahala."
"Nah, si ulama itu bertanya langsung ke orang Majusi. "Mengapa kamu di surga? Kamu, kan seorang Majusi. Ulama itu bertanya heran. "Dulu aku memang seorang Majusi. Namun, aku masuk Islam. Sejak masih menjadi orang Majusi, aku selalu menghormati orang Muslim yang berpuasa, sahutnya."
"Sang ulama terdiam. Dia sadar jika Allah berkehendak, apa pun akan terjadi. Allah melimpahkan cahaya hidayah kepada orang Majusi itu, Allah juga memberikan hadiah surga karena dia memuliakan orang berpuasa. Lihatlah, seorang non-Muslim saja menghormati orang berpuasa. Bukankah kita sebagai Muslim juga harus memuliakan bulan Ramadhan dan orang yang berpuasa?" ujar Ayah.
"Duh, Fira merasa bersalah tadi makan di luar," sesal Fira.
"Tidak apa-apa. Yang penting sekarang sudah tahu dan tidak mengulanginya lagi, ya," nasihat Ayah.
3. Tabungan kejujuran
Beni baru saja selesai bermain bola di lapangan bawah terik matahari siang. Tenggorokannya terasa sangat kering dan langkahnya gulai saat memasuki rumah. Di atas meja dapur, ia melihat segelas es teh manis segar milik adiknya yang belum terminum.
Suasana rumah sedang sepi dan Beni merasa tergoda untuk meminumnya sedikit saja. Namun, saat tangannya menyentuh gelas yang dingin itu, ia teringat pesan Ibu tadi pagi. Ibu bilang bahwa puasa adalah latihan kejujuran karena hanya kita dan Allah yang tahu apakah kita benar-benar menjaganya.
Beni pun tersadar bahwa meski tidak ada orang yang melihat, Allah selalu mengawasinya setiap saat. Ia pun melepaskan gelas itu dan memilih membasuh wajahnya dengan air dingin agar merasa lebih segar.
Seperti firman Allah dalam Surat Al-Hadid ayat 4:
"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
Sore harinya, saat waktu berbuka tiba, Ibu memanggil Beni ke ruang tamu dengan senyum misterius. Ibu menyodorkan sebuah bungkusan kado berisi buku cerita pahlawan yang sudah lama Beni idam-idamkan di toko buku. Beni sangat terkejut dan bertanya-tanya mengapa Ibu tiba-tiba memberinya hadiah seindah itu di tengah bulan Ramadan.
Ternyata, Ibu tanpa sengaja melihat kejadian di dapur tadi dari balik pintu kamar. Ibu merasa sangat bangga karena Beni mampu mengalahkan rasa haus demi menjaga amanah puasanya. Ibu ingin Beni tahu bahwa kejujuran selalu membuahkan hasil yang jauh lebih manis daripada sekadar segelas es teh di siang hari.
Beni memeluk Ibu dengan erat sambil mengucap syukur kepada Allah atas kekuatan yang diberikan. Sejak hari itu, Beni selalu semangat berpuasa karena ia tahu Allah selalu menemaninya.
4. Berbagi bekal surga
Lani duduk di teras rumah sambil menunggu beduk Magrib, ia memandangi kotak takjil berisi kolak pisang dan gorengan hangat. Kolak itu adalah makanan favoritnya yang dibuatkan Ibu secara khusus karena Lani sudah rajin mengaji.
Perutnya sudah mulai berbunyi, dan ia tidak sabar untuk segera menyantap hidangan manis tersebut. Tiba-tiba, seorang kakek pemulung lewat di depan pagar rumahnya sambil membawa karung yang sangat berat.
Kakek itu terlihat sangat kelelahan, wajahnya pucat, dan ia duduk bersandar di bawah pohon depan rumah Lani. Lani melihat kakek itu hanya membawa sebuah botol air mineral yang isinya tinggal sedikit sekali untuk berbuka nanti.
Ada pergolakan di hati Lani antara rasa lapar dan rasa kasihan melihat kakek tersebut. Akhirnya, dengan langkah mantap, Lani membawa kotak takjil kesukaannya keluar pagar dan memberikannya kepada kakek. Ia rela melepaskan makanan yang paling ia inginkan agar orang lain yang lebih membutuhkan bisa menikmatinya.
Kakek tersebut sangat terharu hingga matanya berkaca-kaca saat menerima pemberian Lani. Ia mendoakan agar Lani menjadi anak yang salehah dan selalu dilancarkan rezekinya oleh Allah. Mendengar doa tulus itu, Lani merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, lebih manis dari rasa kolak manapun.
Ayah yang melihat kejadian itu dari jendela merasa bangga dan memuji kebaikan hati putri kecilnya. Karena Lani sempat teringat dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 92:
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai."
Lani juga belajar bahwa kebahagiaan sejati justru datang saat kita mampu berbagi dengan ikhlas kepada sesama.
5. Rahasia mukena baru
|
|
Zahra sangat mendambakan sebuah mukena putih dengan bordir bunga pink yang ia lihat di pasar beberapa waktu lalu. Teman-temannya di sekolah sudah mulai bercerita tentang baju dan mukena baru yang akan mereka pakai saat Lebaran nanti. Namun, Zahra tahu bahwa Ayah baru saja kehilangan pekerjaan dan mereka harus berhemat untuk kebutuhan sehari-hari.
Alih-alih merengek atau mengeluh, Zahra memilih untuk membantu Ibu di dapur setiap hari. Mereka membuat berbagai macam kue kering untuk dijual kepada tetangga dan kerabat guna menambah penghasilan. Zahra dengan sabar membungkus kue-kue itu dan mengantarkannya ke para pembeli tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Setiap selesai salat Tarawih, Zahra selalu menyelipkan doa agar keluarganya diberi kelaparan rezeki dan kesehatan. Ia menyimpan keinginannya akan mukena baru dalam hati, karena ia tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya. Kesabaran Zahra terlihat dari senyumnya yang selalu ceria meski ia merasa sedikit sedih dalam diam.
Pada malam takbiran, saat gema takbir mulai berkumandang, Ibu memanggil Zahra ke dalam kamar. Ibu memberikan sebuah bungkusan kain yang ternyata berisi sebuah mukena putih bersih yang sangat indah. Ternyata, Ibu menjahit mukena itu sendiri di sela-sela waktu istirahatnya dengan penuh kasih sayang khusus untuk Zahra.
Zahra menangis haru karena mukena jahitan Ibu terasa jauh lebih istimewa daripada mukena yang ada di pasar. Ia menyadari bahwa kasih sayang orang tua dan kesabaran dalam menghadapi kesulitan adalah hiasan terbaik. Allah pun memberikan ketenangan dalam hatinya sesuai janji-Nya melalui surat Al-Baqarah ayat 153:
"Sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar."
6. Menjaga lisan
Dito adalah anak yang aktif, namun ia sering kesulitan menahan diri jika ada teman yang mengejeknya. Suatu siang di sekolah, seorang teman sengaja menyenggolnya hingga kotak pensil Dito terjatuh dan berantakan. Teman tersebut justru menertawakan Dito, membuat wajah Dito memerah karena menahan amarah yang meledak-ledak.
Dito sudah bersiap untuk membalas dengan kata-kata kasar yang tajam di ujung lidahnya. Namun, ia teringat nasihat Guru Mengaji bahwa puasa bukan hanya menahan makan, melainkan juga menahan lisan dari keburukan. Ia teringat bahwa jika ia marah, maka pahala puasanya yang sudah ia jaga sejak subuh akan hangus sia-sia.
Dito mengambil napas panjang, memejamkan mata sejenak, dan mengembuskannya dengan perlahan. Alih-alih membalas, ia justru tersenyum tipis dan mulai merapikan pensilnya sendiri tanpa mengeluarkan satu patah kata pun yang buruk. Ia memilih untuk memaafkan temannya di dalam hati dan melanjutkan pekerjaannya dengan tenang.
Temannya yang mengejek tadi merasa heran karena biasanya Dito akan langsung membalas dengan keras. Melihat ketenangan Dito, teman tersebut justru merasa malu sendiri dan akhirnya menghampiri Dito saat jam pulang sekolah. Ia meminta maaf dengan tulus karena telah menjahili Dito dengan sengaja tanpa alasan yang jelas.
Dito merasa sangat lega karena ia berhasil memenangkan pertarungan melawan nafsunya sendiri di bulan suci ini. Ia belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang paling keras berteriak, melainkan siapa yang mampu bersabar. Allah sangat menyukai hamba yang mampu menahan amarah seperti firman Allah lewat surat Ali Imran ayat 134:
"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang."
7. Sahur yang berarti
Rian selalu merasa malas saat Ibu membangunkannya untuk makan sahur di pukul tiga pagi. Baginya, bangun di tengah malam saat udara terasa dingin dan mata masih sangat mengantuk adalah hal yang paling sulit dilakukan. Ia sering merengek dan ingin melewatkan sahur hanya agar bisa terus tidur di bawah selimut hangatnya.
Melihat hal itu, suatu malam Ayah mengajak Rian untuk ikut berkeliling lingkungan sebelum mereka makan sahur sendiri. Ayah membawa beberapa nasi bungkus hangat di dalam tas kain yang besar. Rian yang masih setengah mengantuk bertanya-tanya ke mana mereka akan pergi sepagi itu di saat semua orang masih terlelap.
Di perjalanan, Rian melihat para penjaga malam yang sedang berjaga dan penyapu jalanan yang sudah mulai bekerja di bawah lampu jalan yang redup. Ayah membagikan nasi bungkus itu kepada mereka dengan penuh keramahan. Rian melihat betapa bahagianya wajah orang-orang itu menerima makanan hangat sederhana dari Ayah.
Rian menyadari bahwa banyak orang di luar sana yang harus bekerja keras di saat dinginnya malam demi sesuap nasi. Sementara itu, ia memiliki rumah yang nyaman dan makanan yang selalu tersedia di meja makan setiap hari. Rasa kantuk dan malasnya seketika hilang berganti dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT.
Sejak saat itu, Rian tidak pernah lagi mengeluh saat dibangunkan sahur oleh Ibu di rumah. Ia kini menikmati setiap suap nasi sahur dengan rasa syukur, mengerti bahwa makanan itu adalah rezeki yang luar biasa. Allah berjanji akan menambah nikmat bagi mereka yang pandai bersyukur dalam surat Ibrahim ayat 7:
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu."
8. Sedekah celengan ayam
Tedi memiliki celengan berbentuk ayam yang sudah ia isi selama hampir setahun penuh dengan sisa uang jajannya. Ia mempunyai impian besar untuk membeli sebuah robot raksasa yang bisa berubah menjadi mobil yang sangat keren. Setiap kali memasukkan koin, ia membayangkan betapa asyiknya bermain robot itu bersama teman-temannya.
Suatu hari di pertengahan Ramadan, Tedi mendengar berita bahwa ada sebuah panti asuhan di dekat rumahnya yang terkena musibah kebakaran. Banyak anak-anak di sana kehilangan baju, buku sekolah, dan tempat tinggal mereka yang sederhana. Tedi teringat wajah anak-anak panti yang pernah ia temui saat ia lewat di sana bersama Ibu.
Malam itu, Tedi memandangi celengan ayamnya dengan perasaan bimbang dan ragu yang sangat besar. Di satu sisi ia sangat menginginkan robot itu, namun di sisi lain ia merasa sedih memikirkan teman-temannya di panti. Akhirnya, dengan tekad yang bulat dan ikhlas, Tedi memecahkan celengannya dan menyerahkan semua uangnya kepada Ibu untuk disumbangkan.
Tedi merasa ada kelegaan yang luar biasa saat melihat uang tabungannya dibawa Ibu untuk membantu pembangunan kembali panti asuhan. Meskipun ia tidak jadi membeli robot idamannya, hatinya merasa sangat hangat melihat anak-anak panti bisa tersenyum kembali. Ia menyadari bahwa membahagiakan orang lain jauh lebih berharga daripada benda mati apa pun.
Ayah memuji Tedi dan meyakinkannya bahwa Allah tidak akan membiarkan kebaikannya hilang begitu saja tanpa balasan. Tedi belajar bahwa sedekah tidak akan membuat seseorang menjadi kekurangan, melainkan justru memperkaya jiwa. Allah berfirman tentang indahnya berbagi dalam surat Al-Hadid ayat 11:
"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya."
9. Hafalan ayat cinta
|
|
Kiki adalah seorang anak yang agak lambat dalam menghafal sesuatu, tetapi ia memiliki tekad yang sangat kuat. Ramadhan kali ini, ia ingin memberikan kejutan berupa hafalan surat baru untuk kakeknya yang sedang sakit parah. Kakek selalu berpesan agar Kiki rajin membaca Al-Qur'an agar hatinya selalu diterangi oleh cahaya iman.
Setiap selesai salat Subuh, Kiki duduk di sudut masjid sambil memegang Al-Qur'an kecilnya dengan penuh perhatian. Ia mengulang-ulang satu ayat hingga puluhan kali sampai lidahnya tidak lagi kaku dalam mengucapkannya. Meski sering merasa lelah, bayangan senyum Kakek membuatnya kembali semangat untuk terus melanjutkan hafalannya.
Ibu sering melihat Kiki tertidur di atas sajadah karena kelelahan setelah berjam-jam mengulang ayat demi ayat. Namun, setiap kali bangun, Kiki langsung melanjutkan kembali bacaannya dengan penuh kesabaran yang luar biasa. Baginya, menghafal firman Allah adalah bentuk cinta yang paling indah yang bisa ia berikan kepada Kakek dan Tuhannya.
Saat hari Lebaran tiba, Kiki mengunjungi Kakek di rumah sakit dan duduk di samping tempat tidurnya yang putih. Dengan suara yang lembut namun tegas, Kiki membacakan surat Ad-Duha yang telah ia hafal dengan sangat lancar dan merdu. Kakek menangis haru mendengarnya, merasa penyakitnya sedikit berkurang karena kebahagiaan yang Kiki berikan.
Kiki merasa sangat bahagia karena usahanya yang sungguh-sungguh tidak sia-sia dan membuahkan kemuliaan. Ia belajar bahwa Allah akan selalu memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin mendekatkan diri kepada-Nya melalui Al-Qur'an. Seperti firman Allah dalam surat Al-Qamar ayat 17:
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?".
10. Puasa pertama Adit
Adit baru berusia enam tahun dan tahun ini adalah pertama kalinya ia mencoba berpuasa satu hari penuh sampai Magrib. Pagi hari ia masih sangat semangat, ikut sahur bersama kakak dan orang tuanya dengan penuh keceriaan. Namun, ketika matahari mulai meninggi dan jam menunjukkan pukul satu siang, Adit mulai merasa sangat lemas.
Perutnya keroncongan dan tenggorokannya terasa sangat kering hingga ia berkali-kali menelan ludah melihat iklan minuman di televisi. Ia duduk di lantai dapur sambil memandangi lemari es, merasa ingin menyerah saja dan minum setetes air. Namun, ia melihat kakaknya yang tetap tenang mengaji di ruang tengah tanpa menunjukkan rasa mengeluh sedikit pun.
Adit kemudian menghampiri kakaknya dan bertanya bagaimana cara agar rasa laparnya bisa sedikit berkurang. Sang Kakak kemudian mengajak Adit untuk mendengarkan kisah-kisah nabi yang penuh perjuangan agar Adit bisa teralihkan. Adit pun mendengarkan dengan seksama hingga tanpa terasa waktu berjalan semakin mendekati sore hari.
Ketika suara adzan Magrib akhirnya berkumandang dari masjid, Adit melompat kegirangan karena ia berhasil mencapai garis finis. Rasa kurma yang manis saat berbuka terasa seribu kali lebih nikmat karena ia telah berjuang keras seharian. Ibu mencium kening Adit dan mengatakan bahwa ia adalah pahlawan kecil yang sangat hebat hari itu.
Adit belajar bahwa puasa bukan hanya soal lapar, tapi soal melatih kekuatan tekad dan kesabaran untuk taat kepada Allah. Seperti firman Allah melalui surat Al-Baqarah ayat 183:
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Pengalaman puasa pertamanya ini akan selalu ia kenang sebagai momen keberhasilan yang membanggakan.
11. Menanam kebaikan
Fatih sering memperhatikan taman kecil di samping masjid yang terlihat sangat gersang dan penuh dengan sampah plastik. Tanaman bunga di sana banyak yang layu karena jarang ada yang menyiramnya di musim kemarau ini. Hati Fatih merasa sedih melihat rumah Allah tidak terlihat indah dan asri seperti seharusnya.
Tanpa memberitahu siapapun, setiap sore sekitar pukul lima, Fatih diam-diam membawa botol-botol air mineral bekas yang ia isi di rumah. Ia mulai memunguti sampah di sekitar taman dan menyirami tanaman-tanaman yang layu itu satu per satu dengan penuh kasih sayang. Fatih melakukan ini setiap hari selama bulan Ramadan sebagai bentuk pengabdiannya.
Fatih tidak pernah menceritakan kegiatannya ini kepada teman-temannya atau bahkan kepada orang tuanya sekalipun. Ia ingin perbuatan baiknya menjadi rahasia indah antara dirinya dan Allah SWT agar pahalanya tetap terjaga. Ia merasa sangat damai setiap kali melihat bunga-bunga itu kembali mekar dan daunnya menghijau.
Suatu hari setelah salat Tarawih, pengurus masjid berdiri di depan jamaah dan memuji keasrian taman masjid yang kini terlihat sangat cantik. Semua jamaah merasa senang, namun tidak ada yang tahu siapa sosok misterius yang telah merawat taman tersebut. Fatih yang berada di barisan belakang hanya tersenyum tipis dan tetap menjaga rahasianya.
Fatih belajar bahwa keikhlasan sejati adalah melakukan kebaikan tanpa mengharapkan pujian dari manusia mana pun. Baginya, melihat taman masjid yang indah sudah cukup menjadi hadiah bagi puasanya tahun ini. Seperti firman Allah melalui surat Al-An'am ayat 162:
"Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
12. Rahasia sahabat di balik meja
Haikal memiliki seorang teman sekelas bernama Kevin yang tidak berpuasa. Di jam istirahat sekolah, biasanya mereka selalu bermain bersama di kantin, tetapi selama Ramadhan, Haikal memilih untuk duduk di perpustakaan agar tidak tergoda melihat orang makan. Namun, ia merasa khawatir jika Kevin merasa kesepian karena ia tidak menemaninya bermain seperti hari-hari biasanya.
Suatu hari, Haikal melihat Kevin sengaja bersembunyi di balik pohon saat ingin meminum air botolnya karena tidak ingin terlihat oleh teman-teman yang sedang berpuasa. Haikal merasa tersentuh dengan sikap Kevin yang sangat menghargai teman-temannya yang sedang beribadah. Ia pun menghampiri Kevin dan mengatakan bahwa Kevin tidak perlu bersembunyi, karena Haikal sedang belajar melatih kekuasaan diri di hadapan godaan.
Keduanya kemudian berbincang tentang makna puasa yang sebenarnya bukan sekadar orang lain tidak boleh makan di depan kita, melainkan tentang kekuatan hati si orang yang berpuasa. Haikal menjelaskan bahwa ia justru senang jika bisa tetap bersabar meskipun melihat orang lain makan. Kevin pun menjadi lebih mengerti dan mereka tetap bisa berteman akrab meskipun memiliki keyakinan dan kebiasaan yang berbeda.
Selama sisa bulan Ramadhan, Kevin selalu membawakan buku-buku seru ke perpustakaan untuk dibaca bersama Haikal saat jam istirahat. Mereka menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bermanfaat tanpa harus merasa terganggu oleh rasa lapar atau haus. Haikal merasa bangga karena bisa menjalankan ibadah dengan tenang sekaligus menjaga hubungan baik dengan temannya.
Haikal belajar bahwa Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menunjukkan akhlak yang baik kepada siapa pun. Islam mengajarkan kita untuk selalu bersikap bijak dan menghargai orang lain dalam kondisi apa pun. Seperti firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 125:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik..."
13. Cahaya di sela-sela mengaji
Santi merasa sangat mengantuk setiap kali mengikuti kegiatan tadarus Al-Qur'an di masjid setelah salat Tarawih. Matanya seringkali terasa berat dan ia sulit berkonsentrasi pada huruf-huruf Arab di hadapannya karena rasa lelah setelah seharian beraktivitas. Ia sempat berpikir untuk berhenti ikut tadarus dan lebih memilih tidur lebih awal di rumah agar bisa bangun sahur dengan segar.
Namun, ia melihat seorang nenek tua di sudut masjid yang tetap bersemangat membaca Al-Qur'an meski penglihatannya sudah mulai kabur menggunakan kaca mata tebal. Nenek itu membaca dengan perlahan, mengeja setiap huruf dengan penuh cinta dan ketulusan yang mendalam. Santi merasa malu pada dirinya sendiri yang masih muda namun sudah mudah merasa menyerah menghadapi rasa kantuk.
Santi memberanikan diri mendekat dan bertanya kepada nenek tersebut mengapa ia tetap begitu semangat mengaji di usia senja. Sang nenek tersenyum dan berkata bahwa setiap huruf Al-Qur'an yang dibaca di bulan Ramadan adalah obat bagi jiwa dan cahaya bagi hati yang sedang lelah. Nenek itu merasa setiap ayat yang dibacanya memberikan energi baru yang tidak bisa didapatkan dari makanan mana pun.
Terinspirasi oleh ucapan nenek itu, Santi membasuh wajahnya dengan air wudu yang dingin agar rasa kantuknya hilang sepenuhnya. Ia kembali duduk di safnya dan mulai membuka mushafnya dengan semangat baru yang membara di dalam dada. Ia menyadari bahwa Ramadan adalah waktu yang sangat singkat untuk mengumpulkan bekal pahala sebanyak-banyaknya melalui kitab suci.
Malam itu, Santi merasakan ketenangan yang luar biasa saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an bersama teman-temannya. Ia tidak lagi merasa berat, melainkan merasa sangat bersyukur karena Allah masih memberinya kesempatan untuk beribadah. Al-Qur'an diturunkan di bulan ini sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia dalam surat Al-Baqarah ayat 185:
"Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia..."
Itulah cerita pendek tentang puasa ramadhan yang inspiratif dan mengharukan yang dapat dibacakan untuk Si Kecil sebelum berbuka puasa.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)Simak video di bawah ini, Bun:
Tak Sahur Saat Puasa demi Turun Berat Badan, Ini Risiko Kesehatannya
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
4 Tips Menjadi Orang Tua Baru, Begini Persiapannya Bunda
Bunda Perlu Tahu, Pentingnya Mengajarkan Kejujuran pada Anak Sejak Dini
Anak Tak Mau Ditinggalkan dan Cemas Berpisah, Harus Bagaimana?
Tips Agar Anak Tak Jadi Pelampiasan Emosi Bunda
TERPOPULER
9 Ciri Kepribadian Dilihat dari Buah Favorit, Bunda Suka yang Mana?
13 Cerita Pendek tentang Puasa Ramadhan yang Inspiratif dan Mengharukan
Rumah Unik di Tengah Sungai, Pemandangan Bak Negeri Dongeng
Pemain 'Ipar Adalah Maut The Series' Nicole Parham Umumkan Kehamilan, Intip Potretnya
Daftar Negara yang Pangkas Jam Kerja Kantoran saat Puasa Ramadhan 2026
REKOMENDASI PRODUK
Review Beras Porang Fukumi & Tropicana Slim, Praktis Tinggal Seduh
Firli NabilaREKOMENDASI PRODUK
12 Obat Diare untuk Ibu Hamil yang Aman dan Efektif
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
10 Keju untuk MPASI Bayi yang Enak & Aman untuk Tambahan Lemak, Pilih yang Paling Bagus Bun!
Nadhifa FitrinaREKOMENDASI PRODUK
16 Pelumas yang Aman & Bagus untuk Berhubungan Intim
Dwi Indah NurcahyaniREKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Merek Lulur untuk Ibu Hamil yang Aman & Bagus
Dwi Indah NurcahyaniTERBARU DARI HAIBUNDA
9 Ciri Kepribadian Dilihat dari Buah Favorit, Bunda Suka yang Mana?
4 Rekomendasi Film Superhero untuk Ditonton saat Sahur, Tayang di BLOCKBUSTER SAHUR MOVIES TRANS TV
13 Cerita Pendek tentang Puasa Ramadhan yang Inspiratif dan Mengharukan
Daftar Negara yang Pangkas Jam Kerja Kantoran saat Puasa Ramadhan 2026
Pemain 'Ipar Adalah Maut The Series' Nicole Parham Umumkan Kehamilan, Intip Potretnya
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Insertlive
Bacaan Zikir Petang Menjelang Berbuka yang Dianjurkan
-
Beautynesia
Paling Disiplin, 4 Zodiak yang Selalu Tepat Waktu dan Tidak Pernah Telat
-
Female Daily
Ikuti 5 Tips Diet saat Puasa agar Berat Badan Turun, Tanpa Bikin Lemas!
-
CXO
GOT7 Rilis Album Baru, Persiapan Harus Lewat Video Call Karena Hal Ini
-
Wolipop
Beda Gaya Berkaftan Ashanty, KD & Geni Faruk, 3 Nenek di Ultah Ameena
-
Mommies Daily
MD Ask the Expert: Menu Sahur dan Buka Puasa Bergizi untuk Anak