HaiBunda

PARENTING

20 Contoh Cerita Fiksi Singkat dengan Berbagai Tema yang Penuh Pesan Moral untuk Anak

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Jumat, 19 Jun 2026 18:50 WIB
Cerita fiksi penuh pesan moral/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Sasiistock

Sebagian besar anak-anak kita tumbuh dalam lingkungan yang cukup terbatas. Namun, dengan membacakan cerita kepada anak-anak, kita dapat menunjukkan kepada mereka tempat-tempat yang jauh, orang-orang luar biasa, dan situasi yang membuka mata untuk memperluas dan memperkaya dunia mereka.

Membaca cerita juga bisa menjadi cara yang bagus untuk membantu mereka menghadapi situasi kehidupan nyata yang membutuhkan bantuan, Bunda.

Dikutip dari BBC, para peneliti telah menemukan bahwa aktivitas otak yang terjadi ketika kita membaca fiksi sangat mirip dengan mengalami situasi tersebut dalam kehidupan nyata, sehingga membaca tentang suatu situasi membantu anak-anak mencari cara untuk menyelesaikannya dalam kehidupan nyata.


Selain itu, menurut Emma Dineen, asisten penelitian di University of Connecticut, manfaat membacakan cerita kepada anak-anak juga lebih dari sekadar mempererat ikatan dan menciptakan hubungan yang kuat. Cerita dapat membantu anak-anak meningkatkan pemahaman mereka tentang pikiran, empati, pengaturan diri, dan perkembangan literasi.

Dengan berbagai manfaat tersebut, membacakan cerita fiksi kepada anak dapat menjadi cara yang menyenangkan sekaligus efektif untuk mendukung tumbuh kembang mereka. Melalui kisah-kisah yang menarik, anak tidak hanya terhibur, tetapi juga dapat belajar memahami nilai-nilai kehidupan, mengembangkan empati, serta melatih kemampuan berpikir dan berbahasa, Bunda.

Diambil dari berbagai sumber, ada 20 contoh cerita fiksi singkat dengan berbagai tema yang penuh pesan moral yang bisa dibaca di sini.

1. Kisah Anjing Kecil Bernama Live

Keluarga Smith adalah keluarga kecil yang terdiri atas Bu Emily, Pak Peter, dan putri mungil mereka yang berusia 5 tahun, June. Mereka bertiga hidup sederhana dan bahagia.

June adalah anak lucu yang menyukai segala hal, kecuali anak anjing.

June selalu menangis atau memeluk orang tuanya ketika didekati oleh hewan peliharaan teman dan saudaranya. Bu Emily dan Pak Peter tak habis pikir kenapa putri mereka bisa takut pada hewan peliharaan yang begitu menggemaskan.

Suatu hari, pulang dari sekolah, June merasa seperti ada seseorang atau sesuatu yang mengikutinya. June menengok ke belakang, rupanya ada seekor anak anjing liar menggemaskan yang mengikutinya.

Dia berusaha keras mengusirnya, tetapi tidak berhasil. Anak anjing itu terus mengikutinya sampai ke rumah. Saat Bu Emily membuka pintu, June langsung berlari dan bersembunyi di belakang ibunya. Bu Emily bertanya apakah dia baik-baik saja.

June pun bercerita tentang anak anjing yang mengikutinya dan kini masih menunggu di halaman depan.

Bu Emily meyakinkan putrinya bahwa anak anjing itu tidak akan masuk ke dalam rumah. Namun, June bersikeras agar ibunya mengusir anak anjing itu. Anak anjing itu berlari, tetapi kemudian kembali lagi dan bersembunyi di balik semak-semak.

Malam harinya, Bu Emily menceritakan kejadian itu kepada suaminya dan dia menanyakan keadaan June. Pak Peter meminta mereka agar berhati-hati karena itu anjing liar.

Keesokan paginya, June berjalan menuju halte bus dan terus menengok ke belakang untuk memeriksa apakah anak anjing itu masih mengikutinya. June terus melihat ke belakang dan hampir menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan.

Guk! Guk! Guk!

Tiba-tiba, dia mendengar suara anjing menggonggong dan melihat ada mobil yang melaju kencang ke arahnya. June hanya berdiri terpaku sampai dia melihat anak anjing yang kemarin itu berlari ke arahnya. Untungnya June langsung melangkah mundur dan lari menyelamatkan diri.

June mengambil jalan memutar saat pulang. Dia terkejut ketika melihat anak anjing yang sama mengibas-ngibaskan ekornya kegirangan saat melihatnya kembali. June lekas berlari ke rumahnya.

Dia memberi tahu ibunya tentang kejadian yang dia alami. Ibunya lega, June selamat berkat anak anjing yang memperingatkannya. Bu Emily ingin menghadiahi anak anjing itu semangkuk susu.

Lalu dia keluar untuk mencarinya. Dia menemukan anak anjing itu sedang bersembunyi di balik semak-semak dan membujuknya agar mau minum susu. Anak anjing itu pun patuh dan meminumnya hingga tandas.

Bu Emily mengelus-elus anak anjing itu dan ternyata ada kalung nama di lehernya. Bu Emily membawa masuk anjing itu ke garasi dan membuatkannya kendang sementara.

Malam harinya, Pak Peter coba mencari tahu. Rupanya anak anjing itu adalah milik seorang wanita tua yang baru saja meninggal.

Karena tidak ada keluarga yang mau merawatnya, anak anjing itu pun dibiarkan berkeliaran. Bu Emily memberi tahu June bahwa sekaranglah saatnya jika dia ingin berterima kasih kepada anak anjing itu.

Mereka akan membawa anak anjing itu ke tempat penampungan besok. June tidak mau dan langsung pergi ke kamarnya.

Sepanjang malam, anak anjing itu terus melolong di garasi. Pak Peter berusaha menenangkannya, tetapi anjing itu benar-benar ketakutan. June bergegas turun ke garasi.

Saat anak anjing itu melihatnya, ia langsung berhenti melolong, mengibas-ngibaskan ekornya, dan berlari ke arah ayahnya. June ketakutan dan berlari ke arah ayahnya.

Pak Peter meyakinkan June bahwa anak anjing itu sangat menyukainya dan hanya ingin bermain-main.

Anak anjing itu sangat senang berada di dekat June dan mengikutinya ke mana-mana. June merasa kesal dan akhirnya mengelus-elusnya. Anak anjing itu mulai melompat-lompat dan June tidak bisa menahan gelak tawanya.

Keesokan harinya, ketika Bu Emily dan Pak Peter bersiap-siap membawa anak anjing itu ke tempat penampungan, mereka mendengar June bertanya kepada orang tuanya apakah anak anjing itu bisa tinggal bersama mereka.

Orang tuanya bilang bahwa mereka ingin sekali June memiliki hewan peliharaan. Namun syaratnya, dia harus memberi nama anak anjing mungil itu.

Karena anak anjing itu telah menyelamatkan hidupnya, June sudah memilih nama yang pas untuknya, yaitu Live. Hidup pun mengisi hati June dan menjadi sahabat yang paling dia sayangi.

Pesan moral: Cerita fiksi tentang June dan anjing kecil yang diberi nama Hidup mengajarkan bahwa rasa takut atau prasangka terhadap sesuatu tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Kebaikan dan ketulusan dapat datang dari siapa saja, bahkan dari makhluk yang awalnya kita hindari.

2. Cermin Ajaib

Suatu hari seekor Rusa sedih sekali ia tidak punya mainan cermin seperti teman- temannya; Tupai, Semut, dan Jerapah. Rusa berniat meminjam cermin milik Tupai, tetapi Tupai tidak memperbolehkannya.

Ketika Rusa meminjam cermin pada Jerapah, Jerapah menjawab, "Boleh, tapi nanti ya!"

Rusa pun semakin sedih, tetapi ia tidak kehilangan akal. la mengambil tali dan bermain lompat tali sendiri. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh ke air, ternyata cermin Tupai jatuh ke sungai.

Jerapah dan Semut tidak bisa berenang. Rusa mengajukan diri. Tanpa berpikir panjang, Rusa menceburkan diri ke sungai.

Tiba-tiba Jerapah berteriak. "Awas, Rusa! Ada buaya di belakangmu!"

Rusa segera menyambar cermin Tupai di depannya dan berenang dengan sangat cepat menghindari Buaya. Hewan buas itu terus mengejar Rusa. Mulutnya terbuka lebar. Kaki Rusa sempat tersangkut bebatuan sungai. Tapi, ia terus berusaha menyingkirkan batu yang menghalanginya.

Jerapah, Semut, dan Tupai berteriak ketakutan melihat Buaya yang siap menerkam Rusa. Ketika Rusa hampir ke pinggir, Jerapah dengan leher panjangnya cepat-cepat menyeret Rusa ke daratan. Selamat! Buaya pun kembali ke dalam sungai dengan kecewa.

Tupai pun berterima kasih pada Rusa, serta mengizinkan Rusa meminjam cerminnya sepuasnya.

Pesan moral: Cerita fiksi ini memberikan pesan moral bahwa kebaikan hati dan keberanian untuk menolong orang lain sangat berharga, bahkan ketika kita tidak selalu diperlakukan dengan baik. Rusa tetap membantu mengambil cermin Tupai meskipun sebelumnya tidak diizinkan meminjam cermin tersebut. Pada akhirnya, sikap tulus dan suka menolong akan membawa kebaikan kembali kepada diri sendiri.

3.  Dua Pangeran dan Peri Air

Alkisah seorang raja yang mempunyai dua orang putra yang bernama Pangeran Matahari dan Pangeran Bulan. Suatu hari, sang raja memanggil kedua putranya. Raja memerintahkan keduanya agar hidup di hutan. "Jika aku telah meninggal, kalian pulanglah dan pimpin kerajaan ini!" titah sang raja.

Kedua pangeran itu ke hutan. Lalu beristirahat di dekat sebuah kolam. Pangeran Matahari berkata pada Pangeran Bulan agar adiknya itu mandi terlebih dahulu dan mengambilkannya air dari kolam.

Ketika Pangeran Bulan mendekati kolam, datanglah Peri Air yang jahat, peri itu bertanya, "Seperti apakah peri yang baik itu?"

"Mereka seperti bintang dan bulan," jawab Pangeran Bulan.

Tidak puas dengan jawaban pangeran, Peri Air sambil menangkap Pangeran Bulan dan membawanya ke gua.

Pangeran Matahari khawatir adiknya dalam bahaya karena tidak kunjung kembali. Ia mendatangi kolam sambil bersiaga. Peri Air pun menyamar menjadi seorang pencari kayu. Namun, pangeran Matahari tahu bahwa itu adalah Peri Air yang sedang menyamar.

Pangeran Matahari menuduh Peri Air menculik adiknya dan Peri Air mengaku. Ketika pangeran bertanya alasannya, Peri Air berkata bahwa Pangeran Bulan tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Pangeran Matahari pun menawarkan diri untuk menjawab pertanyaan Peri Air, dengan syarat peri harus mengembalikan adiknya. Peri Air bertanya sekali lagi. "Seperti apakah peri yang baik itu?"

"Peri yang baik adalah peri yang mempunyai hati tulus dan takut berbuat dosa," seru Pangeran Matahari.

Peri Air terpukau dengan jawaban Pangeran Matahari. Akhirnya, Pangeran Bulan dibebaskan karena kepintaran Pangeran Matahari menjawab pertanyaan dari Peri Air.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa kebaikan sejati tidak dinilai dari penampilan, melainkan dari ketulusan hati dan perilaku yang baik. Selain itu, kecerdasan dan kebijaksanaan dalam menghadapi masalah, dapat membantu menyelamatkan diri sendiri maupun orang lain.

3. Segelas Susu

Ada seorang anak laki-laki miskin yang menghabiskan hari-harinya dengan pergi dari rumah ke rumah dengan menjual koran untuk membiayai sekolah. Suatu hari, saat dia berjalan, dia mulai merasa rendah diri dan lemah. Bocah malang itu kelaparan, jadi dia mulai meminta makanan di setiap rumah yang dia singgahi.

Anak laki-laki malang itu selalu ditolak sampai dia mencapai pintu seorang gadis muda. Ia meminta segelas air, namun melihat keadaannya yang memprihatinkan, gadis itu kembali dengan membawa segelas susu. Anak laki-laki itu bertanya berapa utangnya untuk susu tersebut, namun dia menolak pembayaran.

Bertahun-tahun kemudian, gadis tersebut sudah dewasa, jatuh sakit. Dia pergi dari dokter ke dokter, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Akhirnya, dia pergi ke dokter terbaik di kotanya.

Dokter menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merawatnya hingga akhirnya dia sembuh. Meskipun dia bahagia, dia takut dia tidak mampu membayar tagihannya. Tapi, ketika rumah sakit menyerahkan tagihannya, tertulis, “Dibayar penuh, dengan segelas susu.”

Pesan moral: Cerita fiksi ini memberi pesan bahwa sejatinya kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia dan dapat kembali kepada kita pada waktu yang tak terduga. Menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan merupakan sikap mulia yang membawa manfaat bagi banyak orang.

4. Kisah Semut dan Belalang

Seekor belalang yang menghabiskan musim panasnya dengan bernyanyi dan bermalas-malasan. Sementara itu di sisi lain, koloni semut bekerja keras sepanjang musim panas untuk menyimpan persediaan makanan untuk musim dingin. Sang belalang menertawakan tindakan yang dilakukan koloni semut dan memberitahukan bahwa mereka seharusnya menikmati musim panas.

Para semut lantas memberi tahu belalang bahwa ia harus menyimpan makanan untuk musim dingin atau ia akan kelaparan di saat semuanya akan membeku.

Tibalah saat musim dingin, koloni semut berada di sarangnya, beristirahat dan bertahan hidup dari persediaan makanan yang telah mereka simpan.

Kemudian belalang datang ke sarang mereka dalam kondisi lapar dan kedinginan. Ia meminta para semut untuk membagi makanannya dan mengatakan bahwa ia telah menyadari kesalahannya. Koloni semut pun membagi makanan dengan belalang dan membuatnya berjanji untuk bekerja keras selama musim panas mendatang untuk mengumpulkan dan menyimpan makanan.

Pesan moral: Belajar dari kisah semut dan belalang, bahwa kerja keras, disiplin itu sangat penting untuk menghadapi masa sulit di kemudian hari. Selain itu, sikap mau mengakui kesalahan dan belajar dari pengalaman dapat membantu kita menjadi lebih baik.

5. Itik Buruk Rupa

Cerita dimulai dari sebuah peternakan di mana seekor bebek duduk di atas cengkeraman telur untuk membuatnya menetas. Telur-telur itu menetas satu per satu dan tak lama kemudian, enam anak itik berbulu kuning berkicau dengan penuh semangat.

Telur terakhir membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menetas dan muncullah seekor anak itik yang tampak aneh dengan bulu berwarna abu-abu. Semua orang menganggap itik abu-abu itu jelek, termasuk induknya.

Anak itik yang sedih tersebut lalu melarikan diri dan hidup sendirian di rawa hingga musim dingin tiba. Melihat seekor anak itik kelaparan, seorang petani mengasihani itik buruk rupa tersebut dan memberikan makanan serta tempat berlindung di rumah.

Namun, anak itik abu-abu itu takut kepada anak-anak petani yang ribut sehingga ia melarikan diri ke sebuah gua di tepi danau yang membeku. Saat musim semi tiba, sekawanan angsa cantik turun ke danau dan anak itik itu kini sudah beranjak dewasa, namun ia merasa kesepian, saat hendak mendekati angsa ia sudah bersiap akan ditolak. Namun mengejutkan, angsa menyambutnya.

Ia melihat bayangannya di air dan menyadari bahwa ia bukan lagi itik buruk rupa melainkan seekor angsa yang cantik. Angsa itu kemudian bergabung dengan kawanannya dan terbang bersama keluarga barunya.

Pesan moral: Cerita fiksi ini memberi pesan yang baik bahwa seseorang tidak boleh dinilai hanya dari penampilan luarnya saja. Ada keistimewaan yang mungkin belum terlihat.

6. Merkurius dan Penebang Kayu

Seorang penebang kayu sedang menebang pohon di tepi sungai, lalu kapaknya terlepas dari tangannya dan jatuh ke dalam air.

Saat dia sedang berdiri di tepi sungai dan meratapi kehilangannya, Merkurius muncul dan bertanya mengapa ia bersedih. Setelah mengetahui apa yang telah terjadi, karena kasihan atas kesedihannya, Merkurius menyelam ke dalam sungai, lalu muncul sambil membawa kapak emas, ia pun bertanya apakah itu kapak yang telah hilang.

Penebang kayu itu menjawab bahwa bukan. Merkurius kemudian menyelam untuk kedua kalinya, dan muncul lagi membawa kapak perak, ia bertanya apakah itu miliknya. "Tidak, itu juga bukan milikku," kata si Penebang Kayu. Sekali lagi Merkurius menyelam ke dalam sungai, dan muncul sambil membawa kapak yang hilang.

Si penebang kayu sangat gembira karena telah menemukan kembali hartanya, ia mengucapkan terima kasih kepada Merkurius dengan hangat atas kedermawanannya. Merkurius pun sangat senang dengan kejujuran si penebang kayu sehingga dia memberinya dua kapak lainnya.

Ketika si penebang kayu menceritakan kisah itu kepada teman-temannya, salah satu dari mereka dipenuhi dengan rasa iri atas keberuntungannya dan bertekad untuk mencoba peruntungannya sendiri.

Maka ia pun pergi dan mulai menebang pohon di tepi sungai, dan segera mengatur agar kapaknya jatuh ke dalam air.

Merkurius muncul seperti sebelumnya, dan, setelah mengetahui bahwa kapaknya telah jatuh, ia menyelam dan mengambil kapak emas, seperti yang telah ia dilakukan sebelumnya.

Tanpa menunggu untuk ditanya apakah itu miliknya atau bukan, orang itu berteriak, "Itu milikku, itu milikku," dan mengulurkan tangannya dengan penuh semangat untuk hadiah itu.

Namun, Merkurius sangat muak dengan ketidakjujurannya sehingga ia tidak hanya menolak untuk memberinya kapak emas, tetapi juga menolak untuk mengambil kembali kapak yang telah ia jatuhkan ke sungai.

Pesan moral: Dari cerita fiksi ini, kita belajar bahwa kejujuran akan membawa kebaikan dan penghargaan, sedangkan ketidakjujuran justru dapat mendatangkan kerugian. Selain itu, sifat iri hati dan keserakahan dapat membuat seseorang kehilangan apa yang sudah dimilikinya.

7. Gagak yang Memangsa Kambing

Setiap kali Elang terbang kesana kemari, dari bukit ke tempat tinggalnya, Elang tidak pernah tahu, kalau ia memiliki pengagum. Di saat Elang terbang, melayang, dan menukik, ada seekor gagak hitam yang selalu mengawasinya. Gagak sangat menyukai cara Elang terbang dan menyambar mangsanya.

"Aku juga bisa seperti Elang. Suatu saat, aku akan mencoba untuk menyambar anak kambing," gumam Gagak sambil membayangkan mimpinya itu.

Gagak pun bergegas untuk menghampiri Elang. Ia ingin bertanya langsung pada si Burung itu terkait aksinya yang menyambar hewan lain untuk dimangsa.

"Hai, Elang. Perkenalkan aku Gagak, tetanggamu satu bukit," sapa Gagak ke Elang.

"Oh, halo juga Gagak. Ya, aku tahu kalau kita tinggal di bukit yang sama," jawab Elang sambil tersenyum padanya.

"Benarkah? Tahu dari mana?," tanya Gagak yang heran sekaligus bangga.

"Aku terbang setiap hari, jadi aku tahu apa yang ada di bawah." tukas Elang.

Mendengar jawaban itu, Gagak pun tersenyum malu. Di dalam hatinya, ada perasaan bangga sebab Elang memperhatikan keberadaannya.

"Hei, Elang, aku ingin bertanya. Saat menukik dan menyambar anak kambing, apakah kamu tidak merasa berat?" ungkap Gagak penuh penasaran.

"Tentu saja tidak. Aku sudah terbiasa melakukannya. Anak kambing yang lebih besar saja sudah pernah kusambar. Aku juga pernah menyambar dengan kecepatan tinggi, sehingga binatang buruanku tidak punya waktu untuk menghindar." Elang bercerita.

"Oh, Gagak suka berburu juga?" sahut Elang.

"Iya. Aku sangat suka berburu," jawab Gagak berbohong.

Pada suatu kesempatan, di lembah ada anak kambing sedang mencari makan. Dari kejauhan, di atas batang pohon, Gagak telah memperhatikannya dengan seksama.

Selanjutnya, Gagak pun segera terbang dengan melesat cepat. la merasa dirinya terbang layaknya elang. Cakarnya direntangkan dan menyambar anak kambing incarannya.

Namun, sayangnya ia tidak bisa mengangkat buruannya. Kambing tersebut sangat berat. Naasnya, kaki Gagak pun terlilit tali yang mengikat leher anak kambing itu. Gagak pun terjebak.

Tak lama kemudian, datanglah penggembala yang terkejut mendengar anak kambingnya mengembik. Saat dilihatnya, seekor gagak menempel di punggung anak kambing.

Menyaksikan hal tersebut, pengembala pun kesal dan menangkap si Gagak.

Pesan moral: Cerita fiksi ini memberi pesan bahwa setiap makhluk memiliki kemampuan yang berbeda. Sama halnya, kita tidak boleh memaksakan diri meniru orang lain tanpa memahami batas kemampuan sendiri. Selain itu, kesombongan dapat membawa kerugian.

8. Anak Gembala dan Serigala

Suatu ketika ada seorang anak gembala yang bekerja pada saudagar kaya. Ia bekerja sehari-hari dengan merawat serta menjaga seluruh domba majikannya. 

Selama menjalani tugasnya, majikan anak tersebut selalu berpesan padanya jika ada serigala yang mendekat, maka ia bisa berteriak meminta tolong kepada warga desa setempat.

Memiliki kegiatan rutin yang hanya menjaga domba di tepi hutan membuat anak gembala itu merasa bosan. Ia pun terbersit untuk melakukan tindakan jahil yang tak terduga.

Sang anak tiba-tiba berteriak, “Tolong! Ada serigala di sini, tolong!”

Mendengar teriakan meminta tolong tersebut, warga desa berbondong-bondong datang menghampiri dan berniat menolong anak tersebut dari serigala. Namun sesampainya di dekat sang anak, ternyata anak gembala hanya bergurau dan menjelaskan ia berteriak karena bosan. Mendengar hal itu, warga merasa kesal lalu berjalan pulang.

Kemudian, selang beberapa hari kemudian anak gembala tersebut kembali bercanda berteriak meminta tolong sebab adanya serigala. Lagi-lagi, warga tertipu dan merasa kesal sebab si anak gembala hanya tertawa melihat wajah tegang warga yang merasa khawatir.

Sampai pada suatu sore, datanglah segerombolan serigala yang memangsa domba yang si anak. Sebab merasa takut, si anak gembala langsung berteriak meminta tolong. Sayangnya, kali ini tidak ada satupun warga yang datang menolongnya. Para warga sudah tidak percaya lagi dengannya.

Kawanan serigala berhasil menghabisi banyak domba dan membawa masuk sisanya ke dalam hutan. Kejadian tersebut membuat si anak gembala menyesal dan berjanji tak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Pesan moral: Cerita fiksi ini mengajarkan agar kita tidak boleh berbohong. Kejujuran sangat penting karena kebohongan yang dilakukan berulang kali dapat membuat orang lain kehilangan kepercayaan.

9. Kisah Si Cucing Pindah Rumah

Seekor kucing bernama Cucing menggigit tengkuk anaknya satu-satu. la pindah tempat tinggal. Beberapa hari kemudian, Cucing memindahkan lagi anak- anaknya ke lain tempat. Burung Pipit tersenyum melihat kelakuan Cucing. "Ngapain kucing kurang kerjaan itu, setiap waktu memindahkan anak-anaknya" ejeknya dalam hati.

"Selamat pagi, binatang kurang kerjaan," sapa Burung Pipit.

Cucing menjawab, "Maksudnya siapa yang kurang kerjaan?"

"Kamu," cuit burung Pipit tersenyum mengejek.

"Kurang kerjaan bagaimana?"

"Setiap waktu selalu memindahkan anak-anakmu. Bukankah itu kurang kerjaan?"

"Kalau kamu tidak mengerti sesuatu, sebaiknya jangan bicara," jawab Cucing.

Suatu hari, Burung Pipit menangis. Anak-anaknya hilang. Sarangnya kosong. Rupanya, seekor ular yang sejak seminggu lalu mengintai Burung Pipit dan telah menemukan sarangnya.

"Hai, Pipit, kamu kenapa?" teriak Cucing yang sedang bermain dengan anak-anaknya di bawah sarang Burung Pipit.

"Anak-anakku dicuri ular," jawabnya sembari menangis. "Kamu mengerti, bukan, tujuanku memindahkan anak-anakku. Kalau tempatnya tetap, anak-anakku bisa hilang dimangsa musang. Carilah tempat tinggal yang lebih tersembunyi atau lebih tinggi," ucap Cucing. Burung Pipit akhirnya mengerti alasan Cucing sering memindahkan anak-anaknya.

Pesan moral: Kisah Si Cucing memberi pesan bahwa kita tidak boleh terburu-buru menilai atau mengejek tindakan orang lain sebelum memahami alasan di baliknya.

10.  Rubah dan Gagak

Pada suatu hari, hiduplah seekor rubah yang sedang kelaparan karena belum makan. Kemudian, rubah tersebut melihat seekor gagak yang terbang melintas membawa sepotong daging di paruhnya. Gagak tersebut pun hinggap di dahan pohon.

Rubah pun akhirnya menghampiri ke bawah pohon tempat gagak hinggap. Ia memuji gagak hingga gagak tersebut pun senang dan tersipu malu.
Melihat reaksi gagak, rubah melanjutkan rencananya. Ia kembali memuji gagak.

"Melihat penampilanmu yang luar biasa, aku yakin suaramu pasti melebihi suara burung lain di hutan ini. Biarkanlah aku mendengar satu lagu darimu, Nyonya Gagak. Tentu akan terdengar sangat merdu!" kata rubah.

Gagak yang merasa tersanjung pun mulai bernyanyi. Potongan daging yang tadi ada di paruhnya pun terjatuh ke tanah dan dengan cepat dibawa pergi oleh rubah. Gagak pun menyesali peristiwa tersebut. Ia menyesal karena lengah telah dipuji.

Pesan moral: Dari cerita fiksi ini mengajarkan kita tidak boleh mudah terlena oleh pujian karena tidak semua pujian diberikan dengan niat yang baik. Selain itu, sikap waspada dapat membantu kita terhindar dari kejahatan.

11. Beruang dan Lebah

Suatu hari, seekor beruang tengah menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan. Di tengah pencarian, ia menemukan pohon tumbang di mana terdapat sarang tempat lebah menyimpan madu.

Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut.

Tepat pada saat itu, sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.

Seketika Beruang tersebut menjadi sangat marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi hal ini malah membuat seluruh kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang.

Beruang yang malang itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menyelam ke dalam air sungai.

Pesan moral: Cerita fiksi ini memiliki pesan moral bahwa alangkah lebih bijaksana untuk menahan diri daripada menambah masalah akibat melampiaskan emosi.

12. Taman Si Raksasa

Raksasa sedang pergi selama lima tahun di lain. Sekarang, dia kembali ke rumahnya yang sangat besar dengan taman di depannya. Ia melihat anak-anak sedang bermain. 

Raksasa lalu memarahi mereka, "Apa yang kalian lakukan di sini? Pergi! Ini taman milikku!" 

Anak-anak ketakutan dan berlari meninggalkan taman itu. Raksasa lalu membangun tembok yang tinggi mengelilingi taman itu. Anak anak kehilangan taman tempat bermain. Bunga-bunga di taman itu tidak lagi bermekaran. 

Burung-burung tidak lagi berkicau dan pohon-pohon berhenti berbuah. Raksasa tidak mengerti mengapa taman miliknya menjadi tidak indah lagi. 

Raksasa mendengar suara musik yang mengalun. Ternyata itu adalah suara kicauan burung di luar jendelanya. Raksasa mendekat ke jendela dan mendengarkan kicauan burung itu dengan sedih. 

"Apa yang terjadi dengan tamanku? Aku berharap tamanku bisa menjadi indah seperti dulu, dengan burung-burung yang berkicau merdu seperti kamu," kata Raksasa kepada burung itu.

“Pohon, bunga-bunga, rumput, dan kami para burung menginginkan kehadiran anak-anak yang menjadikan tempat ini kembali penuh keceriaan,” kata si burung.

Raksasa menyadari kesalahannya. Selama ini ia terlalu egois, dan akibatnya ia hidup sendirian dan merasa kesepian. Raksasa pun menghancurkan tembok yang mengelilingi tamannya, lalu dipanggilnya anak-anak untuk bermain di taman. 

Taman itu pun kembali penuh dengan anak-anak yang bermain gembira. Bunga-bunga pun kembali bermekaran di antara rerumputan yang hijau. Daun-daun dan buah-buahan memenuhi pohon-pohon, beserta burung-burung yang berkicau dengan merdu.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa sikap egois dan tidak peduli kepada orang lain dapat membuat hidup menjadi sepi dan tidak bahagia. Sebaliknya, berbagi, bersikap ramah kepada sesama dapat membawa kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.

13. Seruling yang Tertinggal di Tepi Hutan

Seorang anak lelaki mendapat sebuah seruling baru dari ayahnya. la sangat menyukainya. Suatu hari, saat bermain main di tepi hutan, ia lupa membawa pulang serulingnya.

Seruling itu tergolek di atas rerumputan. Seekor kelinci kecil muncul di seruling itu. 

"Apa ini?" ucapnya ketika melihat seruling. 

"Apakah benda ini dapat menggigit?" Dengan hati-hati kelinci itu mendekati seruling. la lega karena benda itu tak dapat menggigitnya. Seekor katak tiba-tiba muncul. "Apa ini?" tanyanya saat melihat seruling. 

"Benda itu tidak dapat menggigit," kata kelinci.

"Apakah benda ini dapat melompat?" tukas katak. la lalu menyentuh seruling. Benda itu tak dapat melompat. 

Berikutnya seekor burung murai muncul. "Apa ini?" tanya burung itu saat melihat seruling.

"Benda itu tak dapat menggigit," kata kelinci. 

"Benda itu tak dapat melompat," tambah katak.

"Apakah benda ini dapat bernyanyi?" tanya burung murai. Dengan hati-hati ia mendekatkan telinganya ke seruling itu. Benda itu tak mengeluarkan bunyi apa-apa. 

Seekor landak kemudian muncul. "Apa ini?" tanya landak saat melihat seruling. 

"Benda itu tidak dapat menggigit." kata kelinci. 

"Benda itu tidak dapat melompat," tambah katak. 

"Benda itu tak dapat bernyanyi," cetus burung murai. 

"Apakah benda ini enak dimakan?" tanya landak. la lalu menggigit seruling. Wow, benda itu keras sekali! 

Si anak lelaki muncul. la mencari serulingnya. "Itu dia!" serunya gembira saat melihat seruling miliknya. Diambilnya seruling itu dan ditiupnya. Teeet! Saat mendengar seruling itu dibunyikan, kelinci, katak, burung murai, dan landak seketika berlari menjauh. Mereka ketakutan. Di tempat yang agak jauh barulah mereka berani berkata, "Oh, ternyata itulah yang dapat dilakukan benda itu!"

Pesan moral: Cerita ini berpesan bahwa rasa ingin tahu akan membantu kita mengenal sesuatu dengan lebih baik.

14. Peri di Pulau Sicilia

Princess Orianna sedang berkunjung ke salah satu pulau indah yang bernama Pulau Sicilia. Pulau ini terkenal karena kisah para perinya. Princess Orianne menemui Princess Eunice yang sedang menanam beberapa bunga.

Ketika Princess Orianna mengatakan tujuannya untuk bertemu peri kepada Princess Eunice, sahabatnya itu bercerita, "Bunga-bunga inilah yang membuatku kenal dengan para peri. Aku akan berkisah tentang peri-peri untukmu," kata Princess Eunice.

Dahulu, Raja akan sangat marah ketika mendengar Princess Eunice bercerita tentang sosok manusia kecil yang bersayap. Bahkan, banyak orang yang menganggap Princess Eunice gila karena percaya keberadaan peri.

Princess Eunice berkata pada sang ayah "Baiklah, Ayah, aku tidak akan berkisah tentang peri-peri lagi," Sejak saat itu, Princess Eunice sangat sedih karena tidak ada yang percaya dengan ucapannya. Setiap hari ia mengurung diri di kamar.

Pada suatu malam, Princess Eunice kesulitan untuk tidur. Terdengar musik indah mengalun di tengah malam. Ia pun mengintip dari jendela. Ternyata, ada sekumpulan peri sedang memainkan musik dan ada yang berdansa.

Peri itu keluar dari bunga-bunga yang ditanam Princess Eunice. Diam-diam, Princess Eunice mendekati para peri itu. la berjalan sangat pelan lalu Princess Eunice diajak berdansa dengan para peri.

Sejak kejadian itu , setiap menjelang tengah malam, Princess Eunice akan terbangun dan bermain bersama peri-peri. Mereka sangat berterima kasih kepada Princess Eunice yang telah merawat bunga-bunga yang menjadi tempat tinggal mereka.

Princess Eunice berulang tahun seminggu lagi, la mengundang seluruh rakyatnya. Tak lupa ia mengundang para peri walaupun ia tahu peri-peri itu tidak mungkin menghadiri pesta ulang tahunnya.

Sayangnya, hanya sedikit penduduk yang hadir ke pesta ulang tahunnya. Sebagian masyarakat menganggap Princess Eunice telah membohongi mereka dengan kisah peri-peri. Tanpa diduga terdengar suara musik mengalun indah.

Para tamu terdiam dan mencari-cari sumber musik tersebut. Princess Eunice hanya tersenyum. la tahu betul asal dengan musik itu. Para peri beriringan memainkan musik sambil bernyanyi dan menari. Semua tamu terkejut dan terdiam ketika melihat makhluk-makhluk mungil bersayap indah tersebut.

"Selamat ulang tahun, Princess Eunice. Kami memenuhi undanganmu," kata salah satu peri sambil memberikan hadiah bros kecil bercahaya.

Mulai saat itu, semua hadirin percaya peri-peri itu memang ada dan tinggal di kelopak bunga.

Princess Eunice kembali dipercaya oleh sahabat-sahabatnya. Potongan peta milik Princess Orianna kembali muncul satu bagiannya.

Princess Orianna pun berterima kasih atas cerita yang pernah ada di kerajaan Princess Eunice. Ia pun kemudian berpamitan untuk melanjutkan petualangannya.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa kebenaran selalu menemukan jalannya walaupun orang lain tidak mempercayai kita.

15. Raja Parkit yang Cerdik

Di hutan Aceh yang luas, hiduplah burung-burung parkit. Mereka hidup damai dan setiap hari bernyanyi. Suatu ketika, mereka tertangkap perekat seorang pemburu. Dengan ketakutan, mereka berusaha melepaskan diri. Hanya Raja Parkit yang terlihat lebih tenang.

"Saudara-saudaraku, tenanglah!" seru Raja Parkit. "Aku punya ide bagus. Jika nanti si pemburu datang, kita harus pura-pura mati. Pada saat si pemburu membuang kita, tunggu sampai hitunganku keseratus, lalu kita terbang bersama-sama!"

Rakyatnya setuju dengan usul Raja Parkit. Esoknya, si pemburu muncul. Namun, ia amat kecewa karena tangkapannya mati semua. Bruk! Si pemburu tersandung batu. Ia terjatuh. Burung-burung parkit pun terkejut. Mereka beterbangan tanpa menunggu hitungan. Raja Parkit itu pun tertangkap.

"Jangan bunuh aku...," pinta Raja Parkit. "Sebagai imbalan, aku akan menghiburmu dengan suaraku yang merdu setiap hari."

Si pemburu pun membawa Raja Parkit pulang. Sesuai janjinya, setiap hari Raja Parkit bernyanyi. Suaranya amat merdu. Semua yang mendengar memuji kehebatannya.

Kabar tentang kemerduan suara Raja Parkit tersebar ke pelosok negeri hingga sampailah ke telinga Raja Aceh. Raja Aceh memerintahkan peraturan untuk menukarkan Raja Parkit dengan harta benda yang berlimpah. Si pemburu pun menerima tawaran Raja Aceh.

Raja Parkit tiba di istana. Ia ditempatkan di sebuah sangkar emas. Setiap hari ia diberi makanan lezat. Namun, ia sangat rindu hutan tempat asalnya. Suatu hari, ia berpura-pura mati. Melihat Raja Parkit mati, Raja Aceh bersedih. Ia memerintahkan upacara penguburan. Ketika si Raja Parkit diletakkan di luar sangkar, seketika ia terbang dan kembali ke hutan.

Pesan moral: Cerita fiksi ini memiliki psan bahwa jika dilanda kesulitan, kita harus bersabar dan terus mencari akal agar menemukan jalan keluar.

16. Buaya Sakit Gigi

Seekor buaya menangis tersedu-sedu dengan air mata yang berlinang. Kemudian, seekor tikus ladang datang dan bertanya "Mengapa kau?"

"Tadi aku menggigit buah kenari," jawab buaya sambil terus menangis. "Lalu gigiku patah separuh dan sekarang terasa sakit sekali."

"Hanya itu?" Tanya tikus ladang. " Aku tahu obatnya."

Tikus ladang pun pergi lalu kembali menemui buaya sambil membawa akar pohon bunga mawar. "Kau harus mengisap akar ini," ucapnya pada buaya. "Nanti sore tentu sakitnya berangsur hilang. Selain itu, syal sutera ini akan membuatmu merasa enak,"

Sesuai arahan tikus ladang, buaya mengisap-isap akar pohon mawar yang manis. Dan benar, sorenya giginya tidak sakit lagi, bahkan ia sudah bisa tertawa. Ketika ia sedang tertawa, ia melihat giginya yang patah setengah, kini giginya memang tidak sakit lagi, tetapi giginya pun tanggal semua dan tidak bisa tumbuh lagi.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa kita harus berhati-hati dalam menerima saran. Cari tahu terlebih dahulu agar tidak merugikan kita.

17. Tantangan Raja

Pada zaman dahulu, berdirilah sebuah negeri makmur bernama Kerajaan Ditu. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang terkenal adil dan bijaksana. Sang raja memiliki dua orang putri, yaitu Putri Lily dan Putri Kemuning.

Sejak kecil, kedua putri mendapatkan pendidikan yang sama. Namun, watak mereka sangat bertolak belakang. Putri Lily cenderung terburu-buru dan mengandalkan keyakinan tanpa perhitungan yang matang. Sebaliknya, putri Kemuning dikenal lebih teliti dan selalu mempertimbangkan segala hal sebelum bertindak.

Ketika usia raja semakin lanjut, ia mulai memikirkan siapa yang pantas menggantikan dirinya sebagai penerus takhta kerajaan. Sang raja mengadakan sebuah ujian untuk para putrinya selama enam bulan. Kedua putrinya diminta untuk menanam satu biji semangka dan hasil panen nantinya harus dijual di pasar. Siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari penjualan tersebut, ia akan menjadi penerus takhta berikutnya.

Putri Lily menerima tantangan itu dengan penuh percaya diri. Ia yakin jumlah panen adalah kunci kemenangan. Ia pun rajin bertanya kepada orang-orang istana demi menghasilkan buah sebanyak mungkin. Sementara itu, Putri Kemuning mengandalkan pengetahuan yang ia peroleh dari buku-buku. Ia menanam biji semangka dengan sabar dan penuh perhatian. Putri Kemuning memahami bahwa setiap tanaman membutuhkan proses untuk ditanam.

Tiga bulan berlalu. Tanaman Putri Kemuning menghasilkan tiga buah semangka, sedangkan milik Putri Lily menghasilkan empat buah semangka. Melihat hasil itu, Putri Lily merasa sudah pasti menang dan langsung membawa semangkanya ke pasar untuk dijual.

Putri Kemuning justru merenung. Dalam hatinya ia bertanya, mengapa ayahnya sang raja memberi waktu hingga enam bulan jika semangka bisa berbuah hanya dalam tiga bulan. Dari situlah ia menemukan ide, ia memotong semangka miliknya dan membagikannya kepada para nelayan. Setelah selesai, ia mengumpulkan lagi biji-biji semangka yang tersisa. Sisa biji semangka itu ada seratus, lalu ia menanamkannya kembali dengan penuh kesabaran.

Tiga bulan berikutnya, tanaman itu berbuah lebat. Putri Kemuning memanen tiga ratus semangka dan menjualnya ke pasar. Putri Kemuning pun menghasilkan uang dalam jumlah yang sangat besar.

Saat menghadap raja, putri Lily dengan bangga menyerahkan hasil penjualannya. Tak lama kemudian, Putri Kemuning datang membawa uang jauh lebih banyak. Putri Lily terkejut dan berkata, "Bagaimana mungkin hasilmu sebanyak itu?".

Putri Kemuning menjawab dengan tenang, "Itu berasal dari penjualan 300 semangka".

Raja pun meminta penjelasan. Dengan sopan, Putri Kemuning menceritakan bahwa ia menanam kembali biji semangka dari panen pertama. Para nelayan yang diberi semangkanya pun dipanggil dan membenarkan ceritanya.

Mendengar itu, Putri Lily merasa malu dan menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf kepada Putri Kemuning dan menerimanya sebagai penerus takhta dengan lapangan dada.

Sang raja pun tersenyum puas. Ia akhirnya yakin bahwa kesabaran, kecerdikan, dan cara berpikir jauh ke depan milik Putri Kemuning adalah bekal terbaik untuk memimpin kerajaan.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan kita harus sabar, rajin berpikir, dan tidak terburu-buru agar mendapatkan hasil yang baik. Selain itu, kita juga harus jujur dan tidak mudah menuduh orang lain karena sikap baik akan membawa kebaikan.

18. Kota Pandora

Suatu ketika, Zeus, raja para dewa, menyuruh Hephaestus membuatkan seorang putri. Lalu, Hephaestus menciptakan seorang perempuan dari tanah liat.

Perempuan itu diberi nama Pandora. Zeus mengirim Pandora turun ke bumi dan menikahkannya dengan Epimetheus. Zeus melakukan semua ini untuk balas dendam kepada Promotheus. Promotheus telah memberikan api kepada manusia tanpa izin Zeus.

Zeus memberikan sebuah kotak yang dikunci kepada Pandora dan memintanya berjanji untuk tidak membuka kotak itu. Ia juga memberikan kunci kotak itu kepada Epimetheus dengan pesan yang sama. Zeus yakin bahwa Epimetheus dan Prometheus tidak akan membuka kotak itu.

Pandora penasaran, ia ingin tahu apa yang ada di dalam kotak yang terkunci rapat itu. Ia meminta kunci kepada suaminya, namun Epimetheus tidak memberikannya.

Pandora terdiam, Namun, rasa ingin tahunyaa tidak bisa dibendung. Ketika Epimetheus tidur lelap, Pandora mengambil kunci dan membuka kotak itu. Dari dalam kotak keluarlah segala macam penyakit, iri hati, kebencian, kejahatan, dan semua hal yang buruk itu telah terbang ke dunia.

Epimetheus terbangun oleh tangisan Pandora. Pandora menceritakan apa yang terjadi. "Aku tidak dapat menangkap mereka. Lihatlah kotak ini sekarang kosong."

Pandora membuka kotak dan menunjukkannya kepada suaminya. Seekor kumbang kecil terbang keluar sebelum Pandora sempat menutup kota itu kembaali.

Kumbang kecil itu terbang mengelilingi Pandora. "Aku adalah harapan," kata kumbang itu.

"Aku berterima kasih kepadamu karena telah membebaskanku. Aku akan turun ke bumi menyertai mereka." Kumbang kecil itu pun melesat turun ke bumi.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan, meskipun di dunia disertai oleh iri hati, kejahatan, dan kebencian, tetap ada kebaikan bersama kita.

19. Gadis Kecil Penjual Korek Api

Gadis kecil ini bernama Meri. Meri sangat sedih ketika neneknya meninggal. Akhirnya, ia hanya hidup dengan ayahnya.

Tapi ayah Meri sangat malas tidak mau bekerja, sehingga membuat mereka tidak punya cukup uang untuk membeli bahan makanan. Akhirnya, saat musim dingin tiba Meri keluar rumah dan menjual korek api.

Meri tidak pantang menyerah, walaupun kedinginan dan bajunya tidak tebal. Sudah beberapa hari korek apinya belum ada yang terjual. Hari semakin malam dan ia duduk di depan toko sambil menahan dingin dan lapar.

Akhirnya, ia menyalakan korek api untuk menghangatkan tangan sampai korek api itu habis dan Meri pingsan karena kedinginan. Esoknya warga menemukan Meri pingsan dan menyesal tidak membeli korek api Meri.

Pesan moral: Cerita fiksi ini mengajarkan kita untuk saling menolong. Jika mampu, sudah sepatutnya kita menolong tetangga, teman, dan orang-orang di sekitar.

20. Si Lingga dan Si Purba

Lingga dan Purba adalah dua bersaudara yang sangat miskin. Mereka bekerja sebagai pencari kayu bakar dan rotan di dalam hutan.

Suatu hari, saat beristirahat di bawah pohon, Lingga teringat pesan orang tuanya. Jika berdoa dengan ikhlas, keinginan kita akan dikabulkan.

Lingga mengajak Purba berdoa. Selesai berdoa dengan khusyuk, tiba-tiba seekor burung terbang mendekat. "Hai, anak muda, kekayaan apakah yang kalian kehendaki?"

Lingga dan Purba menjawab ragu, "Berikan kami emas sebesar kepala kuda."

Ketika hendak pulang, mereka menemukan bongkahan emas sebesar kepala kuda. Kedua pemuda itu sangat gembira. Mereka pun mulai mengkhayal apa saja yang akan mereka beli dari hasil menjual emas itu. Lingga ingin memiliki emas itu sendiri. Purba pun berpikir demikian.

Karena sedang lapar, mereka tidak bisa mengangkut emas itu. Lingga meminta Purba untuk mengambil makanan di rumah. Purba setuju. Sepeninggal Purba, ternyata Lingga membuat lubang perangkap di dekat bongkahan emas. Ia menancapkan bambu-bambu runcing di dalamnya, lalu menutupinya dengan daun-daun kering.

Setelah kenyang, Purba kembali ke hutan. Ia melihat Lingga masih menunggu. Purba mendekati saudaranya dengan gembira. Ketika hampir sampai, Purba terjatuh ke dalam lubang. Makanan yang ia bawa terlempar ke luar.

Lingga senang karena jebakannya berhasil. Ia segera makan dengan lahap. Tak lama, Lingga pun muntah karena ternyata Purba telah meracuninya. Keduanya meninggal dunia dan tidak seorang pun bisa memiliki bongkahan emas itu.

Pesan moral: Cerita fiksi ini berpesan bahwa sifat serakah akan selalu membawa celaka.

Demikian 20 cerita fiksi singkat yang kaya akan pesan moral untuk anak-anak. Dongeng atau cerita fiksi dapat dijadikan bahan pembelajaran anak mengenai pesan kehidupan melalui cara yang menyenangkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Cerita Fabel Animasi: Beruang dan Lebah

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

5 Potret Hawwa Anak Kedua Shireen Sungkar, Paras Cantiknya Mirip Banget Sang Bunda

Parenting Nadhifa Fitrina

Potret Liburan Kiky Saputri & Keluarga ke Korea Selatan, Cantiknya Kayya Curi Perhatian

Mom's Life Nadhifa Fitrina

Cara Mengenali Perempuan Pintar dan Kompeten, Kerap Ucap 11 Kalimat Profesional Ini

Mom's Life Amira Salsabila

10 Tempat & Rumah Sunat Terdekat di Bogor Beserta Kisaran Harganya

Parenting Nadhifa Fitrina

Ini yang Terjadi pada Otak Bayi jika Diajak Berkomunikasi Sejak di Kandungan

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

5 Potret Hawwa Anak Kedua Shireen Sungkar, Paras Cantiknya Mirip Banget Sang Bunda

Ini yang Terjadi pada Otak Bayi jika Diajak Berkomunikasi Sejak di Kandungan

10 Tempat & Rumah Sunat Terdekat di Bogor Beserta Kisaran Harganya

7 Aktivitas Seru di The Nice Funtastic Park untuk Liburan Keluarga Unik

Cara Mengenali Perempuan Pintar dan Kompeten, Kerap Ucap 11 Kalimat Profesional Ini

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK