HaiBunda

PARENTING

Mengenal 'Teen-ternity', Tren Orang Tua Rela Tinggalkan Karier demi Dampingi Anak Remaja

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Jumat, 31 Jul 2026 18:15 WIB
Mengenal 'Teen-ternity', Tren Orang Tua Rela Tinggalkan Karier demi Dampingi Anak Remaja/ Foto: Getty Images/iStockphoto/Thanarak Worakandecha
Jakarta -

Ketika anak memasuki usia remaja, tantangan orang tua sudah pasti berubah. Orang tua tak lagi sebatas memenuhi kebutuhan fisik atau mengawasi aktivitas sehari-hari anak-anaknya, Bunda.

Masa transisi memasuki usia remaja sering kali diwarnai perubahan emosi dan pencarian jati diri, yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan dan media sosial. Kondisi tersebut akhirnya mendorong sebagian orang tua mengambil keputusan besar, yakni rela meninggalkan karier demi mendampingi anak remaja atau dikenal dengan istilah 'teen-ternity'.

Apa itu 'teen-ternity'?

Dikutip dari laman Times of India, 'teen-ternity' adalah gabungan dari kata 'teen' yang berarti remaja, dan 'maternity' atau kehamilan. 'Teen-ternity' adalah gagasan bahwa remaja mungkin sebenarnya menuntut kehadiran emosional yang lebih besar dari orang tua daripada masa kanak-kanak. Tidak seperti cuti melahirkan atau cuti ayah, 'teen-ternity' bukanlah kebijakan resmi di tempat kerja.


Istilah tersebut menyebar secara daring karena orang tua mulai terbuka dengan keputusan untuk mengurangi jam kerja, beralih ke pekerjaan yang fleksibel, atau malah meninggalkan karier hanya untuk berada di sekitar anak-anaknya yang memasuki masa remaja. Orang tua yang bekerja mulai mengakui bahwa membesarkan anak remaja bisa lebih sulit dibandingkan membesarkan balita.

Alasan orang tua melakukan 'teen-ternity' sebenarnya cukup sederhana. Remaja tidak lagi membutuhkan bantuan orang tuanya untuk mengikat tali sepatu mereka. Namun, mereka sering kali membutuhkan dukungan emosional yang lebih dari sebelumnya, Bunda.

Remaja sekarang berbeda dengan yang dulu

Orang tua perlu memahami kalau remaja masa kini berbeda dengan remaja di zaman dulu. Survei di Pew Research Center tahun 2024 terhadap lebih dari 1.300 remaja di Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa hampir dari setengahnya mengatakan kalau mereka banyak menghabiskan waktu di dunia maya (online).

Bagi remaja zaman sekarang, sekolah tidak lagi berakhir saat bel berbunyi. Persahabatan dapat berlanjut melalui dunia maya, seperti di Instagram.

Perubahan pola pikir dan kebiasaan tersebut sebenarnya disadari oleh para remaja. Dalam survei lanjutan Pew Research Center tentang media sosial dan kesehatan mental, dilaporkan hampir setengah dari remaja mengatakan bahwa mereka percaya media sosial memiliki efek negatif pada orang seusia mereka.

Perubahan zaman yang memengaruhi kehidupan para remaja tersebut lantas membuat para orang tua menyadari bahwa masa-masa transisi ini penting bagi seorang anak. Mereka membutuhkan bimbingan lebih dari orang tuanya.

Alasan orang tua memilih ikut tren 'teen-ternity'

Sebagian orang tua memilih ikut tren 'teen-ternity' karena perilaku umum yang dialami oleh kebanyakan remaja, Bunda. Orang tua mengatakan remaja hampir tidak pernah memberi tahu kapan mereka perlu bicara. Hal tersebut dianggap menjadi tanpa peringatan.

Dalam tren 'teen-ternity', orang tua memilih pekerjaan yang fleksibel, sementara yang lain menolak promosi atau beralih ke pekerjaan paruh waktu. Mereka melihat keputusan ini sebagai investasi dalam fase kehidupan remaja yang mereka yakini sama pentingnya dengan masa bayi.

Banyak psikolog perkembangan menyebut masa remaja sebagai salah satu tahap paling kritis dalam pertumbuhan manusia. Remaja berupaya menuju kemandirian, tetapi diam-diam masih membutuhkan jaring pengaman emosional yang diberikan orang tua mereka. Bagi sebagian orang tua, kondisi tersebut dapat membingungkan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Development and Psychopathology tahun 2023 menemukan bahwa remaja yang mengalami lebih banyak kehangatan dari orang tua secara konsisten cenderung lebih kecil kemungkinan menunjukkan tanda-tanda depresi, baik selama masa remaja maupun di awal masa dewasa.

Konsep 'teen-ternity' sebenarnya relevan bagi banyak orang tua zaman sekarang. Konsep ini menantang anggapan tentang pengasuhan anak selama beberapa generasi, yakni bahwa anak-anak semakin sedikit membutuhkan orang tua seiring bertambahnya usia.

Pada dasarnya, konsep ini menilai bahwa bayi membutuhkan orang tua untuk bertahan hidup. Sementara itu, remaja membutuhkan orang tuanya untuk merasa stabil. Bagi remaja, kehadiran orang tua berkaitan dengan kebutuhan emosional, di mana kebutuhan itu tidak hilang, namun bentuknya saja yang berubah.

Itulah penjelasan terkait tren 'teen-ternity' yang sedang populer belakangan ini, Bunda. Semoga informasi ini bermanfaat ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Kosakata Anak Makin Menurun karena Screen Time, Ini Faktanya

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ini Dia Negara Paling Jujur dan Paling Tidak Jujur di Dunia, Indonesia Masuk Mana?

Mom's Life Amira Salsabila

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Parenting Annisa Karnesyia

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

Parenting Tim HaiBunda

Darah Haid Menggumpal seperti Daging Hati Ayam, Apakah Normal?

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

4 Kode Warna dan Abjad Nutri-Level di Produk Pangan Olahan

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Dongeng: Anak Itik Buruk Rupa

Bayi Minum ASI Banyak Hari Ini tapi Besok Sedikit, Normalkah?

5 Potret Andy /rif Bersama Kedua Putranya, Beda Postur Tubuh Ayah-Anak Jadi Sorotan

Seberapa Efektif Pola Asuh 5:1 untuk Bangun Hubungan yang Sehat antara Anak dan Orang Tua?

Rayakan Hari Anak Nasional Lewat Momen Penuh Keceriaan Bersama Anak-anak Pejuang Kanker

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK