HaiBunda

PARENTING

DDTK Bayi dan Balita: Aturan Usia, Manfaat Beserta Cara Mendeteksinya

Kinan   |   HaiBunda

Minggu, 16 Aug 2026 15:35 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/PeopleImages
Jakarta -

Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) anak penting untuk dilakukan. Sesuai namanya, DDTK merupakan pemeriksaan untuk melihat apakah ada keterlambatan perkembangan pada anak. 

Biasanya DDTK bayi dan balita dilakukan di faskes dasar seperti Posyandu atau Puskesmas, sesuai jadwal yang ditentukan. Pemeriksaan DDTK Posyandu juga bisa dimanfaatkan oleh Bunda agar tidak lupa memantau tumbuh kembang Si Kecil secara berkala.

Beberapa komponen yang diperiksa mencakup mengukur fisik, serta memantau berbagai tonggak perkembangan anak. Termasuk juga seperti motorik dan interaksi sosial anak.


Pemeriksaan DDTK wajib diikuti oleh semua anak mulai dari usia 0 hingga 6 tahun, karena merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sejak dini.

Mengenal apa itu DDTK?

Dikutip dari buku Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dalam Keperawatan oleh Ns. Harmila S.Kep, M.Kep, Sp.KMB dkk, DDTK adalah pemeriksaan wajib bagi anak usia dini untuk mendeteksi gangguan tumbuh kembang.

Dengan dilakukannya pemeriksaan ini, maka dapat direncanakan intervensi yang tepat apabila ditemukan ada gangguan. Intervensi yang tepat dan cepat juga penting untuk menghindari efek jangka panjang, yang dapat menurunkan kualitas hidup anak.

Beberapa jenis penyimpangan yang dapat diketahui dan dicegah dengan DDTK antara lain:

Penyimpangan pertumbuhan

Dalam hal ini termasuk seperti kasus status gizi kurang atau buruk, anak berperawakan pendek atau sangat pendek (stunting), atau juga lingkar kepala terlalu besar.

Penyimpangan perkembangan

Misalnya seperti terlambat bicara, terlambat berjalan, dan gangguan motorik halus lainnya.

Penyimpangan mental emosional anak

Contoh kasus penyimpangan mental emosional anak seperti gangguan konsentrasi, hiperaktif, autisme dan gangguan emosional.

Kapan DDTK perlu dilakukan?

Seperti disebutkan sebelumnya, DDTK perlu dilakukan secara berkala agar manfaatnya lebih optimal. 

Secara umum sebenarnya pemantauan tumbuh kembang anak perlu dilakukan setiap bulan. Namun secara menyeluruh, frekuensi DDTK bayi dan balita sesuai usia yang direkomendasikan antara lain:

  • Usia 0-12 bulan: diperiksa 1 bulan sekali
  • Usia 1-3 tahun: diperiksa 3 bulan sekali
  • Usia 3-6 tahun: diperiksa 6 bulan sekali
  • Usia 6 tahun ke atas: diperiksa 1 tahun sekali

Dalam contoh laporan DDTK, nantinya hasil pemeriksaan anak akan dicatat sesuai jadwal. Dengan begitu, grafik pertumbuhannya bisa lebih mudah diamati oleh tenaga kesehatan.

Manfaat DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang) pada bayi dan balita

Pemantauan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak perlu dilakukan sejak dini untuk mendeteksi adanya kelainan, termasuk masalah gizi kurang, pertumbuhan terhambat, hingga terlambat bicara.

Dikutip dari buku Mengenal Deteksi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini oleh Feri Faila Sufa, dkk, jika semakin cepat terdeteksi maka semakin lebih awal juga tindakan koreksi dan intervensi dapat dilakukan.

Tujuannya untuk mengembalikan pertumbuhan dan perkembangan anak ke jalur yang seharusnya, atau minimal mengurangi dampak kelainan tersebut.

Contoh DDTK dan pemeriksaannya dapat menjadi referensi untuk memahami aspek apa saja yang biasanya dipantau. 

Informasi serupa juga dapat Bunda temukan dalam DDTK PDF dari sumber resmi atau materi edukasi yang relevan, seperti dari materi Posyandu.

Cara melakukan DDTK (Deteksi Dini Tumbuh Kembang) 

Ilustrasi/Foto: Getty Images/travelism

Cara melakukan DDTK disesuaikan dengan komponen yang ingin diperiksa, mulai dari pertumbuhan fisik, perkembangan anak, hingga penyimpangan sosial emosional. Berikut ulasannya, Bunda:

1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan

Untuk mengukur pertumbuhan bayi, perlu dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala secara berkala.

Data-data ini kemudian dicocokkan dengan grafik pertumbuhan (misalnya kurva pertumbuhan WHO atau yang ada di Kartu Menuju Sehat/KMS).

Dari situ bisa dilihat apakah anak memiliki status gizi yang normal, kurang, buruk, atau justru berlebihan (obesitas).

Ada beberapa indikator pertumbuhan yang digunakan dalam DDTK Posyandu, di antaranya:

Indikator perbandingan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB)

Indikator ini digunakan untuk melihat bagaimana status gizi anak. Cara mengukurnya yakni dengan membandingkan berat badan ideal anak, jika dibandingkan dengan tinggi badannya.

Hasilnya dibagi menjadi beberapa kategori seperti obesitas (obese), gizi lebih (overweight), beriziko gizi lebih (possible risk of overweight), gizi baik (normal), gizi kurang (wasted), dan gizi buruk (severely wasted).

Indikator perbandingan TB dan usia

Indikator ini digunakan untuk menilai kondisi perawakan anak. Caranya yakni dengan membandingkan tinggi badan anak dengan anak yang lain sesuai usia dan jenis kelamin yang sama juga.

Kategori status perawakan anak yang dapat dilihat dalam contoh laporan DDTK yakni sangat pendek (severely stunted), pendek (stunting), normal, dan tinggi.

Indikator perbandingan BB dan usia

Digunakan untuk menentukan status berat badan anak. Cara melakukannya yakni membandingkan berat badan anak dengan anak lain seusianya.

Status berat badan anak yang dapat dilihat yakni sangat kurus (severely underweight), kurus (underweight), normal, dan lebih.

Indikator lingkar kepala

Indikator lingkar kepala sering terlupakan, padahal sangat penting untuk memastikan tidak adanya gangguan pertumbuhan di otak anak. 

Kategori ukuran lingkar kepala pada anak yakni lingkar kepala kecil (mikrosefali), lingkar kepala normal, dan lingkar kepala besar (makrosefali).

2. Deteksi penyimpangan perkembangan

Selain pertumbuhan secara fisik, perkembangan lain seperti motorik kasar, motorik halus, dan lain-lain juga perlu diperiksa, Bunda.

Adanya gangguan pada salah satu sistem tubuh dapat menghambat optimalnya perkembangan anak.

Deteksi dini penyimpangan perkembangan bisa dilakukan secara mandiri menggunakan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) yang disusun oleh Kemenkes RI.

Jika muncul indikasi yang mencurigakan, sebaiknya segera lakukan konsultasi lebih lanjut.

3. Deteksi penyimpangan sosial dan emosional

Komponen lain yang juga tak kalah penting untuk diperiksa berkala yakni penyimpangan sosial dan emosional anak.

Menurut Permenkes Nomor 66 Tahun 2014, masalah penyimpangan sosial dan emosional pada anak usia 3–6 tahun dapat dideteksi lebih awal menggunakan Kuesioner Masalah Mental dan Emosi (KMME). 

Beberapa contoh penilaian perilaku anak sosial dan emosional dalam KMME misalnya apakah anak sulit fokus, sering tantrum, agresif, dan lain-lain.

Sebab seperti disebutkan sebelumnya, salah satu manfaat DDTK secara berkala yakni memantau apakah seorang anak memiliki indikasi gangguan autisme atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). 

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan DDTK Posyandu menunjukkan adanya hal yang perlu diperhatikan, Bunda dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan.

Contoh DDTK untuk mendapatkan gambaran mengenai pemeriksaan yang dilakukan pada anak sesuai kelompok usianya juga bisa dimanfaatkan, Bunda. 

Itulah penjelasan tentang DDTK bayi dan balita, mulai dari aturan usia, jadwal, manfaat beserta cara mendeteksinya. Dengan memahami bahwa DDTK adalah pemeriksaan untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang, orang tua diharapkan lebih aktif memantau perkembangan anak. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Bayi Langsung Jalan Tanpa Merangkak, Normalkah?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Ciri Orang EQ Tinggi dari Caranya Menerima Kritik

Mom's Life Elia Amaliana

Voting Pilihan Bunda Awards 2026, Yuk!

Haibunda Squad Tiara Jasmine & Khaerul Anwar Mujtaba

Ciri-Ciri Orang Punya IQ Tinggi dari Kebiasaan yang Sering Dikira Egois

Mom's Life Amira Salsabila

Perlukah Pakai Kateter Urine setelah Operasi Caesar?

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

DDTK Bayi dan Balita: Aturan Usia, Manfaat Beserta Cara Mendeteksinya

Parenting Kinan

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Ciri Orang EQ Tinggi dari Caranya Menerima Kritik

Perlukah Pakai Kateter Urine setelah Operasi Caesar?

DDTK Bayi dan Balita: Aturan Usia, Manfaat Beserta Cara Mendeteksinya

Voting Pilihan Bunda Awards 2026, Yuk!

5 Ciri Kepribadian yang Menunjukkan Kecemasan Seseorang di Tempat Kerja

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK