HaiBunda

PARENTING

10 Ciri Kepribadian Anak Sering Pindah Rumah Sejak Kecil Menurut Psikolog

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Selasa, 18 Aug 2026 09:20 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Jiyi
Jakarta -

Pindah rumah bukan hal sederhana, tidak hanya menguras fisik tapi juga mengubah mental seorang anak. Bukan tentang seberapa besar atau nyaman rumah baru yang akan ditempati, tapi perubahan lingkungan bahkan teman-teman yang membuat anak harus mulai dari 'nol' lagi.

Tak menutup kemungkinan bahwa akan ada perubahan psikologis di masa depan pada anak yang sering pindah rumah. Pindah rumah mungkin bisa menjadi hal yang mungkin traumatis bagi seorang anak.

"Saat memikirkan anak-anak yang mengalami trauma, kebanyakan orang berasumsi bahwa trauma tersebut disebabkan oleh pola asuh yang buruk. Namun, Anda bisa saja menjadi orang tua yang sangat baik dan, meski didasari niat terbaik, tanpa sengaja menciptakan situasi traumatis bagi anak," ungkap psikoterapis di New York, Amerika Serikat, Elinor Greenberg, Ph.D, seperti dikutip dari Psychology Today.


"Banyak orang yang saya temui dalam sesi psikoterapi mengungkapkan bahwa pengalaman pindah tempat, baik pindah sekolah maupun pindah rumah, selama masa kanak-kanak dan remaja terasa traumatis bagi mereka," lanjutnya.

Sementara itu, psikolog lainnya, Dr. Daniel Kessler, Psy.D., LP, DBSM, mengatakan pindah rumah tak dimungkiri lagi merupakan hal yang mengganggu kenyamanan dan tatanan hidup.

"Rutinitas sehari-hari terganggu, persahabatan terdampak oleh jarak, dan segala sesuatunya terasa baru," tuturnya, dikutip dari Parade.

Meskipun hal tersebut bisa menjadi tantangan secara emosional, dampak jangka panjang dari kepindahan tempat tinggal semasa kanak-kanak tidaklah melulu negatif. Sebagian orang kelak akan memandang kepindahan tersebut sebagai hal yang positif, yakni sebagai petualangan baru dan peluang untuk berkembang. Ada pula yang mungkin menganggapnya sebagai hal negatif, namun banyak juga yang berada di posisi tengah, dengan perpaduan antara pengalaman positif dan negatif.

Ya, pengalaman berpindah tempat tinggal pada masa kanak-kanak dapat memberikan dampak yang berbeda-beda pada setiap individu, tergantung pada bagaimana anak memaknai dan beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Perbedaan pengalaman inilah yang kemudian dapat tercermin dalam cara anak membentuk kepribadian dan menghadapi lingkungan di sekitarnya.

Ciri kepribadian anak yang sering pindah rumah sejak kecil menurut psikolog

Berikut ciri-ciri kepribadian yang dapat ditemukan pada anak yang sering pindah rumah seperti dikutip dari laman Psychology Today dan Parade:

1. Kemampuan Beradaptasi

Perubahan alamat sering kali berarti harus pindah sekolah, yang memaksa anak-anak membangun hubungan sosial baru tanpa sempat bertemu terlebih dahulu dengan teman-teman sebaya mereka yang baru.

Hal ini memaksa mereka untuk beradaptasi sejak usia dini, meskipun awalnya mungkin terasa menantang, pada akhirnya hal ini memberikan manfaat bagi mereka.

"Perubahan lingkungan yang sering terjadi mengajarkan mereka untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat," ujar Dr. Joel Frank, Psy.D., seorang psikolog berlisensi.

2. Empati

Kesulitan mencari teman atau tiba-tiba harus masuk ke sekolah baru di negara bagian yang sama sekali berbeda. Padahal sebelumnya anak mungkin sosok yang populer atau disegani di sekolah lama. 

Hal ini dapat membuat anak lebih berempati terhadap orang lain yang sedang menghadapi ketidakpastian, masa transisi, atau kemunduran.

"Karena harus menjalani transisi yang menantang sendiri, mereka mungkin mengembangkan empati dan pemahaman terhadap orang lain yang sedang mengalami perubahan hidup serta transisi sulit serupa," kata Dr. Kessler.

3. Ketangguhan (Resiliensi)

Seorang anak mungkin perlu mengandalkan dan meningkatkan ketangguhan mereka untuk menghadapi proses pindah rumah tersebut.

"Mereka sering kali harus menghadapi tantangan emosional dan sosial yang muncul akibat kepindahan," kata Dr. Frank.

Hasilnya, seseorang mungkin mampu menghadapi kemunduran dengan cara bangkit kembali dan tumbuh darinya. Ketangguhan juga turut mendukung kemampuan beradaptasi.

"Kemampuan untuk menjadi tangguh juga bisa terlihat dari kemampuan 'membaca situasi' dengan cepat untuk beradaptasi secara sosial atau tidak terlalu cepat mengambil asumsi, terutama bagi mereka yang pernah pindah ke berbagai penjuru negeri atau dunia serta belajar hidup di banyak tempat," ujar Dr. Peggy Loo, Ph.D., seorang psikolog di Manhattan Therapy Collective.

4. Keterbukaan terhadap pengalaman baru

Anak mungkin tidak menyukai keharusan untuk mengenal lingkungan baru saat itu, namun ketika dewasa, mereka justru lebih antusias mencoba restoran atau hobi baru. Pengalaman pindah rumah di masa kecil mungkin telah meletakkan dasar bagi sikap tersebut.

"Keterbukaan terhadap pengalaman baru cenderung lebih tinggi pada anak-anak yang pernah pindah rumah," ujar Dr. Connally Barry, Psy.D., seorang psikolog berlisensi di Thriveworks.

"Hal ini menunjukkan rasa ingin tahu intelektual yang lebih besar, kreativitas, serta kesadaran akan perasaan mereka sendiri. Mereka cenderung tidak menolak ide-ide baru," lanjutnya.

5. Kemandirian

Kepindahan mendorong seseorang untuk menjelajahi wilayah baru serta dengan cepat mengenali lorong, rute, dan lingkungan pergaulan baru secara mandiri. Hal ini dapat membangun kepercayaan diri dan memupuk semangat kemandirian.

"Mereka yang pindah dan mampu menghadapinya dengan baik atau dibantu untuk menghadapinya dengan baik, bisa mendapatkan rasa penguasaan diri, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemandirian dan ketangguhan," ujar Dr. Kessler.

6. Keterampilan memecahkan masalah yang hebat

Kepindahan rumah, terutama ke luar kota menghadirkan tantangan sosial dan akademis yang alami bagi anak-anak. Namun, kehidupan akan terus menghadirkan situasi tak terduga hingga masa dewasa.

Misalnya, atasan yang tiba-tiba memberikan tugas mendadak, atau perbedaan pendapat mengenai keuangan dengan pasangan. Orang yang pernah pindah rumah saat masa kanak-kanak mungkin memiliki keunggulan dalam hal ini.

"Mereka dipaksa untuk mencari jalan keluar dan mengatasi berbagai tantangan di lingkungan baru mereka," jelas Dr. Kessler.

7. Keterampilan sosial yang lebih baik dan sifat ekstrovert

Sebaliknya, pengalaman pindah rumah saat kanak-kanak bisa membuat seseorang menjadi pribadi yang sangat supel dan mudah bergaul.

"Mereka bertemu serta berinteraksi dengan banyak orang baru dan belajar berkomunikasi secara efektif," kata Dr. Frank.

Dengan kata lain, meskipun ada orang yang menganggap kepindahan sebagai penyebab sifat introvert mereka, tapi ada juga yang merasa bahwa pengalaman tersebut justru menjadikan Anda seorang ekstrovert.

8. Kesulitan dalam hubungan dengan teman sebaya

Meskipun kepindahan dapat memberikan dampak positif jangka panjang, ada pula beberapa sisi negatifnya.

"Anak-anak yang pernah pindah rumah kemungkinan mengalami peningkatan rasa mudah marah dan stres, serta kurang mampu menjalin hubungan yang bermakna dengan teman sebaya di luar interaksi yang sifatnya dangkal," kata Dr. Barry.

Saat dewasa, anak-anak yang sering pindah rumah mungkin lebih rentan mengalami kecemasan sosial atau kesulitan memperdalam persahabatan maupun hubungan asmara. Hal ini bisa disebabkan oleh kekhawatiran bahwa hubungan tersebut tidak akan bertahan lama atau kurangnya pengalaman dalam mengelola hubungan jangka panjang.

9. Menghindari konflik

Walaupun kepindahan dapat memupuk keterampilan memecahkan masalah bagi sebagian orang, pengalaman tersebut bisa membuat anak cenderung menghindari konflik dengan segala cara.

Mereka mungkin cenderung menghindari konflik agar tidak menimbulkan masalah dengan orang lain atau memiliki kecenderungan untuk selalu ingin menyenangkan orang lain demi menjaga hubungan tetap harmonis.

10. Tidak mudah culture shock

Kepindahan rumah, baik itu ke wilayah yang jauh di dalam negeri, ke benua lain, maupun ke kota yang lebih beragam di wilayah yang sama, dapat membuat seseorang menjadi lebih berpikiran terbuka dan peka terhadap perbedaan.

“Keberhasilan menjalani masa transisi dapat membantu anak mengembangkan pemahaman yang lebih baik mengenai perbedaan pandangan hidup orang-orang di berbagai wilayah. Hal ini dapat menumbuhkan sikap berpikiran lebih terbuka saat mereka dewasa, yang juga disertai dengan rasa empati yang telah mereka kembangkan," ujar Dr. Kessler.

Cara orang tua bersikap proaktif

Tidak semua anak bisa mengalami depresi akibat pindah rumah, tetapi hal itu mungkin saja terjadi. Dilansir dari laman Verywell Mind, berikut adalah beberapa strategi untuk meminimalkan risikonya:

  • Libatkan anak saat mendiskusikan rencana kepindahan. Tunjukkan foto rumah baru dan informasi mengenai lingkungan baru tersebut. Ajak mereka melihat-lihat lokasi baru menggunakan fitur Street View di Google Maps atau Look Around di Apple Maps. Jelaskan alasan di balik kepindahan tersebut (pekerjaan baru, sekolah yang lebih baik, dan lain-lain).
  • Berikan mereka kesempatan untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan usianya. Misalnya menentukan dekorasi kamar tidur, lokasi ayunan, tanaman untuk kebun, dan sebagainya.
  • Dorong anak untuk mengungkapkan perasaan mereka. Tunjukkan sikap pengertian terhadap ketakutan mereka, dan usahakan agar kecemasan Anda sendiri tidak menambah rasa cemas mereka.
  • Validasi perasaan mereka. Sebagai contoh, jika anak mengungkapkan rasa sedih, Bunda bisa berkata, "Sepertinya kamu akan sangat merindukan rumah kita ini. Bunda/Ayah juga akan merindukannya. Wajar dan sangat bisa dimengerti jika kamu merasa seperti itu".
  • Ajak anak untuk bergabung dengan berbagai kelompok, seperti klub sekolah atau tim olahraga. Hal ini dapat membantu mereka mendapatkan teman baru, memupuk minat lama, serta mengembangkan minat baru. Bonusnya Bunda pun kemungkinan besar akan mendapatkan teman baru di kalangan orang tua lainnya.
  • Tunjukkan hal-hal yang tidak akan berubah. Bunda bisa mengingatkan mereka bahwa hewan peliharaan akan ikut pindah atau bahwa mereka tetap bisa membawa mainan, bantal kesayangan, dan perabotan kamar tidur atau apa pun yang membantu mereka memahami bahwa ini bukanlah akhir, melainkan sebuah masa transisi.
  • Ingatkan mereka bahwa mereka tetap bisa berkomunikasi dengan teman-teman yang tinggal jauh. Panggilan telepon dan panggilan video dengan pengawasan demi keamanan, memungkinkan mereka untuk tetap merasa dekat secara virtual.
  • Luangkan waktu sebanyak mungkin bersama anak. Hal ini dapat membantu menenangkan mereka dan memberikan rasa stabilitas di tengah perubahan lingkungan mereka. Selain itu, cara ini juga membuka kesempatan luas untuk berdiskusi.

Itulah penjelasan tentang ciri-ciri kepribadian anak sering pindah rumah sejak kecil menurut psikolog. Apa Si Kecil pernah mengalaminya, Bunda?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

7 Kalimat yang Bikin Anak Minder Seumur Hidup

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Keluarga Artis Ramaikan Perayaan 17 Agustus, Kompak dan Seru!

Mom's Life Annisa Karnesyia

150 Nama Bayi Terinspirasi Api dan Artinya untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

Nama Bayi Annisya Asri Diarta

Bayi Kelainan Jantung, Ibu Pengganti Tolak Permintaan Ortu Biologis Gugurkan Kandungan

Kehamilan Tim HaiBunda

10 Ciri Kepribadian Anak Sering Pindah Rumah Sejak Kecil Menurut Psikolog

Parenting Asri Ediyati

Ini yang Terjadi pada Payudara Bunda bila Berhenti Menyusui Si Kecil

Menyusui Amrikh Palupi

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Paparan Produk Plastik Bisa Picu Tekanan Darah Tinggi pada Ibu Hamil

Bayi Kelainan Jantung, Ibu Pengganti Tolak Permintaan Ortu Biologis Gugurkan Kandungan

150 Nama Bayi Terinspirasi Api dan Artinya untuk Anak Laki-laki dan Perempuan

Potret Keluarga Artis Ramaikan Perayaan 17 Agustus, Kompak dan Seru!

10 Ciri Kepribadian Anak Sering Pindah Rumah Sejak Kecil Menurut Psikolog

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK