Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

parenting

Stop Bilang "Kamu Baik-baik Saja Kok" pada Anak, Ini Kalimat Penggantinya Menurut Pakar

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Minggu, 06 Sep 2026 15:35 WIB

Kata orang tua yang tidak mau didengarkan anak
Ucapan orang tua yang harus berhenti diucapkan ke anak/ Foto: Getty Images/Satjawat Boontanataweepol
Daftar Isi
Jakarta -

Saat anak sedang sedih atau tertekan, orang tua sering kali mencoba menenangkan dengan melontarkan kalimat 'Kamu baik-baik saja kok'. Kalimat ini dianggap ampuh untuk meredakan kesedihan anak, Bunda.

Namun, tanpa diketahui orang tua, mengatakan, "Kamu baik-baik saja kok" justru bisa membuat perasaan anak terasa diabaikan. Menurut peneliti dan praktisi parenting di Amerika Serikat, Reem Raouda, kalimat tersebut bahkan menjadi ungkapan paling berbahaya dalam pola pengasuhan anak.

"Kedengarannya menenangkan, bahkan menenteramkan. Tapi sebenarnya tidak. Frasa yang bermaksud baik dan terlalu sering digunakan ini bisa menyebabkan kerusakan jangka panjang dengan cara yang tidak pernah disadari oleh sebagian besar orang tua," ungkap Raouda, dilansir laman NBC Philadelphia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Dampak mengatakan 'Kamu baik-baik saja kok' ke anak

Ada beberapa dampak yang bisa muncul ketika orang tua mengatakan 'Kamu baik-baik saja kok' ke anak-anaknya. Berikut dampak buruknya:

1. Mengajarkan anak-anak untuk meragukan emosi mereka sendiri

Ketika seorang anak terlihat sedih dan mendengar 'kamu baik-baik saja', hal itu mengirimkan pesan yang membingungkan. Mereka akan mulai mempertanyakan emosi dan perasaannya sendiri.

"Seiring waktu, hal tersebut dapat memutus hubungan mereka dengan dunia emosional batin dan mengajarkan anak untuk tidak mempercayai instingnya sendiri," kata Raouda.

2. Merusak pengalaman anak ketika mereka paling membutuhkan orang tuanya

Bunda mungkin mengatakan 'Kamu baik-baik saja kok' dengan penuh kasih sayang, tetapi seorang anak akan mendengarnya sebagai bentuk pengabaian atau perasaannya tidak dianggap penting.

Pengabaian dapat mengajari anak bahwa kenyamanan dan hubungan hanya tersedia ketika mereka tenang dan nyaman. Di sinilah penindasan emosi dimulai.

3. Mempersingkat proses pengolahan emosi

Emosi seharusnya mengalir melalui tubuh. Ketika kita mengganggu proses alami itu dengan memberikan jaminan yang terlalu dini, kita merampas kemampuan anak-anak untuk mengidentifikasi, menyebutkan, dan mengatur emosi mereka. Alih-alih membangun ketahanan, kita malah membangun penghindaran.

4. Mengajarkan bahwa cinta itu bersyarat

Tanpa disadari, ungkapan seperti 'kamu baik-baik saja', 'berhenti menangis', atau 'jangan takut' dapat membiasakan anak-anak untuk percaya bahwa mereka harus menekan emosi agar tetap diterima. Nah, ketika cinta menjadi terasa bersyarat, maka rasa aman secara emosional bisa mulai runtuh, Bunda.

5. Mengubah respons stres pada anak

Sistem saraf berkembang melalui pengalaman berulang. Ketika seorang anak merasa kesal dan malah mendapat penolakan alih-alih dukungan, tubuh mereka akan belajar bahwa mengekspresikan emosi bukanlah hal yang aman. Seiring waktu, hal tersebut dapat membentuk kembali sistem saraf untuk mengharapkan pemutusan hubungan, sehingga lebih sulit untuk mempercayai, mengatur emosi, dan merasa aman menjadi diri mereka sepenuhnya.

Kalimat pengganti 'Kamu baik-baik saja kok' ke anak

Menurut Raouda, anak-anak tidak membutuhkan solusi instan, tapi mereka perlu merasakan. Anak-anak perlu tahu bahwa mereka akan merasa aman untuk merasakan emosinya, terutama saat bersama orang tua.

Alih-alih mengatakan 'kamu baik-baik saja kok' ke anak, Bunda dapat memilih kalimat penggantinya yang lebih baik. Berikut kalimat pengganti yang cukup ampuh menurut Raouda:

  • "Aku percaya padamu"
  • "Perasaanmu masuk akal"
  • "Aku di sini bersamamu"
  • "Kamu tidak harus merasa baik-baik saja sekarang"
  • "Aku melihat apa yang terjadi. Bagaimana perasaanmu?"

Raouda mengatakan bahwa ungkapan-ungkapan tersebut lebih dari sekadar menenangkan. Ungkapan-ungkapan ini dapat memperkuat dan mengajarkan anak bahwa emosi itu penting dan anak tidak merasa sendirian.

"Respons-respons ini membutuhkan latihan. Orang tua mungkin kadang-kadang masih akan mengatakan 'kamu baik-baik saja', dan itu juga tidak apa-apa. Tujuannya adalah untuk melatih pola pengasuhan yang sadar merespons dengan cara yang membangun keamanan emosional daripada merusaknya," kata Raouda.

Demikian dampak mengatakan 'kamu baik-baik saja kok' ke anak serta alternatif kalimat penggantinya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda