HaiBunda

PARENTING

Psikolog Ungkap 2 Hal yang Diduga Picu Krisis Kesehatan Mental Anak

Azhar Hanifah   |   HaiBunda

Minggu, 01 Nov 2026 13:10 WIB
Kesehatan mental anak/ Foto: Getty Images/GOLFX

Krisis Kesehatan Mental Anak menjadi perhatian banyak orang tua dalam beberapa tahun terakhir. Meningkatnya kasus kecemasan dan depresi pada anak hingga remaja kerap dikaitkan dengan penggunaan smartphone dan media sosial.

Namun, seorang psikolog perkembangan memiliki pandangan berbeda mengenai faktor yang diduga berperan dalam meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak.

Peter Gray, profesor riset psikologi dan ilmu saraf di Boston College, menilai ada dua faktor lain yang perlu mendapat perhatian lebih, yakni berkurangnya kemandirian anak dan perubahan sistem pendidikan.


Menurutnya, kedua hal tersebut dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis anak. Lantas, apa saja faktor yang dimaksud? Yuk, Bunda, simak penjelasan selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

2 Hal yang berisiko picu krisis kesehatan mental anak

Melansir dari laman Yahoo Life, psikolog perkembangan, Peter Gray melalui bukunya yang berjudul Restoring Childhood: How to Set Kids Free in the Age of Anxiety mengungkapkan pandangannya mengenai penyebab meningkatnya masalah kesehatan mental pada anak dan remaja.

Gray tidak sepakat jika penggunaan smartphone dan media sosial dianggap sebagai penyebab utama meningkatnya kecemasan pada kelompok usia tersebut. Ia bahkan menyebut belum ada bukti kuat yang menunjukkan hubungan antara penggunaan smartphone dan kesehatan mental anak muda.

"Sebenarnya tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan smartphone dan kesehatan mental pada anak muda. Bahkan, tidak ada korelasi yang berarti," ungkap Gray.

Ia juga mengkritisi pandangan yang disampaikan psikolog sosial sekaligus profesor di New York University, Jonathan Haidt, dalam bukunya The Anxious Generation. Menurut Gray, Haidt lebih banyak mengandalkan sejumlah kecil penelitian yang mendukung hipotesisnya.

"Jika melihat berapa banyak penelitian yang dirujuk Haidt dan benar-benar relevan dengan pertanyaan ini, jumlahnya hanya sebagian kecil dari keseluruhan penelitian. Ia tidak merujuk pada studi tinjauan atau meta-analisis, melainkan hanya segelintir penelitian," jelas Gray.

Gray menilai pandangan tersebut belum menggambarkan keseluruhan hasil penelitian yang tersedia. Ia justru mengajukan dua faktor lain yang menurutnya lebih perlu diperhatikan.

1. Berkurangnya kemandirian anak akibat pola asuh yang terlalu protektif

Faktor pertama yang disoroti Gray adalah semakin terbatasnya kesempatan anak untuk belajar mandiri. Menurutnya, setiap anak secara alami memiliki dorongan untuk melakukan berbagai hal sendiri seiring bertambahnya usia.

Namun, pola pengasuhan modern cenderung membuat orang tua merasa harus selalu melindungi dan mengawasi anak, bahkan ketika mereka sedang bermain atau mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Gray menjelaskan bahwa perubahan tersebut sudah berkembang sejak sekitar tahun 1950-an. Orang tua semakin merasa perlu memastikan anak selalu berada dalam pengawasan orang dewasa demi menghindari berbagai kemungkinan bahaya.

Kondisi ini juga membuat orang tua khawatir dianggap lalai apabila memberikan terlalu banyak kebebasan kepada anak. Padahal, kesempatan untuk bermain, menjelajah, dan mengambil keputusan sederhana secara mandiri merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang.

Gray sepakat dengan Jonathan Haidt dan Lenore Skenazy, seorang advokat pola asuh yang mendorong kemandirian anak, bahwa terbatasnya kesempatan bermain secara bebas dan mandiri dapat memberikan dampak terhadap perkembangan anak.

Menurutnya, anak perlu memiliki ruang untuk mengeksplorasi lingkungan dan belajar menghadapi berbagai situasi sesuai tahapan usianya, tanpa harus terus-menerus berada di bawah kendali orang dewasa.

2. Sistem pendidikan yang semakin membatasi anak

Faktor kedua yang dianggap Gray berkontribusi terhadap meningkatnya masalah kesehatan mental anak adalah sistem pendidikan yang semakin membatasi kebebasan dan kreativitas.

Ia secara khusus menyoroti penerapan Common Core State Standards, standar pendidikan yang diadopsi oleh berbagai sistem sekolah di Amerika Serikat hingga sekitar 2011.

Menurut Gray, perubahan tersebut membuat kegiatan belajar lebih berorientasi pada pencapaian nilai ujian dan target akademis. Akibatnya, ruang bagi guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan serta ketertarikan murid menjadi semakin terbatas.

Gray menilai sekolah sejak lama menjadi salah satu sumber utama stres dan kecemasan bagi anak usia sekolah. Namun, kondisi tersebut semakin berat ketika proses belajar terlalu berfokus pada pencapaian nilai dan hasil ujian.

Ketika guru hanya berfokus meningkatkan nilai ujian karena khawatir kehilangan pendanaan, proses pembelajaran berisiko kehilangan unsur kreativitas dan keterlibatan yang menyenangkan bagi murid.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gray menyarankan agar guru diberikan kembali keleluasaan dalam mengajar. Ia juga mendorong adanya waktu istirahat dan makan siang yang lebih panjang, pengurangan jam pelajaran, serta pemberian pekerjaan rumah yang lebih sedikit.

Pentingnya memperhatikan lingkungan tumbuh kembang anak

Pandangan Peter Gray mengingatkan bahwa kesehatan mental anak tidak bisa dilihat hanya dari satu faktor. Selain penggunaan teknologi, kesempatan untuk mengembangkan kemandirian dan lingkungan pendidikan yang mendukung juga perlu menjadi perhatian orang tua.

Memberikan ruang bagi anak untuk bermain, bereksplorasi, serta belajar sesuai minatnya dapat menjadi bagian dari upaya mendukung tumbuh kembang mereka.

Orang tua dan pihak sekolah juga perlu menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman, didengar, dan tidak terus-menerus terbebani tuntutan akademis.

Oleh karena itu, Bunda perlu memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri sekaligus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Dengan begitu, anak dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mendukung kesehatan mental serta kesejahteraan emosionalnya.

(rap/rap)

Simak video di bawah ini, Bun:

Ciri Kepribadian Orang yang Suka Menunda Membalas Chat

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Selalu Jadi Anak Paling Dewasa dan Penurut Sejak Kecil, Psikolog Ungkap Dampaknya saat Besar

Parenting Azhar Hanifah

Arti Mimpi Ketinggalan Pesawat dan Kereta, Benarkah Berkaitan dengan Kesempatan yang Terlewat?

Mom's Life Elia Amaliana

Potret Bunga Reyza Penyanyi yang Tengah Naik Daun Sekaligus Calon Dokter

Mom's Life Annisa Karnesyia

Simak Beragam Faktor yang Sebabkan Bunda Alami Pregnancy Brain

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Psikolog Ungkap 2 Hal yang Diduga Picu Krisis Kesehatan Mental Anak

Parenting Azhar Hanifah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

10 Restoran yang Kasih Birthday Treats

Arti Mimpi Ketinggalan Pesawat dan Kereta, Benarkah Berkaitan dengan Kesempatan yang Terlewat?

Simak Beragam Faktor yang Sebabkan Bunda Alami Pregnancy Brain

Selalu Jadi Anak Paling Dewasa dan Penurut Sejak Kecil, Psikolog Ungkap Dampaknya saat Besar

Psikolog Ungkap 2 Hal yang Diduga Picu Krisis Kesehatan Mental Anak

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK