psikologi

Nak, Yuk Belajar Sportif dalam Sebuah Pertandingan

Radian Nyi Sukmasari Jumat, 08 Jun 2018 - 08.08 WIB
Ilustrasi mengajarkan anak sportif/ Foto: thinkstock Ilustrasi mengajarkan anak sportif/ Foto: thinkstock
Jakarta - Saat anak tumbuh jadi pribadi yang sportif dan bisa menerima kekalahan pastinya diri ini bangga ya, Bun, sebagai orang tua. Nah, untuk mengajarkan anak sportif, salah satunya bisa melalui permainan kelompok misalnya sepakbola. Apalagi dalam hitungan hari bakal diselenggarakan Piala Dunia nih.

Dalam pertandingan sepakbola di ajang Piala Dunia sudah pasti bakal ada negara yang kalah dan menang dalam penyisihan grup sampai nanti didapatkan pemenangnya di final. Soal sportif dalam permainan, awalnya anak perlu banget paham aturan yang ada di permainan itu.

"Anak umur 6 tahun ke atas biasanya sudah bisa memahami aturan dalam permainan. Di usia itu, kemampuan memahami aturan dan mentaatinya sudah berkembang. Walaupun ini butuh waktu ya," kata profesor psikologi pendidikan di University of Alberta, Edmonton, Christina Rinaldi.

Mengikuti aturan buat anak umur awal sekolah dasar menang nggak mudah. Misalnya, siapa yang lebih dulu menendang bola. Ya, anak tahu kalau grup temannya yang dapat giliran lebih dulu menendang bola tapi mereka kadang masih susah menerima kenyataan bahwa harus menahan diri melakukan yang diinginkan.



"Karena anak bisa punya keinginan dia yang menendang bola lebih dulu. Latih terus anak paham dan patuh aturan lalu hindari gratifikasi," tutur Christina kepada Today's Parent.

Sementara itu, untuk anak umur 6-7 tahun mereka bisa diajarkan sportif lewat permainan sederhana kayak ular tangga, Bun. Nah, supaya anak bisa bermain sportif kita perlu memberi contoh ke mereka dan jelaskan semua aturan yang ada. Jangan lupa, bisa banget lho anak kita biarkan main dengan teman yang umurnya lebih tua atau muda.

Dikutip dari Raising Children, anak yang umurnya lebih tua bisa jadi contoh baik buat anak dalam bermain sportif. Sedangkan anak yang lebih muda bisa diajari si kecil soal bermain sportif. Jangan lupa, saat anak udah bisa bermain sportif kita beri mereka apresiasi ya. Nggak perlu muluk-muluk, pujian dan ucapan kita bangga karena mereka bermain sportif udah cukup kok.

Terus gimana kalau anak kalah? Psikolog anak dan keluarga Anna Surti Ariani yang akrab disapa Nina bilang sedih lumrah anak rasakan. Yang bisa kita lakukan adalah menerima perasaan anak bahwa mereka sedih karena sudah kalah. Setelah bisa menerima kekalahan kita besarkan hati anak, Bun.

"Kita sampaikan ke anak kalau kalah dan menang dalam sebuah pertandingan itu biasa. Kita juga bisa bilang bahwa anak bisa mencoba di lain kesempatan kok. Dengan mengalami kekalahan anak juga bisa belajar bahwa nggak selamanya sesuatu dalam hidup ini sesuai dengan yang kita harapkan," kata Nina.

Supaya anak nggak minder kita juga bisa puji usaha mereka ketika bertanding, Bun. Setelah anak tenang dan benar-benar legowo dengan kekalahannya, boleh banget kalau mau memberi saran supaya di kesempatan berikutnya anak bisa tampil lebih baik lagi.

[Gambas:Video 20detik]

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi