trending
Penyair Sapardi Djoko Damono Meninggal, Simak Lagi 7 Puisi Romantisnya
HaiBunda
Minggu, 19 Jul 2020 13:57 WIB
Dunia sastra Indonesia berduka. Penulis dan penyair Sapardi Djoko Damono meninggal dunia pada Minggu (19/7/2020) pagi.
Kabar kepergian sastrawan ini disampaikan melalui pesan singkat kepada media. Sapardi Djoko Damono meninggal di usia 80 tahun.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Telah meninggal dunia sastrawan besar Indonesia, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono," demikian bunyi pesan tersebut.
Dalam pesan, disebutkan bahwa Sapardi Djoko Damono meninggal dunia di Eka Hospital, BSD, Tangerang Selatan. Penulis Hujan Bulan Juni ini wafat pada Minggu (19/7/2020), pukul 09.17 WIB. Demikian mengutip detikcom.
Semasa hidup, Sapardi Djoko Damono membuat banyak karya dan meraih prestasi di dunia sastra Indonesia. Dilansir berbagai sumber, simak 7 puisi romantis karya Sapardi Djoko Damono yang terkenal berikut.
Klik next ya, Bunda.
Simak juga rahasia harmonis rumah tangga Donna Agnesia yang lebih tua 6 tahun dari suaminya, di video Intimate Interview berikut:
Hujan Bulan Juni
Buku Hujan Bulan Juni/ Foto: Muhayati Faridatun/HaiBunda
1. Hujan Bulan Juni
Hujan Bulan Juni merupakan novel yang berisi cerita dan kumpulan sajak dan puisi romantis karya Sapardi Djoko Damono. Karya Hujan Bulan Juni ini pernah diadaptasi menjadi film pada 2017 dengan judul yang sama, diperankan Adipati Dolken dan Velove Vexia. Berikut puisinya:
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapuskannya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu.
2. Yang Fana adalah Waktu
Buku kumpulan puisi Perahu Kertas terbit pada 1983. Berikut puisi karya Sapardi Djoko Damono dalam buku Perahu Kertas, yang berjudul Yang Fana adalah Waktu.
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi: memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.
3. Sajak Kecil Tentang Cinta
Sajak Kecil Tentang Cinta ada dalam buku karya Sapardi Djoko Damono berjudul Melipat Jarak. Isi puisinya:
Mencintai angin harus menjadi siut...
Mencintai air harus menjadi ricik...
Mencintai gunung harus menjadi terjal...
Mencintai api harus menjadi jilat...
Mencintai cakrawala harus menebas jarak...
MencintaiMu harus menjadi aku.
Puisi-puisi romantis lain karya Sapardi Djoko Damono bisa Bunda lihat di halaman selanjutnya.
Aku Ingin
Sapardi Djoko Damono/ Foto: Tia Agnes / detikHOT
4. Aku Ingin
Puisi Aku Ingin ada dalam buku kumpulan puisi Hujan Bulan Juni. Puisi ini begitu romantis, mengungkapkan perasaan cinta yang apa adanya.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.
5. Hanya
Dari 74 sajak yang ada di buku Melipat Jarak, puisi berjudul Hanya menjadi salah satu yang romantis. Berikut isinya:
Hanya suara burung yang kau dengar
dan tak pernah kaulihat burung itu
tapi tahu burung itu ada di sana
Hanya desir angin yang kaurasa
dan tak pernah kaulihat angin itu
tapi percaya angin itu di sekitarmu
Hanya doaku yang bergetar malam ini
dan tak pernah kaulihat siapa aku
tapi yakin aku ada dalam dirimu.
6. Pada Suatu Hari Nanti
Hujan Bulan Juni menjadi karya fenomenal pria yang akrab disapa Eyang ini. Salah satu karya puisi lain di buku Hujan Bulan Juni adalah Pada Suatu Hari Nanti, yang isinya:
Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.
7. Hatiku Selembar Daun
Hatiku Selembar Daun masuk dalam buku Perahu Kertas. Isinya begitu sederhana namun romantis dan mendalam. Berikut isi puisi ini:
Hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang, yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
Selamat jalan, Eyang Sapardi Djoko Damono. Karyamu abadi dalam kenangan.
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda