Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Kisah Bunda Alami Depresi Postpartum setelah Melewati Kehamilan yang Sulit dan Menyakitkan

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 15 Jan 2026 18:50 WIB

Ilustrasi Ibu Hamil Sedih
Kisah Bunda Berjuang Lewati Depresi Postpartum setelah Melahirkan Anak Kedua/ Foto: Getty Images/iStock/EvgeniyShkolenko
Daftar Isi
Jakarta -

Depresi postpartum dapat dialami siapa pun, termasuk Bunda yang sudah pernah melahirkan. Melewati periode depresi postpartum tak mudah. Tapi, bukan berarti Bunda tak bisa melewatinya.

Kisah seorang Bunda berjuang melawan depresi postpartum pernah dialami Luoise. Perempuan yang tinggal di dekat kota Chelmsford, Inggris ini pernah mengalami depresi postpartum setelah melahirkan anak keduanya pada Juni 2024.

Kisah Luoise melewati depresi postpartum

Saat hamil anak keduanya, Luoise mengalami hiperemesis gravidarum atau mual yang sangat parah hingga kesulitan menjalani hari-harinya. Dokter mengatakan bahwa keluhan itu akan membaik setelah anaknya lahir. Namun, kesehatan mentalnya justru kian memburuk dan ia didiagnosis depresi pasca persalinan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Setiap menit di kehamilan kedua saya adalah perjuangan karena hiperemesis gravidarum. Ini diperparah oleh vertigo sejak usia kehamilan 33 minggu," kata Luoise, dilansir BBC.

"Setiap beberapa hari, dengan frekuensi yang semakin meningkat, saya akan mengalami pusing yang sangat parah, menyebabkan saya muntah. Hal itu membuat saya tidak mampu merawat anak pertama saya, Anouk, yang saat itu berusia tiga tahun."

Luoise melahirkan anak keduanya Adeline lebih cepat. Keputusan itu diambil olehnya lantaran ia merasa sedang tidak sehat, Bunda.

"Saya ingat kelegaan yang saya rasakan ketika bidan memberi tahu kalau dokter telah setuju untuk membantu melahirkan bayi saya lebih awal, sesuai permintaan, karena kondisi kesehatan saya. Jadi, ketika Adeline lahir dan saya masih merasa sangat tidak sehat, saya hanya bisa menduga otak saya tidak mampu mengatasinya," ungkap Luoise.

"Kelahiran itu sendiri traumatis. Sesuatu yang telah saya tutupi. Ketika Adeline lahir, tidak ada tangisan. Kami langsung tahu ada sesuatu yang salah, meskipun tidak ada yang bicara dengan saya," lanjutnya.

Setelah Adeline lahir, ia langsung di bawa ke ruang perawatan neonatal. Luoise tidak dapat bertemu dengan anaknya lagi sampai malam hari. Saat itu, ia mulai jatuh ke dalam depresi berat dan kecemasan..

"Saya ingat merasa seolah otak ini sedang berperang dengan diri sendiri. Saya terus-menerus berjuang melawannya, melemparkan kekhawatiran yang semakin ekstrem kepada diri sendiri yang tak bisa dikendalikan," ujarnya.

"Ketakutan itu nyata bagi. Semakin banyak orang mencoba meyakinkan, maka sebaliknya, semakin saya merasa tak ada yang mendengarkan. Itu melelahkan. Dan rasa sakitnya, rasa sakit fisik yang hebat akibat depresi. Setiap inci tubuh sakit, sakit di mana-mana, dan kemudian insomnia datang. Berbulan-bulan tidur yang terganggu akibat sakit kini berubah menjadi insomnia total."

Ilustrasi Perempuan SedihIlustrasi Depresi Pasca Melahirkan/ Foto: Getty Images/iStockphoto

Luoise minta orang terdekat mencari bantuan

Luoise tak ingin terus terpenjara dalam pikiran buruk. Ia pun memohon sang suami dan adiknya untuk mencari bantuan. Tim dari NHS Inggris ikut terlibat dalam membantu Luoise melewati kondisinya ini, Bunda.

"Saya didiagnosis menderita depresi pasca persalinan dan awal psikosis pasca persalinan, yang untungnya berhasil dideteksi oleh tim krisis sejak dini," kata Luoise.

"Seorang psikiater datang untuk memeriksa dan meresepkan obat yang kuat untuk menghentikan keyakinan delusi dan membantu tidur, tetapi otak saya masih terjaga di malam hari dengan kecemasan yang berputar-putar. Saya akan bangun dengan perasaan tidak segar dan kelelahan. Sulit untuk bangun dari tempat tidur. Rasanya seperti kaki terbebani oleh timah," lanjutnya.

Pikiran buruk untuk mengakhiri hidup juga sempat muncul. Luoise seperti tidak bisa melihat masa depannya lagi.

"Saya tidak bisa mengatakan dengan tepat kapan pikiran itu muncul. Terkadang muncul dan menghilang. Tapi kemudian mulai menetap. Saya tidak ingin hidup lagi. Saya tidak bisa melihat masa depan dan tidak mengerti mengapa ada orang yang menginginkan atau membutuhkan saya," ungkap Bunda dua anak ini.

Setelah pikiran-pikiran buruk itu datang, Luoise memutuskan untuk menggunakan sebuah metode dan memberi tahu suaminya. Ia memutuskan untuk dirawat oleh profesional. Luoise juga menjalani terapi agar pulih.

"Saya merasa beruntung telah menjalani terapi desensitisasi dan eye movement desensitisation and reprocessing therapy (EMDR) dengan tim kesehatan mental perinatal dari NHS. Ini membantu saya memproses trauma dari dua kehamilan yang sangat sulit dan sakit, serta masalah historis lainnya seperti gangguan makan yang signifikan. Saya juga sekarang mampu merasakan belas kasihan pada diri saya yang sedang sakit, meskipun ini tidak mudah," katanya.

"Saya sangat bersyukur telah melewati ini. Saya bersyukur atas keluarga yang mendukung saya, terutama suami saya, Pete. Hubungan kami lebih kuat dari sebelumnya, tetapi saya tidak meremehkan dampak yang dialaminya sebagai pengasuh untuk bayi baru lahir, balita, dan diri sendiri. Saya beruntung menikah dengan pria dan ayah yang luar biasa. Saya berusaha untuk berbelas kasih pada diri sendiri dan tidak merasa malu, karena saya tahu saya tidak memilih untuk mengalami hal ini," pungkasnya.

Apa itu depresi postpartum?

Depresi postpartum merupakan suatu bentuk depresi yang dialami ibu setelah melahirkan. Menurut ulasan di March of Dimes, depresi postpartum relatif umum terjadi, namun dianggap serius. Setidaknya, depresi postpartum memengaruhi 1 dari 7 ibu baru setelah melahirkan.

Depresi postpartum dapat membuat seorang ibu merasa hampa, tanpa emosi, dan mengalami kesedihan yang luar biasa berat. Kondisi ini juga bisa menyebabkan perubahan suasana hati, kelelahan, dan rasa putus asa yang berlangsung dalam waktu lama setelah persalinan.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) menjelaskan bahwa seseorang dengan depresi postpartum tidak dapat melakukan tugas sehari-hari, termasuk mengasuh anaknya. Hal tersebut dapat terjadi hingga satu tahun setelah melahirkan, namun paling sering dimulai sekitar 1 sampai 3 minggu setelah melahirkan.

"Orang-orang tidak boleh menganggap enteng depresi postpartum. Ini adalah kondisi yang serius, namun berbagai program pengobatan dapat membantu mengatasinya. Jika mengalami depresi postpartum, maka perempuan itu perlu tahu bahwa ia tidak sendirian dan bisa pulih," kata profesor, peneliti, dan praktisi kesehatan holistik, Debra Rose Wilson, Ph.D, dikutip dari Healthline.

Penelitian menunjukkan bahwa semakin lama seseorang mengalami depresi postpartum, maka semakin besar mereka mengalami depresi kronis. Misalnya, dalam sebuah penelitian di JAMA Psychiatry tahun 2018 menemukan bahwa sebagian besar perempuan yang mengalami depresi berat di 2-8 bulan pasca persalinan akan terus mengalami gejala depresi lebih dari 10 tahun kemudian.

Tanpa pengobatan, depresi postpartum bisa memburuk. Dampak paling berbahaya dari kondisi ini dapat mengarah pada pemikiran untuk melukai diri sendiri atau melukai orang lain, hingga berujung pada kematian.

Menurut ACOG, depresi postpartum dapat diatasi dengan penggunaan obat dan terapi. Selain itu, dukungan dari keluarga juga dibutuhkan untuk terus memberikan afirmasi positif dan berada di samping ibu yang mengalami kondisi ini.

Demikian kisah perjuangan Bunda melawan depresi postpartum dan penjelasan pakar tentang cara mengatasinya. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda