KEHAMILAN
Alasan Warga Singapura Menolak Memiliki Anak di Tengah Krisis Kesuburan
Indah Ramadhani | HaiBunda
Selasa, 17 Mar 2026 18:30 WIBSingapura kini tengah menghadapi krisis kesuburan terparah sepanjang sejarah, Bunda. Bahkan, para pejabat negara memperkirakan kondisi ini dapat memengaruhi pertumbuhan penduduk dan ekonomi negara di masa depan.
Para pengamat menilai kondisi ini dipicu oleh kecemasan sosial serta kebutuhan dan biaya hidup di Singapura yang semakin tinggi. Kedua faktor inilah yang sangat mempengaruhi keinginan serta keputusan warga Singapura untuk memiliki anak, Bunda.
Bahkan, sebagian warga yang sudah mapan secara finansial menilai tidak memiliki anak saat membangun keluarga adalah pilihan yang tepat. Menurut mereka, banyak risiko dari perkembangan teknologi dan perubahan alam yang terlalu berat untuk dihadapi anak.
Sejumlah warga Singapura mengungkapkan berbagai alasan di balik keputusan mereka untuk menolak memiliki anak di tengah krisis kesuburan. Berikut beberapa alasan yang paling sering disebut, melansir dari laman South China Morning Post (SCMP).
Biaya hidup yang semakin tinggi
Sejumlah warga Singapura berusia 30 sampai 40 tahun yang diwawancarai This Week in Asia menyebut biaya hidup yang tinggi sebagai salah satu alasan utama mereka tidak memiliki anak. Selain itu, mereka juga sudah puas hidup tanpa anak atau memiliki tanggung jawab lain.
Padahal, pemerintah telah meluncurkan kebijakan pro-keluarga dalam beberapa tahun terakhir, seperti subsidi perawatan anak, serta cuti berbayar bagi pekerja yang memiliki anak. Hal ini membuktikan bahwa dukungan finansial belum bisa menutupi tingginya biaya hidup sekaligus biaya membesarkan anak, Bunda.
Kecemasan struktural
Menurut Kepala Social Lab di Institute of Policy Studies, Mathew Mathews, Singapura perlu mengatasi kecemasan struktural. Pasalnya, selain tingginya biaya hidup, faktor ini juga membuat memiliki anak terasa berisiko bagi banyak pasangan.
Ia menjelaskan bahwa warga Singapura cenderung memiliki pandangan jangka panjang atau visioner dalam mengambil keputusan besar, termasuk memiliki anak. Mereka ingin anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, tetapi antara biaya hidup, lingkungan, serta sistem pendidikan kerap berbenturan.
“Warga Singapura ingin melihat lingkungan di mana risiko karier jangka panjang akibat menjadi orang tua dapat diminimalkan, serta adanya dukungan yang memadai di rumah untuk membesarkan anak,” kata Mathews.
Budaya pengasuhan intensif
Direktur Ilmu Sosial di A*STAR Institute for Human Development and Potential, Jean Yeung, menilai budaya pengasuhan intensif di Singapura turut meningkatkan biaya membesarkan anak, Bunda.
Budaya tersebut melibatkan gaya pengasuhan yang berpusat pada anak, di mana orang tua akan mendedikasikan waktu, energi, dan biaya yang sangat tinggi untuk memastikan anak bertumbuh dan berkembang dengan optimal.
“Orang tua mungkin merasa bahwa membesarkan anak dengan ‘benar’ membutuhkan investasi emosional dan finansial yang jauh lebih besar dibandingkan dukungan yang diberikan oleh kebijakan pemerintah,” jelas Yeung.
Selain tingginya biaya dan kebutuhan emosional orang tua, banyak pasangan yang juga khawatir kehilangan peluang atau jenjang karier. Mereka takut mengalami stuck dan keterlambatan perkembangan karier setelah memiliki anak.
Langkah yang diambil pemerintah
Melihat krisis kesuburan yang semakin memburuk dan mengancam masa depan negara, pemerintah Singapura menyiapkan berbagai kebijakan untuk mengatasi penurunan angka kelahiran. Berikut beberapa langkah yang diterapkan Singapura:
1. Mendorong sistem kerja yang fleksibel
Tak sedikit warga Singapura yang mengeluhkan sistem kerja dan membuat mereka berpikir dua kali untuk memiliki anak. Maka dari itu, Kementerian Ketenagakerjaan Singapura pada tahun 2024 mewajibkan perusahaan untuk mengatur sistem kerja yang fleksibel bagi para pekerjanya.
2. Mendorong budaya kerja yang lebih ramah keluarga
Disampaikan oleh Menteri Indranee Rajah, masih banyak karyawan di Singapura yang secara halus dihalangi saat ingin mengambil cuti hamil, bahkan diminta mengundurkan diri. Karenanya, pemerintah mendorong upaya yang lebih besar untuk membangun lingkungan kerja yang lebih positif dan progresif.
3. Meningkatkan dukungan bagi keluarga dan orang tua
Sejumlah pengamat, termasuk Donald Low Yeung, mendorong pemerintah untuk meningkatkan dukungan terhadap keluarga. Ia sangat mendorong program cuti Ayah serta memberikan insentif bagi perusahaan yang menerapkan lingkungan kerja yang positif dan ramah keluarga.
4. Memberikan bantuan finansial bagi keluarga
Para ahli ekonomi di Singapura turut menyarankan beberapa bantuan finansial sebagai langkah tambahan, seperti:
- Memberikan tunjangan anak jangka panjang
- Memperluas subsidi perumahan bagi keluarga dengan anak
- Mengurangi tekanan kompetisi dalam pendidikan dan kehidupan sosial.
5. Mempelajari kebijakan negara lain
Ahli lain juga menilai agar Singapura bisa mempelajari kebijakan negara lain seperti Korea Selatan yang berhasil sedikit meningkatkan angka kelahiran dalam dua tahun terakhir. Pemerintah negara tersebut memperluas subsidi perawatan kesuburan dan layanan fertilitas.
6. Mengelola arus imigrasi
Selain kebijakan terkait keluarga, pemerintah juga mempertimbangkan sektor imigrasi sebagai sebuah solusi. Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong menyebut Singapura membutuhkan skema imigrasi yang bisa dikelola untuk membantu menyeimbangkan populasi.
Skema ini sudah berjalan sejak tahun 2024, Bunda. Sekitar sekitar 22.766 orang diberikan kewarganegaraan dan 35.264 orang diberikan izin tinggal tetap. Kemudian di tahun 2025, 25.000 kewarganegaraan baru. Selama lima tahun ke depan, negara tersebut diperkirakan menerima sekitar 25.000 hingga 30.000 warga negara baru.
Demikian informasi mengenai alasan sejumlah warga Singapura yang menolak memiliki anak di tengah krisis kesuburan yang meningkat. Semoga informasi ini bermanfaat dan bisa menambah pengetahuan, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Mulut Rahim Menonjol Keluar
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Rumah Sakit di Singapura Kewalahan, Alami Lonjakan Permintaan IVF
Rumah Sakit Singapura Jadi Incaran Banyak Pasutri Pilih Jalani Bayi Tabung, Alasannya...
Rumah Sakit di Singapura Mulai Kewalahan, Semakin Banyak Pasangan Ingin Jalani IVF
Ketahui Berbagai Risiko Menunda Kehamilan, Mulai dari Kesuburan hingga Kondisi Bayi
TERPOPULER
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama
Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat
200 Pertanyaan Lomba Cerdas Cermat seputar Kemerdekaan 17 Agustus 2026, Soal Tingkat SD-SMP
REKOMENDASI PRODUK
5 Wajan & Panci untuk Kompor Listrik Induksi, Awet & Anti Lengket
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Susu UHT untuk Ibu Hamil
Amrikh PalupiREKOMENDASI PRODUK
7 Aksesori Anak untuk Karnaval Kemerdekaan 17 Agustus, Bikin Makin Gemas
Annisa KarnesyiaREKOMENDASI PRODUK
7 Panci MPASI yang Bagus & Aman untuk Bayi
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Antena TV Digital Terbaik untuk Daerah Susah Sinyal, Mulai dari Rp80 Ribuan!
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ciri Kepribadian EQ Tinggi yang Membedakannya dari Kebanyakan Orang Menurut Psikologi
Mengenal Apa Itu Gummy Bear Mom, Pola Asuh yang Tidak Batasi Makanan Anak Secara Ketat
5 Potret Menggemaskan Arya Anak Anggika Bolsterli yang Baru Ultah Pertama
7 Cara Mengenali Atasan dengan EQ Tinggi dari Sikapnya di Tempat Kerja
5 Kebiasaan Ini Bisa Melatih Kecerdasan EQ di Tempat Kerja
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Cabin Hotel di Pulau Payung Kepulauan Seribu, Tawarkan Aktrasi Wisata Seru
-
Beautynesia
4 Tanda Kalau Otak Butuh Istirahat
-
Female Daily
Boleh Nggak Pakai Retinol Saat Sedang Jerawatan? Ini Jawabannya!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Meghan Markle Pakai Anting Putri Diana Saat Momen Langka dengan Pangeran Harry
-
Mommies Daily
10 Kreasi dari Sedotan untuk Anak SD, Murah, Seru, dan Edukatif