Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Cerita Wanita Terlahir Tanpa Vagina, Akhirnya Bisa Hamil dan Melahirkan Bayi Sehat

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Sabtu, 04 Apr 2026 21:00 WIB

Ilustrasi melahirkan
Cerita Wanita Terlahir Tanpa Vagina, Akhirnya Bisa Hamil dan Melahirkan Bayi Sehat/Foto: Getty Images/kieferpix
Daftar Isi
Jakarta -

Lahir tanpa vagina dan leher rahim adalah kondisi medis langka yang membuat banyak perempuan kehilangan harapan untuk hamil.

Tapi bagi Bunda satu ini, kisahnya justru berakhir berbeda. Melalui perjuangan panjang dan dukungan medis, ia berhasil menantang batas yang selama ini dianggap mustahil hingga akhirnya bisa menggendong anak sendiri. Cerita ini bukan hanya menyentuh hati, tapi juga didukung oleh kemajuan ilmu kedokteran modern. Berikut kisahnya dikutip dari People.

Terlahir dengan kondisi langka sejak remaja

Sejak usia 16 tahun, Bunda yang tidak disebutkan namanya ini mulai merasakan nyeri panggul yang tidak biasa. Setelah diperiksa, dokter menemukan bahwa ia mengalami cervical agenesis (tidak memiliki leher rahim) dan vaginal agenesis (tidak terbentuknya vagina sejak lahir).

Dalam dunia medis, kondisi ini sangat jarang. Studi dalam bidang Obstetri dan Ginekologi menyebutkan bahwa cervical agenesis hanya terjadi sekitar 1 dari 80.000 perempuan. Biasanya, kondisi ini baru terdeteksi saat remaja karena tidak mengalami menstruasi (amenore primer) disertai nyeri panggul. Meski begitu, pada beberapa kasus, organ reproduksi lain seperti rahim dan ovarium tetap ada dan berfungsi.

Perjuangan panjang lewat operasi

Untuk meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang kehamilan, dokter melakukan prosedur vaginoplasty, yaitu operasi untuk membentuk saluran vagina buatan. Setelah menjalani vaginoplasti dengan dokter membuat vagina yang terhubung ke rahim, wanita tersebut mulai mengalami siklus menstruasi normal

Dalam beberapa kasus, prosedur ini juga disertai penyambungan antara rahim dan saluran baru (rekonstruksi reproduksi). Studi medis menunjukkan bahwa tindakan ini dapat memungkinkan menstruasi terjadi dan meski sangat jarang membuka peluang kehamilan di masa depan.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal seperti Human Reproduction dan European Journal of Obstetrics & Gynecology menyebutkan bahwa keberhasilan prosedur ini sangat bergantung pada kondisi rahim dan ovarium yang masih berfungsi dengan baik.

Sempat gagal program hamil

Setelah dewasa dan menikah, Bunda tersebut mencoba memiliki anak melalui program bayi tabung atau IVF (in vitro fertilization). Dalam dunia Teknologi Reproduksi Berbantu, IVF memang menjadi salah satu harapan bagi perempuan dengan kelainan organ reproduksi.

Namun, ia harus melalui kenyataan pahit, tiga kali program IVF yang dijalani belum berhasil. Ini sejalan dengan penelitian yang menyebutkan bahwa tingkat keberhasilan IVF pada kondisi kelainan serviks sangat bervariasi dan tidak selalu berhasil.

Setelah bertahun-tahun berjuang, keajaiban akhirnya datang. Pada April 2022 di usia 39 tahun, ia hamil secara alami, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada kondisi seperti ini. Bahkan dalam literatur medis, kehamilan spontan pada pasien dengan cervical agenesis disebut sebagai kasus yang “exceptional” atau luar biasa langka.

Setahun kemudian, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-40, ia melahirkan bayi laki-laki sehat melalui operasi caesar. Momen ini menjadi puncak dari perjalanan panjang penuh harapan dan air mata.

Kenapa ini bisa terjadi?

Bunda, meski terdengar seperti keajaiban, kasus perempuan yang lahir tanpa vagina tapi tetap bisa hamil sebenarnya punya penjelasan medis.

Kondisi ini biasanya terkait dengan kelainan bawaan seperti cervical agenesis (tidak terbentuknya leher rahim) dan vaginal agenesis (tidak terbentuknya vagina). Namun yang penting, tidak semua organ reproduksi hilang.

Publikasi ilmiah dari jurnal seperti Human Reproduction, PubMed, dan ScienceDirect juga menegaskan bahwa setiap keberhasilan kehamilan dalam kondisi ini merupakan pencapaian besar dalam dunia medis.

1. Rahim dan ovarium masih berfungsi

Pada banyak kasus, meski tidak memiliki vagina dan leher rahim, wanita tetap memiliki Rahim (uterus) dan Ovarium (indung telur). Artinya, tubuh masih bisa Memproduksi sel telur dan Mengalami siklus hormon normal. Ini adalah syarat utama agar kehamilan tetap mungkin terjadi.

2. Operasi rekonstruksi membuka 'jalur'

Melalui prosedur seperti vaginoplasty, dokter dapat membuat saluran vagina buatan. Dalam beberapa kasus, dilakukan juga penyambungan antara rahim dan saluran tersebut.

Dalam dunia Obstetri dan Ginekologi, tindakan ini dikenal sebagai rekonstruksi sistem reproduksi. Studi menunjukkan, jika operasi berhasil, Menstruasi bisa terjadi normal, Sperma berpotensi mencapai sel telur dan kehamilan menjadi mungkin (meski jarang).

3. Kehamilan bisa terjadi secara alami (sangat langka)

Biasanya, pasien dengan kondisi ini membutuhkan bantuan teknologi reproduksi berbantu seperti IVF. Namun dalam kasus tertentu:

  • Jalur reproduksi hasil operasi berfungsi dengan baik
  • Tidak ada sumbatan atau komplikasi
  • Sperma berhasil mencapai sel telur secara alami

Inilah yang membuat kehamilan spontan bisa terjadi, walaupun sangat jarang dan sering disebut sebagai kasus “exceptional” dalam literatur medis.

4. Dukungan medis jangka panjang

Keberhasilan ini juga tidak lepas dari:

  • Pemantauan dokter secara rutin
  • Penanganan nyeri dan komplikasi sejak remaja
  • Perawatan pascaoperasi yang optimal

Demikian kisah seorang wanita yang lahir tanpa vagina dan leher rahim, namun akhirnya berhasil hamil dan melahirkan bayi sehat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda