KEHAMILAN
5 Mitos Setelah Melahirkan yang Sering Bikin Salah Paham, Ketahui Faktanya
Melly Febrida | HaiBunda
Selasa, 28 Apr 2026 13:50 WIBTubuh Bunda setelah melahirkan memasuki fase baru yang terkadang penuh kejutan. Namun, banyak mitos seputar tubuh Bunda setelah melahirkan yang beredar. Ini membuat sejumlah perempuan khawatir. Karena itu, penting untuk memahami faktanya.
Bunda mungkin pernah mendengar pernyataan ini, "Menyusui membantu ibu menurunkan berat badan lebih cepat," atau "Bunda perlu menunggu 6 minggu untuk berolahraga." Keduanya ini merupakan dua mitos umum yang beredar seputar periode setelah seseorang melahirkan.
Christine Feigal, MD, seorang dokter kandungan bersertifikasi dan wakil ketua Departemen Kebidanan dan Ginekologi di MemorialCare Long Beach Medical Center, merasa bahwa masa pasca persalinan sering disalahpahami.
"Ini adalah salah satu transisi paling signifikan yang dialami tubuh," kata Dr. Feigal dilansir dari Parents.
Menurutnya, setelah melahirkan akan memberikan banyak perubahan baik fisik, hormonal, maupun emosional. Namun, banyak orang tidak yakin pemulihan yang normal seperti apa. Dan banyak informasi yang diterima orang tua baru berasal dari media sosial, teman, atau nasihat yang tujuannya baik namun tak selalu akurat.
Mitos seputar tubuh Bunda setelah melahirkan
Dr Feigal menjelaskan, mitos-mitos ini dapat memberikan risiko untuk kesehatan fisik atau emosional orang tua baru. Padahal, dengan memahami apa yang normal, apa yang tidak normal, dana kapan harus meminta dukungan, dapat membantu proses pemulihan dan membantu orang fokus pada penyembuhan.
Berikut beberapa mitos seputar tubuh setelah Bunda melahirkan:
1. Menyusui selalu menurunkan berat badan dengan cepat
Sebagian besar orang akan kehilangan rata-rata 5 kilogram (13 pon) segera setelah melahirkan karena sudah tidak lagi membawa janin yang sedang berkembang, plasenta, dan cairan ketuban. Namun, penurunan berat badan normal bervariasi, terlepas dari metode menyusui atau tidak.
"Banyak orang diberi tahu bahwa menyusui secara otomatis akan menyebabkan penurunan berat badan yang cepat, tetapi itu tidak benar untuk semua orang,” kata Dr Feigal.
Dr Feigal bilang, menyusui tidak boleh dianggap sebagai strategi penurunan berat badan. Melainkan bertujuan untuk memberi nutrisi pada bayi dan mendukung ikatan.
Dr Feigal mengakui bahwa menyusui dapat membakar kalori. Tapi, pada saat yang sama, prolaktin yakni hormon yang membantu tubuh memproduksi ASI, dapat menyebabkan tubuh menahan lemak.
"Selain itu, faktor-faktor seperti kurang tidur, stres, genetika, dan nutrisi secara keseluruhan semuanya berperan," kata Dr Feigal.
2. Bunda tidak boleh berolahraga sama sekali selama 6 minggu
Ashley Reid, ahli fisiologi olahraga bersertifikasi ACSM, mengatakan sebagian besar ibu baru hanya memiliki satu kali kunjungan pasca persalinan pada minggu ke-6. Saat itu penyedia layanan kesehatan akan memberi tahu Bunda 'diizinkan' untuk berolahraga atau belum.
"Pesan ini sering disalahpahami sebagai perlunya menunggu hingga enam minggu sebelum melakukan gerakan apa pun," kata Reid, penulis buku Active Mom: Your Guide to Feeling Strong and Confident in Pregnancy, Postpartum, and Beyond.
Menurutnya, kunjungan enam minggu itu pemeriksaan medis untuk memastikan rahim mengecil, pendarahan berkurang, dan sayatan telah sembuh. "Namun, kunjungan ini bukanlah penilaian olahraga yang komprehensif," ujar Reid.
Reid menunjukkan bahwa pemeriksaan tersebut tidak memastikan apakah otot dasar panggul ibu sudah siap untuk rutinitas kebugaran pra-persalinan atau apakah ia berada dalam kondisi emosional terbaik untuk memprioritaskan kebugarannya.
Pedoman Kanada 2025 untuk Aktivitas Fisik, Perilaku Sedenter & Tidur Sepanjang Tahun Pertama Pascapersalinan menyarankan peregangan dan berjalan kaki sejak dini. Bunda dapat meningkatkan aktivitas sesuai dengan kecepatan masing-masing berdasarkan pemulihan individu.
"Ini mungkin berupa peregangan dada setelah membungkuk saat menyusui, atau berjalan kaki selama sepuluh menit sementara pasangan Anda memandikan bayi,” kata Reid.
Namun, Bunda harus menunggu lampu hijau sebelum meningkatkan intensitas menjadi sedang hingga berat. Dan jika diizinkan pada pemeriksaan enam minggu, ingatkan diri sendiri bahwa penyembuhan tidak berakhir pada enam minggu.
"Otot dan jaringan membutuhkan waktu beberapa bulan untuk mendapatkan kembali kekuatannya," katanya.
Karena itu, Reid menyarankan untuk menggunakan bulan-bulan awal setelah melahirkan untuk fokus membangun fondasi yang kuat untuk aktivitas fisik yang berkelanjutan dan mencapai tujuan kebugaran di kemudian hari.
3. Tidak bisa hamil jika tidak menstruasi atau sedang menyusui
"Ini memiliki jawaban yang sangat sederhana: Anda masih bisa hamil jika sedang menyusui (atau tidak menstruasi)," kata Suzanne Frasca, DO, FACOG, direktur kebidanan di Healthy Woman Obstetrics and Gynecology di Hackensack Meridian Health.
Dr Frasca mengatakan, ovulasi dapat terjadi pada perempuan yang menyusui, bahkan jika tidak teratur. Faktanya, menstruasi yang dipicu hormon membutuhkan ovulasi terjadi terlebih dahulu.
"Jika menyusui secara eksklusif, berada dalam enam bulan setelah melahirkan, dan belum mengalami menstruasi, peluang untuk hamil jauh lebih rendah," kata Dr. Frasca.
Dr Frasca mengingatkan meski peluangnya jauh lebih rendah, bukan berarti tidak ada sama sekali. Bunda masih bisa berovulasi sebelum menstruasi pertama. Cara terbaik untuk tetap aktif secara seksual dan mencegah kehamilan adalah melalui kontrasepsi.
"Ada banyak pilihan kontrasepsi yang aman dan efektif selama menyusui,” kata Dr Frasca.
Untuk itu, pasangan suami istri (pasutri) harus mendiskusikan pilihan ini dengan dokter kandungan untuk menentukan metode terbaik untuk Bunda.
4. Jahitan pasti akan menyembuhkan robekan vagina
Jahitan pada robekan vagina menjadi salah satu bagian dari proses penyembuhan, tetapi bukan keseluruhan proses. "Jahitan membantu jaringan menyatu dengan benar, tetapi tidak secara otomatis mengembalikan kekuatan, fleksibilitas, atau fungsi," kata Dr Feigal.
Menurutnya, penyembuhan bergantung pada tingkat keparahan robekan, kesehatan jaringan, aliran darah, dan perawatan pasca persalinan.
Dr Feigal mengatakan bahwa robekan ringan seringkali dapat sembuh dengan baik dalam beberapa minggu, tetapi robekan yang lebih signifikan dapat memakan waktu lebih lama. Ibu yang baru melahirkan untuk pertama kalinya mungkin juga memiliki proses penyembuhan yang lebih lama, tetapi pemulihan setelah melahirkan bervariasi.
"Nyeri, tarikan, atau ketidaknyamanan yang berkelanjutan, terutama saat berhubungan intim, bukanlah sesuatu yang harus diterima sebagai hal yang normal," kata Dr. Feigal.
Ia bilang, rehabilitasi kesehatan panggul, mobilisasi bekas luka, dan terapi yang tepat sasaran dapat memberikan perbedaan yang berarti, bahkan berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah melahirkan.
5. Stretch mark pasti karena kurang perawatan
Banyak orang yang menyalahkan stretch mark muncul karena kurang perawatan kulit. Faktanya, tidak sesederhana itu. Faktor genetik berperan besar, begitu pula dengan perubahan hormon selama kehamilan.
Meskipun Bunda sudah rajin pakai lotion atau minyak, belum tentu bisa mencegah stretch mark sepenuhnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)