KEHAMILAN
Kondisi ibu Hamil yang Butuh Induksi untuk Merangsang Bukaan agar Cepat Lengkap
Indah Ramadhani | HaiBunda
Rabu, 20 May 2026 08:50 WIBBunda, menjelang persalinan, tidak semua ibu hamil memiliki proses yang berjalan secara alami. Dalam beberapa kondisi, dokter mungkin akan menyarankan induksi persalinan untuk membantu kelancaran proses bersalin sehingga Si Kecil dapat lahir dengan aman.
Pada dasarnya, respons alamiah mengendalikan sebagian besar proses persalinan. Namun, ada kalanya tubuh membutuhkan bantuan. Dalam situasi tertentu, tenaga kesehatan dapat menilai bahwa akan lebih bagi ibu dan bayi jika persalinan dilakukan sebelum proses alami dimulai.
Tentunya serangkaian prosedur ini telah dipertimbangkan dari kacamata medis, terutama untuk kesehatan ibu dan janin sehingga proses melahirkan memiliki risiko komplikasi yang minim. Lantas, bagaimana induksi persalinan itu? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Mengenal induksi persalinan
Induksi persalinan merupakan penggunaan obat-obatan atau metode lain untuk memicu persalinan sehingga proses melahirkan dapat dimulai. Tindakan ini biasanya dilakukan ketika ibu belum menunjukkan tanda persalinan secara alami padahal sudah tiba waktunya.
Untuk mencegah kondisi yang tidak diinginkan, pada situasi tertentu bayi perlu segera dilahirkan demi keselamatan ibu dan janin. Hal ini juga sering menjadi pertimbangan, terutama bagi Bunda yang merencanakan persalinan normal atau pervaginam.
Metode induksi pun beragam, mulai dari pemberian obat untuk merangsang kontraksi, hingga tindakan medis yang membantu membuka servis. Nah, karena melibatkan prosedur medis, induksi persalinan harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga kesehatan, ya.
Mengapa dan kapan persalinan perlu diinduksi?
Menjelang persalinan, serviks atau leher rahim biasanya akan mengalami perubahan, mulai dari melunak, menipis, hingga membuka. Proses ini biasanya dimulai dari beberapa minggu sebelum persalinan terjadi secara alami.
Namun, dalam beberapa kondisi, serviks bisa saja belum siap atau belum matang saat memasuki waktu bersalin. Akibatnya, proses persalinan tidak mampu berjalan dengan sebagaimana mestinya, Bunda.
Untuk menilai kesiapan serviks, dokter biasanya menggunakan skor Bishop, yaitu sistem penilaian dengan rentang angka 0-13. Jika skor kurang dari 6, maka serviks kemungkinan belum siap untuk melakukan persalinan sehingga memungkinkan untuk diinduksi.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, induksi persalinan ini dilakukan guna merangsang kontraksi rahim agar proses melahirkan berlangsung secara normal. Tindakan ini pun umumnya direkomendasikan jika kondisi ibu atau janin sangat berisiko.
Melansir dari American College of Obstetricians & Gynecologists, terdapat beberapa kondisi yang dapat menjadi alasan dilakukannya induksi sebagai berikut:
- Kehamilan sudah melewati usia 41-42 minggu
- Ibu memiliki masalah kesehatan, seperti gangguan jantung, paru-paru, atau ginjal
- Terdapat masalah pada plasenta
- Janin mengalami hambatan dalam bertumbuh
- Jumlah air ketuban ketuban berkurang (oligohidramnion)
- Terjadi infeksi pada rahim
- Ibu mengalami diabetes gestasional atau memiliki riwayat diabetes
- Ibu mengalami hipertensi kronis, preeklampsia, atau eklampsia
- Ketuban pecah sebelum kontraksi dimulai (PROM)
Dalam beberapa kasus, induksi juga perlu dilakukan meskipun bayi harus lahir lebih cepat atau prematur. Hal ini dilakukan ketika resiko melanjutkan kehamilan justru lebih besar dibandingkan risiko persalinan dini.
Risiko melakukan induksi persalinan
Seperti prosedur medis lainnya, induksi persalinan juga memiliki sejumlah risiko yang perlu Bunda ketahui. Salah satu yang paling umum adalah risiko penggunaan hormon oksitosin yang dapat merangsang kontraksi.
Jika diberikan dalam dosis tertentu, rahim bisa mengalami kontraksi yang terlalu sering atau terlalu kuat. Kondisi ini diketahui dapat memengaruhi detak jantung bayi. Namun, jika terjadi, biasanya dokter akan menyesuaikan dosis dan segera menstabilkan kondisi bayi.
Selain itu, ada beberapa risiko lain yang mungkin terjadi, meliputi infeksi pada rahim, infeksi cairan ketuban, infeksi plasenta, selaput ketuban, infeksi pada bayi, hingga pecahnya rahim. Risiko ini bisa meningkat apabila Bunda memiliki kondisi medis tertentu, baik sebelum atau selama hamil.
Melihat berbagai risiko tersebut, tentunya dokter akan melakukan pemantauan secara ketat selama proses induksi. Detak jantung janin dan kekuatan kontraksi akan terus dipantau secara berkala untuk memastikan kondisi Bunda dan Si Kecil tetap aman.
Bagaimana bila induksi persalinan tidak berhasil?
Melansir dari Mayo Clinic, beberapa kasus induksi persalinan bisa juga tidak berhasil, lho. Akan tetapi, jika kondisi Bunda dan bayi tetap aman dan ketuban belum pecah, dokter mungkin akan menyarankan untuk menjadwalkan induksi di lain waktu. Namun, jika persalinan terjadi di rumah, Bunda perlu kembali ke rumah sakit.
Jika selama atau setelah proses induksi kondisi Bunda dan bayi tidak memungkinkan untuk melanjutkan persalinan normal, maka kemungkinan besar akan dialihkan menjadi persalinan caesar. Meski begitu, operasi caesar juga memiliki beberapa risiko yang perlu diketahui, seperti infeksi, perdarahan hebat, dan komplikasi akibat anestesi.
Selain itu, waktu pemulihan setelah operasi caesar biasanya lebih lama dibandingkan persalinan normal. Operasi ini diketahui juga dapat memengaruhi kehamilan berikutnya, seperti meningkatkan risiko masalah pada plasenta.
Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk memahami manfaat dan risiko induksi persalinan serta mendiskusikannya dengan tenaga kesehatan agar keputusan yang diambil sesuai dan tepat dengan kondisi Bunda.
Demikian penjelasan mengenai induksi persalinan yang mampu merangsang pembukaan agar lebih cepat dan lengkap. Semoga informasi ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)