Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Normalkah Hamil 35 Minggu tapi Perut Sudah Turun?

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Jumat, 03 Jul 2026 08:50 WIB

Ilustrasi kehamilan
Normalkah Hamil 35 Minggu tapi Perut Sudah Turun?/Foto: Getty Images/Ekkasit Jokthong
Daftar Isi
Jakarta -

Biarpun belum masuk Hari Prediksi Lahir, sering kali perut ibu hamil kenapa rasanya turun seperti jelang persalinan ya, Bunda. Normalkah hamil 35 minggu tapi perut sudah turun?

Proses kehamilan memang selalu membawa cerita tersendiri bagi setiap ibu. Mulai dari gejala kehamilan yang membuat setiap ibu perlu beradaptasi hingga proses jelang persalinan yang membawa ciri-ciri tertentu.

Salah satunya di trimester akhir kehamilan, sebagian ibu hamil mungkin merasakan kalau perutnya mulai turun. Biasanya, memang ini terjadi jelang persalinan ya, Bunda. Tetapi, adakalanya juga ibu hamil merasakannya di minggu ke-35 kehamilan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengenal kapan bayi 'turun' dalam kehamilan

Pengalaman hamil pertama bagi seorang perempuan mungkin bisa terasa berbeda dengan mereka yang hamil kedua, ketiga, dan seterusnya. Katanya, ibu yang hamil pertama kali, bayinya mungkin terlihat perutnya turun lebih cepat yakni dua hingga empat minggu sebelum persalinan, atau bahkan lebih awal.

Sementara bagi Bunda yang sudah pernah hamil sebelumnya, bayi mungkin tidak akan turun sampai persalinan dimulai. Namun, hal ini tidak bisa menjadi patokan secara tepat karena setiap kehamilan unik.

Berbicara mengenai perut ibu hamil turun atau dalam istilah kehamilan disebut lightening merupakan kondisi ketika bayi turun ke panggul sebagai persiapan untuk persalinan. Disebut bayi turun karena begitu bayi bergerak ke bawah, Bunda akan memiliki lebih banyak ruang di tulang rusuk sehingga Bunda akan merasa benar-benar lebih ringan.

Ketika perut Bunda tampak turun dan Bunda memeriksakan diri ke dokter, biasanya dokter akan membantu mengidentifikasi kapan bayi turun dengan meraba perut dimana kepala bayi berada relatif terhadap panggul Bunda, seperti dikatakan Kristin Cohen, DNP, seorang bidan dan praktisi perawat kesehatan di New Jersey.

"Tim medis juga akan mengukur tinggi fundus setiap kunjungan (jarak dari tulang kemaluan ke bagian atas rahim, yang seharusnya berukuran dalam sentimeter kira-kira setara dengan berapa minggu usia kehamilan). Setelah terus meningkat sepanjang kehamilan, pengukuran ini akan menurun ketika bayi telah masuk ke panggul, karena bayi telah bergerak lebih rendah di tubuh," katanya seperti dikutip dari laman Baby Center.

Banyak bumil yang mengatakan bahwa di fase ini mereka sangat senang karena bisa bernapas dengan lega, makan sedikit lebih nyaman, dan merasakan tekanan yang kurang kuat pada tulang rusuk mereka. Ini merupakan tanda yang menggembirakan pada ibu hamil karena perjalanan kehamilan mereka akan segera berakhir.

Penurunan posisi bayi bukan berarti persalinan segera terjadi

Ketika perut ibu hamil lebih rendah sebenarnya ini tidak berarti jadi tanda bahwa persalinan akan segera tiba. Sebaliknya, ketika bayi tidak turun bukan berarti juga persalinan masih jauh ya, Bunda.

Biasanya, kepala bayi masuk ke panggul terlebih dahulu, tetapi jika bayi posisinya sungsang, bokong atau kakinya akan menempati posisinya terlebih dahulu. Setelah bayi turun dan menetap di panggul, posisinya disebut engaged.

Tanda dan gejala penurunan posisi bayi

Ketika bayi mulai turun dan perut tampak ke bawah, mungkin Bunda akan lebih merasa lega. Nah, untuk memastikan apakah benar terjadi penurunan posisi bayi, berikut ini tanda dan gejalanya, Bunda:

1. Lebih sering buang air kecil dari sebelumnya karena tekanan yang meningkat pada kandung kemih
2. Merasa semakin tidak nyaman saat berjalan
3. Mengalami sakit punggung karena bayi memberi tekanan yang meningkat pada otot dan persendian di punggung bawah
4. Mengalami wasir
5. Bunda dapat makan lebih banyak tanpa merasa terlalu kenyang karena tekanan pada perut berkurang
6. Pernapasan terasa lebih mudah
7. Merasa lebih lega dari rasa panas di dada
8. Adanya perubahan pada tampilan perut
9. Kehilangan sumbat lendir karena bayi memberi tekanan lebih pada leher rahim

Normalkah hamil 35 minggu tapi perut sudah turun?

Mengutip dari laman The Bump, menjelang akhir trimester ketiga, bayi mulai melakukan perjalanan dari rahim ke bawah menuju panggul untuk mempersiapkan kehamilan. Proses bergerak ke posisi optimal ini disebut lightening pada kehamilan.

"Proses ini terjadi akibat dari pelunakan pada segmen bawah rahim," jelas Skyler Jacobs, CNM, seorang bidan di Georgia. Pada dasarnya, sambungnya, serviks berkurang panjangnya dan bayi turun lebih rendah.

Penyebutan istilah lightening pada kehamilan dikarenakan ketika bayi bergerak ke bawah, ibu hamil merasa lebih ringan, setidaknya di bagian atas perutnya. Dengan lebih sedikit tekanan yang diterapkan pada tulang rusuk dan diafragma, akan membuatnya lebih mudah untuk bernapas. 

Terkait kapan bayi turun, biasanya bayi akan turun sekitar dua hingga empat minggu sebelum persalinan atau antara 36 dan 30 minggu, Bun. Tetapi, waktunya sangat bervariasi. "Lightening dapat terjadi beberapa minggu atau bahkan hanya beberapa jam sebelum persalinan," kata Dr Sanaz Ghazal, MD, FACOG, seorang obgyn dan spesialis endokrinologi reproduksi dan infertilitas di Orange Country, California.

Selain itu, antara kehamilan pertama dan kehamilan berikutnya juga kerap ada perbedaan dalam hal waktu. Dikatakan Dr Cynthia Rios, MD, seorang obgyn di Houston Methodist Obstetrics and Gynecology Associates di Texas bahwa ibu pertama kali biasanya mengalami lightening berminggu-minggu sebelum persalinan. Namun, untuk pasien yang pernah memiliki bayi sebelumnya, penurunan terjadi selama persalinan atua tepat pada awal persalinan. 

Kapan Bunda perlu menghubungi dokter?

Mengalami perut turun saat hamil trimester terakhir sangatlah normal dan ketika terjadi nyeri panggul setelah bayi turun juga menjadi gejala yang normal, Bun. Namun, beberapa jenis nyeri panggul mungkin perlu diperiksa lebih lanjut seperti dikutip dari laman Medical News Today.

Ada baiknya, segera berkonsultasi dengan dokter jika nyeri panggul terus menerus atau teratur terjadi. Atau, jika nyeri panggul tersebut disertai dengan perdarahan, kehilangan cairan, demam, dan gejala berbahaya lainnya.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda