HaiBunda

KEHAMILAN

Konsul ke Dokter atau Bidan yang Sama saat Cek Rutin hingga Melahirkan Perkecil Risiko Trauma

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Selasa, 01 Sep 2026 14:30 WIB
Konsul ke Dokter atau Bidan yang Sama saat Cek Rutin hingga Melahirkan Perkecil Risiko Trauma/Foto: Getty Images/DragonImages
Jakarta -

Setiap Bunda memang memiliki cerita kehamilan dan persalinan masing-masing. Nah, ternyata nih, konsul ke dokter atau bidan yang sama saat cek rutin hingga melahirkan perkecil risiko trauma lho.

Bagi para perempuan di mana pun yang sedang hamil dan ingin melahirkan, tentunya selalu berharap kalau persalinannya dilancarkan dan mereka dapat melahirkan bayi yang sehat tanpa kurang suatu apa pun.

Namun realitasnya memang terkadang tak seindah yang dibayangkan ya, Bunda. Adakalanya, sebagian perempuan pun harus menerima kenyataan yang tak sesuai diharapkannya. 


Misalnya saja mengalami proses melahirkan yang sulit dan meninggalkan trauma kehamilan baginya. Sehingga, hal tersebut terus membayanginya ketika ingin program hamil kembali. 

Ya, hal tersebut memang sangat mengganggu ketenangan hidup para Bunda. Meskipun trauma tersebut cukup serius, namun hal itu tak berarti menjadi penghalang bagi mereka yang ingin menambah anak kembali.

Kabar baiknya ialah ketika Bunda konsul ke bidan atau dokter yang sama saat cek rutin hingga melahirkan dapat memperkecil risiko trauma yang mungkin ada sehingga tak terbawa berkepanjangan ya.

Trauma melahirkan itu nyata

Setiap perempuan hamil tentu ingin melahirkan bayi yang sehat. Begitu juga ketika proses persalinan, mereka juga ingin melaluinya dengan kondisi fisik dan emosional yang tetap baik-baik saja. 

Sayangnya, tidak semua mimpi indah itu selalu terwujud. Di Australia misalnya, hal tersebut masih menjadi kendala bagi sebagian perempuan di sana. Sebab, sekira 28 persen perempuan di Australia menggambarkan kelahiran terbaru mereka sebagai traumatis.

Trauma kelahiran sendiri digambarkan sebagai pengalaman yang kurang mengenakkan yang dihadapi para ibu saat melahirkan. Hal tersebut dapat mencakup ketakutan akan nyawa mereka atau bayi mereka, kehilangan kendali, kerusakan pada perineum atau dasar panggul, perawatan yang tidak nyaman atau kurang sopan, atau perlakuan buruk dari tim medis.

Dengan adanya pengalaman tersebut, sebuah penelitian terbaru pun meneliti hal tersebut. Dalam studi terbarunya, para peneliti meneliti hasil kelahiran serta pengalaman fisik dan psikologis perempuan serta bayi yang mengalami lima jenis (atau model) perawatan berbeda di Australia selama pandemi Covid seperti dikutip dari laman The Conversation.

Kemudian, para peneliti menemukan bahwa bertemu dengan bidan yang sama atau tim bidan berhubungan dengan tingkat intervensi dan trauma kelahiran yang lebih rendah dibandingkan dengan perawatan standar.

Hal ini memang menjadi angin segar bagi para perempuan ya, Bunda. Apalagi, bagi beberapa perempuan, perawatan obstetri juga dapat menyebabkan tingkat trauma kelahiran yang lebih rendah dibandingkan perawatan standar dalam sistem publik.

Studi meneliti trauma melahirkan

Sebagian besar perempuan Australia menerima perawatan umum standar atau perawatan bersama dari dokter umum. Dalam perawatan umum standar, perempuan melihat para staf rumah sakit bergiliran mulai dari bidan, dokter kandungan, dan lainnya selama kehamilan, saat melahirkan dengan bidan atau dokter yang belum pernah mereka temui.

Dalam perawatan bersama yakni terjadi ketika ada pengaturan antara dokter umum dan rumah sakit, perempuan mungkin paling sering menemui dokter umum selama kehamilan dan staf rumah sakit untuk memenuhi janji antenatal. Sementara, dokter umum biasanya tidak mendampingi kelahiran, kecuali di beberapa pedesaan dan daerah terpencil.

Sementara, dalam model kontinuitas perawatan, satu atau sedikit bidan dan dokter kandungan memberikan sebagian besar perawatan sebelum, selama, dan setelah kelahiran. Hal ini juga termasuk adanya kesinambungan dari perawatan kebidanan dalam sistem publik, perawatan obstetri pribadi, dan perawatan bidan pribadi.

Dan, ketika para perempuan diberikan keleluasaan dalam memilih dengan pilihan tersebut, mereka pun sebenarnya lebih memilih model kesinambungan perawatan.

Apa yang menjadi temuan studi tersebut?

Studi yang dilakukan tersebut meneliti pengalaman 3.682 perempuan Australia yang melahirkan pada 2020 dan 2021. Dibandingkan dengan perempuan yang menerima perawatan standar, para peneliti menemukan bahwa mereka yang menjalani kesinambungan perawatan bidan diketahui sebagai berikut:

1. Lebih kecil kemungkinannya untuk diinduksi atau mengalami tetesan oksitosin untuk mempercepat persalinan
2. Jauh lebih mungkin mengalami persalinan normal
3. Lebih mungkin bidan mengunjungi mereka di rumah setelah persalinan
4. Lebih kecil kemungkinannya untuk operasi caesar
5. Lebih kecil kemungkinan bayi mereka dirawat di perawatan intensif khusus atau neonatal atau menerima susu formula di rumah sakit ketika mereka memilih untuk menyusui
6. Ada setengah kemungkinan untuk menggambarkan kelahiran mereka sebagai traumatis.

Perbedaan ini terlihat bahkan setelah disesuaikan dengan perbedaan kelompok yang dapat memengaruhi hasil, seperti usia perempuan, risiko medis, pendidikan, status pekerjaan, negara kelahiran, pendapatan, dan kesehatan mental.

Hal penting lainnya yakni temuan ini sejalan dengan bukti puluhan tahun yang ada. Pada tinjauan Cochrane tahun 2024 terhadap 17 uji coba terkontrol acak menemukan bahwa model kesinambungan perawatan kebidanan mengurangi beberapa intervensi kelahiran, termasuk operasi caesar, forceps dan persalinan vakum, serta episiotomi (bedah pemotongan perineum).

Selain itu, studi tersebut juga menemukan bahwa meskipun perempuan yang menjalani perawatan obstetri pribadi memiliki tingkat intervensi persalinan yang lebih tinggi, mereka memiliki tingkat trauma kelahiran yang lebih rendah dibandingkan perawatan standar. Tidak ada perbedaan hasil pada bayi, seperti rawat inap di perawatan khusus atau perawatan intensif neonatal.

Hal ini tentunya menunjukkan bahwa ketika pilihan seorang perempuan sesuai dengan filosofi tim medis pilihannya, hasilnya ternyata lebih baik.  Meskipun tingkat intervensi lebih tinggi, beberapa perempuan mencari, atau tidak merasa khawatir, tentang intervensi obstetri yang lebih tinggi. Kontinuitas itu sendiri, terlepas dari siapa profesional kesehatan yang andil di dalamnya, nyatanya mengurangi trauma kelahiran pada perempuan.

Studi masih memiliki keterbatasan

Seperti halnya studi lainnya, studi ini pun masih terdapat keterbatasan. Diketahui bahwa studi ini mengandalkan pelaporan hasil persalinan sehingga mungkin ada kesulitan dalam mengingat yang memengaruhi pelaporan beberapa risiko kesehatan dan informasi penting lainnya.

Proporsi tinggi perempuan yang merespons yakni sebanyak 86 persen lahir di Australia dan berbicara bahasa Inggris di rumah sebanyak 92 persen, dan hanya 2 persen yang merupakan Aborigin atau Torres Strait Islander, sehingga keberagaman populasi Australia tidak terwakili.

"Kami tidak memeriksa kematian bayi mati atau neonatal karena semua perempuan yang menjawab survei memiliki bayi hidup. Jadi orang masih bisa mengalami hal itu tapi tidak tercatat dalam data kami."

Pengalaman traumatis yang dimiliki seseorang memang tak mudah untuk menghilang begitu saja. Sehingga, memberikan perempuan pemandu yang stabil dan sudah akrab dengan kisah mereka, memahami kekhawatiran mereka, dan membela mereka saat sedang tertekan sangatlah penting.

Hal ini juga dapat memungkinkan ibu yang bersangkutan dalam mendapatkan jenis perawatan personal yang diharapkannya. Dari hasil penelitian, hampir setengah dari semua model perawatan ( atau sekira 49 persen) memiliki bidan sebagai pengasuh yang ditunjuk, dengan 16 persen di antaranya memiliki kesinambungan perawatan bidan selama masa melahirkan.

Namun, model kesinambungan perawatan kebidanan lebih umum di pusat kota dan lebih sulit diakses di pedesaan dan daerah terpencil. Selain itu, perawatan obstetri dan bidan swasta berbiaya pribadi dan tidak tersedia di semua tempat. Di sisi lain, jumlah bidan swasta sangat sedikit banyak yang kesulitan mendapatkan hak masuk ke rumah sakit seperti dokter.

Terbaru, New South Wales Birth Trauma baru-baru ini merekomendasikan perluasan model kesinambungan perawatan guna membantu mengurangi tingginya tingkat trauma kelahiran di Australia. Dengan adanya studi ini diharapkan bahwa hal ini nantinya bisa memberikan perbedaan signifikan.

Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Kenapa Operasi Caesar Semakin Sering Dipilih dalam Persalinan?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Momen Hangat BCL, Tiko, dan Noah Kumpul Bersama Keluarga Almarhum Ashraf Sinclair di KL

Mom's Life Annisa Karnesyia

Cara Membuat Gabin Tape Renyah Tahan Lama dan Tidak Berminyak

Mom's Life Amira Salsabila

Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Suka Mendengarkan daripada Banyak Bicara

Mom's Life Tim HaiBunda

Konsul ke Dokter atau Bidan yang Sama saat Cek Rutin hingga Melahirkan Perkecil Risiko Trauma

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Botol Pumping Dipakai Lagi Tanpa Dicuci, Amankah?

Menyusui Tiara Jasmine & Fauzan Julian Kurnia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Emas Antam Turun Lagi, Intip Harga Terbarunya Hari Ini Bun

Momen Hangat BCL, Tiko, dan Noah Kumpul Bersama Keluarga Almarhum Ashraf Sinclair di KL

Konsul ke Dokter atau Bidan yang Sama saat Cek Rutin hingga Melahirkan Perkecil Risiko Trauma

Cara Membuat Gabin Tape Renyah Tahan Lama dan Tidak Berminyak

Audi Marissa Gugat Cerai Anthony Xie setelah Menikah Hampir 6 Tahun

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK